Rumah Kami Surga Kami
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Rumah Kami Surga Kami – Aku masih ingat benar, setahun setelah ibuku meninggal, Papa menikah lagi dengan seorang janda muda beranak dua orang. Jadi keadaannya seimbang, karena saat itu Papa pun punya anak dua orang, aku dan Yoga (adikku). Perbedaannya, Papa membawa dua anak cowok, sementara ibu tiriku membawa dua anak cewek.
Waktu Papa menikah itu, usianya baru 43 tahun. Sementara ibu tiriku berusia 32 tahun. Tapi anehnya, saudara-saudara tiriku itu usianya lebih tua dariku. Pada saat Papa menikah lagi itu usiaku baru 10 tahun, sedangkan Yoga baru berusia 9 tahun. Tapi saudara-saudara tiriku lebih tua dua dan tiga tahun dariku.
Belakangan aku tahu bahwa Papa menikah dengan almarhumah ibuku waktu usianya sudah 32 tahun. Kemudian aku lahir pada saat usia Papa sudah 33 tahun. Setahun kemudian Yoga pun lahir.
Sedangkan ibu tiriku yang sudah kusebut Mama itu menikah waktu usianya baru 19 tahun. Lalu waktu Mama berusia 20 tahun lahirlah Mbak Ayu. Setahun kemudian lahir pula Mbak Ita.
Suasana di rumah kami jadi hangat setelah aku punya ibu tiri yang ternyata sangat baik itu. Beliau memperlakukan aku dan Yoga seperti anak kandungnya sendiri. Begitu pun Papa, memperlakukan Mbak Ayu dan Mbak Ita seperti anak kandungnya sendiri. Sehingga orang yang belum tahu seluk beluk keluarga kami, pastilah menganggap aku dan Yoga itu anak kandung Mama.
Mungkin di antara Papa dengan Mama dahulu sudah sepakat, bahwa mereka akan saling menitipkan anak-anak yang akan diperlakukan secara adil dan penuh kasih sayang.
Begitulah singkatnya latar belakang keluargaku.

Hari demi hari… bulan demi bulan dan tahun berganti tahun berjalan terus dengan cepatnya… kami semua hidup dalam suasana damai. Tak pernah ada keributan yang berarti, karena aku, Yoga dan kedua kakak tiriku suka saling mengalah.
Tanpa terasa waktu berlalu, kami berempat sudah jadi mahasiswa-mahasiswi semua. Mbak Ayu sudah semester akhir, tinggal menunggu skripsi saja. Mbak Ita sudah semester lima, Yoga baru semester pertama, sementara aku sudah semester tiga.
Rumah kami pun sudah diperbesar. Kamarnya jadi ada 4. Anak-anak Papa dan Mama mendapat kamar masing-masing.
Sementara itu, Papa membangun pavilyun yang terpisah dari rumah utama. Di pavilyun itulah tempat Papa dan Mama.
Mungkin Papa dan Mama sengaja ingin menempati pavilyun itu agar tidak terasa berisik oleh suara kami berempat, yang terkadang memang mengeluarkan suara keras. Sewlain daripada itu, mungkin juga Papa ingin melatih kemandirian kami berempat dengan memberikan kebebasan menempati rumah utama.
Di rumah utama, kamar paling depan dipakai oleh Yoga, agar rumah kami ada “perisai” di setiap bagian krusial. Jadi Yoga ditempatkan di kamar paling depan, hitung-hitung ada penjaga keamanan di rumah kami. Di samping kamar Yoga adalah kamar Mbak Ita.
Aku dan Mbak Ayu ditempatkan di lantai dua. Kamarku yang paling depan, sementara kamar Mbak Ayu di bagian dalam, terhalang oleh ruang belajar.
Di ruang belajar itu aku dan Mbak Ayu sering belajar bareng. Tapi tentu saja kami menekuni jenis ilmu yang berbeda, karena kami berlainan fakultas.
Yang menyenangkan belajar dengan Mbak Ayu itu, adalah seringnya dia membuatkan minuman dan makanan ringan untukku. Minumannya terkadang teh manis atau kopi susu, terkadang black coffee saja. Makanan ringannya, terkadang bawan, pisang goreng atau french fries.
Setelah selesai belajar, kami suka ngobrol ke barat ke timur. Bahkan sering juga Mbak Ayu nonton bokep koleksiku yang selalu tersimpan di flashdisk, lalu diputar di laptopnya. Namun aku hanya berani menyimpan 1-2 film bokep di flasdisk itu, lalu didelete kalau sudah bosan menontonnya.
Tapi yang satu itu tentunya secara rahasia. Bahkan sering Mbak Ayu meminjam flashdisk berisi bokep itu, untuk ditonton di dalam kamarnya. Dengan suara yang didengarnya lewat earphone.
Bukan cuma menontonnya, Mbak Ayu juga sering mengajakku berdiskusi tentang segala yang pernah ditontonnya itu.
Bahkan pada suatu malam, setelah menonton bokep di ruang belajar, Mbak Ayu berkata,” Kata teman yang udah pengalaman sih dioral sama cowok itu nikmat sekali.”
Aku tersenyum dan menyahut, “Iya Mbak. Terutama kalau yang oralnya fokus ke clitoris. Kan clitoris itu paling peka di tubuh cewek.”
“Wow… kamu udah banyak tau ya. Emangnya udah punya pengalaman sama cewek?” ucap Mbak Ayu sambil menepuk bahuku.
“Pengalaman sih belum ada Mbak. Cuma sering dengar ceritanya saja dari teman yang udah punya pengalaman. Juga sering baca buku pengetahuannya. Mbak sendiri udah punya pengalaman?”
“Hiiiih…! Pengalaman dari mana? Pacaran aja baru satu kali waktu masih di SMA dahulu. Sampai sekqarang belum pacaran lagi.”
“Terus… sama pacarnya diapain aja?”
“Ciuman bibir aja belum pernah. Paling cuma cipika-cipiki.”
Aku mengangguk-angguk dan percaya pada pengakuan kakak tiriku itu.
Tapi Mbak Ayu seperti sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.
Sesaat kemudian dia malah bangkit dari sofa ruang belajar. “Mau tidur duluan ah… udah malam sekali tuh, “katanya sambil menunjuk ke jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 23.05.
“Iya Mbak. Sleep tight and have a nice dream,” sahutku sambil berdiri juga.
“You too…” sahut Mbak Ayu sambil melangkah keluar ruang belajar dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku pun melangkah ke arah kamarku. Dan melupakan percakapan dengan Mbak Ayu tadi.
Keesokan malamnya Mbak Ayu tidak muncul di ruang belajar. Sejak jam 7 malam dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Lalu tidak keluar lagi.
Begitu pula pada malam-malam berikutnya. Mbak Ayu tidak muncul lagi di ruang belajar. Sementara aku tetap menyibukkan diri untuk menghafal di ruang belajar. Karena fakultasku adalah fakultas yang banyak hafalannya.
Sebenarnya di lantai bawah pun ada ruang belajar yang biasa dipakai oleh Yoga dan Mbak Ita. Tapi aku tak pernah nyelonong ke ruang belajar mereka. Begitu juga Yoga dan Mbak Ita, tak pernah nyelonong ke ruang belajar di lantai dua.
Beberapa malam kemudian, Mbak Ayu muncul lagi di ruang belajar. Aku yang sedang duduk di belakang meja tulisku menyambutnya dengan sikap ceria, “Mbak lama juga gak muncul di ruang belajar kita ini.”
“Biasa… ada langganan datang,” sahutnya sambil tersenyum.
“Langganan? Lan99anan apa?”
“Langg4nan perempuan. Datang bulan.”
“Owh… kirain apa. Suka berapa hari datang bulannya Mbak?”
“Sepuluh harian. Aku kalau datang bulan suka sakit kepala. Makanya gak mau mikir yang berat-berat.”
“Tapi sekarang sudah bersih?”
“Sejak dua hari yang lalu juga sudah bersih. Sekarang sih mau begadang sampai pagi juga gak apa-apa.”
“Owh, iya… sekarang kan malam Minggu, ya.”
“Iya. Malam Minggu yang sepi… karena Papa, Mama, Ita dan Yoga pada ke Semarang.”
“Iya… kita berdua kebagian jaga rumah sampai Senin pagi, ya Mbak.”
Memang Papa, Mama, Mbak Ita dan Yoga pada ke Semarang. Mau menghadiri pernikahan keponakan Papa alias saudara sepupuku. Dan rumah tidak boleh ditinggalkan tanpa ada yang menunggunya. Karena itu aku dan Mbak Ayu tidak diajak ke Semarang, agar rumah tetap aman. Maklum belakangan ini sering terjadi pencurian di daerah kami.
Mbak Ayu menghampiri kursi yang sedang kududuki. Dan memegang kedua bahuku dari belakang, “Justru sekarang kita punya kesempatan baik, Sam.”
“Emangnya mau ngapain Mbak? Mau nonton bokep semalam suntuk?” tanyaku tanpa menoleh ke belakang.
Lalu terdengar suara Mbak Ayu di belakang kursiku, “Sam… aku ingin tau kayak apa sih rasanya kalau punyaku dijilatin seperti dalam bokep-bokep itu… kamu mau kan melakukannya?”
Aku tersentak kaget. Permintaan kakak tiriku itu benar-benar di luar dugaan. Tak pernah terpikirkan sedikit pun kalau Mbak Ayu mau meminta sesuatu yang belum pernah kulakukan itu.
Aku pun bangkit dari kursiku. Menatap wajah kakak tiriku yang sebenarnya cantik itu. Dan baru sekarang aku memperhatikan kecantikannya. “Mbak serius?” tanyaku.
Mbak Ayu memegang pergelangan tanganku. Lalu mengajak duduk di sofa ruang belajar itu.
“Serius Sam… aku penasaran… karena teman-temanku sudah pada sering merasakannya. Cuma aku sendiri yang belum pernah. Sam mau kan menghilangkan rasa penasaranku?” Mbak Ayu memegang tanganku erat-erat.
“Mau sih mau Mbak. Tapi takut…”
“Takut apa?”
“Takut ketahuan sama Papa dan Mama… pasti mereka marah sekali nanti…”
“Ya jangan sampai mereka tau dong. Jadikan rahasia kita berdua aja.”
Saat itu Mbak Ayu mengenakan daster katun berwarna abu-abu polos. Dan tiba-tiba saja daster itu disingkapkan sampai perutnya. Membuatku tersentak lagi. Karena kakak tiriku itu tidak mengenakan celana dalam. Sehingga aku bisa langsung melihat kemaluannya yang… aaaah… jantungku berdebar-debar dibuatnya…
“Mbak… “hanya itu yang terlontar dari mulutku. Dengan perasaan gugup tak menentu.
“Ayo jilatin, Sam. Please… “pinta Mbak Ayu dengan nada memohon.
“Tapi Mbak… menurut buku yang pernah kupelajari, tidak boleh langsung menyentuh kemaluan. Harus ciuman dulu… harus mainkan toket dulu dan sebagainya.”
“Ya udah… ikuti aja petunjuk yang pernah kamu pelajari itu.”
“Di sini?”
“Menurutmu harus di mana? Di sini atau di kamarku atau di kamarmu?”
“Biar akunya pede, di kamarku aja Mbak.”
“Ayo, “Mbak Ayu bangkit dari sofa, lalu melangkah duluan ke dalam kamarku.
Setelah berada di dalam kamar, kututup dan kukuncikan pintu kamarku, lalu menghampiri kakak tiriku yang sudah duluan duduk di pinggiran tempat tidurku.
“Mau sambil nonton bokep sebagai penuntun kita?” tanyaku sambil membuka lipatan laptopku dan meletakkannya di atas tempat tidurku, menyandar ke dinding.
“Iya… itu penting Sam. Biar jangan ngawur,” sahutnya.
Aku tercenung sejenak. Mengingat-ingat video yang berisi oral sex sebagai foreplay. Lalu kuambil flashdisk silver dan kupasangkan di laptop yang sudah kuaktifkan. Sesaat kemudian layar laptopku mulai menayangkan adegan sepasang orang bule yang bersetubuh. Keduanya sudah telanjang bulat di kebun apel.
“Wah… langsung pada telanjang gitu ya. Berarti kita juga harus telanjang seperti mereka?” tanya Mbak Ayu sambil menelungkup dengan wajah menghadap ke arah layar laptopku.
“Mungkin memang harus begitu Mbak,” sahutku.
“Kamu juga harus telanjang dong,” ucap Mbak Ayu sambil menepuk punggungku.
“Aku sih gak usah telanjang. Kan Mbak cuma ingin dioral. Bukan mau bersetubuh. Jadi aku hanya akan menggunakan tangan dan mulut… jadi gak usah telanjang kan?”
“Nggak fair dong ah. Seperti di film itu kan sama-sama telanjang.”
“Mereka nantinya bersetubuh Mbak. Wajar aja kalau sama-sama telanjang.”
“Pokoknya kamu harus telanjang juga ah. Biar aku gak risih telanjang sendirian,” ucap Mbak Ayu sambil menurunkan celana trainingku sampai terlepas dari kakiku. Baju kausku pun ditanggalkannya, sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam saja. Pada saat itulah Mbak Ayu melepaskan dasternya, sehingga langsung jadi telanjang bulat.
Aku tertegun. Memperhatikan sekujur tubuh kakak tiriku dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Tubuh yang tinggi montok, dengan sepasang payudara yang gede dan bokong yang semok pula. Sementara kulitnya yang putih bersih, begitu mulusnya, tak terlihat noda setitik pun.
Memang sangat berbeda kalau kubandingkan dengan Mbak Ita. Kalau Mbak Ayu berperawakan tinggi montok, Mbak Ita tergolong tinggi semampai.
“Aku sudah boleh menyentuh bagian-bagian penting di tubuh Mbak?” tanyaku ragu.
“Iya… anggap aja aku ini cewek di dalam film itu. Dan kamu cowoknya. Jangan canggung-canggung,” sahut Mbak Ayu sambil merebahkan diri kembali di atas tempat tidurku.
“Padahal kita ini saudara, ya Mbak.”
“Saudara lain ayah beda ibu. Hihihiiii… kita kan sebenarnya cuma terbawa oleh papamu dan mamaku. Kamu ini jadi adikku. Padahal kita tidak ada hubungan darah. Ayolah… jangan buang-buang waktu Sam.”
Aku melirik ke layar laptopku. Si cowok tampak sedang mengemut pentil toket ceweknya, sementara tangan si cowok sedang menggerayangi kemaluan si cewek.
Dengan jantung berdebar-debar aku pun bermaksud untuk mengikuti adegan di layar laptopku. Merayap ke atas tubuh telanjang kakak tiriku, Dan langsung memagut pentil toket Mbak Ayu, sementara tanganku mulai mengusap-usap kemaluannya yang bersih dari rambut.
Tapi sebelum kumulai mengemut pentil toketnya, Mbak Ayu berkata setengah berbisik, “Cium bibirku dulu Sam…”
Kuikuti keinginannya. Kupagut bibir Mbak Ayu, yang disambut dengan juluran lidahnya. Kusedot-sedot lidah kakak tiriku itu. Lalu kami saling lumat dengan gairah yang makin lama makin menghangat.
Tadinya aku ingin melakukan seperti yang ditayangkan di layar laptopku, menggerayangi kemaluan Mbak Ayu sambil mengemut pentil toketnya. Tapi adegan di layar laptopku sudah bergerak lebih jauh. Wajah si cowok sudah berada di depan kemaluan ceweknya. Lalu mulai mengoral cewek itu.
Menyaksikan adegan itu aku pun berubah pikiran.
Wajahku melorot turun ke perut Mbak Ayu. Menjilati pusar perutnya sesaat. Lalu turun lagi, sehingga wajahku langsung berhadapan dengan kemaluan kakak tiriku.
Aku terlongong sesaat di depan kemaluan yang sangat bersih dari rambut itu. Bentuknya tembem pula. Jujur… kalau memperturutkan nafsu, ingin saja kujebloskan batang kemaluanku ke dalam celah yang sedang kungangakan ini. Namun aku mati-matian mengontrol diriku sendiri, agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Mbak Ayu sendiri tampak ingin mengikuti adegan di layar laptopku. Kedua tangannya menarik sepasang pahanya ke atas dan dikangkangkan selebar mungkin. Sementara ujung lidahku sudah mendarat di permukaan kemaluannya yang sedang kungangakan dengan kedua tanganku ini.
Lidahku pun mulai beraksi. Menjilati bagian yang berwarna pink dan mengkilap basah itu. Mbak Ayu pun mulai menahan-nahan nafasnya. Entah apa yang sedang dirasakannya. Sementara rintihan-rintihan nya mulai terdengar, meski cuma perlahan sekali. “Iya Saaam… iyaaa… ooooh… ini enak sekali Saaam…
Namun aku pun sebenarnya sudah mulai sulit mengatur nafasku sendiri. Karena semua yang kuhadapi ini benar-benar membangkitkan gejolak nafsu birahiku.
Meski begitu, aku masih tetap berusaha mengontrol diriku sendiri. Menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang melampaui batas. Meski membuatku tersiksa.
Dan aku semakin giat menjilati kemaluan Mbak Ayu. Bahkan setelah kutemukan clitorisnya, aku pun memusatkan jilatanku ke arah kelentit itu. Sementara kedua tanganku terjulur ke arah dada kakak tiriku. Dan mulai meremas sepasang toketnya dengan lembut.
Terasa paha Mbak Ayu mulai mengejang-ngejang. Sementara rintihan-rintihannya mulai terdengar meski seperti ditahan, mungkin agar jangan terlalu keras. “Saaaam… ooooh… ini lebih enak lagi Saaam… iyaaaa. jilatin terus kelentitnya Saaam… dudududuuuuh… enak sekali Saaam…”
Mbak Ayu merintih terus sambil berkelojotan. Kedua tangannya terkadang meremas-remas kain seprai, terkadang mencengkram sepasang bahuku dan terkadang juga meremas-remas rambutku sampai kusut masai.
Makin lama, raungan histeris Mbak Ayu makin tidak terkendalikan lagi. Seandainya Papa, Mama dan saudara-saudaraku sedang berada di rumah, pastilah akan heboh mendengar suara rintihan Mbak Ayu yang makin lama makin keras ini.
“Iyaaaa Saaaam… ini enak sekali Saaam… jilatin terus itilnya Saaaam… iyaaaaaa… iyaaaa… ooooooh Saaaam… ini luar biasa enaknya Saaam…”
Mbak Ayu semakin histeris, sementara aku pun semakin sulit mengendal9ikan diri. Karena membayangkan betapa nikmatnya kalau kontolku dimasukkan ke dalam kemaluan kakak tiriku yang sudah basah sekali ini.
Namun aku tetap mati-matian mempertahankan nafsuku sendiri. Jangan sampai melakukan sesuatu yang kusesali di kemudian hari.
Setelah belasan menit aku menjilati kemaluan kakak tiriku, akhirnya dia berkelojotan dengan nafas tak beraturan. Lalu ia mengejang sambil menahan nafasnya… perutnya pun terangkat dan terdengar rintihannya, “Oooooh… Saaam… ini… ini seperti ada yang mau keluar… ooooh… Saaaaaaam…”
Aku pun merasakan sesuatu yang lain. Kemaluan Mbak Ayu terasa berkedut-kedut. Mungkin ia sedang menikmati orgasmenya.
Dugaanku tidak meleset. Sesaat kemudian Mbak Ayu mendorong kepalaku sambil berkata, “Jauhkan dulu mulutmu dari memekku Sam… ooooh…”
Kuikuti permintaannya itu. Kujauhkan mulutku dari kemaluan kakak tiriku. Lalu duduk bersila di samping tubuh telanjang yang sangat menggiurkan itu.
Mbak Ayu yang masih celentang itu menatapku dengan senyumnya yang tampak begitu manis di mataku.
“Mbaaak sudah orgasme ya?” ucapku sambil mengelus-elus perut Mbak Ayu yang terasa lembab oleh keringat.
Mba Ayu bangkit, duduk di sampingku sambil menyahut, “Kayaknya sih iya… barusan terasa seperti melayang-layang… lalu ada sesuatu yang mengalir di dalam kemaluanku. Nikmat sekali… terima kasih Sam…”
Ucapan Mbak Ayu itu dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibirku. Dalam suasana batin yang sudah berubah.
Ya, dalam keadaan seperti ini aku memandang Mbak Ayu tak sekadar kakak tiri yang harus kuanggap seperti kakak kandungku belaka. Aku pun memandang Mbak Ayu sebagai cewek yang menggiurkan, karena tubuh tinggi montoknya begitu mulus dan hangat. Wajahnya pun cantik, sehingga bodohlah aku ini kalau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Karena itu, ketika Mbak Ayu mengecup bibirku, langsung kusambut dengan lumatan hangat, sambil mendekap pinggangnya yang masih telanjang bulat. Dan Mbak Ayu pun terasa menyambut lumatanku. Lengannya melingkar di leherku, lalu balas melumat bibirku, tak ubahnya membalas lumatan kekasih tercintanya.
Setelah ciuman kami terlepas, Mbak Ayu menatapku sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. “Sam… kamu sudah memuasi diriku… tapi Sam sendiri belum mendapatkan apa-apa ya?”
“Nggak apa-apa Mbak. Yang penting Mbak sudah puas. Kalau aku sih gampang… dikocok juga nanti ngecrot,” sahutku.
“Kuemut aja ya. Mau?”
“Kalau Mbaknya mau sih silakan aja.”
“Mau, “Mbak Ayu mengangguk sambil tersenyum, “hitung-hitung belajar aja. Tapi putar dulu bokep yang ada adegan ngemut penis.”
Dengan mudah kuputar bokep yang sesuai dengan permintaan Mbak Ayu. Bokep yang menonjolkan felatio (ngemut penis). Kebetulan ada bokep yang dimintanya itu.
Adegan di bokep itu awalnya gantian saling oral, kemudian berlanjut ke adegan posisi 69.
“Nah itu adegan enamsembilan Mbak,” kataku setelah layar laptopku menayangkan adegan 69. ceweknya di atas cowoknya di bawah dalam posisi sungsang.
“Heee… boleh juga tuh… kita ikutin posisi itu ya, “ajak kakak tiriku sambil mengguncang pergelangan tanganku.
Aku pun menyetujui ajakan Mbak Ayu. Lalu melepaskan celana dalamku sambil menelentang di dekat laptopku. Sengaja kuambil posisi sedemikian rupa, agar Mbak Ayu tetap bisa memandang ke arah layar laptopku pada waktunya nanti.
Setelah aku menelentang dengan penis yang sudah sangat tegang ini, Mbak Ayu menelungkup di atasku dalam posisi terbalik. Wajahnya berada di atas penisku, sementara kemaluannya berada di atas wajahku.
Lagi-lagi aku menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan. Menyaksikan sebentuk kemaluan yang tembem dan agak menganga, karena sudah mencapai orgasmenya tadi. Dan kini aku akan menjilatinya kembali, sementara Mbak Ayu akan mengoral penisku.
Ya… ia mulai menjilati leher dan puncak penisku, seperti yang sedang ditayangkan di layar laptopku. Lalu ia mengulum penisku yang sedang dipegangnya, lalu air liurnya terasa mengalir ke badan penisku.
Aku tidak memberi pengarahan tentang bagaimana cara mengoral penis yang baik. Biarlah dia mengerti sendiri dengan mengikuti adegan-adegan di layar laptopku. Lagian aku sendiri mulai sibuk menjilati kemaluannya yang sudah bertempelan dengan mulutku.
Jujur, aku sendiri baru pertama ini merasakan dioral oleh perempuan. Karena itu ketika Mbak Ayu makin agresif menyelomoti dan mengurut-urut penisku, melayang-layang juga batinku dibuatnya. Dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika aku sedang asyik menjilati kemaluan Mbak Ayu, terkadang aku sendiri mengejang-ngejang karena permainan oral kakak tiriku itu menyentuh bagian sensitif di penisku, yang membuatku harus menahan nafas saking enaknya.
Mbak Ayu juga sama. Ketika sedang asyik menyelomoti dan mengurut-urut penisku, terkadang ia pun mengejang-ngejang, terutama pada waktu aku menjilati kelentitnya.
Begitulah yang terjadi. Kami saling mengoral, tapi terkadang diam dan mengejang, karena merasakan nikmatnya dioral.
Lebih dari setengah jam kami melakukannya, sampai akhirnya penisku berejakulasi, sementara Mbak Ayu sudah duluan mencapai orgasme lagi untuk yang kedua kalinya.
“Aduuuuh… luar biasaaa…” ucap Mbak Ayu sambil menelentang di sampingku.
“Apanya yang luar biasa Mbak?”
“Luar biasa enaknya…” sahut Mbak Ayu sambil memiringkan tubuhnya ke arahku. Dan mengelus dadaku yang masih keringatan, “Kalau penismu dimasukkan ke dalam memekku, mungkin lebih enak lagi, ya Sam.”
“Jangan mikir ke sana Mbak. Kita cari yang aman-aman aja. Kalau benar-benar bersetubuh kan ada resikonya. Pertama, virginitas Mbak hilang. Kedua, Mbak bisa hamil.”
“Aku rela kalau kamu yang ambil perawanku,” kata Mbak Ayu sambil memegangi penisku yang sudah lemas, “Soal hamil kan bisa dicegah. Besok aku beli pil kontrasepsi ya.”
“Besok kan Minggu Mbak. Apotek tutup semua.”
“Oh iya ya. Senin aja beli pil kontrasepsinya.”
“Senin pagi Papa, Mama, Yoga dan Mbak Nita udah pada pulang.”
“Iya ya… “Mbak Ayu tampak seperti sedang berpikir.
“Santai aja Mbak… jangan terburu nafsu. Apa pun yang Mbak inginkan, akan kulakukan. Tapi jangan terburu-buru gitu. Kita cari dulu waktunya yang ngepas.”
“Janji ya… kamu bakal mau menyetubuhiku nanti…”
“Iya, iya… asalkan Mbak bisa merahasiakannya dan jangan menyesal di kemudian hari.”
Mbak Ayu tersenyum manis. Mengecup pipiku, lalu berbisik, “Aku akan merahasiakannya. Dan takkan menyesal di kemudian hari.”
Dan malam semakin larut…
Senin pagi Mama, Mbak Ita dan Yoga pada pulang dari Semarang. Tapi Papa tak pulang bersama mereka. Kata Mama, Papa masih akan berada di Semarang, karena ada urusan keluarga besar yang harus diurusnya.
Sorenya, baru saja aku pulang kuliah, Mama minta diantarkan ke mall. Banyak yang mau dibeli, katanya.
Memang Mama sering mengandalkanku nyetirin mobilnya, meski dia bisa nyetir sendiri. Bahkan Papa juga terkadang suka minta disetirin olehku.
“Kalau gitu aku mau mandi dulu, ya Mam,” kataku minta izin kepada ibu tiriku.
“Iya mandi dulu deh. Makan malam sih nanti aja di mall, sambil temenin mama makan.”
“Siap Mam,” sahutku, lalu bnergegas masuk ke dalam kamarku. Dan masuk ke dalam kamar mandi pribadiku.
Setelah mandi, kukenakan celana jeans dan baju kaus berwarna biru tua. Lalu mengambil kunci mobil Mama yang tergantung di atas lemari kecil ruang keluarga.
Mesin mobil Mama kupanaskan beberapa menit, kemudian kukeluarkan dari garasi. Mama pun muncul di teras depan dan melangkah ke pintu mobil sebelah kiri depan.
Sesaat kemudian aku sudah meluncurkan mobil Mama di jalan aspal.
Lalu terdengar suara Mama di samping kiriku, “Sam… di mall itu kan ada hotel. Pintu liftnya juga ada di dekat tempat parkir kan?”
“Iya. Emangnya kenapa Mam?” aku balik bertanya.
“Nanti pada waktu mama belanja, kamu cek in aja di hotel itu. Ada suatu hal penting yang ingin mama sampaikan. Tapi mama ingin menyampaikannya dalam keadaan tenang, jangan sampai ada orang ikut dengar.”
Meski heran kuiyakan saja perintah ibu tiriku itu. Lalu Mama memberikan sejumlah uang untuk membooking kamar hotel itu.
Setibanya di parkiran mall langganan Mama itu, kami berpisah. Mama masuk ke mall, sementara aku melangkah ke pintu lift yang menuju hotel itu. Untuk melaksanakan tugas dari Mama.
Setelah mendapatkan kamar yang diinginkan, aku pun menghubungi Mama lewat hapeku. Untuk melaporkan nomor kamar yang sudah dibooking atas namaku.
“Iya. Dalam seperempat jam juga mama udah selesai belanjanya dan langsung ke situ,” sahut Mama di speaker hapeku.
Aku pun rebahan di bed, sambil menunggu Mama datang. Sementara pintu kamar hotelnya sengaja tidak dikunci, supaya Mama bisa langsung masuk nanti.
Sebenarnya aku penasaran juga. Masalah apa sebenarnya yang ingin Mama sampaikan nanti? Sedemikian penting dan rahasiakah sehingga harus menyewa kamar hotel segala?
Ah… mudah-mudahan saja Mama bukan mau menanyakan masalah Mbak Ayu. Kalau hal itu yang ditanyakannya, pasti aku akan sulit menjawabnya.
Tak lama kemudian Mama masuk, sambil menjinjing kantong plastik besar.
“Kok cepat sekali belanjanya Mam?” tanyaku sambil memperhatikan Mama yang saat itu mengenakan celana corduroy biru tua dan blouse putih ditutup sweater biru tua juga.
“Kan sudah dipesan sejak seminggu yang lalu. Keburu berangkat ke Semarang, pesanannya baru bisa diambil sekarang. Nih ada t-shirt buat kamu juga,” kata Mama sambil menyerahkan t-shirt import yang merknya paling kusukai.
“Hehehee… terima kasih Mam, “sambutku sambil merentangkan t-shirt itu, Mama sendiri beli apa aja tuh?”
“Pakaian dalam semua,” sahut Mama sambil mengeluarkan isi kantong plastik besar itu. Isinya memang beberapa buah beha dan beberapa celana dalam wanita.
Dan… di depan mataku, Mama melepaskan celana corduroy, sweater dan blouse putihnya. Degdegan juga aku melihatnya.
Terlebih setelah Mama melepaskan behanya, mungkin karena mau mencoba beha barunya. Tapi tidak… Mama malah bertolak pinggang di depanku, dalam keadaan cuma bercelana dalam. Memamerkan sepasang payudaranya yang tampak masih bagus, mungkin karena pandai merawatnya.
“Tetek mama masih bagus kan?!” cetus Mama sambil mengangkat kedua payudaranya.
“Ma… masih.. ba.. bagus sekali Mam,” sahutku tergagap. Karena sesungguhnyalah sepasang payudara ibu tiriku itu… merangsang sekali.
Mama tersenyum ceria. Lalu menarik tangan kananku dan menempelkan telapaknya di payudara kiri Mama, “Peganglah… remas juga boleh… biar kamu tau kalau buah dada mama masih kencang…”
“Iii… iya Mam…” sahutku tersendat lagi. Sambil memegang payudara yang agak montok itu (tapi tidak segede payudara Mbak Ayu).
“Remaslah… jangan takut-takut,” kata Mama sambil menatapku dengan bola mata bergoyang perlahan.
Aku pun meremasnya seperti yang diminta oleh Mama. Wow… ternyata payudara Mama lebih kencang daripada payudara anaknya (Mbak Ayu). Tapi tentu saja aku tak berani mengatakan masalah Mbak Ayu. Karena masalah itu sudah menjadi rahasiaku juga.
“Seperti payudara gadis remaja,” ucapku, “Diapain Mam? Apakah diisi silicone?”
“Iiih, nggak. Mama sih cuma rajin minum jamunya aja. Mmm… kamu seneng sama buah dada mama?”
“Se… seneng Mam. Tapi campur takut…”
“Takut apa?”
“Takut ketahuan Papa.”
“Kan sekarang kita hanya berduaan di sini. Papa seminggu lagi baru pulang dari Semarang. Santai aja… apa pun yang terjadi di sini, jadikan rahasia kita berdua aja,” kata Mama sambil memelukku, sehingga aku semakin degdegan karena sepasang payudaranya itu bertempelan ketat dengan dadaku.
“Sekarang jawab sejujurnya, mama ini menarik gak bagimu?” tanya Mama sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
“Mama cantik dan sangat menarik,” sahutku jujur, seperti yang dimintanya.
“Kamu juga makin gede makin ganteng Sam,” bisik Mama dengan tangan merayap ke celana jeansku… dan menurunkan ritsletingnya… membuatku semakin berdebar-debar, dengan nafas semakin tak beraturan. Terlebih lagi setelah tangan Mama menyelinap ke balik celana dalamku… lalu terasa menggenggam batang kemaluanku yang memang sudah ngaceng berat ini…
“Wow… punyamu sudah keras gini Sam… “Mama mendorongku sampai terhempas ke atas kasur… sementara tangannya masih memegang batang kemaluanku yang semakin tegang ini.
“Mama… oooh… aku… aku…”
“Stttt… jangan heboh… makanya kamu diajak ke hotel ini, mama sedang membutuhkan sentuhan laki-laki… itulah hal penting yang mama maksudkan tadi di mobil, “Mama berjongkok di depanku sambil menurunkan celana jeans dan celana dalamku, sampai terlepas dari kakiku.
Aku mulai mengerti apa yang Mama inginkan. Bayang-bayang wajah Papa pun mulai menjauh dari pelupuk mata batinku.
Memang aku sendiri bingung pada awalnya. Karena aku teringat janjiku pada Mbak Ayu. Bahwa aku akan benar-benar menyetubuhinya setelah ia mendapatkan pil anti hamil. Namun sebelum janji itu dilaksanakan, Mama sudah mendahuluinya. Adakah orang lain yang mengalami kisah seperti ini?
Entahlah. Yang jelas Mama memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, ooo, lupalah aku pada segalanya. Terlebih lagi setelah Mama melepaskan celana dalamnya, lalu melanjutkan aksinya, mengoral batang kemaluanku dengan lincahnya.
Aku cuma celentang pasrah. Membiarkan Mama berbuat sekehendak hatinya. Dan jelas… permainan lidah dan bibir Mama ini… luar biasa enaknya…!
Pada suatu saat, Mama berjongkok sambil memegang penisku yang diarahkan ke celah vaginanya.
Aku masih terdiam. Cuma bisa melihat penisku mulai “ditelan” sedikit demi sedikit oleh celah kemaluan ibu tiriku.
“Kamu sudah pernah menyetubuhi perempuan?” tanya Mama setelah penisku lebih dari separohnya membenam ke dalam kemaluannya.
“Belum pernah Mam…”
“Sama sekali belum pernah?”
“Belum… berani sumpah, belum pernah Mam…”
“Berarti sekarang ini untuk pertama kalinya ya?”
“Iiii… iya Mam…”
Mama tersenyum, lalu mengayun pinggulnya naik turun, seperti joki yang sedang memacu kudanya. Liang kemaluan Mama pun terasa menggesek-gesek penisku. Dan ini membuatku terpejam-pejam, dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Tapi hanya belasan menit Mama beraksi dalam posisi WOT. Lalu Mama menggulingkan badannya ke sampingku, jadi menelentang dengan kedua paha dikangkangkan.
“Kalau mama main di atas, suka cepet orgasme. Lanjutkan posisi biasa aja Sam,” kata Mama sambil mengelus-elus kemaluannya yang semakin jelas di mataku. Kemaluan Mama berjembut tapi tipis dan jarang sekali, tidak menghalangi pandangan pada bentuk kemaluannya yang indah… lumayan tembem dan agak ternganga.
Meski belum jadi lelaki yang berpengalaman dalam soal sex, aku tahu apa yang harus kulakukan. Berkat macam-macam pengetahuan sex yang pernah kupelajari selama ini, termasuk dari koleksi.
Namun ketika aku meletakkan puncak penisku di celah kemaluannya yang ternganga itu, Mama pun membantuku. Memegangi leher penisku, lalu mencolek-colekkan moncongnya ke ambang pintu kenikmatannya yang sudah basah dan licin. Kemudian Mama memberi isyarat agar aku mendorong penisku.
Aku pun mengikuti isyarat Mama itu. Kudesakkan penisku sekuatnya. Dan… mulai melesak masuk ke dalam liang kemaluan ibu tiriku.
“Oooh… sudah masuk, Sam…” ucap Mama sambil merangkul leherku ke dalam pelukannya.
Dan penisku terasa semakin membenam ke dalam liang kemaluan Mama. Gila! Terasa benar enaknya penisku bergesekan dengan liang kemaluan Mama yang begini hangat dan licinnya. Sementara Mama pun memagut bibirku, lalu melumatnya dengan hangatnya.
Sejenak Mama lepaskan lumatannya, karena mau bicara sambil menepuk pantatku, “Ayo entotin… jangan direndem gini…”
“Iii… iya Mam. Kalau salah benerin ya,” sahutku sambil menarik penisku perlahan, lalu mendorongnya kembali… menariknya lagi dan mendesakkannya lagi.
Dan ini… luar biasa enaknya…! Enak yang membuat nafasku tersendat-sendat dan berdengus-dengus, sementara Mama pun mulai berdesah-desah dengan dekapannya di pinggangku yang terkadang bercampur dengan remasan-remasan.
Sementara itu entotan penisku pun makin lama makin lancar. Sehingga makin lupa jugalah aku pada segalanya.
Aku sudah pernah merasakan syurnya menjilati kemaluan Mbak Ayu. Tapi apa yang sedang kulakukan bersama ibu tiriku ini, adalah pengalaman pertama kalinya bagiku. Pertama kalinya merasakan nikmatnya penisku mengentot liang kemaluan perempuan.
“Mama… aaaah… ini enak sekali Mam… aaaah… me… memek Mama enak sekali Maaaa…” ucapku tersendat.
Mama pun menyahut terengah, “Oooooh… kontol kamu juga… eee… enak sekali, Sam. Agak cepatin dikit ngentotnya Saaam… iyaaaaa… iyaaaaa… mmmm… mama bakal lebih sayang lagi padamu Saaam…”
Aku sudah sering nonton bokep. Sehingga hanya butuh waktu beberapa detik saja maka aku pun merasa sudah mulai “pandai” melakukan persetubuhan dengan ibu tiriku ini.
Dan ternyata ngentot Mama tiriku ini luar biasa enaknya. Sementara Mama pun kelihatannya sangat enjoy dengan apa yang sedang kulakukan ini. Berkali-kali leherku direngkuh ke dalam pelukannya, lalu bibirku pun dilumat dalam kehangatannya.
Bahkan pada suatu saat Mama membisikiku, “Nanti kalau terasa udah mau lepas, lepasin aja di dalam memek mama ya… biar kebujanganmu menjadi milik mama.”
“Iya Mam… “hanya itu jawabanku, karena aku semakin asyik merasakan nikmatnya gesekan-gesekan antara penisku dengan dinding liang kemaluan ibu tiriku yang cantik dan seksi ini.
Ya… dari jarak yang sangat dekat ini aku bisa memperhatikan kecantikan Mama. Aku bahkan menilai Mama lebih cantik daripada anak-anaknya. Memang sepasang payudara Mama tidak segede payudara Mbak Ayu. Tapi bokong Mama lebih gede kalau dibandingkan dengan bokong Mbak Ayu mau pun Mbak Ita.
Dan yang jelas, sekujur tubuh ibu tiriku ini sangat padat. Bahkan perutnya pun terasa masih kencang, seolah belum pernah melahirkan.
Entah dengan cara apa Mama bisa merawat tubuhnya sampai sebegini bagus dan mulusnya. Yang aku tahu, Mama sangat rajin nge-gym. Hampir tiap pagi dia pergi nge-gym. Mungkin dia ingin agar tubuhnya tetap kencang, jangan ada yang kendur, meski usianya sudah kepala empat.
Cukup lama aku menyetubuhi Mama. Sehingga keringatku terasa mulai membersit dari pori-pori kulitku. Bahkan sebagian berjatuhan di wajah dan leher Mama. Tapi Mama tidak mempedulikannya. Bahkan pada suatu saat Mama berkelojotan sambil memelukku erat-erat. Lalu ia mengejang sambil meremas-remas bahuku dengan kencangnya.
“Saaaam… oooooh… mama udah le… lepasssssss… “rintihnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Lalu tubuh Mama terasa melemas. Matanya pun terbuka lagi, diiringi senyumnya yang tampak begitu sensual di mataku. Aura kecantikannya pun terasa memancar, membuatku tak ragu lagi untuk mencium bibir sensualnya.
Kemudian kulanjutkan lagi “perjalanan” birahiku yang belum selesai ini. Kuayun dan kuayun terus batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Mama yang terasa sudah sangat basah ini.
Mama yang barusan tampak lemas dan letih, mendadak seperti dibangunkan lagi gairahnya. Bahkan dengan nada bersemangat ia membisiki telingaku, “Nanti kita lepasin bareng-bareng ya… biar nikmat…”
“Ca… caranya gi… gimana Mam?” tanyaku terengah, tanpa mengurangi kecepatan entotanku.
“Nanti kalau mama mau lepas lagi, mama pasti kasihtau… terus kamu percepat entotannya secepat mungkin.”
“Iiii… iya… duuuh… me… memek Mama kok makin enak gini Mam?”
“Kontol kamu juga enak sekali, Sayang, “Mama merapatkan pipinya ke pipiku sambil mengusap-usap rambutku.
Aku pun mulai mengayun penisku bermaju mundur di dalam liang kemaluan Mama yang terasa mulai legit lagi. Tidak terlalu becek lagi. Gila… ini bener-bener enak! Enak yang membuat nafasku berdengus-dengus. Sementara Mama pun tidak berdiam diri seperti tadi. Mama mulai menggoyang pinggulnya… berputar-putar dan meliuk-liuk seperti perahu oleng di tengah samudra.
Mama seolah mengajakku berpacu menuju puncak kenikmatan. Pinggulnya meliuk-liuk dan menghempas-hempas ke kasur, menciptakan gesekan-gesekan yang ;luar biasa enaknya di penisku.
Aku pun semakin bersemangat untuk menggenjot penisku bermaju-mundur di dalam liang kemaluan Mama yang terasa semakin legit ini.
Keringatku pun bercucuran kembali. Begitu pula Mama. Dada dan lehernya terasa sudah membasah. Namun hal itu justru membuatku semakin bergairah untuk mengentotnya habis-habisan.
Sampai pada suatu saat Mama berkata terengah, “Ayo percepat entotannya Sam. Mama udah mau lepas lagi nih. Ooooh… ooooh… iyaaaaa… percepat lagi… iyaaaaa…!”
Aku mengayun penisku jauh lebih cepat… tak ubahnya seorang pembalap sepeda yang tengah mengayuh pedalnya menjelang garis finish. Makin lama makin cepat… makin cepat lagi… dan akhirnya aku menahan nafasku sambil membenamkan penisku sedalam mungkin tanpa menariknya lagi. Sementara Mama pun sedang berkelojotan, lalu mengejang tegang sambil memeluk leherku erat-erat…
Pada detik itulah aku merasakan sesuatu yang indah… indah sekali… bahwa liang kemaluan Mama terasa berkedut-kedut, tepat pada saat moncong penisku tengah menyemnprot-nyemprotkan sperma di dalam liang kemaluan yang sedang berkedut-kedut itu. Cret… cret… crettttt… crotttt… croooooottttt…
Aku menggelepar, lalu terkapar lunglai di atas perut ibu tiriku.
Setelah penisku lemas, lalu terlepas sendiri dari kemaluan Mama, aku menelentang di samping ibu tiriku. Pada saat itulah Mama mengusap-usap dadaku sambil berkata, “Kebujanganmu sudah tersimpan di dalam tubuh mama. Terima kasih, ya Sam. Mama akan semakin sayang padamu.”
“Tapi… bagaimana kalau nanti Mama hamil?” tanyaku cemas.
“Itu takkan terjadi. Mama dan Papa sudah sepakat, bahwa mama jangan sampai hamil. Supaya mama tetap sayang kamu dan Yoga, sementara Papa pun akan tetap sayang pada Ayu dan Ita. Karena itu mama ikut KB sejak menikah dengan Papa.”
“Jadi… kalau begitu… aku bisa bebas menyetubuhi Mama nanti?”
“Iya Sayang. Kalau kamu mau lagi, asalkan Papa gak ada di rumah, masuk aja ke kamar mama. Tapi jangan sampai saudara-saudaramu tau.”
Aku tersenyum senang mendengar ucapan Mama itu.
“Sebelum pulang, kita harus mandi dulu. Lalu makan di food court,” ucap Mama sambil turun dari bed.
“Iya Mam,” sahutku yang juga turun dari bed, “kita bisa mandi bareng kan?”
Mama menoleh padaku, lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Mama mengeluarkan sebotol sabun cair, sikat gigi dan odol dari tas kecilnya. Mungkin Mama memang sudah merencanakan semuanya ini sebelum meninggalkan rumah tadi. Terbukti dengan dibawanya sabun, sikat gigi dan odol itu.
Dan kami melangkah ke kamar mandi hotel, dalam keadaan sama-sama telanjang.
Di dalam kamar mandi memang disediakan sabun kecil, odol kecil, sikat gigi dan dua helai handuk putih.
Sebelum mandi, kuambil sikat gigi yang disediakan hotel itu. Sementara odolnya kuminta dari Mama, karena kurang suka melihat odol murahan yang disediakan oleh hotel itu.
Aku pun lalu menyikat gigi sebersih mungkin, sementara Mama mulai membasahi tubuh telanjangnya dengan pancaran air hangat dari shower. Aku, yang sedang menyikat gigi di belakang Mama, merasa terangsang lagi ketika memperhatikan bokong semok Mama itu. Dan pada waktu sedang berkumur, aku semakin terangsang ketika memperhatikan Mama yang sedang membersihkan kemaluannya dengan sabun cair dan semprotan air hangat shower.
Tanpa keraguan lagi aku mendekap pinggang Mama yang basah dari belakang. Sementara penisku yang sudah ngaceng lagi ini menempel di bokong Mama.
Tanpa memutar badannya, Mama memegang penisku sambil bersuara, “Sudah ngaceng lagi Sam?”
“Iya Mam…” sahutku sambil menggerayangi selangkangannya dari belakang. Lalu mendaratkan kedua tanganku di permukaan kemaluan ibu tiriku.
Dan Mama tahu benar apa yang harus dilakukannya. Ia melangkah ke washtafel. Di situ ia membungkuk sambil memegang bibir bak washtafel, dengan bokong ditunggingkan dan kedua kaki direnggangkan.
“Ayo masukin lagi dari situ,” ucap Mama yang sedang membelakangiku.
Tangan kananku pun meraba-raba selangkangan Mama dari belakang, sementara penisku dipegang oleh tangan kiriku.
Tak sulit bagiku untuk menemukan liang kemaluan Mama. Lalu kubenamkan penisku ke dalam liang kemaluan yang masih basah oleh air sabun itu.
Meski persetubuhan ini dilakukan sambil berdiri, ternyata rasanya lebih fantastis daripada waktu di atas bed tadi. Karena aku bisa mengentot Mama sambil menepuk-nepuk bokongnya yang gede ini. Terkadang tanganku pun bisa meraih toket Mama yang bergelantungan.
Dan yang jelas, kali ini durasinya jauh lebih lama daripada waktu di atas bed tadi…!
Setelah persetubuhan kedua ini selesai, kami pun benar-benar mandi sebersih mungkin. Kemudian kami tinggalkan hotel yang bersatu dengan mall itu.
Kebetulan foodcourt masih pada buka. Sehingga kami bisa makan dulu di salah satu counter.
Kemudian kami tinggalkan mall itu.
“Nanti di rumah kita harus bersikap seperti biasa aja ya Sam,” kata Mama ketika aku sudah mengemudikan mobilnya kembali di jalan aspal.
“Iya Mam. Tapi kalau aku kepengen lagi nanti gimana?” tanyaku.
“Nanti Papa bakal sering nginap di luar kota. Kalau Papa sedang di luar kota, kamu kan bisa menyelinap ke kamar Mama, tapi saudara-saudaramu jangan sampai ada yang tau.”
“Iya Mam.”
“Mmm… bagaimana kesannya setelah merasakan memek mama tadi?”
“Luar biasa enaknya Mam. Kayaknya sih aku bakal ketagihan. Hehehee…”
Mama memegang tangan kiriku sambil berkata, “Mama akan semakin sayang padamu, Sam.”
“Sama Mam. Aku juga akan semakin sayang kepada Mama.”
Setibanya di rumah, Mama langsung masuk ke pavilyunnya, sementara aku langsung naik ke lantai dua.
Kulihat pintu kamar Mbak Ayu tertutup. Aku pun mengendap-endap masuk ke dalam kamarku. Lalu menutupkan kembali pintu, sekaligus menguncikannya.
Aku memang tak mau diganggu dulu oleh Mbak Ayu. Karena fisikku takkan memungkinkan untuk melakukan “sesuatu” seperti yang dimintanya kemaren.
Tapi baru saja aku merebahkan diri di atas tempat tidur, Mbak Ayu mengetuk pintu perlahan-lahan. Terdengar pula suaranya, “Sam… Saaam… Saam… !”
Tak tega juga rasanya mendengar suara Mbak Ayu yang seperti memohon begitu. Akhirnya aku turun dari bed dan membuka pintu kamarku.
Mbak Ayu masuk ke dalam kamarku sambil berkata, “Kok dikunci pintunya? Biasanya kan nggak.”
“Aku letih sekali, Mbak. Tadi pulang kuliah langsung disuruh nyetir sama Mama. Mana jalanan lagi macet pula…” sahutku sambil duduk di pinggiran tempat tidurku.
“Mama ngajak ke mana?”
“Belanja ke mall. Terus ke sana-sini. Pokoknya bikin letih Mbak.”
Mbak Ayu mencium bibirku, lalu berkata, “Owh… pantesan lama. Aku punya berita bagus lho.”
“Berita apa?” tanyaku sambil mengelus paha putih Mbak Ayu yang tersembul di belahan kimononya.
“Tadi aku udah disuntik. Kata dokter, suntikan itu akan bertahan selama enam bulan. Berarti selama enam bulan kamu boleh mmneyetubuhiku sepuasnya. Dan takkan membuatku hamil.”
“Wow… Mbak pakai alesan apa sama dokter itu? Alesan udah punya suami tapi gak mau hamil dulu?”
“Nggak. Aku bilang punya pacar tapi udah sering menggauliku. Setiap bersetubuh selalu pakai kondom. Sedangkan aku nggak suka pakai kondom begitu. Makanya minta disuntik. Kebetulan dokternya mau menyuntikku.”
“Kalau gitu… besok aja ya Mbak. Jangan sekarang. Soalnya aku sedang letih sekali. Main sama perawan kan butuh energi yang bagus.”
“Iya nggak apa-apa. Besok malam sudah pasti kan?”
“Pasti Mbak,” sahutku sambil merayapkan tanganku makin ke atas… sampai di pangkal paha Mbak Ayu. Wah… ternyata Mbak Ayu sudah mempersiapkan diri… tanganku menyentuh kemaluan plontosnya yang tidak mengenakan celana dalam.
Mungkin dia sudah membayangkan enaknya diperawani olehku. Dan begitu menyentuh kemaluan tembemnya, penisku pun langsung ngaceng lagi…! Lalu… apakah aku masih tetap akan menolaknya malam ini?
Bersambung…
Tadinya aku takut kalau penisku tak mampu menembus keperawanan Mbak Ayu malam ini, karena aku baru habis-habisan dengan Mama di hotel.
Namun setelah menyadari keperkasaanku sendiri, bahwa penisku langsung ngaceng setelah menyentuh kemaluan Mbak Ayu yang tidak bercelana dalam ini. Lalu apa salahnya kalau kulakukan malam ini juga?
Mbak Ayu tidak memaksaku untuk melakukannya pada malam ini. Tapi kini justru aku yang mendesakkannya sampai terlentang di atas bedku. Mbak Ayu cuma menatapku dengan sorot heran. Dan membiarkanku melepaskan kimononya. Sehingga tubuh tinggi montoknya terbuka sepenuhnya di depan mataku.
“Mbak punya baby lotion?” tanyaku.
“Punya,” sahut Mbak Ayu, “Emang kenapa? Mau dilaksanakan sekarang?”
“Iya. Biar aku aja yang ngambil. Mbak kan udah telanjang gitu,” ucapku, “ditaroh di mana Mbak?”
“Di meja rias,” sahutnya.
Aku pun bergegas keluar dari kamarku, lalu masuk ke dalam kamar Mbak Ayu. Untuk mengambil lotion itu.
Sesaat kemudian aku sudah berada di dalam kamarku lagi, dengan pintu yang sudah ditutup dan dikuncikan. Lalu menghampiri Mbak Ayu yang masih terlentang sambil menyambutku dengan senyum manis di bibirnya.
Botol lotion punya Mbak Ayu itu kuletakkan di dekat bantal. Lalu kutanggalkan baju dan celana piyamaku, karena tak kuasa menahan diri untuk menerkam tubuh telanjangnya yang sangat menggiurkan.
Dan ketika aku benar-benar menerkamnya, mencium bibirnya yang sensual dan agak ternganga, kehangatan pun terpancar dari tubuh Mbak Ayu. Membuatku semakin bersemangat untuk menggumulinya dengan segenap gairahku.
Mbak Ayu pun menyambut gumulanku dengan dekapan erat di pinggangku, terkadang dengabn pelukan hangat di leherku… lalu menyerangku dengan pagutan dan lumatan mesra di bibirku.
Dalam keadaan seperti ini terlupalah aku bahwa dia seharusnya kuanggap sebagai kakak kandungku. Tidak… aku tak bisa lagi menganggapnya sebagai kakakku, seperti tak bisanya aku menganggap Mama sebagai ibu kandungku… karena biar bagaimana pun aku tak punya hubungan darah dengan mereka.
Dan aku tak mau berlama-lama lagi melakukan foreplay dengan kakak tiriku.
Kuambil botol plastik berisi lotion itu. Kubuka tutupnya dan kuarahkan ke mulut kemaluan Mbak Ayu sambil memijatnya. Lotionnya memancar ke dalam celah kemaluan Mbak Ayu, sengaja cukup banyak kukeluarkan lotion itu. Kemudian kupancarkan juga lotionnya di seputar permukaan kemaluan dan selangkangan Mbak Ayu.
Lalu kuusap-usap sekujur permukaan kemaluan Mbak Ayu yang sudah berlepotan lotion itu. Jemariku pun bermain di celahnya yang sudah licin.
Dan tak mau buang-buang waktu lagi, kuminta Mbak Ayu merenggangkan sepasang paha gempalnya sejauh mungkin, agar rudalku bisa meluncur leluasa menuju sasaran.
Seperti robot, Mbak Ayu menurut saja. Merentangkan sepasang pahanya, kedua tangannya pun dipakai untuk menarik lipatan lututnya, agar kedua p[ahanya tetap mengangkang dengan stabil.
Aku pun mengucurkan lotion itu ke penisku sendiri, sampai penisku benar-benar berlepotan lotion itu. Dengan cara seperti ini, aku yakin akan mudah memasukkan penisku yang sudah ngaceng berat ini ke dalam liang kemaluan kakak tiriku.
Namun kenyataannya tidak semudah itu. Berkali-kali puncak penisku meleset, kadang meleset ke bawah kadang ke atas juga.
Tapi setelah belasan menit aku berupaya melakukan penetrasi, akhirnya aku berhasil juga membenamkan penisku ke dalam liang kemaluan Mbak Ayu yang sangat sempit ini.
“Oooh… Sam… ini terasa udah masuk…” bisik Mbak Ayu sambil mendekap pinggangku erat-erat.
Aku pun merasakan keberhasilan usahaku. Dan aku jadi tahu bahwa cerita tentang gagalnya pengantin di malam pertama, adalah kisah kedunguan pengantin prianya belaka, ditambah dengan minimnya pengalaman.
Dengan bantuan lotion ternyata tidaklah sulit melakukan penetrasi kepada kemaluan perawan.
Memang terasa benar penisku memasuki lubang yang sangat sempit, namun tetap bisa membenam terus sampai lebih dari setengahnya, berkat pelicin yang sudah kugunakan.
Lalu aku mulai mengayun penisku perlahan-lahan. Memang masih seret rasanya. Namun makin lama makin lancar. Dan waktu aku mendorong penisku, terasa semakin jauh masuknya… bahkan akhirnya terasa mentok di dasar liang kemaluan Mbak Ayu.
Pada saat itulah aku mulai benar-benar mengentot kakak tiriku, sambil merapatkan dadaku ke dadanya.
Terdengar suara Mbak Ayu, “Sam… oooohh… ini kita… sudah benar-benar bersetubuh ya…”
“Iya,” sahutku, “Sakit nggak?”
“Nggak… tadi memang sakit sedikit… tapi sekarang terasa… eee… enak sekali Saaam…” sahut Mbak Ayu yang disusul dengan ciuman-ciuman hangatnya di bibirku. Membuatku semakin bergairah untuk mengayun penisku, bermaju mundur di dalam liang kemaluan kakak tiriku yang sangat sempit dan menjepit ini.
Namun masih sempat aku membisiki telinganya, “Jadi nanti bebas untuk ejakulasi di dalam punya Mbak?”
“Bebas,” sahutnya, “selama enam bulan bebas ejakulasi di dalam vaginaku. Setelah enam bulan, nanti aku akan disuntik lagi untuk satu semester berikutnya. Hiihiiihiii…”
Aku pun melanjutkan perjalanan birahiku yang teramat indah dan nikmat ini. Setelah agak lama, kurasakan liang senggama Mbak Ayu tidak terlalu sempit lagi. Karena lendir libidonya mulai membasahi liang kemaluannya. Sehingga aku pun semakin lancar mengentotnya.
Rintihan-rintihan histeris Mbak Ayu pun mulai bertaburan, “Saaam… oooh… ini… isi enak sekali Saaam… duuuuh… enak Saaam…”
Kamarku sudah kedap suara, karena ada ACnya. Jadi aku tidak takut kalau rintihan Mbak Ayu terdengar ke lantai bawah. Maka rintihan-rintihan Mbak Ayu malah kuanggap sebagai hal yang erotis. Yang membuatku semakin bergairah untuk mengayun penisku di dalam jepitan liang kemaluannya.
Aku pun tak ragu lagi untuk menikmati segala yang istimewa di tubuh kakak tiriku. Tak ragu lagi menciumi bibirnya yang sensual. Tak ragu lagi meremas sepasang payudaranya yang lebih montok daripada payudara Mama.
Hanya sampai di situ catatan Sammy yang tak sengaja kutemukan di flashdisknya.
Ya… aku meminjam flashdisk berisi video bokep itu dari adik tiriku yang biasa kupanggil Sam itu. Namun tanpa kusengaja kutemukan file yang Sam beri judul Rumah Kami Surga Kami itu.
Kalau tidak menyangkut pautkan namaku, aku takkan mempedulikan isi catatan pribadi itu. Tapi karena namaku disebut-sebut, dengan sendirinya aku ingin tahu apa saja yang Sam tulis mengenai diriku.
Dan yang sangat mengejutkan adalah langkah Sam dengan Mama itu. Benar-benar di luar dugaanku.
Apakah aku harus marah kepada Mama dengan apa yang telah dilakukannya bersama Sammy?
Tidak. Karena Sam bukan pacarku. Aku bahkan menganggap Mama hanya ingin mendapatkan apa yang tidak didapatkannya dari Papa. Dan aku juga tahu suatu rahasia yang pernah Mama sampaikan padaku. Bahwa diam-diam Papa sudah kawin lagi dengan wanita yang lebih tua dari Mama. Dan wanita itu adalah boss Papa sendiri.
Ya, sebenarnya catatan pribadi Sammy itu terjadi lebih dari 3 bulan yang lalu.
Aku juga tahu bahwa Papa jadi sering tidak tidur di rumah.
Ketika aku bertanya kepada Mama kenapa Papa jadi jarang tidur di rumah, akhirnya kudengar curhatan Mama.
“Dia sudah nikah lagi dengan bossnya sendiri. Dengan wanita yang lebih tua dari mama. Tapi ini rahasia. Jangan sampai Yoga dan Ita tau.”
“Terus… Mama diam saja?” tanyaku yang merasa ingin membela ibu kandungku.
Mama malah membelai rambutku sambil menjawab lirih, “Papa menikahi wanita itu bukan berdasarkan cinta. Makanya mama tidak mau protes. Bahkan mama tanda tangani surat ijin untuk Papa menikah lagi itu, karena tujuan Papa memang baik. Papa ingin meningkatkan taraf hidup kita. Dan sejak Papa menikahi bossnya itu, Papa bisa memperbesar rumah ini, Papa bisa membelikan mama mobil baru dan banyak lagi.
Aku terdiam. Mencoba untuk mengerti kenapa ayah tiriku menikah lagi.
“Satu hal penting yang harus kamu sadari… kalau Papa tidak menikahi bossnya itu, kalian berempat belum tentu bisa kuliah,” kata Mama lagi, “Jadi kita harus menilai dari sisi positifnya saja.”
“Terus… Mama nggak cemburu Papa punya istri lagi?” tanyaku.
“Nggak, “Mama menggeleng sambil tersenyum, “Kalau wanita itu lebih muda dari mama, mungkin mama akan cemburu. Tapi wanita itu sepuluh tahun lebih tua dari mama. Lagian Papa menikahinya atas dasar untuk mendapatkan posisi penting di kantornya. Posisi yang membuat Papa jadi punya duit banyak, untuk membiayai kita semua secara layak.
Banyak lagi yang Mama sampaikan padaku saat itu.
Rahasia itu sudah Mama buka sebelum aku menyerahkan kesucianku kepada Sam.
Dan setelah aku membaca catatan pribadi Sam, ternyata ada rahasia lagi yang bisa kubuka.
Bahwa Mama melakukan “sesuatu” dengan Sam, sebelum aku menyerahkan kesucianku kepada adik tiriku itu.
Dan kini aku jadi mengerti. Kalau Sam “menghilang” dari kamarnya, berarti Sam sedang berada di pavilyun. Sedang memuasi hasrat birahi Mama…!
Seperti pada suatu malam…
Hasrat birahiku sedang menagih-nagih. Dan aku ingin melakukannya bersama Sam. Tapi pintu kamarnya terkunci. Kucoba mengetuknya berkali-kali, tidak dibuka.
Aku berpikir sesaat. Hmm… mungkin Sam sedang berada di pavilyun, tepatnya di kamar Mama.
Ya, pavilyun itu terdiri dari tiga bagian. Kamar tidur, ruang cengkerama dan kamar mandi.
Aku ingin membuktikan dugaanku. Bahwa Sam sedang bersama Mama di pavilyun. Itulah sebabnya aku turun ke lantai bawah dan agak mengendap-endap menuju pavilyun. Mendekati jendela kamar Mama.
OMG…!
Aku mendengar suara rintihan-rintihan Mama…!
Jelas sekali di telingaku, “Iya Saaam… ooooh… Saaaam… iyaaaa… iyaaa… entot terus Saaam… ooooh… Saaam… oooooh Saaaam…”
Aku degdegan mendengar suara Mama dengan nada yang lain dari biasanya itu. Lalu aku kembali ke lantai atas lagi. Tak ingin nguping lebih jauh lagi, karena malu sendiri mendengar ibu kandungku sedang melakukan “sesuatu” dengan adik tiriku.
Tapi setibanya di kamar, aku jadi resah sendiri. Resah di dalam amukan birahiku yang semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba handphoneku berdering perlahan. Ternyata yang nelepon itu Yoga.
Tanpa pikiran yang aneh-aneh, kuterima call dari adik tiriku itu. “Ada apa Ga?” tanyaku.
“Maaf… Mbak punya flashdisk yang bisa kupinjam? Lagi ngerjain tugas, flashdiskku ketinggalan di kampus tadi Mbak, “tanya Yoga di speaker hapeku.
“Ada. Ambil aja ke sini.”
“Iya Mbak. Aku mau ke kamar Mbak sekarang.”
Setelah hubungan seluler diputuskan, aku meletakkan hapeku di meja riasku. Sambil menatap bayangan wajahku di cermin.
Masih cantik, pikirku. Tadinya aku persiapkan kecantikan ini untuk Sam. Tapi entah setan mana yang membunjukku, sehingga aku berubah pikiran, “Kenapa aku tidak menyiapkan kecantikanku ini untuk Yoga? Bukankah Sam sedang asyik bersama Mama? Tapi apakah Yoga bisa memberikan sesuatu seperti yang sering kudapatkan dari Sam?
Lalu keletakkan flashdisk yang masih baru di atas meja rias. Aku sendiri melangkah ke arah bed sambil memutar otakku.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku diketuk dari luar.
“Nggak dikunci, Buka aja Ga,” kataku sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, dengan belahan kimono yang sengaja kubuka lebar-lebar. Untuk memamerkan pahaku yang putih mulus ini.
Pintu terbuka. Yoga pun masuk ke dalam kamarku. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju kaus serba putih.
Kalau dibandingkan dengan Sam yang bentuknya ganteng dan macho itu, Yoga itu tergolong tampan dan cute. Tubuhnya pun tinggi langsing, tidak tegap seperti Sam.
“Flashdisknya di atas meja rias tuh,” kataku, “Masih baru. Format aja dulu nanti.”
“Iya Mbak,” sahut Yoga sambil melangkah ke arah meja riasku.
“Yoga… sini sebentar,” kataku sambil duduk bersila di atas bedku, dengan paha semakin terbuka di antara kedua sisi kimonoku.
Yoga sudah memegang flashdiskku, lalu melangkah ke arahku. “Ada apa Mbak? Mau ngasih duit lagi? Hehehee…”
“Aku malah mau ngasih sesuatu yang lebih bernilai daripada duit.”
“Ohya? Mau ngasih apa?” Yoga tampak bersemangat.
Kutarik pergelangan tangan Yoga, lalu kudekatkan mulutku ke telinganya. Dan berbisik, “Mau ngasih memekku. Mau nggak?”
“Haaa?!” Yoga tersentak dan menatapku dengan sorot ragu.
“Kamu udah punya pengalaman ngentot cewek?” tanyaku sambil tetap memegang pergelangan tangan adik tiriku.
Yoga cuma menatapku, tanpa menjawab pertanyaanku.
Namun akhirnya ia mengangguk.
“Sama siapa?” desakku.
“Sama teman kuliahku yang sudah punya anak dua.”
“Ohya? Jadi udah banyak pengalaman dong,” kataku sambil merayapkan tangan ke balik celana pendek putihnya. Ternyata Yoga tidak mengenakan celana dalam, sehingga aku bisa memegang batang kemaluannya yang terasa lebih panjang-gede daripada penis abangnya.
“Mbak… “Yoga menatapku dengan bola mata bergoyang ketika aku mulai meremas penisnya dengan lembut.
“Mau nggak ML sama aku?”
“Mau… tapi takut ketahuan Papa dan Mama… Mbak kan kakakku.”
“Papa lagi di luar kota. Mama sudah tidur. Dan kita kan saudara tiri. Bukan saudara kandung. Apa salahnya kalau kita bertualang?”
“Iya…” sahut Yoga sambil tersenyum.
“Tutup dan kunci dulu pintunya gih.”
Yoga mengangguk. Lalu melangkah ke arah pintu. Menutup dan mengunci pintu itu, lalu menghampiriku lagi. Pada saat yang sama, aku menanggalkan kimonoku, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku, karena kalau sudah malam aku terbiasa tidak mengenakan beha lagi.
“Bagaimana? Apakah aku ini menarik nggak?” tanyaku sambil bertolak pinggang di depan Yoga.
Yoga terbalalak dan bergumam, “Waaah… Mbak Ayu seksi habis… !”
Aku cuma tersenyum mendengar komentar Yoga itu.
Lalu aku duduk di pinggiran bed, sementara Yoga masih berdiri di lantai, persis di depanku. Pada saat itulah kupelorotkan celana pendek Yoga sampai terlepas dari kakinya.
Lalu tampaklah sebatang penis panjang gede yang sudah agak menegang. Memang lebih panjang dan lebih gede daripada penis Sam…!
Ini surprise bagiku. Bahwa Yoga yang tampan dan imut-imut itu ternyata memiliki penis segini gagahnya. Mengalahkan abangnya yang berpenampilan ganteng dan macho itu.
Aku sudah terbiasa memegang dan mempermainkan penis Sam. Karena itu aku tak ragu lagi memegang dan menciumi batang penis Yoga yang gagah dan mulai menegang itu.
Ketika penis Yoga kutempelkan ke pipiku, terasa ada hawa hangat tersiar dari alat vital adik tiriku itu.
Tapi aku membutuhkan penis yang benar-benar keras dan siap untuk dipompakan di dalam liang kewanitaanku. Bukan sekadar penis yang menyiarkan hawa hangat.
Karena itu aku mulai menjjilati leher dan kepala penis Yoga yang gagah ini. Kemudian kukulum dan kuselomoti penis Yoga yang tegangnya masih nanggung ini. Sementara air liurku sengaja kualirkan ke badan penisnya, lalu kuurut-urut batang penis Yoga, pada saat bibir dan lidahku mengeluti leher dan kepala penis gagah ini.
Dalam tempo singkat saja aku mulai merasakan penis Yoga makin menegang… makin menegang lagi… sampai akhirnya aku yakin sudah cukup waktunya untuk menikmati kejantanan adik tiriku ini.
Dengan godaan birahi semakin menjadi-jadi, kutanggalkan celana dalamku, lalu menelentang sambil menarik tangan adik tiriku.
Yoga pun terhempas ke atas tubuhku. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak canggung-canggung lagi. Dengan lahap dia mencelucupi puting toket kananku, sementara tangan kanannya meremas toket kiriku. Dan penisnya yang sudah full ereksi itu bertempelan dengan kemaluanku… membuatku semakin horny.
Namun aku tak mau mendikte Yoga. Kubiarkan dia beraksi atas inisiatifnya sendiri, tanpa pengarahan dariku.
Ternyata Yoga cukup kreatif. Bahkan mungkin pengalamannya lebih banyak daripada Sam. Ia tahu benar titik-titik sensitif di tubuhku. Dan titik-titik sensitif ini disentuhnya semua.
Bahkan pada saat aku semakin klepek-klepek dalam horny, Yoga melorot turun. Menciumi selangkanganku yang sudah menghangat ini. Kemudian ia mulai menjilati kemaluanku yang sudah agak basah ini.
Ooooh… gila… ternyata Yoga lebih trampil daripada Sam. Begitu lidahnya menyentuh kemaluanku, sasaran utamanya adalah clitorisku. Jelas ini membuatku jadi menggeliat-geliat dengan perasaan seolah tengah melayang-layang.
Ketika mulut Yoga seolah sudah membenam di kemaluanku, kedua tanganku mulai mengepak-ngepak kasur, sementara perutku sering terangkat secara spontan.
Desahan demi desahan pun mulai terhembuskan dari mulutku, sementara kedua tanganku meremas-remas kain seprai… terkadang juga meremas-remas rambut Yoga, dengan nafsu yang semakin menggila.
Bahkan pada suatu saat aku tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Aku pun mengepit kepala Yoga dengan kedua tanganku. Kemudian aku merengek dengan nada memohon, “Cukup Ga… masukin aja punyamu sekarang… aku sudah gak tahan…”
Untunglah Yoga mengerti apa yang kuinginkan. Ia merayap naik ke atas perutku, sambil memegangi batang kemaluannya yang sudah ngaceng berat itu.
Meski tidak kubantu, Yoga sangat mengerti ke mana dia harus membenamkan penisnya.
Beberapa detik kemudian, terasa penis Yoga mulai membenam ke dalam liang kemaluanku. Oooh… memang terasa lain… terasa seret gerakan penis itu, mungkin karena ukurannya itu… di atas rata-rata…!
Kenyataan yang satu itu justru membuatku semakin bergairah untuk menikmati gesekan kejantanan Yoga.
Dan ketika penis Yoga mulai bergerak maju-mundur di dalam liang kewanitaanku… ooh… gesekannya benar-benar terasa. Membuatku terpejam-pejam saking enaknya…!
Terlebih lagi ketika penis Yoga mulai cepat ayunannya, sehingga gesekannya dengan liang senggamaku pun lebih cepat… oooh… ini luar biasa nikmatnya.
Rintihan-rintihanku pun mulai berlontaran dari mulutku, tak terkendalikan lagi, “Yoga… oooh… ini enak sekali Ga… enak sekali… oooh… iyaaaaa… entot terus Gaaa… kontolmu luar biasa enaknya Gaaa…”
“Me… memek Mbak juga… luar biasa enaknya… masih sempit dan… dan legit sekali… Mbaaak…” sahut Yoga terengah-engah.
“Sama memek temanmu itu enak mana?” tanyaku penasaran.
“Jauh Mbak… memek dia kan sudah dua kali melahirkan… takkan bisa dibandingkan dengan memek Mbak ini… oooh…”
Aku senang sekali mendengar ucapan adik tiriku itu.
Dan Yoga makin gencar mengentotku. Membuat nafasku tertahan-tahan, sambil menggeliat-geliat nikmat.
“Nanti lepasin di dalam aja ya…” kataku pada suatu saat.
“Aman?” tanya Yoga sambil mempermainkan puting toketku.
“Aman… sudah disuntik… cukup untuk enam bulan…”
“Asyiiik… “hanya itu yang terlontar dari mulut Yoga. Lalu ia mempergencar genjotan penisnya.
Sementara mulut dan tangannya pun terus-terusan beraksi. terkadang menjilati leherku, lalu menjilati puting tetekku, terkadang juga menjilati ketiakku… ini semua membuatku makin terpejam-pejam dalam nikmat yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
Tangannya pun terkadang meremas toketku, di swaat lain meremas sepasang bahuku. Oooh… tak kusangka kalau Yoga ini ternyata jauh lebih trampil daripada abangnya.
Apakah itu karena pengalaman Yoga lebih banyak daripada pengalaman Sam? Ya… bukankah di dalam catatan pribadi itu Sam mengaku untuk pertama kalinya menggauli perempuan waktu menggauli Mama itu?
Entahlah. Yang jelas ketika aku merasa sudah mau mencapai orgasme, aku membisiki Yoga, “Yoga… oooh… aku udah mau lepas Gaaa…”
“Iya Mbak… kita barengin aja yok… biar nikmat…” sahut Yoga sambil mempercepat entotannya.
Sampai pada suatu saat kami sama-sama berkelojotan… lalu Yoga membenamkan penis gagahnya doi dalam liang kemaluanku, tanpa menggerakkannya lagi. Pada saat itulah aku merasakan indah dan nikmatnya puncak orgasmeku… yang Yoga tanggapi dengan sermprotan cairan kental hangatnya di dalam liang kemaluanku.
Pada saat itulah kami saling peluk… saling cengkeram seolah ingin saling meremukkan. Kemudian Yoga terkapar di atas tubuhku.
Terasa benar… sretttt… srettt… srettt… sretsrettttsreeeet… air mani Yoga membasahi liang kemaluanku, bercampur aduk dengan lendir libidoku yang sudah terpuasi.
Yoga mencabut penisnya dari liang kemaluanku. Lalu mengambil kertas tissue dari atas meja riasku. Mengelap penisnya dengan kertas tissue itu. Kemudian mengelap kemaluanku denbgan kertas tissue yang masih baru. Lalu mengenakan celana pendeknya kembali.
“Nggak mau bikin ronde kedua?” tanyaku sambil mencium pipi Yoga.
“Besok malam masih ada waktu kan Mbak. Kalau sekarang… aku harus ngerjain tugas dulu.”
“Terima kasih Yoga yaaa… aku pasti bakal ketagihan nanti.”
“Aku juga bakal ketagihan Mbak…”
Kami pun berciuman dengan mesranya.
Kemudian Yoga meninggalkan kamarku, dengan flashdisk baru itu.
Petualanganku dengan Yoga itu sungguh sangat berkesan di hatiku. Masalahnya, Yoga yang tampak seperti cowok innocent itu ternyata punya segalanya, untuk memuasi desir-desir birahiku.
Maka esok paginya, ketika Sam dan Ita sudah duluan berangkat kuliah, sementara aku dan Yoga baru siap-siap mau berangkat, sengaja kuhampiri adik tiriku yang biasa dijuluki si bungsu itu. Lalu aku berkata setengah berbisik, meski Mama belum tampak keluar dari kamarnya, “Nanti malam jam delapan tepat kutunggu di dalam kamarku ya.
“Siap Mbak,” sahut Yoga sambil tersenyum menggoda.
Lalu aku dan Yoga mengeluarkan motor masing-masing. Dan berpisah di depan rumah. Yoga menuju ke kiri, aku ke kanan.
Di atas motor yang kukemudikan ke arah kampusku, segala yang terjadi dengan Yoga tadi malam terbayang lagi di pelupuk mata batinku. Tapi aku bertekad, kepada Mama dan Sam, aku akan berusaha merahasiakan kejadian dengan Yoga itu. Demikian pula kejadian-kejadian dengan Sam aku akan berusaha merahasiakannya baik kepada Mama mau pun Yoga.
Tapi sampai kapan aku bisa menutup-nutupi semuanya ini?
Entahlah. Sangat mungkin salah seorang di antara mereka (Mama, Sam dan Yoga) bisa membocorkannya. Tapi kalau pun rahasia itu bocor, pasti bukan dari mulutku.
Setibanya di kampus, aku baru ngeh bahwa hari itu aku baru akan dapat kuliah jam sembilan nanti. Berarti aku berangkat kepagian, karena waktu aku tiba di kampusku, jam tanganku baru menunjukkan jam 07.10. Berarti aku harus menunggu hampir dua jam.
Tapi biarlah. Aku melangkah ke kantin saja. Mudah-mudahan sudah ada makanan yang bisa kunikmati di sana.
Lumayan, di kantin sudah ada bermacam-macam gorengan yang masih pada panas.
Aku pun meminta teh manis panas, sambil mengambil beberapa buah gorengan dan menyimpannya di sebuah piring kosong. Lalu duduk di kursi kantin yang masih sepi.
Pada waktu menyantap gorengan itu, aku malah menerawang ke masa laluku yang penuh dengan liku-liku. Tentang masa pacaranku yang selalu kandas di tengah jalan. Bahkan cowok yang terakhir, sangat bertolak belakang dengan awal pendekatannya padaku. Meski pun kutolak secara halus, dia sampai berlutut dengan mata berlinang-linang.
Akhirnya hatiku pun luluh. Dan menerima tembakannya berdasarkan perasaan kasihanku padanya. Ya, perempuan memang bisa mencintai lawan jenisnya dengan berbagai macam alasan. Begitu juga dengan cowok terakhir itu (yang aku malas menyebutkan namanya), aku menerimanya dengan dasar kasihan.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Setelah beberapa bulan menjadi pacarku, cowok itu malah berselingkuh dengan temanku sendiri. Membuatku geram… geram sekali.
Pada saat itu juga kuputuskan hubunganku dengan cowok brengsek itu.
Lalu, sejak saat itu aku males pacaran lagi. Mendingan konsentrasi pada kuliahku saja, biar cepat selesai, lalu nyari kerja. Gak mau mikirin cowok dulu.
Ternyata aku mendapatkan teman senasib. Teman kuliahku yang bernama Yessy itu pun mengalami nasib yang sama. Bahwa cowoknya yang dahulu seolah mengemis minta dikasihani, memohon agar Yessy mau menerimanya sebagai pacarnya. Lalu Yessy terima juga cowok itu sebagai pacarnya. Tapi endingnya sama dengan yang terjadi padaku.
Bahkan Yessy mengalami hal yang lebih parah dariku. Cowok itu berbelok arah setelah merenggut kesucian Yessy, setelah “kenyang menggauli Yessy…!
Merasa punya teman senasib, hubunganku dengan Yessy makin lama makin akrab. Bahkan boleh dibilang Yessylah sahabat terdekatku di kampus.
Tapi dalam soal sex, saat itu aku jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan “jam terbang” Yessy. Karena setelah putus dengan cowok yang telah merenggut keperawanannya itu, Yessy jadi senang bertualang. Meraih cowok demi cowok ke dalam pelukannya.
Setelah menyerahkan keperawananku pada Sammy, diikuti dengan persetubuhan demi persetubuhan dengan adik tiriku itu, aku pun merasa tidak terlalu ketinggalan oleh Yessy.
Aku pun menceritakan sejujurnya kepada Yessy, bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Namun siapa cowok yang telah merenggut kesucianku, masih kurahasiakan. Karena aku merasa malu menceritakan skandal di dalam rumahku sendiri.
“Ayu! Ternyata kamu udah di sini ya?” Yessy menepuk bahuku, sehingga terawangan masa laluku buyar seketika.
“Iya… aku kepagian datangnya. Lupa kalau hari ini baru ada kuliah jam sembilan nanti.”
Yessy melihat makanan yang ada di atas piringku, lalu meminta yang sama kepada bu kantin. “Sekarang hari Rabu kan?” ucap Yessy sambil duduk di sampingku.
“Iya. Emang kenapa?”
“Lusa kan Jumat. Long weekend tuh sampai Minggu.”
“Iya… terus mau ngapain di liburan tiga hari itu?”
Yessy mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu berbisik, “Aku bingung, ada dua cowok sama-sama ngajak kencan. Mending kubagi dua aja, yang seorang untukku, yang seorang lagi untukmu.”
“Siapa mereka? Teman sekampus?”
“Iya. Abbas dan Manuel.”
Aku terlongong. Aku tahu benar siapa mereka. Abbas itu keturunan timur tengah yang sering nraktir makan di sebuah resto favorit. Manuel juga bukan asli Indonesia, Ayahnya orang lokal, tapi ibunya orang Spanyol.
Kampusku memang agak berbeda dengan kampus lain. Di kampusku banyak indonya. Bahkan bule asli juga banyak yang kuliah di kampusku.
Abas dan Manuel itu memang ganteng-ganteng. Tapi entah kenapa, aku tidak tertarik pada ajakan Yessy itu. Apalagi kalau acaranya menjurus ke arah sex.
“Gimana? Mau ikutan? “tanya Yessy.
“Sorry, aku gak bisa. Udah ada janji yang harus kutepati. Lain kali aja,” sahutku.
“Ziaaah… padahal Manuel itu suka sama kamu, Ayu.”
“Tau,” sahutku, “Tapi aku udah ada janji, gimana?”
Yessy tampak kecewa.
Sementara aku teringat kembali godaan demi godaan yang Manuel lakukan padaku. Yang selalu kutanggapi dengan dingin. Karena saat itu aku memang sedang malas didekati cowok mana pun.
“Kalau kamu gak mau, aku juga gak mau kencan sama mereka ah,” ucap Yessy diakhiri dengan elahan nafas panjang.
“Kalau kamu berhasrat, kenapa harus ikut-ikutan aku?” tanyaku sambil menepuk punggung tangan Yessy yang terletak di atas meja kantin.
“Soalnya aku ngebayangin, kalau kamu ikut, pasti seru,” sahut Yessy.
“Seru gimana?”
Yessy menjawabnya dengan bisikan di telingaku, “Kita bisa foursome. Pasti asyik lho.”
“Iiiih… mendengarnya aja merinding aku nih…” sahutku.
“Kita kan gak usah mikirin pacaran dan serius-seriusan dulu. Yang serius sih nanti aja setelah kita diwisuda. Tapi kepalangan sudah gak virgin lagi, kenapa gak kita nikmati aja enaknya cowok?!”
Aku cuma terlongong. Namun diam-diam hatiku membenarkan ucapan sahabatku itu. Hanya saja aku masih ingin konsen kepada satu sosok baru… sosok adik tiriku yang bernama Yogama itu.
Sepulangnya dari kampus, seperti biasa aku memasukkan motorku ke garasi. Dan kulihat hanya ada motor Ita dan motor Sam di garasi. Sementara motor Yoga dan mobil Mama tidak ada. Berarti Mama sedang keluar. Karena itu aku balik lagi ke ruang makan. Kulihat Ita sedang menyantap risoles di situ. “Mama ke mana Ta?
“Pergi sama Sam,” sahut Ita, “Katanya sih mau nginap di rumah teman Mama. Gak tau ada acara apa.”
Aku mengernyitkan dahi sambil menghela napas. Lalu melangkah ke lantai atas, langsung masuk ke dalam kamarku.
Sam bersama Mama lagi. Mau nginap segala. Pasti mereka akan bergelut di ranjang. Dan aku bisa membayangkan apa yang Mama lakukan dengan Sam yang sudah dianggap brondongnya.
Tapi biarlah. Belakangan ini Mama pasti sering kesepian, karena Papa makin lama makin sering tidak pulang. Dan aku tahu kenapa Papa sering tidak pulang.
Padahal Mama juga masih membutuhkan sentuhan lelaki. Jadi, skandal Mama dengan Sam kuanggap sebagai hal yang wajar. Masih bagus skandal dengan orang serumah, tidak dengan orang luar.
Biarlah Mama merasakan hangatnya sentuhan Sam, karena aku justru sudah punya keasyikan baru, dengan Yoga itu.
Tapi… tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bahwa kalau Sam sedang berduaan dengan Mama, entah di mana, pasti flashdisk yang berisi catatan pribadi Sam itu takkan dibawa. Dan seandainya flashdisk itu kutemukan, pasti isi catatan pribadinya sudah bertambah.
Pintu kamar Sam terkunci. Tapi tiada kesulitan bagiku untuk membukanya. Karena kunci cadangannya ada padaku, seperti juga kunci cadangan pintu kamarku dipegang oleh Sam pula.
Aku juga sudah hafal di mana Sam biasa meletakkan flashdisknya. Di laci meja tulisnya. Dan aku masih ingat flashdisk mana yang dipakai untuk menyimpan catatan pribadinya itu.
Flashdisk itu kutemukan. Kubawa ke dalam kamarku, lalu kupasang di laptopku. Ternyata benar-benar banyak penambahannya. Maka cepat kucopy ke flashdiskku sendiri. Kemudian kukembalikan flashdisk punya Sam ke tempat asalnya.
Kututup dan kukuncikan lagi pintu kamar Sam dan kembali ke kamarku, untuk membuka catatan pribadi Sam yang sudah kucopy ke flashdiskku.
Waaah… ternyata catatan pribadi Sam sudah lumayan jauh perkembangannya.
Berdebar-debar juga aku membacanya…
Mama seolah diciptakan untuk menjadi sumber gairah birahiku. Bukan cuma itu, Mama juga makin lama makin menyayangiku. Sehingga apa pun yang kuminta selalu dikabulkannya.
Sementara itu Papa makin lama makin sering tidak pulang. Sampai pada suatu saat… ketika aku sedang berada di dalam pavilyun Mama, kudengar penuturan ibu tiriku itu, bahwa sebenarnya Papa sudah menikah lagi dengan wanita lain.”
“Apakah wanita itu lebih cantik dari Mama?” tanyaku penasaran.
“Entahlah, “Mama menggeleng sambil tersenyum, “Yang jelas usianya lebih tua dari mama.”
“Usianya lebih tua tapi statusnya istri muda?” tanyaku.
Mama mengangguk sambil tersenyum. Lalu mencium pipiku disusul dengan bisikan, “Biar aja Papa memuasi dirinya sendiri. Mama kan udah punya kamu, yang jauh lebih memuaskan daripada papamu.”
“Tapi Mama sama sekali gak punya perasaan marah atau cemburu?”
“Nggak Sam. Alasan Papa terlalu sulit ditolak. Wanita itu owner perusahaan di tempat Papa bekerja. Jadi Papa menikahi big bossnya sendiri.”
“Ohya?! Berarti papa punya motivasi lain dengan menikahi wanita itu?”
“Iya. Kamu masih ingat kan waktu mama dibeliin mobil. Terus Papa membeli empat buah motor untuk kamu dan saudara-saudaramu?”
“Iya Mam.”
“Nah itu semua hanya sebagian dari kompensasi dari Papa, agar mama bersedia dimadu. Duitnya mengalir dari wanita itu. Makanya mama biarin aja Papa menikah lagi, asalkan masa depan kita lebih terjamin.”
Aku cuma mengangguk-angguk dan mulai mengerti apa latar belakang Papa menikah lagi itu. Faktor duit alasannya. Tadinya aku memang kesal juga mendengar Papa punya istri muda itu. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Mama, aku pun mencoba untuk mengerti.
Tapi sesuatu yang sulit kumengerti adalah waktu Mama bertanya, “Kamu sudah tau Tante Fenti kan?”
“Tau Mam. Kan dia sering ke sini.”
“Nah sekarang siapkan stamina dan vitalitasmu, karena besok pagi kita akan bertamu ke rumahnya.”
“Lho… mau bertamu aja kok harus siapkan stamina segala?!”
“Ini rahasia ya. Jangan sampai bocor. Sebenarnya kita bakal punya acara istimewa di rumah Tante Fenti besok.”
“Acara apa?”
“Tante Fenti hanya punya anak seorang. Anak cowok yang sebaya denganmu.”
“Iya, kan anaknya pernah dibawa ke sini. Yang namanya Rendi itu kan?”
“Oh… iya ya… jadi kamu udah kenal dia kan?”
“Iya. Pernah ngobrol juga kok denganku.”
“Nah… Tante Fenti minta tolong sama mama untuk ngajarin Rendi bersetubuh.”
“Haaa?! Terus Mama mau aja?”
“Dengar dulu dong. Jangan mutus omongan mama,” ucap Mama sambil menepuk lututku, “Besok itu acaranya begini… mama sama Rendi, kamu sama Tante Fenti.”
“Maksud Mama yang jelasnya gimana?”
“Kamu boleh menyetubuhi Tante Fenti, sementara mama akan ngajarin Rendi begituan. Ngerti kan?”
“Hihihiii… Mama kok acaranya aneh gitu Mam?!”
“Nggak usah banyak komentar. Jawab aja, mau apa nggak?”
Aku terdiam, dengan pikiran tak menentu. Tante Fenti itu tergolong hitam manis, tapi memang seksi. Namun aku masih bingung menjawab ajakan Mama itu.
“Kalau kamu nggak mau ya udah. Mama akan pergi ke rumah Tante Fenti besok sendirian.”
Tanpa pikir panjang lebar lagi, kupegang kedua tangan Mama sambil berkata, “Demi Mama, apa pun yang Mama inginkan pasti kulakukan.”
Mama mengecup bibirku, lalu berkata, “Memang seharusnya kamu menyambut rencana mama dengan Tante Fenti itu sebagai sesuatu yang seru. Biar kamu juga bisa merasakan wanita lain, jangan hanya dengan mama melulu.”
“Sementara Mama bisa merasakan brondong lain juga kan?” ucapku dengan perasaan cemburu yang kusembunyikan di dalam hatiku.
“Mmm… yang penting kita bikin resfreshing, supaya hubungan kita tetap segar. Oke? Sekarang tidurlah. Besok pagi kita berangkat ke rumah Tante Fenti yang jaraknya lumayan jauh.”
Aku pun mengikuti permintaan Mama. Meninggalkan pavilyun dan naik ke lantai dua, lalu masuk ke dalam kamarku.
Di dalam kamar aku merenungkan semuanya itu. Tentang “mother swap” yang sudah Mama rencanakan itu.
Aku sudah kenal dengan Tante Fenti yang kelihatannya sangat akrab dengan Mama itu. Bahkan aku pernah ngobrol dengan wanita setengah baya berkulit sawo matang itu. Memang manis dan seksi.
Sebenarnya aku girang juga mendengar rencana Mama dengan Tante Fenti itu. Tapi tadi aku tak mau memperlihatkan kegiranganku, semata-mata ingin menjaga perasaan Mama saja.
Dan sebelum tidur, aku sudah membayangkan apa yang bakal terjadi besok di rumah Tante Fenti.
Esoknya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di belakang setir mobil Mama. Sementara saudara-saudaraku masih tidur semua. Maklum hari itu hari Minggu.
“Tante Fenti itu tidak punya suami?” tanyaku kepada Mama yang sudah berada di samping kiriku.
“Dahulu punya,” sahut Mama, “Tapi karena dia tidak punya anak terus, akhirnya diceraikan oleh suaminya.”
“Lho… Rendi itu anak siapa?”
“Keponakannya. Tapi Rendi dirawat sejak balita, sehingga Tante Fenti merasa seperti pada anaknya sendiri.”
“Ogitu…”
“Jadi Tante Fenti itu belum pernah melahirkan. Pasti memeknya lebih enak daripada memek mama. Hihihiii…”
“Ah Mama…”
“Nanti laporan ya. Mana lebih enak mama atau Tante Fenti.”
“Pasti enakan Mama.”
“Kenapa bisa mikir gitu? Kan kamu belum nyobain seperti apa rasanya memek tante Fenti.”
“Mama punya kulit putih bersih. Punya bokong semok. Punya wajah cantik dan sebagainya. Tante Fenti kan tidak seputih dan secantik Mama.”
“Tapi kata orang, perempuan yang item manis itu legit lho memeknya.”
“Masa sih?”
“Nanti buktikan aja sendiri.”
Aku terdiam dan konsen ke arah seitr yang sedang kukemudikan.
Memang rumah Tante Fenti itu agak jauh di luar kota. Tapi untung jalanan tidak macet, sehingga tidak sampai dua jam mobil Mama sudah dibelokkan ke pekarangan rumah Tante Fenti yang luas dan banyak pohon jeruknya itu.
Ketika aku dan Mama turun dari mobil, pintu depan rumah Tante Fenti terbuka.
Rendi yang membuka pintu itu. Ia menghampiriku sambil menjabat tanganku, “How are you Sam?”
“I am fine. And you?” sahutku.
“Fine too… ayo masuk, “ajak Rendi. Sementara Mama sudah duluan masuk ke dalam.
Bersambung…
Aku dan Mama disambut oleh Tante Fenti yang mengenakan kimono putih polos, tampak sederhana tapi menimbulkan “sesuatu” di hatiku, karena aku sudah tahu acara apa yang akan terjadi sebentar lagi di rumah megah ini.
Rendi sedang berjabatan tangan dengan Mama disambung dengan cipika-cipiki. Dan yang membuatku agak kaget, Tante Fenti mencium pipi kanan dan kiriku, disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku…!
Diikuti dengan bisikan pula, “Makin lama kamu makin ganteng aja Sam.” Aku cuma tersenyum canggung. Tapi aku yakin dalam tempo singkat saja aku akan bisa beradaptasi dengan suasana unik ini.
Sementara itu Mama tampak asyik duduk berdampingan dengan Rendi, dengan sikap yang begitu mesra pula. Jelas aku cemburu melihatnya.
Tapi aku menindas perasaan cemburu ini dengan memperlakukan Tante Fenti dengan hal yang sama seperti Rendi kepada Mama. Kulingkarkan lenganku di pinggang Tante Fenti yang duduk di sebelah kiriku, sementara Tante Fenti merapatkan pipinya ke pipiku.
“Ren, suguhkan wine yang baru datang kemaren itu. Biar suasananya lebih mencair,” kata Tante Fenti.
Rendi pun bangkit dan masuk ke dalam.
“Ohya… kamar Rendi di atas,” kata Tante Fenti kepada Mama, “Jadi nanti naik aja ke atas.”
“Dan Sam masuk ke kamarmu?” tanya Mama.
“Ya,” sahut Tante Fenti sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Rendi muncul sambil membawa sebotol wine dan empat buah gelas kecil. Kemudian Rendi sendiri yang menuangkan wine itu ke semua gelas yang dibawanya. Dan membagikan gelas-gelas berisi wine itu kepada Mama, kepada Tante Fenti, kepadaku, lalu untuknya sendiri.
Tante Fenti mengacungkan gelasnya ke depan. Lalu kami berempat melakukan toast… triiiing… dan kami minum isi gelas itu sampai habis.
“Wuiiihhh… wine apa neh? Rasanya kok keras gini…” kata Mama setelah menghabiskan winenya.
“Kan biar cepat naik,” sahut Tante Fenti sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Oke… kalau gitu aku mau langsung naik ke atas aja ya Fen,” ucap Mama sambil memegang pergelangan tangan Rendi.
“Silakan. Selamat bergumul yaaaa,” sahut Tante Fenti sambil memegang pergelangan tanganku. Lalu menoleh padaku, “Mau langsung masuk ke kamar tante?”
“Terserah Tante,” sahutku agak nervous. Karena tatapan Tante Fenti itu… sangat menggoda.
“Ayo, kalau gitu di kamar tante aja yuk,” Tante Fenti bangkit dari sofa sambil menarik tanganku.
Aku pun mengikuti langkah Tante Fenti masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata kamar Tante Fenti jauh lebih mewah daripada kamar Mama dan Papa. Aku tak mau menjelaskannya secara detail, takut dianggap katro. Yang jelas kamar Tante Fenti ini mewah wah wah… wah…!
Namun yang paling kusukai adalah… senyum Tante Fenti yang kearab-araban itu. Manis dan mengundang gairah.
Dan aku memang menyambut undangan Tante Fenti dengan dekapan di pinggang ramping yang masih tertutup kimono itu, sambil memagut bibirnya ke dalam lumatanku.
Tante Fenti pun menyambut lumatanku dengan lumatan yang lebih hangat. Sehingga kami seolah sepasang kekasih yang sudah lama berpisah, lalu berjumpa lagi dalam suasana yang hangat dan romantis ini.
Dalam pengaruh wine, aku pun tidak canggung lagi. Ketika Tante Fenti melepaskan ikatan tali kimono putihnya, aku seolah ingin membantunya untuk menanggalkan kimono itu.
Lalu sebentuk tubuh indah nyaris telanjang di depan mataku. Tubuh yang berkulit sawomatang namun sangat mulus dan indah. Hanya dua benda yang masih melekat di tubuh Tante Fenti. Penutup payudara dan penutup kemaluan. Keduanya terbuat dari bahan yang sama. Bahan kaus berwarna abu-abu. Yang unik adalah penutup payudara yang tidak bisa disebut beha itu punya dua tonjolan, karena pentil di dalamnya mendorong ke depan.
Tentu saja aku kleyengan dibuatnya. Dan dalam pengaruh wine keras itu membuatku jadi lancang. Langsung menyentuh “sesuatu” yang dipertontonkan oleh penutup memek itu…!
Dan gilanya, Tante Fenti malah melepaskan celana dalam berlubang itu, lalu duduk ngangkang di atas bed sambil mengelus-elus kemaluannya yang bersih dari jembi dan berkata, “Ayo mau diapain… memang yang ini buat kamu Sam.”
Kutatap mata bundar Tante Fenti yang bergoyang perlahan dan senyum manisnya yang lengkap dengan lesung pipit di kedua pipinya. Dan tanpa ragu lagi aku merangkak, dengan mulut mendekati antara kedua paha yang dikangkangkan itu. Langsung menciumi kemaluan tak berambut itu.
Namun sebelum sempat aku menjilati kemaluan Tante Fenti yang sudah kungangakan itu, tiba-tiba Tante Fenti memberi isyarat agar aku menelentang di atas bednya.
Kuikuti isyarat itu dengan perasaan ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Tante Fenti merayap ke atas dadaku. Mencium bibirku dengan hangatnya. Lalu berlutut, dengan kedua lutut tioletakkan di kanan-kiri kepalaku. Sementara kemaluannya itu… persis berada di atas mulutku…!
Seandainya aku tidak minum wine dulu, mungkin semuanya ini akan terasa begitu cepat terjadi. Namun karena aku sudah minum wine yang jauh lebih keras daripada wine yang pernah kuminum, semuanya jadi terasa wajar saja.
Bahwa sebentuk kemaluan yang indah telah menganga di atas mulutku. Lalu kemaluan itu menurun sendiri meski aku belum menyentuhnya.
Dan… kemaluan Tante Fenti itu sangat jelas di mataku. Bahwa bibir kemaluannya berwarna lebih gelap daripada kulit di dekitarnya. Bahwa selubung yang menyembunyikan kelentitnya pun begitu je;las lipatannya. Kelentitnya pun agak menyembul ke luar. Dan bibir kemaluannya yangh ternganga itu membuat bagian dalamnya yang merah membara itu jelas pula terlihat olehku.
Jam terbangku pun sudah lumayan banyak, berkat seringnya aku menggauli ibu tiriku. Sehingga dalam hitungan detik saja lidahku sudah menancap di liang yang menganga erotis itu.
Gila… fantastis sekali menjilati kemaluan Tante Fenti ini. Hangat dan licin.
sementara kedua tanganku pun berulang-ulang membukakan mulut kemaluan yang berwarna sawomatang itu.
Kemaluan Tante Fenti pun tidak diam saja. Bergerak-gerak maju mundur, membuatku semakin bergairah menjilatinya.
Sambil mengelus-elus rambutku, Tante Fenti berkata setengah merintih, “Duh Sam… kamu sudah pandai menjilati memek ya. Ini enak sekali Sam…”
Aku tidak menyahut, karena sedang asyik-asyiknya menjilati kemaluan Tante Fenti ini. Sementara aku merasakan sesuatu pula, bahwa penisku yang sudah tegang sejak tadi, semakin ngaceng saja rasanya.
Tapi aku berusaha untuk menciptakan kenikmatan buat Tante Fenti. Maka jilatanku pun mulai kuarahkan ke kelentitnya yang sudah tampak menonjol dan mengkilap itu.
Bukan sekadar menjilat lagi. Aku “berjuang” untuk menyedot-nyedot kelentit Tante Fenti, sambil “dibantu” dengan elusan-elusan ujung lidahku secara intensif.
Spontan Tante Fenti mulai mengejang-ngejang, menahan-nahan nafas dan mendesah-desah, “Saaam… ooooh… Saaaam… ooooh… Saaaam… ooooh… Saaaam… ooooh Saaaam…”
Sementara elusan-elusannya di rambutku mulai berubah jadi jambakan-jambakan yang lumayan kuat.
Cukup lama aku melakukan ini semua.
Sampai akhirnya Tante Fenti menjauhkan kemaluannya dari mulutku… lalu bergerak ke bawah. Menarik ritsleting celana jeansku, lalu menarik celana berikut celana dalamku sekaligus.
Dan dalam hitungan detik, keadaan sudah berbalik. Kini Tante Fenti yang melakukan felatio (mengoral penis). Membuat penis tegangku semakin tegang… semakin menagih-nagih.
Tapi tampaknya Tante Fenti sudah sangat horny. Baru beberapa menit dia menyelomoti dan mengurut-urut penisku, lalu ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang kewanitaannya.
Tidak sulit memasukkan penisku ke dalam liang kemaluan Tante Fenti yang sudah basah kuyup itu. Lalu ia pun mulai beraksi, mengayun pinggulnya sambil berlutut, dengan kedua lutut berada di kanan-kiri pinggulku.
Ternyata hal ini pun hanya bisa dilakukannya selama belasan menit saja. Akhirnya ia ambruk di atas perutku sambil merintih, “Aaaaah… tante udah lepas Sam… kontolmu terlalu enak sih…”
Aku tidak tahu apakah Tante Fenti bicara yang sebenarnya atau tidak. Yang jelas, Mama pun sering mengatakan hal yang sama. Bahwa aku jauh lebih memuaskan daripada Papa. Karena ereksiku sempurna dan bisa bertahan lama di atas perut Mama.
Dan ketika Tante Fenti sudah menelentang, sementara penisku sudah terlepas dari kemaluannya, aku pun tidak banyak basa-basi lagi. Kuletakkan moncong penisku di mulut vagina Tante Fenti.
Lalu dengan sekali dorong penisku sudah membenam lagi ke dalam liang kewanitaan Tante Fenti, diiringi desahan nafas sahabat Mama itu, “Oooooh…”
Tante Fenti pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Dan terdengar suaranya perlahan di dekat telingaku, “Ayo lanjutkan Sam… sekarang giliranmu…”
Ya, sekarang memang giliranku untuk mengayun penisku. Bermaju mundur di dalam liang kemaluan Tante Fenti yang sudah licin tapi terasa sangat legit ini.
Kini aku sudah semakin sadar, bahwa ucapan Mama itu benar. Bawa perempuan yang hitam manis seperti Tante Fenti ini, liang senggamanya legit…!
Aku mulai bisa membedakan mana vagina yang legit dan mana yang sekadar sempit menjepit belaka.
Sehingga ketika aku mulai mengentot memek Tante Fenti, komentarku terlontar begitu saja, “Memek Tante legit sekali…”
“Enak mana dengan memek mamamu?” tanya Tante Fenti sambil tersenyum bangga.
Aku agak kaget, karena poertanyaan itu membuktikan bahwa Tante Fenti sudah tahu kalau aku sudah terbiasa bersetubuh dengahn kibu tiriku. “Mmm… lain-lain rasanya. Ohya… Rendi pernah menyetubuhi Tante?”
“Belum pernah. Tante nggak mau digauli oleh keponakan yang sudah dianggap anak kandung tante sendiri sejak bayi. Makanya tante ngajak mamamu… supaya Rendi tidak sembarangan menyalurkan nafsunya di luar.”
Aku tidak menanggapinya, karena ada bagian yang termasuk ranah pribadi Tante Fenti. Lalu kulanjutkan mengayun penisku yang sempat terhenti beberapa detik barusan.
Tante Fenti yang sudah bergairah kembali itu merangkul leherku kembali. Dan asyik melumat bibirku. Lalu berkata lagi, “Nanti kalau tante pengen lagi… Sam bisa datang sendiri ke sini tanpa Mama kan?”
“Bisa… asal jangan malam aja…” sahutku tersendat, karena sudah mulai mempercepat ayunan penisku. Sambil menikmati legitnya memek Tante Fenti.
Tante Fenti pun tampak menikmati genjotan penisku yang kata Mama sangat tangguh ini.
Dan ketika aku sedamng asyik mengentot Tante Fenti, tiba-tiba aku teringat Mama. Dan membayangkan apa yang sedang terjadi antara Mama dengan Rendi.
Tidak aneh rasanya kalau hal itu membuatku cemburu. Lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan menggenjot penisku habis-habisan di dalam jepitan liang kemaluan tante Fenti yang legit menjepit ini.
Akibatnya, tante Fenti gedebak-gedebuk, menggeliat dan mengepak-ngepakkan sepasang tangannya di atas kasur. Sembil menyebut namaku berulang-ulang, “Saaam… ooooh… Saaaam… Saaaam… oooooh… Saaaam… ooooh…”
Bahkan pada suatu saat Tante Fenti membisiki telingaku, “Tante mau orgasme lagi Saaam…”
“Iiiyaaa… lepasin aja Tante. Aku ma… masih lama…” sahutku tersendat-sendat.
“Iiii… iiiniii lepasss… aaaa… aaaahhhhh… “Tante Fenti berkelojotan lalu mengejang tegang. Dan akhirnya tergolek lemas.
Ini sesuatu yang sangat nikmat bagiku. Karena dengan Mama pun aku merasa nikmat sekali pada saat beliau orgasme.
Maka seperti yang biasa kulakukan kepada Mama paska orgasmenya, kucium bibir Tante Fenti yang tampak lebih cantik. Karena aura kewanitaannya seolah terpancar dari wajahnya.
Aku memang belum ejakulasi. Tapi kuistirahatkan dulu entotanku. Menunggu Tante Fenti segar kembali.
Hanya lima menit aku beristirahat. Lalu kulanjutkan genjotanku. Memompakan penisku di dalam liang kemaluan Tante Fenti yang basah dan hangat ini.
Tak cuma itu. Tangan dan mulutku pun ikut “melengkapi” perjalanan birahi yang indah dan sangat menyentuh ini.
Bahwa ketika penisku bermaju-mundur di dalam jepitan liang kewanitaan Tante Fenti, tanganku mulai asyik meremas payudaranya dengan lembut, sementara lidahku menjilati lehernya yang sudah berkeringat, disertai dengan gigitan-gigitan kecil.
Aksiku ini membuat Tante Fenti semakin terpejam-pejam, dengan mulut tiada hentinya memanggil-manggil namaku, “Saaam… ooooh… Saaaam… ooo… oooh Saaam… oooh… Saaam… ini luar biasa enaknya Saaaam…”
Pergumulan birahi dengan Tante Fenti itu berlangsung dalam durasi yang cukup lama. Ketika penisku bertejakulasi di dalam liang kewanitaannya, ia sudah berkali-kali orgasme dalam genjotan penisku. Kemudian kuhamburkan spermaku di dalam liang senggamanya. Diakhiri dengan kecupan mesranya di bibirku. Lalu kami sama-sama terkapar di pantai kepuasan yang benar-benar indah buat dikenang di hari-hari berikutnya.
Dan itu bukan akhir dari persetubuhan kami. Karena selanjutnya, setelah gairah kami bangkit lagi, kami lakukan kembali persetubuhan dalam putaran yang kedua. Tentu saja dalam durasi yang jauh lama daripada putaran pertama tadi.
Maka wajarlah kalau kami baru bisa keluar dari kamar setelah matahari condong ke barat. Dengan sekujur tubuh serasa dilolosi.
Kami memang sudah mandi bersama di kamar mandi Tante Fenti. Sehingga kami tampak segar ketika keluar dari kamar Tante Fenti. Padahal lututku terasa lemas sekali. Dan perut sudah menagih-nagih, minta diisi.
Setibanya di ruang tamu, aku baru nyadar bahwa Mama sedang keluar, karena mobil Tante Fenti tidak ada. Berarti Mama bersama Rendi keluar, memakai mobil Tante Fenti. Karena kunci mobil Mama ada padaku.
Tante Fenti melangkah ke lantai atas, untuk membuktikan bahwa Mama benar-benar keluar bersama Rendi.
Tak lama kemudian Tante Fenti turun lagi sambil berkata, “Benar… mereka keluar. Mungkin mereka juga lapar, seperti kita.”
“Iya Tante.”
“Hari Minggu si bibi libur. Jadi gak ada yang masak. Kita makan di luar aja yuk.”
“Siap Tante.”
Beberapa saat kemudian aku dan Tante Fenti sudah berada di dalam mobil Mama, menuju sebuah rumah makan yang kata Tante Fenti enak-enak makanannya.
Di rumah makan itulah kami makan siang, meski waktunya sudah menuju ke sore hari.
Setelah perut diisi, Tante Fenti berkata, “Kamu bisa bertahan lama begitu, apa pakai obat kuat?”
“Iiih, nggak Tante. Malah yang kubaca di internet, makan obat apa pun pasti ada dampak negatifnya di kemudian hari.”
“Iya, itu betul. Yang penting harus olah raga saja tiap hari.”
“Iya, kalau olah raga memang suka.”
Dalam perjalanan pulang ke rumah Tante Fenti, percakapan itu dilanjutkan :
“Nanti kalau tante kangen, kamu bisa datang kan ke rumah tante?”
“Siap Tante. Tapi kalau aku yang kangen, apa bisa aku ke rumah Tante?”
“Iya, datang aja. Mau siang atau malam pintu rumah tante terbuka untukmu Sam.”
Ketika kami tiba di rumah Tante Fenti kembali, ternyata Mama dan Rendi belum pulang juga. Sehingga aku bertanya-tanya di dalam hati, ke mana mereka itu? Kalau cuma mau makan di luar, kenapa begitu lama belum pulang juga?
Tapi, karena Tante Fenti mengajakku masuk ke dalam kamarnya lagi, aku pun tak mempedulikan Mama lagi. Biarlah Mama pergi sesuka hatinya. Mendingan fokus pada Tante Fenti saja dulu.
Kami duduk di sofa yang agak jauh dari bed. Pada saat itulah Tante Fenti memegang kedua tanganku sambil berkata, “Terus terang aja, tante belum pernah mendapatkan kepuasan seksual sehebat tadi. Dan tante pasti ketagihan…”
Aku merayapkan tanganku ke balik gaun Tante Fenti, menyelundupkan tanganku ke balik celana dalamnya, sampai menemukan kemaluannya, “Aku juga sama. Pasti bakal ketagihan menikmati memek Tante yang sangat legit ini,” sahutku sambil mengelus-elus kemaluan Tante Fenti.
Sahabat Mama itu membalas dengan menarik ritsleting celana jeansku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Menggenggam penisku yang sudah mulai menegang lagi ini. “Kamu udah mau lagi?” tanyanya sambil meremas-remas penisku perlahan.
Aku menyahut, “Kayaknya sih iya, Tante.”
“Hebat… tante akan semakin tak bisa melupakanmu Sam,” ucap Tante Fenti sambil menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya.
Aku pun mengikutinya. Menanggalkan semua benda yang melekat di tubuhku, sampai akhirnya kami sama-sama telanjang bulat.
Dalam keadaan sama-sama bergairah, kami bergumul lagi di atas bed. Saling celucup, saling peluk, saling lumat dan saling remas. Tak ubahnya sepasang ular yang sedang bergumul di masa birahinya.
Terkadang aku berada di atas, terkadang juga berada di bawah. Dan pada suatu saat, ketika Tante Fenti sedang berada di atas, batang kemaluanku digenggamnya, lalu dibenamkan ke dalam liang kewanitaannya. Lalu ia beraksi, mengayun pinggulnya naik turun, sehingga liang kemaluannya yang licin itu mengocok penisku.
Aku pun terpejam-pejam dalam nikmat. Sementara kedua tanganku ikut merasakan nikmatnya meremas-remas sepasang payudara Tante Fenti yang bergelantungan di atas dadaku.
Cukup lama Tante Fenti beraksi dalam posisi WOT ini. Sehingga aku pun mulai keringatan. Sampai akhirnya Tante Fenti menggulingkan badan ke sampingku, jadi menelentang sambil merentangkan sepasang pahanya lebar-lebar… dan berkata, “Ayo lanjutkan… lagi enak-enaknya nih…”
Tanpa buang-buang waktu aku pun membenamkan penisku ke dalam liang kemaluan Tante Fenti. Lalu mulai mengentotnya sambil merapatkan dadaku ke dadanya. Sambil mencium bibir sensualnya dan meremas sepasang payudaranya yang terasa masih kenyal dan padat.
Tante Fenti pun menanggapi entotanku dengan goyangan pinggulnya yang meliuk-liuk dan menghempas-hempas. Rintihan dan desahannya pun berlontaran terus dari mulutnya, “Saaam… duuuuh… Saaaam… kamu benar-benar perkasa… tante pasti ketagihan nanti… Saaaam… ooooh… iyaaaaaa… iyaaaaa…
Semuanya ini membuatku semakin bergairah untuk menggenjot penisku yang tengah bermaju-mundur di dalam liang kemaluan Tante Fenti.
Namun tiba-tiba terdengar suara Mama, “Waduuuh asyiknya… sampai pada lupa makan ya?”
Aku kaget dan menoleh ke arah Mama yang ternyata suidah berada di dalam kamar Tante Fenti, bersama Rendi di sampingnya.
“Kami udah makan Mbak,” sahut Tante Fenti sambil mengelus-elus punggungku, “Justru Mbak Mien yang lama banget hilangnya tadi.”
“Aku juga makan sambil ngobrol sama Rendi. Tapi tempat makannya lumayan jauh, makanya lama pulangnya,“sahut Mama sambil duduk di dekat Tante Fenti yang sedang kusetubuhi. Sementara Rendi berdiri canggung di dekat bed Tante Fenti.
Tiba-tiba Mama menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya sambil berkata kepada Rendi, “Ayo Ren… kita ramaikan suasananya…! Kamu masih mau kan?”
Rendi cuma mengangguk sambil tersenyum. Lalu menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya. Dan merayap ke atas tubuh Mama yang sedang celentang di samping Tante Fenti.
Sebenarnya aku sendiri merasa kikuk karena sedang mengentot Tante Fenti di depan mata Mama. Tapi ketika Rendi sudah membenamkan penisnya ke dalam kemaluan Mama, aku jadi garang kembali. Mengentot tante Fenti habis-habisan…!
Mama tampak seperti bergairah disetubuhi oleh anak angkat Tante Fenti itu. Tapi sesekali Mama masih bisa memegang payudara Tante Fenti dengan sikap menggoda. Sementara Rendi semakin massive mengentot Mama.
Jujur, aku cemburu melihat Mama dientot oleh anak angkat Tante Fenti itu. Dan kecemburuan ini kulampiaskan ke tubuh Tante Fenti. Dengan garang kuentot liang senggama Tante Fenti dengan gerakan “hardcore” seperti yang sering kulihat di video-video dewasa.
Maka kami berempat seolah sedang memamerkan gairah dan kehebatan kami masing-masing.
Namun pada suatu saat terdengar suara Mama, “Rendi… apa kamu nggak pengen nyobain main sama bundamu?”
“Haa…? Em… emangnya boleh?” sahut Rendi tersendat.
“Boleh kan Fen?” tanya Mama sambil mengusap-usap pipi Tante Fenti.
Tante Fenti tampak kikuk.
“Rendi kan bukan anak kandungmu. Jadi biar ramai, kita bisa tukar pasangan sekarang. Nanti boleh juga tukar lagi ke posisi sekarang.”
“Mmm… sebenarnya Rendi melihatku telanjang saja baru sekarang. Gimana ya? Memangnya Rendi mau bersetubuh dengan bunda?” tanya Tante Fenti kepada anak angkatnya.
“Kalau diizinkan mau, Bun.”
Mendengar percakapan itu aku jadi terdiam. Membiarkan penisku di dalam liang kemaluan Tante Fenti, tanpa kugerakkan lagi.
“Ayo deh,” kata Mama, “Sam sama Mama, biarkan dulu Rendi bersama Tante Fenti.”
“Iya Mam,” sahutku patuh, sambil mencabut penisku dari dalam liang kewanitaan Tante Fenti.
Rendi pun melakukan hal yang sama. Mencabut penisnya dari kemaluan Mama. Lalu kami bertukar tempat. Rendi naik ke atas perut ibu angkatnya, sementara aku naik ke atas perut Mama.
Yang menarik adalah ketika Rendi mau memasukkan penisnya ke dalam memek ibu angkatnya. Kelihatan sekali canggungnya cowok yang sebaya denganku itu.
Tapi sesaat kemudian semuanya jadi cair. Rendi mulai asyik mengentot Tante Fenti, sementara aku pun mulai asyik mengentot memek Mama…
Bersambung…
Terdengar suara Tante Fenti kepada anak angkatnya, “Ini untuk pertama kalinya kamu melihat bunda telanjang kan?”
“Iii… iya Bunda. Dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan enaknya memek Bunda,” sahut Rendi.
Lalu Tante Fenti mulai menggoyang pinggulnya. Tapi tangan kirinya memegang pergelangan tanganku yang berada di samping bahu Mama. Matanya pun berkali-kali menatapku sambil tersenyum-senyum.
Tapi aku seolah tak peduli dengan hal itu, karena diam-diam aku sedang membanding-bandingkan di antara Mama dan Tante Fenti. Siapa di antara mereka yang lebih enak alat vitalnya?
Jujur… aku tak menemukan jawabannya. Karena baik Mama mau pun Tante Fenti punya kelebihan masing-masing, yang sulit menceritakannya. Maka kalau aku memberi nilai 80 kepada Mama, aku pun akan memberi nilai 80 kepada Tante Fenti.
Belum juga sempat aku membanding-bandingkan lebih jauh tentang siapa yang lebih enak, Mama atau Tante Fenti, tiba-tiba terdengar dengus nafas Rendi, “Uuuuugghhhhhh…”
Aku melirik dan melihat Rendi sudah terkapar di atas perut ibu angkatnya.
Lalu terdengar suara Tante Fenti, “Iiih… kamu… kok cepet banget meletusnya, Ren?!”
“Iii… iya Bun,” sahut Rendi yang lalu bergerak turun dari bed dan bergegas menuju kamar mandi. Tante Fenti pun mengikuti langkah Rendi menuju kamar mandi.
Pada saat itulah Mama berbisik ke telingaku, “Emang gitu… si Rendi kayak ayam… hihihihi…”
“Tadi berapa kali dia nyetubuhin Mama?” tanyaku.
“Dua kali. Yang pertama cuma dua menitan… yang kedua gak sampe lima menit. Kayak ayam kan?”
Aku menahan tawaku. Tapi lalu fokus ke memek Mama lagi. Memek yang sedang kuentot ini. Memang sulit menilai mana yang lebih enak, memek Mama atau memek Tante Fenti.
Mama dan Tante Fenti punya kelebihan masing-masing. Jadi kuanggap sebanding alias sama-sama enak.
Dan aku tak peduli lagi dengan Rendi. Aku lebih fokus merasakan nikmatnya mengentot ibu tiriku yang putih mulus dan berbokong semok ini.
Namun tak lama kemudian Tante Fenti sudah muncul lagi dalam keadaan masih telanjang, kemudian merebahkan diri di samping kanan Mama. Sementara Rendi pun muncul, tapi langsung keluar dari kamar Tante Fenti.
“Rendi kok payah gitu ya?” ucap Tante Fenti sambil miring ke arah Mama dan mengusap-usap permukaan payudara Mama.
Mama menyahut, “Barusan itu berarti Rendi sudah ketiga kalinya. Tadi dua kali denganku, lalu sekali denganmu. Kalau Sam main di ronde ketiga, bisa dua jam gak lepas-lepas.”
“Sekarang kan Sam main yang ketiga kalinya, karena tadi udah dua kali main denganku. Berarti dua jam lebih baru ngecrot?” tanya Tante Fenti sambil menepuk pahaku yang sedang bersentuhan dengan pahanya.
“Kenapa? Kamu mau main dengan Sam lagi?” tanya Mama sambil mencolek pipi Tante Fenti.
“Lanjutin aja lah… biar Mbak puas dulu,” sahut Tante Fenti.
“Aku sih gampang, nanti di rumah juga bisa main sekenyangnya dengan Sam,” kata Mama sambil memberi isyarat padaku, agar pindah ke atas perut Tante Fenti.
Aku menurut saja. Mencabut batang kemaluanku dari liang senggama Mama. Lalu kujamah kemaluan Tante Fenti. Dan bertanya, ”Kok jadi kering Tante? Abis dicuci ya?”
“Iya… jilatin lagi dong,” sahut Tante Fenti sambil merentangkan kedua belah pahanya. Sementara Mama turun dari bed, lalu melangkah ke kamar mandi. Mungkin Mama mau pipis atau mencuci kemaluannya.
Aku pun melanjutkan aksiku untuk mengentot Tante Fenti habis-habisan…
Dalam perjalanan pulang, Mama berkata, “Tadinya mama dan Tante Fenti sudah bikin rencana yang seru. Tapi ternyata Rendi tidak memenuhi syarat.”
“Rencana seru gimana Mam?” tanyaku di belakang setir mobil Mama.
“Mau tukar-tukaran posisi. Pada suatu saat, kamu dan Rendi akan mengeroyok Tante Fenti. Di saat lain mengeroyok mama. Gitu.”
“Jadi mama dan Tante Fenti mau gantian dithreesome Mam?”
“Iya. Tapi Rendi kayak ayam gitu, takkan bisa didampingkan dengan kamu Sam.”
“Kalau Mama mau dithreesome sih gak usah mengundang orang luar. Kan Yoga juga bisa kita ajak.”
“Yoga?! Iiih… dia kan maih di bawah umur, Sam.”
“Di bawah umur?! Mama lupa ya… tempo hari dia kan ulang tahun yang kedelapanbelas.”
“Iya ya… tapi mama serasa jadi rakus… masa anak laki-laki mama mau direnggut dua-duanya?”
“Ngggak apa-apa Mam. Buktinya aku… malah senang sekali setelah bisa merasakan enaknya memek Mama. Nanti Yoga juga pasti merasakan seperti yang kurasakan. Lalu Mama akan kami hangati kapan pun Mama mau.”
“Hmmm… kebayang juga sih…”
“Aku pernah baca pengakuan seorang istri yang dithreesome oleh suami dan sahabatnya. Wanita itu bilang, luar biasa nikmatnya.”
“Ya iya lah. Disetubuhi olehmu sendiri aja mama sudah merasa enak sekali, apalagi kalau dithreesome begitu… hmm… terus kapan mau ngajak Yoga gabung sama kita?”
“Terserah Mama… tapi untuk yang pertama mungkin harus di hotel yang bersatu dengan mall itu, ya Mam. Biar Mbak Ayu dan Mbak Ita jangan curiga.”
“Hari Selasa kan tanggal merah tuh,” kata Mama.
“Jangan di hari libur Mam. Nanti Mbak Ayu dan Mbak Ita curiga kalau kita hilang dari rumah.”
“Ya udah… kalau gitu atur aja sama kamu, Sam.”
Aku berpikir sesaat. Akhirnya kuusulkan untuk melaksanakan rencana itu pada hari Rabu. Aku akan mengajak Yoga ketemuan di mall yang ada hotelnya itu. Kemudian kuajak ke hotel dan mengeksekusi Mama…!
Pada hari Rabu yang sudah ditentukan, sepulangnya kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menuju mall yang ada hotelnya itu. Kebetulan masih ada kamar yang bednya dua. Lalu aku mandi sebersih mungkin. Setelah mandi, aku menunggu Yoga yang sudah mengiyakan untuk ketemuan di foodcourt mall.
Hanya beberapa menit aku menunggu Yoga pun muncul di foodcourt. Dan memesan juice guava kesenangannya.
“Sebenarnya sekarang ini ada acara apa Mas?” tanya Yoga yang duduk di sampingku.
“Acara istimewa… yang takkan terlupakan di sepanjang kehidupan kita,” sahutku sambil menepuk bahu adikku.
Yoga menatapku, “Ohya?! Jadi penasaran juga… mau ada acara apa sih?”
Kuperhatikan adikku yang kelihatan agak lusuh, “Nanti aja kujelaskan di hotel,” sahutku.
“Pake hotel segala?!”
“Iya. Habisin dulu juicenya.”
Yoga pun menyedot juice guavanya, sampai habis. Lalu kuajak dia ke pintu lift yang menuju ke hotel yang bersatu dengan mall itu.
Di dalam kamar yang sudah kubooking itu (dengan uang pemberian Mama tadi pagi), aku berkata, “Mandi dulu gih. Biar bersih dan harum. Pakaian ganti punyamu sudah kubekal dari rumah, di kantong plastik itu tuh.”
Yoga menatapku dengan sorot heran. Tapi dia menurut saja, mengambil kantong plastik berisi pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Pada saat itulah aku mengirim WA ke Mama, *Aku dan Yoga sudah berada di hotel Mam. Di kamar dua-sembilan. *
Tak lama kemudian datang balasan dari Mama, *Iya. Seperempat jam lagi juga mama tiba di situ. *
Memang sengaja aku mengaturnya seperti itu. Bahwa aku dan Yoga menggunakan motor masing-masing. Sementara Mama pun nyetir sendiri mobilnya. Supaya terkesan kami bertiga sedang berada di lokasi yang berbeda, dengan urusan masing-masing.
Tak lama kemudian Yoga muncul dalam pakaian bersihnya. “Sebenarnya kita mau ngapain sekarang Mas? Rasanya kok aneh gini, “gumamnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin.
Aku tersenyum sambil menyahut, “Sebentar lagi bakal datang wanita setengah baya yang ingin merasakan dithreesome.”
“Haaa?! Tante-tante?”
“Yang ingin dithreesome itu bukan orang jauh. Kamu juga sudah mengenalnya.”
“Ohya?! Siapa dia?”
“Mama.”
Yoga terperanjat, “Mama?! Aaah… yang bener Mas…”
“Serius. Sejak Papa kawin lagi, Mama kan sering kesepian. Tapi Mama masih tidak mau rumah tangganya dengan Papa retak. Karena itu Mama memilih kita untuk mendapatkan kebutuhan batinnya.”
“Dan sekarang Mama ngajak ketemuan di hotel ini, supaya Mbak Ayu dan Mbak Ita tidak tau?”
“Iya. Kamu sudah punya pengalaman dengan perempuan kan?”
“Punya.”
“Dengan siapa?”
“Dengan wanita yang Mas juga kenal, karena dia keluarga kita.”
“Siapa? Mbak Ita?”
“Iiih… bukan. Aku belum pernah macem-macem dengan Mbak Ita mau pun Mbak Ayu.”
“Terus sama siapa?”
“Off the record. Pokoknya aku sudah cukup berpengalaman dalam masalah perempuan.”
Aku tak sempat bertanya lebih jauh, karena pintu yang tidak terkunci itu terbuka. Dan Mama muncul di ambang pintu, dalam celana panjang dan baju yang sama-sama terbuat dari kain sutera berwarna hitam. Sehingga tampak seksi sekali di mataku.
Yoga malah tampak salting. Karena itu aku yang bangkit dan menyambut Mama dengan ciuman mesra di bibirnya, yang Mama sambut dengan sedotan sesaat.
Sementara itu Yoga masih duduk canggung di pinggiran salah satu bed.
“Yoga sudah tau acaranya?” bisik Mama di dekat telingaku.
“Sudah Mam,” sahutku.
Mama melepaskan pelukannya dari leherku, lalu menghampiri Yoga yang masih duduk canggung di pinggiran bed. Mama pun duduk di samping Yoga, sambil menanggalkan baju sutera hitamnya.
“Sam sudah ngasih tau apa acara kita sekarang kan?” tanya Mama sambil melemparkan baju sutera hitamnya yang mirip baju piyama itu.
“Sudah Mam,” sahut Yoga yang tampak semakin salting, sementara Mama sudah menanggalkan behanya pula di samping Yoga.
“Terus… kamu mau gabung sama mama dan Sam gak?” tanya Mama yang sepasang payudaranya sudah tak tertutup apa-apa lagi.
“Mau Mam,” sahut Sam sambil mendekatkan wajahnya ke payudara kiri Mama.
Aku duduk di bed yang satu lagi, sambil, memperhatikan gerak-gerik Yoga dan Mama.
Bahwa Yoga langsung menyerudukkan mulutnya ke payudara kiri Mama, sementara tangan kirinya memegang payudara yang kanan. Dan Mama melirik ke arahku sambil memberi isyarat agar aku melepaskan pakaianku.
Aku mengangguk. Dan kutanggalkan seluruh pakaianku, kecuali celana dalam yang kubiarkan melekat di tempatnya. Kemudian menghampiri bed Mama dan Yoga.
Kuperhatikan celana sutera hitam Mama, yang ternyata ada lingkaran elastis di bagiahn atasnya. Lalu kutarik celana panjang tipis dan mengkilap itu, sampai terlepas dari kaki Mama.
Tak cuma itu. Kupelorotkan pula celana dalam Mama sebagai satu-satunya benda yang masih melekat di tubuhnya. Yoga pun menyadari bahwa Mama sudah telanjang. Maka tanpa disuruh pun ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
Yoga langsung melorot ke bawah perut Mama. Mengusap-usap kemaluan Mama yang berambut jarang tipis itu. Lalu menyerudukkan mulutnya ke bagian terindah di tubuh ibu tiriku itu.
Kubiarkan Yoga beraksi menurut keinginannya. Kubiarkan ia mulai menjilati vagina Mama dengan lahapnya. Sementara aku sendiri bergerak ke samping Mama, untuk mencium bibirnya dengan lahap pula. Yang Mama sambut dengan lumatan hangat.
Tampaknya Mama menikmati apa yang dilakukan oleh kedua anak tirinya. Bahwa ketika aku sedang asyik melumat bibirnya, adikku pun asyik menjilati kemaluan Mama.
Cukup lama semuanya ini kami lakukan. Bahwa akju asyik saling lumat dengan Mama, sementara Yoga pun asyik menjilati kemaluan Mama.
Sampai pada suatu saat, Mama menyuruhku celentang dan menanggalkan celana dalamku. Aku mengerti apa yang akan Mama lakukan. Maka kuikuti saja perintahnya. Menanggalkan celana dalamku, kemudian celentang seperti yang Mama inginkan.
“Lepasin dulu dong pakaianmu semua Yoga, “pinta Mama kepada adikku.
Pada saat Yoga sedang menanggalkan semua pakaiannya, Mama pun merangkak ke arahku. Lalu melipat kedua lututnya dan membungkuk, mendekatkan mulutnya ke arah penisku yang sudah ngaceng berat ini.
“Yoga… masukkan kontolmu ke sini,” ujar Mama sambil menepuk-nepuk selangkangannya yang sedang ditunggingkan.
“Iya Mam,” sahut Yoga.
Pada saat berikutnya, Mama mulai menyelomoti batang kemaluanku sambil menungging. Sementara Yoga mulai memasukkan penisnya dari belakang, sambil memegangi sepasang buah pantat Mama.
Mama bisa menikmati dua penis sekaligus. Mulutnya menikmati penisku, kemaluannya pun menikmati entotan penis adikku.
Aku sendiri mulai terpejam-pejam dalam nikmatnya selomotan mulut dan urutan tangan Mama di badan penisku.
Lalu yang terdengar cuma bunyi keplak-keplok penis Yoga yang sedang menggenjot kemaluan Mama dan bunyi mulut Mama yang sedang menyelomoti penisku.
Tapi semuanya ini hanyha berlangsung belasan menit. Karena pada suatu saat terdengar suara Yoga, “Mam… aku… aku mau lepas… le… lepasin di mana Mam?”
Mama melepaskan penisku dari mulutnya, untuk menyahut, “Lepasin di bokong mama aja Ga.”
Aku terheran-heran juga, karena ternyata Yoga begitu cepat mau ejakulasi. Sementara aku belum apa-apa.
Lalu terdengar bunyi dengusan nafas Yoga, “Uuuuggggghhh… uuuuuughhhh…”
Yoga turun dari bed, lalu bergegas menuju kamar mandi. Sementara Mama sudah menelentang sambil mengelus-elus kemaluannya dan berkata, “Kontol Yoga lebih gede daripada kontolmu Sam. Tapi punyamu lebih panjang. Selain daripada itu, kamu selalu tahan lama… Ayo masukin dan lanjutkan,” kata Mama sambil merentangkan pahanya selebar mungkin, sehingga mulut kemaluannya tampak ternganga.
Aku jadi ingat beberapa selebriti cowok pengagum perempuan yang lebnih tua usianya. Lalu apakah aku pun seperti itu? Entahlah. Yang jelas Mama di mataku termasuk sosok perfect dan erotis, yang senantiasa mampu membangkitkan nafsu birahiku. Dan Mama selalu menyambut kehadiran hasratku kapan pun aku mau.
Dan ketika penisku mulai membenam ke dalam liang kewanitaan Mama yang masih basah dan licin ini, kudengar mama berbisik, “Tadi sengaja mama suruh Yoga lepasin di luar, karena mama kasian sama kamu.”
“Kasian?” tanyaku heran.
“Iya. Kalau Yoga ngelepasin di dalam, memek mama kan pasti becek sekali.”
“Buatku sih mau becek atau nggak, memek Mama tetap paling enak di dunia.”
Mama tersenyum manis sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu menciumi bibirku dengan hangatnya.
Aku pun mulai mengayun penisku, bermaju-mundur di dalam liang kemaluan ibu tiriku. Dan disambut dengan kehangatannya yang tak pernah mengecewakanku ini.
Ya, kedua tangan Mama menarik kedua lipatan lututnya jauh sekali, sehingga kedua lututnya beradadi samping sepasang payudaranya, sementara aku jadi sangat leluasa menggenjot penisku. Akibatnya, puncak penisku terus-terusan “menabrak” dasar liang senggama Mama. Dan itu membuat Mama merem melek, sementara mulutnya sering ternganga sambil melontarkan desahan-desahan nafasnya.
Dalam detik-detik pelampiasan birahi ini, aku semakin menyadari bahwa pada dasarnya Mama itu gede nafsunya. Bahkan mungkin saja dia sudah mulai tergolong wanita yang hypersex. karena ketika aku sedang meremas payudaranya, Mama meminta agar remasanku lebih kuat dan lebih kuat lagi! Padahal setahuku, Mbak Ayu suka memperingatkan agar aku tidak terlalu keras meremas payudaranya, karena sakit katanya.
Waktu pertama kali aku menyetubuhi Mama, aku mendengar permintaannya, agar aku mengentotnya dengan gerakan slow. Supaya lebih terhayati enaknya penisku, kataku. Tapi makin lama Mama makin berubah.
Seperti saat aku sedang mengentotnya ini, Mama berkali-kali merengek, “Yang kencang entotnya Sam… iyaaa… yang kencang… biar terasa serudukan kontolmu di dasar liang memek mama… !”
Aku sih oke-oke saja. Mau dengan gerakan softcore atau pun hardcore, tergantung request aja. Hahahaaaa…!
Maka mulailah aku mengentot Mama dengan gerakan yang sangat kencang dan keras. Penisku seolah gerakan pompa yang maju mundur dengan cepatnya, menciptakan bunyi plak-plok dan plak-plok terus… dasar penisku pun seolah menampar-nampar permukaan kemaluan Mama. Semoga saja Mama tidak kesakitan dibuatnya.
Mama memang menggeliat-geliat seperti ular terinjak kepalanya. Namun dari desahan dan rintihan-rintihan histerisnya, aku yakin Mama sedang sangat menikmati entotanku.
“Saaaam… aaaaaaah… Saaaaam… aaaaah… aaaah… Saaaam… Saaaam… aaaahhhhh… Saaaaaam… aaaahhhhhhh… Saaaaam…”
Aku sendiri memang sedang sangat menikmati enaknya liang kewanitaan ibu tiriku yang terasa bergerinjal-gerinjal empuk di antara goyangan pinggulnya yang sangat erotis dan membuatku terpejam-pejam dalam nikmat yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata belaka. Membuatku berdengus-dengus dan terpejam-pejam, sementara keringatku mulai bercucuran, bercampur aduk dengan keringat ibu tiriku.
Dan aku semakin lupa segalanya. Lupa bahwa yang sedang kusetubuhi ini adalah istri ayahku. Yang harusnya kuhormati sebagai penggamnti ibu kandungku yang telah tiada.
Namun jauh di dalam batinku, seakan ada keluhan dan rintihan… Papa ooooh Papa… maafkan anakmu ini Papa… ini bukan sekadar pelampiasan nafsu birahi, Papa… Aku merasa kasihan juga kepada Mama yang seolah disia-siakan oleh Papa… izinkanlah aku mewakili Papa untuk menghangati Mama, agar aku bisa mewakili Papa untuk menindas kesepian dan sakit hatinya…
Aku memang berhasil membuat Mama berkali-kali orgasme dalam kelojotran-kelojotan dan kejang-kejang sekujur tubuhnya.
Bahkan pada suatu saat aku sendiri tak kuasa menahan ejakulasi di puncak kenikmatanku, sehingga aku membenamkan penisku sedalam mungkin sambil menyemprot-nyemprotkan cairan kental hangatku… membuat liang kewanitaan Mama jadi basah kuyup. Lalu aku terkapar di sisi Mama dengan penis melemas dan berlepotan air maniku sendiri, sementara Mama pun terkapar tepar…
Pada saat itulah kulihat Yoga langsung membenamkan penisnya yang sudah tegang lagi itu… amblas ke dalam liang kewanitaan Mama yang masih basah becek. Lalu kulihat Yoga mengayun penisnya sambil menghimpit perut dan dada Mama.
Aku tak peduli dengan apa yang tengah Yoga lakukan kepada Mama. Aku turun dari bed dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan penisku. Untuk menyeka keringat yang masih membasahi tubuhku.
Biarlah Mama benar-benar puas setelah meninggalkan hotel ini nanti.
Bahkan ketika aku kembali ke dekat bed yang tengah dipakai oleh Yoga dan Mama untuk menyalurkan nafsu mereka, aku malah senang menontonnya dari sofa.
Memang aku menyaksikan tontonan yang sangat merangsang. Menyaksikan penis Yoga memompa liang kewanitaan Mama. Menyaksikan pinggul Mama yang sudah bergoyang-goyang erotis kembali. Mendengarkan desahan dan rintihan histeris Mama yang menggila kembali. “Yogaaaa… oooooh… Yogaaaa… aaaaaah… Yogaaaa…
Begitu merangsangnya tontonan yang sedang kusaksikan ini, terasa jauh lebih merangsang daripada nonton bokep. Bahkan diam-diam penisku mulai ngaceng lagi. Ingin menyetubuhi Mama lagi…!
Namun aku berusaha untuk bersabar menunggu sampai Yoga “selesai”.
Kali ini cukup lama Yoga mengentot Mama. Sehingga aku agak susah menahan keinginan penisku yang sedang kupegang dan kuelus-elus ini.
Namun setelah cukup lama aku menunggu Yoga selesai, akhirnya kulihat adikku berkelojotan di atas perut Mama. Lalu terdiam lesu, dengan tubuh mengkilap oleh keringat.
Dan setelah Yoga mencabut penisnya, giliranku untuk membenamkan kembali penisku ke dalam liang senggama ibu tiriku.
Penisku yang sudah ngaceng berat ini menggila lagi. mengantot liang senggama Mama yang sudah sangat becek ini. Sehingga bunyi crak-crek-crak-crek terdengar lagi dari kemaluan Mama.
Namun aku tak peduli lagi dengan beceknya liang kewanitaan Mama. Aku hanya ingin menggenjot penisku sampai ejakulasi lagi nanti.
Dan aku yakin, setelah aku “selesai” nanti, Yoga p;asti akan menyetubuhi Mama lagi untuk ketiga kalinya, disambung dengan aksiku sendiri.
Mungkin inilah salah satu keistimewaan threesome. Ada gairah yang luar biasa di jiwaku dan jiwa adikku.
Semoga saja semua ini akan membuat Mama benar-benar puas dan takkan merasa diterlalukan lagi oleh Papa. Karena dua orang anak Papa sedang memuasi istrinya yang hasrat birahinya masih sangat bergairah ini…
Pernyataanku bahwa kemaluan Mama paling enak di dunia, mungkin kelak harus dikoreksi. Karena pada beberapa minggu kemudian ada serentetan kisah yang kualami, yang membuatku teringat pada pepatah dalam buku silat Tiongkok: Setinggi-tingginya gunung, pasti ada yang lebih tinggi lagi…!
Ya… pada suatu hari aku mendatangi kantor Papa, untuk sesuatu yang sangat penting.
Aku memang baru kedua kali ini mendatangi kantor Papa. Dahulu aku pernah datang ke sini, ketika mau mendaftar ke SMA swasta terbaik di kotaku, yang membutuhkan duit lumayan besar. Berarti sudah lebih dari lima tahun aku tidak mendatangi kantor Papa lagi.
Ternyata keadaannya sudah jauh berbeda. Dahulu kantor Papa hanya dua lantai. Sekarang jadi lima lantai. Dan aku harus menemui Papa di lantai lima, seperti yang dijelaskan oleh satpam kantor yang mengantarkanku sampai di ruang kerja Papa.
Di ruang kerja itu tampak Papa sedang berbicara dengan seorang wanita yang kutaksir usianya 32-33 tahunan dan… cantik sekali!
Tadinya kupikir perempuan itu sekretaris Papa.
Maka alangkah kagetnya ketika Papa mengenalkan perempuan itu sebagai istri Papa sekaligus pemilik perusahaan ini…!
Waktu menjabat tangan perempuan itu aku berusaha bersikap sesopan mungkin. Kucium tangannya sebagaimana layaknya seorang anak mencium tangan ibunya. Lalu ia mencium pipi kanan dan pipi kiriku sambil berkata, “Papa sering menyebut-nyebut namamu Sam. Tapi baru sekali ini kita ketemu ya.”
“Iii… iya,” sahutku bingung, karena harus memanggil apa kepada istri muda Papa itu.
Lalu terdengar Papa berkata, “Supaya tidak tertukar-tukar, kamu panggil Mamie aja Sam. Kan kedudukannya sama aja dengan Mama.”
Aku mengangguk. Ya, baik Mama mau pun wanita yang harus dipanggil Mamie ini kedudukannya sama-sama ibu tiriku.
Aku jadi ingat Mama pernah berkata bahwa Papa menikah lagi dengan wanita yang lebih tua, yakni owner perusahaan tempat Papa bekerja. Tapi Mama sendiri belum tahu seperti apa istri muda Papa itu. Hahahaaa… pasti Mama dikibulin oleh Papa, supaya Mama tidak cemburu dan sakit hati. Padahal ternyata istri muda Papa itu jauh lebih muda daripada Mama.
Tiba-tiba telepon di ruang kerja Papa itu berdering. Lalu terdengar suara lewat speaker di dekat meja kerja Papa: “Selamat Siang Boss. Tamu-tamu dari Thailand sudah datang.”
Papa spontan menjawab, “Persilakan mereka menunggu di meeting room.”
“Siap Boss…”
Lalu Papa bangkit dari kursinya. Mengambil map dari tas kerjanya.
“Aku mau meeting dulu ya,” kata Papa kepada Mamie.
Lalu Papa berkata padaku, “Kalau ada perlu sama papa, tunggu sampai papa selesai meeting ya. Paling juga dua jam meetingnya selesai. Ngobrol sama Mamie dulu ya. Biar kamu makin akrab sama mamiemu itu.”
“Iya Pap,” sahutku.
Setelah Papa turun ke meeting room yang katanya di lantai dua itu, aku mulai merasa salting. Karena baru sekali ini aku berjumpa dengan ibu tiriku yang masih muda itu.
Untungnya wanita yang akan kubiasakan memanggilnya Mamie itu cukup ramah.
“Mau ada perlu apa sama Papa? Butuh duit ya?” tanyanya sambil duduk di sampingku, di sofa yang sedang kududuki.
“Mamie kok tau aja…” sahutku canggung.
“Tebak-tebakan aja sih. Butuh duit untuk apa Sam? Ngomong aja terus terang sama mamie. Kan sekarang Sam sudah tau kalau mamie ini ibu keduamu.”
Melihat sorot wajah Mamie yang begitu cerah, aku jadi berusaha untuk bersikap terbuka. Maka kataku, “Kemaren aku nabrak orang yang sedang nyebrang Mam.”
“Haaa?! Terus orang yang ditabraknya nggak apa-apa?”
“Justru babak belur Mam. Tangan kirinya patah.”
“Keluarganya bagaimana?”
“Ya itulah Mam. Orang tuanya minta duit untuk biaya rumah sakit. Kalau sudah dikasih duit, mereka sedia berdamai denganku. Dan takkan memperpanjang urusanku dengan polisi.”
“Mereka minta berapa?”
Aku tertunduk, “Banyak Mam. Makanya Mama menyuruhku ke sini, karena Mama tidak punya uang sebanyak itu.”
“Iya banyaknya itu berapa?” tanya Mamie, “Kan papamu juga pasti minta ke mamie kalau mau memberikannya padamu nanti.”
“Tigapuluh juta,” sahutku sambil menunduk.
“Owh… kirain minta ratusan juta,” kata Mamie sambil tersenyum. Lalu ia melangkah ke meja tulisnya. Mengeluarkan buku panjang kecil dari laci meja tulisnya. Ternyata itu buku cek. Kemudian ia menulis di selembar cek.
“Nih Sam,” kata Mamie sambil menyerahkan selembar cek itu.
Ketika kubaca, aku kaget. Karena nominal yang tercantum di cek itu limapuluh juta…!
“Mam… apa Mamie nggak salah tulis? Aku hanya membutuhkan tigapuluh juta. Tapi yang tertulis di sini limapuluh juta.”
“Iya, sisanya untuk keperluan Sam.”
Wah… ternyata istri muda Papa ini baik sekali…!
“Terima kasih Mam,” kataku dengan sikap sopan.
“Nanti lagi kalau butuh uang, minta ke mamie aja ya. Kalau Papa kan jarang megang duit. Kecuali kalau mau bepergian jauh aja. Seperti bulan depan, Papa mau ke Bangkok tuh.”
“Mau ke Bangkok? Tanggal berapa Mam?”
“Bulan depan tanggal tiga.”
“Wah kebetulan aku sedang libur panjang tuh Mam.”
“Bagus dong. Selama Papa di luar negeri, tidur rumah mamie aja ya. Biar mamie nggak kesepian.”
“Bo… boleh…”
“Nanti alamatnya mamie kasih. Tapi jangan bilang-bilang sama Mama ya.”
“Iya Mam.”
“Itu dikasih cek juga gak usah bilang-bilang. Takut Mama marah sama kamu nanti.”
“Iya Mam. Aku akan bilang gak ketemu sama Mamie aja nanti, biar gak panjang lebar pertanyaannya.”
“Nah… itu lebih baik.”
Lalu aku ngobrol panjang lebar dengan wanita yang sudah mulai kubiasakan memanggilnya Mamie itu. Sampai pada suatu kesimpulan, bahwa beliau orang baik. Dan aku siap untuk menjadikannya setingkat dengan ibu kandungku yang telah tiada.
Dua jam kemudian Papa pun muncul kembali di ruang kerjanya ini. Lalu Papa menceritakan hasil meetingnya kepada Mamie. Antara lain bahwa rencana Papa untuk terbang ke Bangkok itu jadi. Pada tanggal tiga bulan depan.
Pada saat itulah Mamie berkata, bahwa aku akan tidur di rumah Mamie selama Papa berada di luar negeri, karena aku sedang libur panjang selama Papa berada di luar negeri itu.
Papa tersenyum dan menyambut rencana itu dengan senang.
Ketika Papa menanyakan apa kebutuhanku sehingga datang ke kantor Papa tidak seperti biasanya, Mamie yang menjawab dan mengulang pengakuanku tadi. Bahwa aku harus membayar uang damai pada orang yang kutabrak itu. Dan semua itu sudah diselesaikan oleh Mamie. Papa tampak senang mendengar penuturan Mamie itu.
Papa juga malah menguatkan keinginan Mamie agar aku tidur di rumahnya, selama Papa di luar negeri, agar ada laki-laki di rumah Mamie, katanya.
Pada waktu aku pamitan mau pulang, Papa mewanti-wantiku agar merahasiakan pertemuanku dengan Mamie, terutama dalam hal usia Mamie yang memang jauh lebih muda daripada Mama. Bahkan Papa membisikiku, “Kalau ketahuan, bilang aja Mamie lebih tua daripada Mama gitu. Biar hatinya gak sakit. Tapi sebaiknya jangan sampai bocor.
Papa juga mengarahkan bahwa waktu aku mau tidur di rumah Mamie nanti, tak usah mengatakan yang sebenarnya pada Mama. Bilang saja mau study tour, katanya.
“Siap Pap,” sahutku sambil memegang tangan Papa erat-erat.
Mamie pun seperti berat melepaskan kepergianku. Setelah kucium tangannya, Mamie mencium pipi kanan dan pipi kiriku dengan penuh kehangatan, sehingga harum parfumnya tersiar ke penciumanku. Lalu terdengar suaranya yang setengah berbisik, “Mamie siap untuk menyayangimu, Sam.”
“Terima kasih Mam. Aku juga siap untuk menyayangi Mamie,” sahutku.
Entah kenapa, pada waktu aku meninggalkan kantor Papa, rasanya hatiku tertinggal di ruang kerja Papa dan istri mudanya itu. Karena aku sudah menerima keramahan dan kemurahan hati wanita yang sudah kubiasakan menyebutnya Mamie itu.
Memang aku kagum pada Papa yang pandai mencari istri. Mama, misalnya, bukan hanya cantik tapi juga menyayangi anak-anak tirinya.
Kini aku semakin kagum kepada Papa, karena telah berhasil menikahi bossnya sendiri. Boss yang masih sangat muda untuk usia Papa, sangat cantik pula.
Di kartu nama yang kuterima dari Mamie, ternyata dia bernama Yun xxxxxxx.
Dan yang jelas, sekarang aku punya ibu tiri dua orang. Mama Mien dan Mamie Yun.
Setelah berada di rumah Mama, aku terus-terusan memikirkan Papa dan Mamie Yun itu.
Aku mengerti kalau Papa menikahi wanita yang jauh lebih muda daripada Mama itu. Bahwa Papa jatuh cinta pada Mamie Yun, karena wanita itu cantik sekali. Kaya raya pula. Maka wajarlah kalau Papa menikahinya sebagai istri muda. Sehingga Papa bisa “sambil menyelam minum air”. Dengan kata lain, mendapatkan istri cantik, sekaligus mendapatkan kucuran hartanya juga.
Papa memang ganteng dan awet muda. Sehingga meski usianya sudah kepala lima, Papa tetap bisa menarik perhatian wanita yang usianya masih sangat muda sekali pun.
Satu-satunya masalah yang membuat Mama merana setelah Papa menikah lagi, adalah Papa jadi jarang pulang ke rumah. Sehingga Mama sering membutuhkanku untuk menghangatinya, sebagai pengganti Papa. Tapi di sudut lain, Papa jadi banyak mengalirkan duit ke tangan Mama. Untuk biaya kami berlima (Mama, Mbak Ayu, Mbak Ita, aku dan Yoga).
Esoknya aku pergi ke bank, untuk mencairkan cek dari Mamie itu. Yang tigapuluh juta kujadikan uang cash, sementara yang duapuluh juta kusimpan di rekening tabunganku.
Kemudian aku mendatangi rumah yang anaknya tertabrak oleh motorku itu. Kuserahkan uang yang tigapuluh juta itu, sesuai dengan permintaan mereka. Dan masalah dengan mereka dianggap selesai, dengan pernyataan di atas meterai.
Legalah dadaku setelah berjabatan tangan dengan mereka sambil sama-sama minta maaf, seperti lebaran saja ya.
Sementara motorku hanya membutuhkan duaratus ribu untuk memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan itu.
Sehari sebelum keberangkatan Papa, aku naik taksi menuju rumah Mamie Yun.
Seperti yang sudah diarahkan oleh Papa, aku berkata kepada Mama bahwa aku akan ikut study tour ke Surabaya selama sepuluh hari. Mama mengiyakan dan membekali aku dua juta, untuk “bekal selama di Surabaya”.
Padahal sejam kemudian aku sudah berada di rumah Mamie, yang ternyata megah sekali. Dijaga oleh tiga orang satpam pula. Maklum rumah owner perusahaan besar.
Mamie menyambut kedatanganku dengan ciuman di pipi kanan dan pipi kiriku, seperti yang dilakukannya di kantornya.
“Tadi ngomong apa waktu pamitan sama Mama?” tanya Mamie setelah duduk di sampingku dalam ruang keluarga.
“Bilang mau study tour di Surabaya… hehehee…”
“Iya, “Mamie mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Untuk kerukunan kita semua, bohong sedikit kan nggak apa-apa.”
“Iya Mam. Ohya… Papa mana?” tanyaku.
“Lagi meeting di kantor. Mamie sengaja nggak ke kantor, karena tau kamu mau datang.”
“Sebenarnya Papa mau berapa hari di luar negerinya Mam?”
“Mungkin dua mingguan. Karena dari Bangkok akan menuju Hongkong dan Shanghai. Ohya… bagaimana keluarga yang ditabrak itu sudah selesai urusannya?”
“Sudah Mam. Hatikju sudah lapang sekarang.”
“Lain kali hati-hati dong kalau naik motor.”
“Sebenarnya kejadian itu bukan salahku Mam. Anak itu tiba-tiba aja nyebrang, sehingga aku tak bisa mengelak lagi. Itu kejadian pertama dan semoga terakhir dalam hidupku.”
“Tapi kata Papa, kalau nyetir mobil kamu sangat halus mengemudikannya.”
“Iya Mam. Makanya aku sering disuruh nyetir sama Papa.”
“Iya. Papa bilang nanti malam juga kamu yang bakal nyetir ke Jakarta.”
“Siap Mam. Papa mau terbang malam nanti?”
“Besok subuh. Tapi kan harus cek in dua jam sebelumnya. Jadi sebelum jam tiga pagi harus sudah ada di bandara.”
“Berarti jam duabelas malam harus berangkat ke Jakarta, ya Mam.”
“Iya. Mamie juga mau ikut nganter ke bandara, Sam.”
“Owh… baguslah. Jadi pulangnya aku gak kesepian.”
“Hmmm… sekalian mau nengok rumah yang di Jakarta.”
“Mamie punya rumah di Jakarta?”
“Punya. Di Semarang, di Surabaya, di Jogja, di Denpasar dan di Medan juga punya.”
“Waduuuh… rumah Mamie banyak bener.”
“Kan terkadang harus lama tinggal di kota-kota yang ada cabang perusahaan. Daripada tinggal di hotel, mendingan di rumah sendiri kan?”
“Iya Mam.”
“Setelah menikah dengan papamu, mamie jarang ke luar kota lagi. Semua cabang perusahaan mamie diurus oleh papamu. Mamie jadi bisa duduk manis aja di rumah atau di kantor yang ada di kota ini.”
Aku cuma mengangguk-angguk kecil.
Lalu Mamie eberkata lagi, “Kalau kuliahmu sudah selesai, mamie bisa menempatkanmu di salah satu cabang perusahaan mamie.”
“Wow. Terima kasih Mam. Jadi setelah kuliahku selesai, aku tak usah nyari-nyari kerja lagi.”
“Nanti bisa kerja sambil kuliah S2 juga.”
“Siap Mam.”
Mamie tersenyum. Lalu menepuk lututku sambil berkata, “Yang rajin kuliahnya ya. Biar cepat selesai.”
“Iya Mam,” sahutku, “By the way… Mamie belum punya anak?”
“Belum, “Mamie tersenyum getir, “makanya sekarang kamulah anak mamie.”
“Iya Mam.”
Sebelum jam duabelas malam, aku sudah duduk di belakang setir mobil, sementara Papa duduk di sampingku dan Mama duduk di belakang.
Di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Papa mengajak ngobrol terus. Mungkin agar aku tidak ngantuk. Sementara Mama tampak dari kaca spion sedang rebahan di seat belakang
Di tengah malam begini suasananya lumayan lengang. Sehingga hanya dalam waktu dua jam kami sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta.
Sebelum masuk ke gerbang keberangkatan, Papa berkata kepada Mamie, “Nanti gak usah nunggu pesawatnya take off. Langsung pulang aja. Takut Sam keburu ngantuk nanti di jalan.”
“Lho… aku kan mau istirahat di rumah Jakarta dulu,” sahut Mama.
“Owh… itu lebih baik. Biar Sam bisa tidur dulu sekenyangnya.”
Lalu Papa cipika-cipiki dulu dengan Mamie. Kemudian giliran aku mencium tangan Papa sambil berkata, “Semoga penerbangannya lancar dan aman, ya Pap.”
“Amiin,” sahut Papa, “Kamu mau dikirim oleh-oleh apa nanti?”
“Terserah Papa aja deh. Yang penting Papa lancar penerbangan dan urusan bisnisnya,” sahutku.
Papa mengusap rambutku sambil berkata, “Oke deh. Jaga Mamie baik-baik selama papa di luar negeri ya Sam.”
“Siap Pap.”
“Ya udah… kalian langsung pulang aja,” kata Papa sambil menyeret kopernya ke dalam pintu gerbang.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam mobil Papa lagi. Sementara Mamie jadi duduk di depan, di samping kiriku.
Ternyata rumah Mamie yang di Jakarta itu dekat sekali dengan bandara Soekarno-Hatta. Tinggal keluar menuju Tangerang, karena rumah Mamie tepatnya berada di Tangerang. Bukan di Jakartanya benar.
Tapi setibanya di rumah megah itu, Mamie menjelaskan bahwa semua rumahnya yang di kota-kota lain berada di dekat bandara. Supaya gampang kalau mau menggunakan pesawat terbang ke kota tujuannya.
Ketika kami tiba di rumah megah itu, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul jam 01.15 pagi.
Rumah yang hanya beberapa kilometer saja dari bandara Soetta itu dijaga oleh seorang satpam di dekat pintu gerbangnya. Sementara di dalamnya ada seorang pembantu wanita, yang bertugas untuk selalu merapikan dan membersihkan rumah megah itu. Ternyata wanita itu istri satpam yang sedang menjaga di dekat pintu gerbang itu.
“Sudah ngantuk, Sam?” tanya Mamie sambil membuka salah satu pintu kamar.
“Belum terlalu Mam,” sahutku, “tadi di bandara kan sempet minum kopi juga.”
Ternyata pintu kamar yang Mamie buka itu menuju tiga ruangan. Tepatnya dua kamar tidur yang dibatasi oleh ruang cengkrama. Di ruang cengkrama itulah Mamie mengajakku duduk di sofa dan menunjuk ke pintu kamar yang di sebelah kiri, “Nanti kamu tidur di kamar itu, mamie tidur di kamar yang satunya lagi itu.
“Iya Mam. Tapi aku belum ngantuk,” sahutku sambil berdiri, “boleh nyetelin tivi?”
“Setel deh. Itu remote controlnya, “Mamie menunjuk ke remote control yang tergeletak di dekat televisi.
Aku bangkit dari sofa dan melangkah untuk mengambil remote control televisi. Lalu kuaktifkan televisi layar lebar itu. Tapi setelah dipilih-pilih tak ada acara yang menarik. Akhirnya kupilih channel musik saja, dengan volume perlahan. Lalu kembali ke arah sofa yang kududuki tadi. Tapi Mamie malah menelungkup di sofa itu, sambil berkata, “Sam…
“Iya Mam,” sahutku canggung. Sambil memperhatikan Mamie yang sedang menelungkup di sofa. Mamie belum ganti baju. Masih mengenakan gaun terusan yang terbuat dari bahan beludru hitam. Gaun terusan itu lumayan pendek, sehingga ketika Mamie menelungkup, betis dan sebagian pahanya yang begitu putih dan mulus itu tampak jelas di mataku.
“Mau dipijitin di sini aja Mam?” tanyaku di dekat sofa yang sedang Mamie pakai menelungkup.
“Iya,” sahut Mamie, “kamu duduk aja sambil nonton tivi. Gak usah terlalu serius mijitnya. Yang penting pijit-pijit sembarangan aja. Pegel-pegel banget betisnya Sam.”
“Iya Mam,” sahutku sambil duduk nyempil di sofa. Di dekat lutut Mamie.
Lalu aku mulai memijati betis Mamie seperti yang diinginkan oleh ibu tiri keduaku itu. Dengan perasaan mulai tak menentu. Bahkan ada pikiran, apakah aku akan mengalami hal yang sama sreperti dengan Mama? Aaah, sebaiknya kusingkirkan pikiran yang bukan-bukan itu. Mamie ini ibu tiri yang menjanjikan.
“Kamu pernah mijitin Mama, Sam?” tanya Mamie ketika aku mulai sungguh-sungguh memijati betisnya yang putih mulus dan terasa padat sekali ini.
“Belum pernah Mam. Kalau Papa suka nyuruh mijitin. Tapi itu pun dahulu, waktu aku masih di SMP.”
“Kalau ada Papa, mamie selalu tidur dalam pelukan dia Sam. Sekarang Papa nggak ada. Kamu mau tidur sama mamie dan melukin mamie?” tanya Mamie membuatku sulit menjawabnya.
“Memangnya boleh Mam?” aku balik bertanya.
“Why not?! Ayolah… kamu tidur di kamar mamie aja,” ucap Mamie sambil bangkit dan berdiri. Lalu menarik pergelangan tanganku menuju kamarnya yang di sebelah kanan itu.
Kuikuti saja langkah Mamie masuk ke dalam kamarnya. Meski sambil bergumam, “Kalau Papa tau aku tidur sama Mamie, pasti Papa marah Mam.”
“No no no…! “Mamie menggoyangkan telapak tangannya, “Papa malah nyuruh mamie tidur sama Sam selama dia di luar negeri.”
“Ohya?! “aku nyaris tidak percaya pada ucapan Mamie itu.
Tapi kata Mamie, “Kalau nggak percaya, tanyain sendiri kalau Papa nelepon besok.”
Aku cuma bengong. Lalu duduk di sofa putih yang agak jauh dari bed Mamie.
“Kamu bawa pakaian ganti Sam?” tanya Mamie.
“Bawa,” sahutku, “tapi cuma satu stel Mam. Buat pulang nanti.”
“Kalau gitu, pakai aja kimono Papa di lemari itu… ambil aja sendiri. Banyak yang masih baru dan belum pernah dipakai oleh Papa tuh.”
“Iya Mam,” sahutku sambil bangkit dari sofa dan melangkah ke lemari yang Mamie tunjukkan itu. Sementara Mamie sendiri membuka lemari yang satunya lagi, lalu tmapak mengeluarkan sehelai kimono sutera berwarna orange dengan corak yang belum jelas di mataku.
Kukeluarkan sehelai kimono putih yang masih terlipat dan tampak seperti belum pernah dipakai oleh Papa. Kimono itu terbuat dari bahan handuk, Dan langsung kubawa ke dalam kamar mandi Mamie. Di situlah aku menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, lalu kukenakan kimono baru itu. Terasa ngepas juga di badanku.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Mamie sudah mengenakan kimono, rebahan di bednya yang lebar sekali. Mungkin dalam keadaan darurat, dipakai tidur oleh lima orang juga bisa muat.
Dengan canggung aku duduk di pinggiran bed itu. Tapi Mamie menarik tanganku agak kuat, sehingga aku terhempas ke sampingnya. Pada saat berikutnya, aku dan Mamie jadi sama-sama rebah miring dan berhadapan…
Bersambung…
Harum parfum Mamie semakin nyata tersiar ke penciumanku. Dan… wajah Mamie mendekati wajahku. Tangannya mencubit hidungku sambil berkata, “Entah kenapa, begitu pertama kali ketemu sama kamu, mamie langsung merasa sayang dan suka sama kamu Sam.”
“Sama Mam. Aku juga gitu,” sahutku.
“Masa?! Berarti nyambung dong,” ucap Mamie dengan tangan merayap ke balik kimono yang sedang kukenakan. Aku pun jadi sadar, bahwa celana dalamku tertinggal di kamar mandi. Dan… Mamie mulai memegang penisku…!
“Kok kita kompak ya?” ucapnya lagi.
“Kompak apanya Mam?”
“Sama-sama gak pake celana dalam…”
“Ohya?”
Tangan kanan Mamie masih menggenggam batang kemaluanku. Tapi tangan kirinya menarik tangan kananku dan menyelinapkannya ke balik kimononya sampai menempel di… kemaluannya!
“Bener kan?” tanya Mamie sambil mengelus-elus puncak penisku yang langsung ngaceng, karena telapak tangan kananku sudah bertempelan dengan kemaluan Mamie yang terasa tiada rambutnya sehelai pun.
“Be… benar Mam… aaah…” sahutku dengan jiwa mulai dicengkeram nafsu.
“Mamie ingin agar kita bisa saling menyayangi sampai kapan pun. Ingin agar kasih sayang kita langgeng. Apakah kamu juga sejalan dengan pikiran mamie?”
“Iya Mam… pikiranku sejalan dengan pikiran Mamie. Hanya saja aku takut ketahuan sama Papa.”
“Papamu takkan marah. Andaikan dia memergoki kita sedang bersetubuh pun, dia takkan marah. Percayalah pada mamie.”
“Iya Mam. Aku percaya pada Mamie.”
“Sam… seandainya mamie ini jadi kekasihmu… apa yang pertama ingin kamu lakukan dalam keadaan seperti sekarang ini?”
“Yang pertama ingin kulakukan… ingin mencium bibir Mamie…”
“Kalau begitu lakukanlah. Ciumlah bibir mamie sepuasmu,” ucap Mamie setengah berbisik, sambil menarik tengkukku sedemikian rupa, sehingga bibirku mendekati bibir Mamie.
Meski agak ragu, akhirnya kucium bibir Mamie yang sensual dan memancarkan pengharum nafasnya… yang mamie sambut dengan pelukan hangat di leherku, sambil menggerakkan tubuhnya sampai celentang total, sehingga aku jadi menghimpitnya, sambil saling lumat dengannya.
Jujur… ini adalah ciuman yang terindah bagiku sejak mengenal nikmatnya tubuh perempuan.
Tapi Mamie tampaknya sudah terangsang berat. Ketika aku masih asyik menggeluti kehangatan bibir dan lidahnya, Mamie malah mengarahkan penisku ke “sesuatu” yang basah licin di bawah perutnya. Aku pun menyadari hal itu. Bahwa dengan sengaja Mamie mencolek-colekkan puncak penisku ke celah kemaluannya yang saat itu belum tau seperti apa rasanya.
Demikian pandainya Mamie mencolek-colekkan puncak penisku ke kemaluannya, sehingga aku tidak sadar lagi bahwa diam-diam batang kemaluanku mulai melesak ke dalam liang kemaluan Mamie… sedikit demi sedikit… sampai akhirnya terdengar bisikan istri muda Papa itu, “Sudah masuk setengahnya Sam… ayo dorong…
Aku baru menyadarinya, bahwa penisku sudah membenam ke dalam liang kewanitaan Mamie. Tadinya kusangka sedang dijepit oleh sepasang paha ibu tiriku yang jelita itu.
“Nggak apa-apa Mam? Maksudku… mmm… aku nggak bermaksud kurang ajar sama Mamie,” kataku ragu.
“Nggak Sayaaang…!” sahut Mamie sambil mengelus rambutku, “Sekarang ini mamie sedang membutuhkanmu… membutuhkan kejantananmu… ayo… jangan sungkan-sungkan… doronglah penismu lebih dalam lagi… lalu entotlah mamie sepuasmu…”
Aku memang tidak merencanakan semua ini. Apalagi saat ini aku dan Mamie masih sama-sama mengenakan kimono. Tapi kami memang sama-sama tidak mengenakan celana dalam, sehingga Mamie diam-diam mengarahkan penisku ke liang kewanitaannya yang sudah basah licin ini.
Meski ada perasaan takut pada Papa sebagai pemilik wanita cantik berdarah campuran Indonesia-Tiongkok ini, akhirnya kuikuti permintaannya. Karena sejujurnya aku pun menginginkannya.
Maka kudorong penisku sekuatnya… sampai hampir full. Lalu aku pun mulai mengentotnya perlahan-lahan dulu. Dengan mata terpejam-pejam aku mulai merasakan enaknya memek Mamie Yun ini.
Gila… mungkin memek Mamie Yun ini lebih enak daripada memek Mama Mien. Membuatku makin lama makin bergairah. Terlebih lagi setelah Mamie merewntangkan kimononya, sehingga toketnya yang berukuran sedang seolah menantang untuk diemut dan diremas.
Itu pun kulakukan. Bahwa ketika penisku sedang menggenjot liang kemaluan Mamie, mulutku mulai menjilati lehernya yang hangat dan harum, tangan kiriku mulai meremas payudara kanannya, sementara tangan kananku meremas payudara kirinya.
Mamie pun mulai merengek-rengek sengau, “Saaaam… duuuuh Saaaam… kontolmu kok enak sekali Saaaam… iya Saaaam… entot terus Saaam… iyaaaa… iyaaaaa… Saaam… dududuuuuuh… Saaaam… ini enak banget Saaaam… !”
Aku pun menyahutnya dengan tersendat-sendat, “Memek Mamie juga… luar biasa enaknya, Maaam… luar biasaaaa… seperti memek gadissss…”
“Sekarang kita… jadi… saling memiliki, ya Sam… mamie sudah menjadi milkmu Saaaam…”
“Iya Maaam… dan aku sudah menjadi milik Mamie… oooh… Mamie…”
Mamie terkejang-kejang… mata sipitnya pun terpejam-pejam… sementara itu kedua lengannya mendekap pinggangku erat-erat. Membuatku semakin kencang mengentot liang memek sempitnya, sambil menjilati lehernya disertai gigitan-gigitan kecil, sementara kedua tanganku semakin asyik meremas-remas sepasang toketnya yang masih terasa kencang ini.
O, adakah persetubuhan yang seindah seperti yang tengah kurasakan ini?
Aku memang merasakan seolah sudah benar-benar menyatu dengan Mamie Yun. Soalnya aku merasa segala yang ada di tubuh ibu sambung kedua ini benar-benar ngepas dengan seleraku. Tubuh yang tinggi semampai, kulit yang putih mulus, sepasang toket yang berukuran sedang dan… memeknya ini… sempit dan mencengkeram…
Belasan menit aku mengentot Mamie dalam posisi missionaris ini. Lalu Mamie minta posisinya diubah jadi WOT. Kuikuti saja permintaannya. Mamie jadi aktif mengayun pinggulnya di atas tubuhku. Sampai keringatan.
Lalu Mamie minta berubah lagi jadi posisi miring, sementara aku mengentotnya dari belakang, sambil mencengkeram sepasang toketnya agak kuat.
Pada momen berikutnya, Mamie seperti ingin memperagakan segala posisi hubungan sex. Mamie ingin melanjutkannya dalam posisi doggy. Kuikuti juga. Sehingga pada detik-detik berikutnya sosok putih mulus itu menungging, sementara penisku menggenjot memeknya sambil berlutut di depan bokongnya yang sangat erotis dan menantang untuk kuremas dan kutepuk-tepuk.
Kami sudah berlepotan keringat. Dan kami tak peduli dengan hal kecil itu.
Namun pada suatu saat… setelah berada dalam posisi tradisional alias missionaris lagi… ketika aku sudah begitu lama mengentot ibu sambung yang jelita ini, aku merasa sudah mulai berada di dalam detik-detik yang krusial. Sehingga aku berbisik terengah di dekat telinga Mamie, “Lepasin di… di mana Mam?
Mamie menyahut spontan, “Di dalam saja, Sayang… Mamie ingin merasakan hangat dan nikmatnya pancaran air manimu…”
Lalu aku seperti pelari yang sudah dekat di garis finish. Kupacu penisku dengan gerakan sprint… yang dengan cepat menggenjot liang kemaluan Mamie yang sudah basah becek ini. Maju-mundur-maju-mundur-maju-mundur… dan akhirnya kutancapkan penisku sedalam mungkin, sambil melumat bibir sensual Mamie…
Crettttt… creeet… croooot… croootttt… crotcrot… crooootttttt…!
Oooh… alangkah nikmatnya menyetubuhi istri muda Papa yang cantik dan baik hati ini.
Lalu aku terkapar di atas perut Mamie yang sudah berlepotan keringat ini. Dengan perasaan puas sedalam lautan…
Esoknya…
Aku bangun terlambat. Jam dua belas siang aku baru membuka mataku, lalu menggeliat dan turun dari bed. Sementara Mamie entah sedang berada di mana.
Aku pun mandi dengan air hangat dari shower. Sehingga tubuhku terasa segar kembali. Kukenakan pakaian gantiku yang kubekal dari kotaku. Lalu menyisir rambutku yang sudah kukeramasi dengan shampoo.
Ketika keluar dari kamar mandi, Mamie muncul di ambang pintu. Menghampiriku dengan senyum manis di bibir sensualnya.
“Nyenyak sekali tidurnya Sam,” ucap Mamie sambil meletakkan kedua tangannya di sepasang bahuku. Lalu mengecup bibirku dengan mesranya.
“Iya Mam. Maaf… aku jadi bangun kesiangan,” sahutku.
“Nggak apa. Tadi malam kamu kan abis nyetir, lalu menggauli mamie pula. Tentu saja kamu kecapean. Terima kasih yaaa… tadi malam mamie sampai tiga kali orgasme. Kamu luar biasa tangguhnya, Sayang. Tapi sekarang lapar kan?”
“Hehehee… iya Mam.”
“Yok kita makan dulu… makan siang, bukan makan pagi lagi, karena sekarang sudah siang.”
Lalu kami melangkah ke ruang makan. Kulihat di atas meja makan sudah terhidang makanan yang cukup banyak jenisnya.
“Banyak sekali makanannya Mam. Siapa yang masak?” tanyaku ketika Mamie menyerahkan piring besar padaku.
“Beli dari resto. Pembantu belum pandai masak.”
“Pantesan lengkap sekali. Ada appetizers, ada main course… ada desserts pula,” ucapku sambil mulai menyantap appetizers.
Mamie cuma tersenyum. Lalu duduk di sampingku dan mulai menemaniku makan.
Pada saat makan itulah Mamie membuka rahasia yang sangat mengejutkanku. Bahwa semua yang kami lakukan tadi malam, memang Papa yang membuat skenarionya.
Aku juga baru tahu bahwa setelah Yoga lahir, Papa men-sterilkan diri. Karena tidak ingin punya anak lagi. Cukup dua saja anaknya, aku dan Yoga.
Mungkin dahulu Papa tidak menduga bahwa hubungannya dengan Mamie jadi berubah. Yang tadinya hubungan dengan boss, menjadi hubungan cinta. Dan akhirnya menjadi suami-istri.
Maka ketika Mamie sudah menjadi istri Papa, masalah itu muncul. Karena mamie ingin punya anak, sementara Papa sudah steril. Tak bisa membuahi lagi.
Setelah aku dipertemukan dengan Mamie di kantornya, Papa seolah mendapatkan solusi. Papa mengajukanku untuk membuahi Mamie, supaya Mamie bisa hamil tanpa harus berselingkuh dengan orang luar. Itulah sebabnya aku disuruh tidur di rumah Mamie selama Papa masih di luar negeri.
“Wow… jadi begitu ceritanya Mam?”
“Iya. Kebetulan pula mamie langsung suka dan sayang padamu setelah Papa memperkenalkanmu pada mamie,” sahut mamie.
“Maaf Mam… sebelum Mamie menikah dengan Papa, apakah Mamie masih gadis atau sudah janda?”
“Masih gadis. Mamie terlalu sibuk mengurus perusahaan, sehingga mamie tidak pernah tertarik untuk berpacaran. Setelah mamie berusia tigapuluhsatu, barulah Mamie sadar. Bahwa Mamie sudah hampir terlambat untuk menerima kehadiran seorang lelaki sebagai suami. Dan pilihan mamie jatuh kepada Papa. Karena mamie sudah tahu benar watak dan perilaku Papa.
“Tapi sebelum menikah dengan Mamie, apakah Papa berterus terang bahwa Papa sudah steril?”
“Iya, “Mamie mengangguk, “Papa selalu jujur mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Tapi pada saat itu mamie belum kepikiran ingin punya anak segala. Mamie malah mikir, kalau mau punya anak sih adopsi bayi saja dari yayasan. Tapi… setelah lebih dari setahun, mamie malah jadi ingin punya anak yang mamie kandung dan mamie lahirkan sendiri.
Aku melanjutkan makan sambil memikirkan semuanya itu.
“Papa tidak akan rela kalau mamie berselingkuh dengan orang luar. Tapi setelah kamu datang ke kantor tempo hari, Papa seperti mendapatkan inspirasi. Papa menyarankan agar mamie berhubungan sex denganmu secara intensif. Supaya mami bisa mengandung bayi yang darah daging mamie sendiri.”
“Kalau begitu, Papa tidak akan marah meski pun tau kalau aku menggauli Mamie ya.”
“Iya Sayang,” kata Mamie sambil memegang pergelangan tanganku, “Kamu boleh menyetubuhi Mamie kapan pun. Bahkan meski Papa sedang di rumah, Papa takkan menghalangi kita bercinta. Bagaimana? Apakah kamu senang mendengar rahasia ini?”
“Maaf… usia Mamie sekarang berapa tahun?”
“Tigapuluhdua. Berarti Mamie masih bisa hamil kan?”
“Iya Mam. Saudara sepupu Papa ada yang hamil dan melahirkan di usia empatpuluh lima. Mamie sih masih sangat muda.”
“Kamu mau menggauli mamie secara teratur kan?”
“Siap Mam. Kapan pun Mamie mau, aku siap menggauli Mamie. Kebetulan aku ini pengagum wanita yang usianya lebih tua dariku.”
“Memangnya kamu mau mencintai mamie sebagai seorang kekasih?”
“Mam… tadi malam aku melakukannya dengan perasaan cinta.”
“Ohya?! Syukurlah. Mamie juga menyerahkan semuanya berdasarkan cinta.”
Lalu batinku seolah bertaburkan bunga-bunga surgawi. Bunga-bunga cinta.
O… semuanya memang indah. Meski tak pernah kurencanakan sebelumnya…
Setelah makan siang, aku duduk di sofa ruang cengkrama yang membatasi kedua kamar itu. Mamie pun merebahkan kepalanya di atas pahaku sambil bertanya, “Mau pulang sekarang?”
“Terserah Mamie. Aku sih siap aja ke mana pun Mamie mau.”
“Pulangnya pakai tol Jagorawi aja ya.”
“Siap Mam. Mau lewat Puncak?”
“Iya. Di Puncak kan mamie punya villa. Kita nginap dulu di villa itu semalam. Besok pagi pulang.”
“Siap Mam. Mau berangkat sekarang?”
“Tunggu dulu sampai nasinya turun. Biar gak sembelit.”
Saat itu Mamie memang masih mengenakan kimono. Sementara tanganku mulai merayapi lututnya… lalu naik ke pahanya yang licin dan hangat. Naik terus sampai ke pangkalnya dan menyentuh celana dalam.
“Kalau udah pegang-pegang ke situ, pasti acaranya jadi berubah.”
“Mungkin Mam. Rasanya jadi kepengen lagi,” sahutku sambil menyelinapkan tanganku ke balik celana dalam Mamie, “boleh kan Mam?”
“Tentu aja boleh,” sahut Mamie, “Sekarang kan mamie sudah menjadi milikmu, Sayang.”
“Aku juga sudah menjadi milik Mamie,” kataku sambil mengelus-elus kemaluan Mamie yang terasa hangat.
“Hmm… mamie rasanya bahagia sekali sekarang Sam.”
Sebagai jawaban, aku duduk di atas karpet, sambil menurunkan celana dalam Mamie sampai terlepas dari kakinya.
Mamie sepertinya tahu apa yang akan kulakukan. Setelah celana dalamnya kulepaskan, Mamie melepaskan ikatan tali kimononya. Lalu dibukanya kedua sisi kimononya itu, sambil menggerakkan bokongnya, maju ke depan.
Tadi malam aku belum melihat kemaluan Mamie dari jarak yang dekat. Dan kali ini aku melihatnya dengan jelas sekali. Bahwa kemaluan Mamie lumayan tembem. Tanpa jembut pula. Sehingga lipatan-lipatannya tampak jelas di mataku.
Aku mau mendaratkan bibirku di kemaluan Mamie. Tapi tiba-tiba dia bangkit dari sofa. “Mendingan di sana aja yok. Biar lebih leluasa,” ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya.
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah Mamie menuju kamarnya.
Mamie menanggalkan kimononya di dekat bed. Lalu, dalam keadaan telanjang dia maik ke atas bed. Aku pun melakukan hal yang sama. Menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, sambil memperhatikan bentuk Mamie dalam keadaan telanjang dan siap untuk melayani kejantananku itu.
Mamie adalah bentuk yang terindah dan termulus di antara perempuan-perempuan yang sudah kumiliki. Dan aku merasa beruntung karena bisa memilikinya. Apalagi setelah tahu bahwa Papa justru yang membuat skenario untuk semuanya ini. Terima kasih Papa… meski Papa punya tujuan khusus, namun aku merasa “ketiban memek nomplok”…
Dan ketika aku merayap ke atas perut Mamie, penisku pun mulai ngaceng berat.
Ketika Mamie merangkul leherku sambil membuka bibir sensualnya, aku pun memagutnya. Kemudian kami larut dalam ciuman dan lumatan yang penuh gairah.
Entah kenapa, saling lumat dengan Mamie ini rasanya fantastis sekali. Apalagi ketika mulutku mulai menggeluti puting payudara Mamie. Mengulumnya sambil menyapu-nyapukan ujung lidahku. Membuat suhu badan Mamie mulai menghangat.
Terlebih setelah aku melorot turun sampai berhadapan dengan kemaluan Mamie yang sangat indah dan merangsang ini.
Kuusap-usap kemaluan Mamie yang sangat erotis ini dengan hasrat yang semakin bergejolak. Lalu kungangakan bibir luarnya, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu tampak jelas di mataku.
Ujung lidahku mulai menyapu-nyapu bagian yang berwarna pink dan beraroma harum mewangi itu. Dengan nafsu semakin merajalela di dalam batinku.
Mamie menanggapi aksiku dengan belaian lembutnya di rambutku. Namun belaian itu lalu berubah jadi remasan ketika aku mulai menjilati kelentitnya dengan lahap sekali. Sementara sepasang kaki Mamie pun mulai terkejang-kejang.
Dalam tempo singkat saja terasa kemaluan Mama sudah membasah. Sehingga aku tak sabaran lagi, ingin segera membenamkan penisku yang sudah sangat ngaceng ini ke dalam liang surgawi ibu sambungku yang kedua ini.
Aku pun berlutut di antara kedua belah paha Mamie, sambil memukul-mukulkan penisku ke kelentit Mamie.
Mamie cuma tersenyum-senyum diperlakukan seperti itu. Namun ketika puncak penisku mulai disungkur-sungkurkan ke arah mulut vaginanya, Mamie spontan merentangkan sepasang paha putih mulusnya. Dan… leppppp… kepala penisku mulai nyungsep ke dalam liang kemaluan Mamie… menyelusup terus dengan agak mudah, karena liang kemaluan Mamie sudah basah dan licin.
Ketika penisku sudah membenam lebih dari separohnya, Mamie meraihku ke dalam pelukannya. Dan menciumi bibirku dengan hangat sekali.
Pelukan Mamie tetap erat ketika aku mulai mengayun penisku, bermaju-mundur di dalam liang surgawi Mamie yang luar biasa nikmatnya ini. Bahkan untuk yang kesekian kalinya Mamie mendaratkan ciumannya di bibirku. Tentu saja kusambut dengan hangat. Dengan menyedot lidahnya yang dijulurkan, sementara penisku mulai bergerak-gerak secara berirama seperti kata artis cantik itu…
Kalau dibandingkan dengan yang tadi malam, aksiku kali ini lebih “tertib dan lengkap”. Maklum kalau tadi malam aku melakukannya dalam perasaan yang masih “kaget-kaget”, bahkan serasa bermimpi. Karena tadi malam aku tidak merencanakan hal yang sejauh itu.
Tapi kali ini aku melakukannya dengan segenap perasaan. Mungkin inilah yang dinamakan senggama dengan cinta. Karena setiap sentuhan Mamie terasa indah sekali. Bukan sekadar sentuhan nafsu birahi.
Maka ketika ayunan penisku mulai lancar, aku pun mulai menjilati leher Mamie yang mulai keringatan. Disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Sepasang mata sipit Mamie pun mulai merem-melek dibuatnya.
Dan aku tidak berniat mengubah posisi missionaris ini. Karena posisi konservatif ini terasa paling indah dan lengkap bagiku. Dalam posisi ini aku bisa meremas payudaranya sambil menjilati leher jenjang dan hangatnya. Bahkan manakala tangan Mamie terjulur ke atas, aku tak ragu untuk menjilati ketiaknya, disertai gigitan-gigitan kecil juga.
Tampaknya usaha untuk “melengkapi” aksiku ini, membuat Mamie sangat menikmatinya. Mamie jadi seperti “edan-eling” dengan remasan dan jambakannya di rambutku, diiringi rintihan-rintihan histerisnya yang mulai membahana di kamar beraroma harum ini. Terlebih ketika aku menyodokkan penisku sedalam mungkin, sampai menyundul dasar liang kewanitaannya, semakin bisinglah suara rintihan Mamie dibuatnya, “Saaam…
Kami jadi laksana burung camar yang sedang berkejaran dengan gulungan-gulungan ombak menuju pantai. Dengan jeritan-jeritan indah yang sedang menikmati fantastisnya rasa surga dunia.
Dan Mamie tidak mau mengubah posisi. Karena hanya dalam posisi konservatif inilah kami merasakan lengkapnya nikmat yang kami rasakan. Mamie sudah dua kali mencapai orgasme, namun aku masih tabah mengayun tongkat kejantananku, memompa liang kewanitaan Mamie yang sempit tapi licin ini.
Lebih dari sejam aku “berjuang” di atas perut Mamie. Sehingga keringatku sudah membanjir dan bercampur aduk dengan keringat ibu sambung keduaku. Namun aku malah semakin bersemangat untuk mengentot liang memek Mamie yang luar biasa nikmatnya ini.
Keringat yang telah membasahi leher dan ketiak Mamie malah menjadi sasaran jilatanku. Sedikit pun tidak menjijikkan ketika tertelan olehku. Sementara payudara Mamie pun sudah banyak totol-totol menghitam, karena dengan leluasa kucupang di dekat putingnya. Itu semua atas kehendak Mamie sendiri, yang ingin agar payudaranya kucupang.
Ketika sedang berciuman pun kami tidak peduli lagi dengan air liur yang berpindah-pindah tempat. Air liurku ditelan oleh Mamie, sementara air liur Mamie tertelan olehku juga.
Kami memang sudah lupa segalanya. Kami ingin menikmati permainan surgawi ini sepuasnya.
Sampai pada titik terindah itu… ketika aku sudah tiba di puncaknya, kudesakkan batang kemaluanku sedalam mungkin, lalu terasa air maniku berhamburan ke dalam liang kenikmatan Mamie. Yang Mamie sambut dengan dekapan erat dan ciuman hangatnya di bibirku.
Crotttt… crooot… crotcrotcrot… crooooot… crotttttttt…!
Aku berkelojotan di atas perut Mamie, namun Mamie masih menyedot lidahku yang terjulur.
Lalu aku terkapar dalam dekapan Mamie. Dengan keringat membanjir di sekujur tubuhku.
“Jangan dicabut dulu Sayang,” bisik Mamie sambil merapatkan pahanya, untuk menjepit penisku yang mulai melemas ini, “Biarkan air manimu meresap di tubuh Mamie…”
Kuikuti permintaan Mamie itu. Penisku yang sudah lemas ini kubiarkan tetap dijepit oleh liang kemaluan Mamie.
“Kamu benar-benar gagah. Jauh lebih perkasa daripada papamu,” bisik Mamie lagi, sambil membelai rambutku, “Mamie akan semakin menyayangimu Sam…”
Tiba-tiba handphone Mamie berdering. Membuat Mamie terkejut. Bergegas mengenakan kimononya sambil berkata, “Itu pasti video call dari Papa. Kamu pura-pura tidur aja Sam… pakai selimut…”
Ternyata memang video call dari Papa. Sementara aku sudah menelungkup setelah menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Namun aku bisa ikut mendengarkan percakapan Papa dengan Mamie itu :
“Sebentar lagi aku mau meeting di Bangkok. Doakan agar misi kita sukses ya Mam.”
“Iya Pap… semoga sukses yaaa…”
“Bagaimana dengan Sam? Sudah mau ikut mewujudkan rencana kita?”
“Sudah Pap. Sekarang dia masih tidur.”
“Hahahaaa… bagus lah. Nanti suruh dia matikan handphonenya dan jangan menghubungi orang rumah. Menelepon Yoga pun harus dilarang dulu. Biar rahasia ini hanya kita bertiga yang menyimpannya.”
“Iya Pap.”
“Privilege ini hanya kuberikan untuk Sam. Jadi Yoga tidak boleh tau.”
“Ya iyalah. Supaya kalau aku hamil nanti, hanya satu orang saja ayah biologis bayinya nanti.”
“Betul. Oke… aku mau meeting dulu ya. Orang-orangnya sudah pada datang.”
“Iya Pap. Semoga sukses yaaa…”
“Amiin…”
Cerita Sex Akibat Cerewet
Setelah video call itu selesai, Mamie meletakkan handphonenya di atas meja kecil. Lalu membuka selimut yang menutupiku sambil berkata, “Kamu dengar sendiri kalau mamie gak bohong kan? Papa sendiri yang mengatur hubungan kita.”
“Iya Mam… barusan aku hampir tak percaya pada pendengaranku sendiri.”
“Yang luar biasa, Papa mengijinkan kita saling mencintai, tapi mamie harus tetap menjadi istri Papa.”
“Iya Mam.”
“Kita mandi dulu yok. Biar badan kita bersih dari keringat… biar seger lagi.”
“Iya Mam…”
Bersambung…
Bagaimana sobat Ngocokers cerita Rumah Kami Surga Kami diatas? jika bagus jangan lupa klik salah satu iklannya yah biar mimin update kelanjutannya (part 9) yang pasti lebih menarik. Jika mau tau kelanjutan kisah ini jangan lupa follow akun telegram Ngocokers yah, terima kasih.


