Making Dirty Scandal
Cerita Dewasa · 18+
Making Dirty Scandal – Vanesa ialah seorang aktris berbakat yang tengah mencapai puncak kejayaannya tiba-tiba diterpa berita tentang skandalnya yang fenomenal. Dari artis kesayangan media, dia berubah menjadi artis kontroversial yang dibenci banyak pihak.
Namun, di dalam skandal itu, ternyata ada proses yang tidak diketahui semua orang. Hanya para pembuat skandal yang tahu bagaimana cerita aslinya. Bagaimana akhir dari karir Vanesa? Akankah publik kembali mencintainya?
Penghargaan Piala Puspa untuk pemeran utama wanita terbaik jatuh kepada…
Vanesa Francisca!

Wanita yang tampil sangat anggun dengan gaun putih yang memamerkan bentuk tubuh indahnya itu langsung berdiri, pria dengan jas hitam di sampingnya menyambut dengan kecupan di pipinya.
Dengan wajah begitu senang, ia berjalan ke arah panggung. Malam itu adalah malam terbaik baginya karena untuk pertama kali, ia akan memegang piala keemasan yang menandakan bahwa ia adalah pelakon seni peran wanita terbaik di negeri ini.
Pria dengan jas hitam yang terbuka itu tampak paling semangat bertepuk tangan, matanya seakan menandakan rasa bangga yang begitu besar. Tidak hanya pria muda itu, tetapi ratusan tamu yang hadir pun memberi tepukan.
Kamera-kamera menuju ke arah mereka, dan tentu saja segera kembali mengarah pada sang pemeran utama wanita terbaik malam ini. Di sisi lain kemegahan acara penghargaan malam itu, ada meja yang hanya berisi dua orang.
Seorang pria dewasa dengan garis wajah tegas yang tampak sangat memesona, tubuh tegap dan setelan rapi yang dipakainya membuatnya tampak begitu berwibawa.
Sang wanita di hadapannya tampil begitu cantik, wajahnya terukir bagaikan sosok dingin yang menyembunyikan misteri. Keduanya adalah pasangan artis yang sudah merangkai rumah tangga lebih dari satu dekade.
“Gadis itu pantas dikatakan sebagai pengganti dirimu, Sayang,” ujar sang pria sembari memandangi Vanesa yang tengah memberikan pidato kemenangan.
Wanita dewasa berbaju merah itu seakan tidak setuju, ia menggeleng. “Dia tidak pantas disebut penggantiku, dia punya charm yang beda. Fiara adalah Fiara dan Vanesa adalah Vanesa. Kau jangan terbawa perkataan media,” ujarnya sambil memandangi suaminya.
“Bukan masalah akting. Aku sedang memperhatikan rambutnya. Dia menggantikanmu untuk menjadi duta sampo Ratine, bukan?” tanya sang suami seraya menahan tawanya.
Fiara memandang suaminya dengan wajah malas. “Kalau itu, iya. Aku akui rambutnya juga berkilau, pantas menjadi duta sampo, sedangkan rambutku sekarang….” Fiara mengusap rambutnya.
Sang suami menyentuh dagu istrinya dan mengarahkan pandangan istrinya ke arahnya. “Jika rambutmu tak lagi berkilau, yang penting rasa cintamu padaku akan tetap berkilau hingga kapan pun.”
Fiara memutar pandangannya serasa apa yang dikatakan suaminya hanya gombal belaka. “Aku mau jadi duta sampo lain saja,” ujar Fiara seakan bertekad.
“Duta hatiku saja!”
“Aska, kau sudah 45 tahun. Berhentilah menggombal.”
“Darahku tetap muda, jika bersamamu yang cantiknya tetap sama seperti tiga puluh tahun yang lalu,” kata Aska seraya menunjuk wajah istrinya.
Fiara menatap Aska dengan tatapan tidak senang. “Kau pikir wajahku sekarang seperti bocah?Aku masih kelas dua SD tiga puluh tahun lalu.”
Aska cekikikan. “Aku lupa kita berbeda tujuh tahun.”
Namun, wajah Fiara langsung berubah. Ia seakan termenung dan memilih kembali memandangi panggung di tempat Vanesa yang kini tengah turun. Aska seakan tahu apa yang dipikirkan istrinya sehingga dia menarik tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat di atas meja dengan taplak putih itu.
“Dia sudah bahagia di atas. Aku yakin keinginannya sekarang adalah melihat kita berdua juga bahagia,” ujar Aska seakan menguatkan istrinya.
Fiara tak menoleh ke arah Aska. Dia memilih diam dan terus memperhatikan Vanesa yang kini sudah ada di mejanya lagi, berpelukan dengan pasangannya dengan tangan memegang piala keemasan itu. Piala itu adalah piala yang sama dengan yang dimilikinya di rumah. Fiara tidak hanya punya satu, ia punya tiga.
***
Acara penghargaan itu sudah hampir berakhir. Di saat itu, Fiara melihat Vanesa dan pria berjas hitam yang ia tahu adalah seorang aktor yang menjadi pacar Vanesa, keduanya mendekati mejanya. Tidak hanya Fiara, Aska juga menyadari kedatangan dua orang muda itu.
“Kak Fiara,” sapa Vanesa dengan senang.
“Hai cantik,” ujar Fiara yang langsung berdiri dan menjabat tangan Vanesa.
“Aku Nolan Geraldo,” kata pria tampan yang mendampingi Vanesa itu pada Fiara dan Aska.
“Aku sudah tahu namamu, aktor muda,” ujar Aska saat berjabat tangan dengan Nolan.
“Paman, Pak, Bang, Uncle, bagaimana aku harus memanggilmu, ya?” tanya Nolan ke arah Aska.
“Apa pun asal jangan Om,” jawab Aska seraya tertawa. “Itu selalu diartikan negatif,” lanjutnya dengan bisikan.
“Silakan kalian duduk,” kata Fiara sembari menunjukkan bangku yang kosong. Di situ memang ada empat bangku.
“Kalian berdua terlihat sangat serasi,” puji Vanesa setelah memandangi Fiara dan Aska secara bergantian.
Walau begitu, pandangan Vanesa ke Aska agak dipercepat karena ia memilih untuk terus memandangi Fiara–orang yang sudah ia ambil posisinya sebagai duta sampo Ratine.
Fiara sendiri tampak tersenyum senang melihat juniornya itu mau menyapa, tetapi Fiara mulai merasa risih saat melihat piala yang dibawa Vanesa ditaruh ke atas meja.
“Kami berharap bisa menjadi pasangan yang harmonis seperti kalian berdua,” kata Nolan seraya merangkul Vanesa.
“Kau sangat beruntung,” ucap Aska sembari melirik ke Vanesa yang tampak malu. “Vanesa adalah aktris yang tidak hanya cantik, tetapi juga sangat berbakat. Aku sudah menonton film Wanita Dalam Roda Malam.
Dan dia,” Aska menunjuk ke wajah Vanesa, “pantas mendapatkan piala ini,” ucapnya yang kemudian mengambil piala di atas meja dan memperhatikannya.
“Kau berbakat menjadi pelacur,” ujar Fiara yang langsung membuat ketiga orang di meja itu menoleh padanya. “Maksudku kau bisa berperan sebagai wanita malam di film itu dengan sangat meyakinkan.
Filmmu sebelumnya juga bagus saat kau menjadi seorang penyanyi, tetapi aku lebih suka peranmu di film Wanita Dalam Roda Malam itu. Kau sangat total!”
Vanesa tersenyum. “Tidak sebaik dirimu. Semua film yang kau bintangi sangat luar biasa,” kata Vanesa yang tentu saja bermaksud memuji balik.
“Tipikal wanita, selalu membalas pujian dari wanita lain,” kata Aska yang diikuti tawa kecil.
“Tapi benar kata Vanesa. Sosok Fiara adalah legenda hidup, dia selalu berperan total,” ujar Nolan yang tersenyum pada Fiara dan Aska.
Fiara mengernyitkan dahi sembari memandangi Nolan. Sosok pria mata teduh, bibir manis, dan hidung yang proporsional itu mengingatkannya dengan seseorang. “Kau pernah bermain film denganku, ya?”
“Aku pernah berperan sebagai adikmu, lima belas tahun yang lalu,” kata Nolan seakan mengingatkan.
“Aku tidak percaya, kau Aldo si aktor cilik itu. Aku tak mendengar namamu lagi selama bertahun-tahun, dan sekarang kau ada di depanku sebagai seorang aktor dewasa. Aku sudah begitu tua ternyata,” ungkap Fiara menunjukkan ketidakpercayaannya.
“Dan aku juga tidak percaya karena kau sama sekali tak berubah. Kau masih sama seperti dulu, tetap cantik,” kata Nolan memuji.
Kemudian terjadilah nostalgia kecil antara Nolan dan Fiara yang membuat Vanesa dan Aska serasa menjadi pendengar saja. Di saat itu, kedua pasang mata itu bertemu. Mata tajam Aska memandang mata anggun Vanesa.
Dan penghargaan Film terbaik, jatuh pada… Wanita Dalam Roda Malam.
Vanesa tersadar oleh suara beberapa orang yang memanggilnya. Saat ia tahu film yang dimainkannya menang, ia pun segera berdiri untuk berpamitan pada Aska dan Fiara.
“Pialamu,” kata Aska memberikan piala milik Vanesa.
“Terima kasih,” jawab Vanesa yang langsung menurunkan pandangannya pada Aska.
“Filmmu menang?” Nolan ikut berdiri dan segera memeluk pacarnya itu.
Fiara melihat suaminya terus memandangi Vanesa dan Nolan yang sedang berpelukan itu. Setelah pasangan muda itu pamit untuk kembali, Aska menoleh ke arah Fiara.
“Mereka mengingatkanku pada kita dulu. Masih muda dan masih sangat bersemangat,” ujarnya.
Fiara mengangguk. “Mereka masih punya banyak kesempatan memerankan banyak peran,” ucapnya seraya menoleh ke arah panggung di mana Vanesa berdiri di sana bersama beberapa orang. “Sebagai pemeran utama.”
Bersambung…
Segala hal baik menerpa Vanesa sekarang ini. Setelah kemenangannya di ajang penghargaan perfilman terbesar di negeri ini. Banyak media memberitakan penampilan cantiknya kemarin malam selain berita tentang kemenangannya dan filmnya.
Para artis lain pun berbondong-bondong memberikan selamat lewat pesan singkat atau chat. Sementara orang-orang di internet memujinya habis-habisan di berbagai kolom komentar di media sosialnya.
“Kau mengenal Fiara dengan baik? Semalam kau sampai ingin bergabung dengan dia dan Aska di meja mereka,” kata Nolan sembari terus menyetir.
“Aku mengidolakan Fiara, dia adalah salah satu aktris terbaik negeri ini. Ya, dulu sebelum dia hiatus cukup lama hingga popularitasnya menurun,” jawab Vanesa yang kini duduk di jok depan di samping pacarnya. “Dia wanita yang hebat, lebih memilih fokus membesarkan anaknya daripada melanjutkan karirnya yang gemilang.”
“Aku juga mengagumi Fiara, tapi Aska adalah idolaku. Aktor pria paling keren di layar lebar. Apa pun peran yang dia bawakan selalu mencuri perhatian utama, itu membuat filmnya tampak selalu berkelas,” jelas Nolan dengan begitu semangat.
“Pantas saja kau sangat semangat aku ajak bertemu mereka, tapi kenapa kau tidak mengatakan hal itu padanya?” tanya Vanesa dengan wajah tampak bingung.
Nolan menggeleng. “Aku malu.”
“Ya, payah!” sahut Vanesa seraya mendorong lengan Nolan dengan pelan.
“Tapi, aku ingin sekali suatu saat kita bisa seperti mereka berdua. Dikenang sebagai pasangan aktor dan aktris yang melegenda,” ungkap Nolan dengan begitu optimis.
Vanesa mengangguk pelan dengan wajah yang kemudian berubah menjadi muram. “Aku merasa berada di atas angin sekarang,” ujar Vanesa.
“Kau pantas mendapatkan itu,” ucap Nolan yang tersenyum ke arah kekasihnya.
“Kita berdua hampir tidak pernah diberitakan negatif oleh siapa pun,” kata Vanesa yang memandang Nolan dengan kerutan di dahinya.
“Memangnya kau ingin?” tanya Nolan seraya menggeleng. “Aku sebenarnya tidak peduli. Dari kecil aku sudah berada di depan kamera. Walau aku sempat berhenti bertahun-tahun untuk fokus pada pendidikanku, tetapi aku kembali ke dunia ini. Aku hanya melakukan apa yang aku suka dan cukup, aku tidak terlalu peduli pendapat orang.”
“Yakin? Sepertinya kau selalu peduli dengan gadis-gadis remaja yang mengatakan bahwa kau sangat tampan, seksi, dan mereka mau melakukan apa pun hanya untuk bisa bertemu denganmu. Ya, melihat wajahmu,” ungkap Vanesa dengan ekspresi kurang senang.
“Kau cemburu?” Nolan menyeringai.
“Jika iya, kau juga seharusnya cemburu dengan ribuan pria yang berkata ingin menikahiku,” jawab Vanesa dengan malas.
“Tidak terlalu. Aku lebih cemburu melihatmu dengan lawan-lawan mainmu. Namun, aku bisa mengendalikan rasa cemburuku. Itu resiko jadi artis, kan? Banyak orang yang memuja kita,” jawab Nolan seraya tertawa.
“Itu poinnya,” jawab Vanesa.
“Lagi pula, kau akan tetap menikahiku, kan?” tanya Nolan seraya menggerak-gerakkan alisnya.
Vanesa tidak menjawab pertanyaan Nolan. “Aku hanya bosan dengan pujaan. Saat memerankan seorang pelacur yang mendapatkan begitu banyak kata-kata kotor, aku merasakan ada sisi lain dari diriku.”
“Sisi lain? Dunia lain? Masih dunia lain?” tanya Nolan yang tidak serius.
“Aku hanya… lupakan,” ujar Vanesa yang kini memandangi sisi jalan dari jendela yang tertutup itu.
Nolan seakan tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Vanesa. Ia berargumen dalam benaknya. Ia tahu wanita itu rumit, akan tetapi mencoba untuk mengerti itu bukan hal yang salah.
Nolan beranggapan bahwa Vanesa adalah orang yang selalu peduli opini publik. Sekarang semua orang memuja pasangannya itu dan menurutnya mungkin saja Vanesa berpikiran jika suatu saat semua orang mencacinya.
“Percayalah, entah kau dipuja atau dicaci, aku tetap akan ada di sampingmu,” ucap Nolan yang membuat Vanesa langsung menoleh.
“Semua pria akan mengatakan hal yang sama,” kata Vanesa dengan malas.
“Syukurlah, itu berarti aku pria sejati,” jawab Nolan seraya tertawa.
“Dasar!” kata Vanesa yang kemudian menusuk pinggang Nolan dengan telunjuknya.
“Geli!”
“Katanya pria sejati, begitu doang geli,” kata Vanesa seraya tertawa.
Nolan langsung membalas perlakukan Vanesa dengan hal yang sama. Hingga keduanya saling membalas dan tertawa di dalam mobil itu.
***
Vanesa melakukan banyak pose di depan kamera di dalam kafe yang digunakan sebagai tempat pemotretan. Wanita itu tampak sangat percaya diri dengan apa pun gaya dan busana yang dipakainya. Ia memang selalu tampil cantik, wajahnya begitu cerah bagaikan sosok yang selalu punya energi positif.
“Vanesa benar-benar sangat sempurna di depan kamera,” ujar seorang wanita dengan rambut sepanjang pundak yang dicat pirang pada Nolan yang berdiri di sampingnya.
“Aku beruntung mendapatkannya,” sahut Nolan yang memakai kemeja hitam yang dua kancing atasnya dibuka itu.
“Ya, tapi aku khawatir pada hubungan kalian,” kata wanita berambut pirang itu menoleh ke arah Nolan.
“Apa yang membuat Kak Milan khawatir? Aku sudah cukup dewasa untuk bisa mengatur segalanya,” jawab Nolan pada kakak perempuannya itu.
“Entahlah, aku hanya punya firasat aneh. Lupakan saja,” kata Milan yang sepertinya tak jadi mengatakan apa yang ada di benaknya.
Nolan mengernyitkan dahi. “Percaya padaku, Kak. Aku bisa menjaga diriku,” kata Nolan seraya merangkul kakaknya.
Milan tersenyum kecil seraya menoleh ke arah Vanesa yang masih dalam sesi pemotretan. Ini adalah sesi pemotretan untuk majalah dengan Milan sendiri sebagai kepala redaksinya.
Wajah Vanesa dan pialanya akan menjadi sampul majalah Generasi yang selalu mendukung hal-hal positif yang terjadi tidak hanya dunia hiburan, tetapi juga generasi muda di Indonesia.
***
Milan tengah memilih-milih foto sampel yang tersebar di atas meja. “Ini bagus, kan?” tanyanya pada Nolan dan Vanesa yang sudah duduk di depannya.
“Iya, ini bagus untuk sampul,” jawab Vanesa seraya mengangguk.
“Vanesa dari mana saja sama, jadi aku tidak bisa memilih,” ujar Nolan seraya menoleh ke arah Vanesa.
“Sama apa maksudnya?” kata Vanesa sambil melirik penuh selidik ke arah pacarnya.
“Sama cantiknya, sama apanya lagi, Sayang,” jawab Nolan seraya menyentuh dahi Vanesa dengan jari telunjuknya.
“Gombalin mulu, nikahin kapan?” sindir Milan seraya melirik ke arah Nolan.
“Kawin aja dulu,” kata Nolan dengan santai.
“Hush!” Vanesa langsung mencubit Nolan dengan keras.
Milan tertawa singkat sembari menggeleng.
“Kak, buat berita terbaik untuk Vanesa. Dia berhak mendapatkan cinta dari publik,” ujar Nolan.
“Kak Milan berhak membuat berita apa pun, kita tidak boleh memaksa,” sahut Vanesa seraya menekan dan mendorong pipi pacarnya itu dengan jari telunjuknya.
Milan tertawa singkat. “Seperti apa yang Nolan katakan, kau berhak mendapatkan cinta dari publik. Kau cantik, bertalenta, dan kau juga punya attitude. Kombinasi terbaik untuk role model masa kini,” puji Milan pada wanita yang lima tahun lebih muda darinya itu.
Vanesa tersenyum kecil. “Kau terlalu memuji, Kak.”
“Kau pantas dipuji, Sayang,” sahut Nolan yang kini membalas perbuatan pacarnya dengan menekan ujung hidung Vanesa.
Milan mengecek arlojinya, sudah lewat dari tengah malam. “Sebaiknya kita segera pulang. Kalian harus syuting lagi besok, kan?”
“Aku akan mengantar Vanesa ke apartemennya,” ujar Nolan yang segera berdiri dan mengambil jas hitamnya yang ia taruh ke atas kursi.
“Segera pulang setelah itu,” suruh Milan pada adiknya.
“Kak Milan jangan terlalu khawatir denganku,” jawab Nolan yang kini mengambilkan tas tangan milik Vanesa di meja.
“Siapa yang mengkhawatirkanmu lagi kalau bukan aku?” tanya Milan seraya menatap Nolan dengan senyum malas.
“Mungkin sepuluh juta pengikutnya di Instagram, Kak,” sahut Vanesa seraya tertawa.
“Sepuluh koma lima,” ujar Nolan membenarkan.
“Iya, bawel!” sahut Vanesa.
“Vanesa. Selama kau selalu positif, aku akan selalu mendukungmu,” kata Milan sembari mengusap lengan Vanesa.
“Kami akan selalu positif. Vanesa juga tidak akan terkena skandal kotor atau sejenisnya, ya kan?” tanya Nolan seraya melirik ke arah Vanesa.
Vanesa tampak terkejut, dia seperti tidak senang mendengar kata-kata Nolan. “Tentu saja.”
“Apalagi skandal yang di-setting, menggelikan sekali,” ujar Nolan yang tertawa disusul Milan.
Vanesa ikut tertawa sebelum ketiganya keluar dari kafe. Ia berada di belakang Nolan dan Milan yang sedang mengobrol bersama. Bagi Vanesa, sosok Milan adalah kakak yang baik, bahkan mungkin terlalu baik.
Vanesa seakan menjadi sosok yang selalu muncul di majalah Generasi, laman web, dan akun-akun resmi lainnya milik majalah Generasi.
Ia seakan berpikir, apakah sosoknya terlalu putih hingga terus dikabarkan positif? Apakah warna hitam itu perlu untuk membuat segalanya jadi abu-abu? Apa skandal itu perlu?
Bersambung…
Di balkon sebuah rumah mewah, sepasang suami istri tengah memandangi pemandangan langit malam yang tanpa bintang. Aska merangkul Fiara sembari tersenyum ke arah langit, sementara Fiara mendekatkan tubuhnya ke arah suaminya itu.
“Andai Cakra masih hidup, rumah kita tak akan sesepi ini,” ujar Fiara dengan nada sendu.
“Sudah empat tahun yang lalu, kau masih tidak bisa merelakannya?” tanya Aska yang merangkul Fiara semakin erat.
“Bagaimana aku bisa rela, dia adalah buah hati kita. Dia yang membuatku menjadi ibu, membuatku merasa punya sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi,” ungkap Fiara yang menahan dirinya untuk tidak menangis. “Namun, aku gagal melindunginya.”
Aska langsung memeluk istrinya, membuat Fiara menangis di pelukannya. Ia tahu tidak berat bagi seorang ibu kehilangan anaknya, apalagi Cakra masih berumur delapan tahun waktu itu.
Sebagai suami, ia memosisikan diri sebagai orang yang lebih tegar, tidak mau ikut terbayang masa lalu dan menangisi kehilangannya.
***
Fiara yang sudah memakai pakaian tidurnya, memandangi etalase lemarinya. Ada banyak piala di sana. Tiga piala Puspa berada di tingkat paling atas etalase itu.
Sejenak, ia mengingat masa-masa di mana dia menjadi aktris paling gemilang. Ya, sudah lebih dari satu dekade lalu. Dia dikenal sebagai aktris yang sangat bersinar pada masa itu.
Melihat wajahnya di cermin, ia membayangkan dirinya adalah Warni. Seorang perempuan desa yang merantau ke kota dan menaklukkan hati seorang saudagar kaya.
Sosok yang pernah diperankannya itu adalah sosok yang mengubah kehidupannya. Tidak hanya di dalam film, ia pun berhasil menaklukkan–atau justru ditaklukkan–sosok saudagar yang diperankan oleh suaminya sendiri.
Tubuh prianya itu terbaring di atas ranjang. Fiara bergerak ke arah ranjang dan berbaring di samping Aska. “Kau ingat saat pertama kita bertemu?” Fiara menoleh ke arah suaminya yang sudah menutup matanya.
“Aku gugup, sungguh aku sangat gugup waktu itu. Kau yang mengajak berkenalan dan melontarkan candaan lebih dulu, aku selalu tertawa dengan leluconmu. Dulu, aku berpikir kau melakukan itu pada semua gadis, tapi saat kau mengatakan bahwa kau menyukaiku. Aku percaya, kau hanya suka padaku.”
Fiara membelai wajah suaminya. Melangkahkan dua jarinya dari dahi, menuju hidung, lalu ke bibir Aska. Ia mengusap bibir itu sembari tersenyum sebelum menarik selimut dan terbaring menghadap arah yang membelakangi suaminya.
Saat mata terpejam, ada gerakan yang ia rasakan. Aska memeluknya dari belakang, membuatnya tersenyum dalam kehangatan.
***
Vanesa dan Nolan sudah sampai di apartemen mewah milik Vanesa. Apartemen sebesar itu hanya ditinggali oleh Vanesa. Nolan tahu bagaimana perasaan seorang Vanesa.
Kedua orang tua Vanesa semua tinggal di Paris, Vanesa sendiri yang memilih hidup di Jakarta sebagai aktris. Nolan yang sudah tak memiliki orang tua pasti mengerti perasaan Vanesa.
Vanesa merupakan keturunan darah Prancis dari ayahnya dan darah Sunda dari ibunya. Dari remaja, Vanesa memang sudah hidup mandiri. Vanesa pun dinilai sebagai sosok yang cerdas, belum genap dua puluh tahun, ia sudah menyelesaikan kuliahnya di perguruan tinggi jurusan seni peran di London.
Hingga ia menuju Indonesia–tempat neneknya berada–dan kemudian merintis karir sebagai aktris. Lima tahun berlalu, karirnya sekarang sedang berada di puncaknya.
“Biar aku bantu buka bajumu,” ujar Nolan seraya mendekat ke punggung Vanesa yang berdiri di depan cermin.
“Nolan,” panggil Vanesa pelan.
“Sekarang kau jarang memanggilku Sayang,” sindir Nolan yang masih berusaha membuka baju pasangannya itu.
“Jika aku kehilangan segalanya, apa kau akan tetap di sampingku?” tanya Vanesa tanpa menoleh ke arah Nolan.
“Tidak,” jawab Nolan santai yang membuat Vanesa langsung menoleh dengan wajah penuh tanya. “Sisakan satu hal untukku, hatimu. Jangan sampai kehilangan hati,” tambahnya yang kini tersenyum tenang.
“Sekali pun aku tak lagi cantik?” tanya Vanesa.
“Siapa yang bilang kau cantik?” Nolan balik bertanya.
Vanesa menyipitkan matanya. “Oh, begitu?”
“Bukan cantik, tapi cantik banget,” jawab Nolan meringis. “Lagi pula, aku yakin kau tidak akan membiarkan dirimu menjadi jelek.”
“Tidak juga. Kalau aku harus berperan menjadi jelek, aku akan membuat diriku jelek,” jawab Vanesa.
“Iya iya, asal jangan imejmu saja yang jadi jelek,” kata Nolan tertawa kecil.
“Memangnya kenapa kalau imejku jadi jelek?” tanya Vanesa.
Nolan menggeleng. “Hal semacam itu tak mungkin terjadi.”
“Kenapa tak mungkin? Kenapa imejku tak mungkin jadi jelek?” tanya Vanesa lagi.
“Karena aku percaya padamu, kalau kau bisa menjaga personamu,” jawab Nolan dengan senyuman.
Wajah wanita muda itu langsung berubah, Vanesa kembali memandang ke depan cermin tanpa bicara apa pun lagi.
“Kau sedang banyak pikiran mengenai peran yang sedang kau mainkan bukan? Kau pasti punya beban selain kesenangan setelah kau bisa memenangi kemenanganmu sebagai aktris terbaik. Kau tidak perlu terlalu memikirkan itu, just do it because you love it,” terang Nolan mencoba mengerti.
Bagi Vanesa, Nolan adalah sosok yang hangat. Pria yang tidak hanya tampan, tetapi juga memiliki hal yang membuat Vanesa merasa nyaman.
Sentuhan Nolan di punggungnya memberikan getaran kecil yang menjalar ke tubuhnya. Saat gaunnya terlepas, Vanesa merasa telanjang walau dia memakai sesuatu yang menutupi keindahannya.
Jemari Nolan meraba lengan Vanesa yang begitu lembut dan mulus, itu membuat Vanesa segera menoleh ke arah pacarnya. “Bukannya kau harus segera pulang?”
“Bagaimana aku bisa pulang kalau melihatmu dalam kondisi seperti ini?” tanya Nolan seraya menunjukkan seringainya.
Vanesa membuka lemari dan mengambil pakaian tipis yang segera dia pakai. “Pulanglah,” suruh Vanesa yang kemudian bergerak menuju ke arah meja riasnya.
Akan tetapi, Nolan dengan gesit menarik tangan Vanesa dan segera menarik sang bidadari dalam pelukannya. Vanesa menggeleng karena Nolan selalu menggodanya seperti itu, dia pun berjinjit agar menyamai tinggi sang pangeran cinta dan mencium bibirnya.
“Kau membuatku semakin ingin,” kata Nolan kembali menunjukkan seringainya.
Vanesa hanya tersenyum sembari menggeleng pelan.
***
Milan tahu kalau adiknya tak mungkin pulang. Ia hanya tidur tiga jam sebelum bangun dan menyalakan laptopnya di ruang tengah ditemani segelas kopi.
Ia sedang mencari-cari berita di internet. Sebagai seorang kepala redaksi sebuah media, ia adalah sosok yang sangat update pada apa yang terjadi di negeri ini, khususnya masalah kehidupan para selebriti.
Abdul Keenan dan Ralina Syarif resmi bercerai setelah menikah tiga minggu.
Milan menggeleng pelan karena tidak mengerti apa yang dilakukan dua selebriti muda itu. “Sudah buang-buang uang milyaran rupiah buat pernikahan super mewah, sampai ada siaran langsungnya di stasiun televisi swasta juga. Eh, baru tiga minggu sudah bubar,” komentar Milan seraya tertawa.
Milan kemudian memindahkan halaman web berita itu dan menemukan berita tentang penghargaan Piala Puspa malam kemarin. Milan tentu tersenyum saat melihat sosok yang diniscaya akan menjadi adik iparnya itu tengah memegang piala pemeran utama wanita terbaik. Ia sangat bangga.
Akan tetapi, di barisan berita terkait muncul sesuatu yang benar-benar membuatnya membuka mata semakin besar. Ia tampak sangat kaget melihat apa yang ada di depannya.
Tangannya langsung ia angkat dan ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Kepalanya menggeleng pelan dan matanya tampak basah saat membaca deretan kata di layar laptopnya.
Tangannya yang gemetar segera menyambar ponsel yang berada di mejanya. Ada banyak pesan di aplikasi chating miliknya. Semua pesan membahas hal yang sama, berita itu. Berita yang ia yakin akan menjadi topik hangat selama berbulan-bulan di negeri ini.
Bersambung…
Kulitnya terpapar cahaya matahari dari jendela yang ia buka. Bening dan lembut, itu gambaran paling pantas untuk indera peraba dari wanita muda yang memiliki rambut hitam yang berkilau itu.
Bibirnya berwarna merah muda dan tampak sangat manis, hidungnya yang proporsional, dan mata kecokelatannya yang sangat indah membuat Vanesa tampak sangat cantik meski belum mandi. Tak tun tuang!
Melihat panorama kota Jakarta dari ketinggian apartemen mewahnya, ia membalikkan badan. Tubuhnya yang hanya memakai pakaian tipis memancarkan keindahan lekukan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Foto dirinya dalam pigura yang tampil seksi dengan pakaian merah menjadi bukti bahwa Vanesa adalah seorang yang menjaga bentuk tubuhnya. Sebagai tuntutan, atau ia sendiri yang menyukai keindahan dalam dirinya.
Suara pancuran air terdengar dari arah kamar mandi. Vanesa tahu kalau Nolan yang berada di sana. Ia memilih duduk di ranjang dan mengambil ponselnya yang berada di meja kecil samping kasurnya itu.
Jari lentiknya menyentuh layar hingga menemukan aplikasi Instagram, ada sangat banyak notifikasi. Ia tampak kaget saat membaca deretan komentar yang yang terpampang di sana. Wajahnya tampak memucat saat ia menemukan sebuah berita dari media ternama.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Nolan yang muncul dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Vanesa menoleh pada Nolan, pria tampan yang tengah memandanginya dengan bingung. Tubuh segar Nolan tak membuat Vanesa luluh seperti biasanya, ia tengah panik. Ada gemetar di tangannya yang tertangkap mata Nolan dengan cepat.
“Ada sesuatu yang buruk?” tanya Nolan seraya mengambil kaus dari lemari–ia menyimpan beberapa pakaian di lemari Vanesa.
“Aku harus mandi,” ucap Vanesa yang segera berdiri dan menaruh ponselnya.
“Boleh aku merekamnya?” tanya Nolan seusai memakai kausnya.
“Tidak,” jawab Vanesa yang segera pergi ke kamar mandi.
“Atau aku temani?” tanya Nolan lagi. “Aku rela mandi lagi.”
Vanesa tidak menjawab.
“Seharusnya aku tidak mandi dulu,” ujar Nolan seraya menggeleng sebelum memakai celana panjangnya.
Pria itu kemudian mencari-cari di mana ponselnya. Ia lupa menaruhnya di mana. Saat melihat ponsel Vanesa, ia segera mengambilnya untuk menelepon ponselnya. Akan tetapi, saat membuka ponsel milik pacarnya itu, ia melihat sebuah berita yang sepertinya sedang dibaca Vanesa sebelum wanita itu menuju kamar mandi.
Video syur mirip artis Vanesa Fransisca tersebar di dunia maya.
Nolan menggeleng tidak percaya. Ia sekalipun tak pernah merekam kegiatan malamnya dengan Vanesa. Pacarnya itu selalu melarangnya. Jadi, ketika ada berita video Vanesa yang tersebar. Nolan merasa begitu panik.
Setelah menemukan ponselnya, Nolan segera mencari sumber berita itu dan ia segera menemukannya di sebuah situs dewasa.
Video itu tampak tidak jelas, wajah pelakon wanita tidak bisa dikenali dengan pasti, walau Nolan mengakui bahwa itu mirip Vanesa. Pelakon pria pun tak terlihat wajahnya.
Media perekam sepertinya diletakkan di atas bantal yang bergerak-gerak sehingga video tampak tidak jelas. Akan tetapi, Nolan berhasil menemukan sebuah petunjuk. Sebuah tato di lengan sang pria, tato dua cincin yang terikat.
Nolan menggeleng, karena sepertinya ia tahu siapa pria itu. Akan tetapi, jika video itu benar. Vanesa dalam musibah besar.
***
Seorang wanita yang umurnya sekitar pertengahan tiga puluhan berdiri dengan memandangi jendela. Rambut pirang bergelombang sepanjang pundak dan wajahnya yang sangat mencerminkan keanggunan dari wanita dewasa terasa tengah merenungi sesuatu yang berat.
Ia memakai pakaian yang terlihat formal untuk bekerja, tetapi sangat fashionable. Rok pendek, dan kemeja biru muda yang ketat, ada kesan dewasa yang begitu melekat.
“Kita harus mencari berita apa pun yang menyangkut Vanesa, sebentar lagi dia akan menjadi sorotan semua media,” ujar Milan pada seseorang di belakangnya.
“Aku tahu berita ini juga berdampak besar padamu, Milan. Aku harap skandal besar ini tidak mempengaruhi profesionalitasmu,” wanita di belakang Milan itu mendekat dan berdiri di samping Milan.
“Majalah Generasi hanya menerbitkan berita positif yang membangun generasi. Jadi, aku tidak setuju jika kau mencampurkannya dengan berita gosip tidak mendidik.”
“Aku sudah tidak peduli dengan hal itu, Mona! Kita harus menjadi media terdepan yang mengetahui kabar-kabar lain tentang kasus ini,” ujar Milan menoleh ke arah Mona dengan mata yang menatap dengan tajam.
Mona dengan rambut pendek dan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari usianya tampak peduli dengan perasaan sang Kepala Redaksi itu. Sebagai bawahan langsung dan sahabat Milan, Mona tahu bagaimana perasaan seorang kakak yang adiknya disakiti seperti itu.
“Aku akan membuat Vanesa dibenci semua orang di negeri ini,” ujar Milan penuh ambisi.
***
Vanesa kini terlihat gugup, ia duduk sembari memperhatikan orang-orang yang tengah mondar-mandir di lokasi syuting. Ada lampu-lampu, orang yang membawa kamera, payung, dan berbagai macam alat.
“Kau bagus, Nes. Jangan terlalu pedulikan kesalahan tadi,” ujar seorang wanita berbadan gempal sembari memberikan minuman untuk Vanesa.
Vanesa tak menjawab, ia memandang wanita yang telah menemaninya cukup lama dalam karirnya sebagai aktris. Bagi Vanesa, Della lebih dari sekadar manajer, tetapi juga saudara.
“Aku hanya gugup karena Rendra adalah lawan mainku,” ujar Vanesa seraya meminum air putih dari gelas di tangannya.
“Dia sangat tampan,” sahut Della setengah berbisik.
Vanesa tertawa kecil sebelum kembali diam dan merenung. Ia seakan tertekan oleh banyak pikiran.
***
Berita di Internet membuat pria berusia dua puluh delapan itu semakin geram. Nolan meremas tangannya sembari menahan amarahnya yang ingin memuncak.
Ia menghindar dari banyak pertanyaan yang dilontarkan orang-orang padanya. Ia sama sekali tidak ingin membahas video itu. Video yang membuktikan jika Vanesa tidur dengan pria lain selain dirinya.
“Kau ingin makan sesuatu? Aku akan pesankan,” ujar seorang pria berambut keriting yang duduk di samping Nolan di sebuah sofa panjang di apartemen itu.
Nolan tidak menjawab pertanyaan Gerry, ia masih diam semenjak datang ke apartemen milik teman kuliahnya itu. Gerry seakan tahu apa yang terjadi, tentu dia sudah mendengar kabar yang sangat tidak mengenakan itu.
“Kau yakin itu Vanesa?” tanya Gerry sedikit berhati-hati. “Aku melihat banyak komentar yang mungkin dari penggemar Vanesa, kalau itu bukan Vanesa. Itu hanya wanita yang kebetulan mirip. Seharusnya kau bicara pada Vanesa dulu sebelum pergi dari apartemennya.”
“Tengah malam, kita pergi,” ujar Nolan seraya memperhatikan arlojinya.
“Satu jam lagi,” sahut Gerry menoleh ke arah jam dinding di atas televisi. “Pergi ke mana?” tanyanya ke arah Nolan.
“Kelab. Aku ingin minum sebanyak-banyaknya,” jawab Nolan yang menoleh ke arah Gerry.
Gerry melihat bagaimana wajah Nolan. Mata dari seorang aktor terkenal itu memerah dan wajahnya terlihat sangat kacau. Nolan yang biasanya merapikan rambutnya, kini dibiarkan acak-acakan. Mau tidak mau, Gerry harus mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
“Cukup minum. Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan wanita malam ini,” kata Gerry yang terlihat sangat peduli dengan Nolan itu.
Bersambung…
Milan berdiri di depan para anggota redaksinya. Matanya yang tampak memerah seakan menandakan ia kurang istirahat. Akan tetapi, ia mencoba tersenyum.
“Kita akan segera melahirkan saudara baru bagi Generasi. Kita beri nama, RoomPhi. Untuk sementara, aku akan menunjuk Mona untuk menjadi kepala redaksi bagi Generasi. Aku akan lebih fokus untuk membesarkan nama RoomPhi.”
“Apa konten yang akan disajikan dalam RoomPhi?” tanya seorang staf yang mengangkat tangannya ke arah Milan.
“RoomPhi akan terdengar seperti rumpi. Di sini, aku punya filosofi dari nama ini,” jawab Milan seraya menunjuk ke arah papan putih yang terpancar gambar dari proyektor.
Di sana dijelaskan jika nama RoomPhi berasal dari dua kata yaitu room yang berarti ruang dan phi yang merupakan nilai konstan dari perbandingan diameter dan keliling lingkaran.
Milan ingin membuat sebuah media yang menjadi ruang bagi orang-orang untuk mendapatkan berita yang selalu konstan dan terus-menerus bagaikan lingkaran yang tak ada ujungnya.
Ia ingin membawa orang-orang ke ruang di dalam lingkaran yang ia buat–dalam bentuk berita–agar orang-orang tergerak untuk mengikuti pemikiran dalam ruangnya.
“Isi dari RoomPhi adalah tentang fakta, skandal, hal-hal yang disembunyikan. Kita akan menghadirkan media paling menarik yang akan melahirkan pro dan kontra yang terus diperbincangkan,” ujar Milan dengan pandangan berapi-api.
“Maaf menyela, tetapi ini jauh berbeda dengan Generasi. RoomPhi sudah jelas akan menghadirkan sensasi. Sementara itu, Generasi adalah media mencerdaskan bangsa yang penuh prestasi,” kata seorang staf lain.
“Jika sama saja apa serunya?” tanya Milan.
“Tapi ki–”
“Ikuti aku saja!” bentak Milan. “Aku akan memanggil nama-nama yang akan membantuku menyusun keanggotaan dalam RoomPhi. Selain yang aku panggil, kalian akan bersama Mona untuk terus menjalankan majalah Generasi,” kata Milan yang seakan tak mau lagi mendengar pendapat para bawahannya itu.
Milan tampak begitu berambisi sekarang. Rencananya, ia ingin segera bertemu Nolan. Dari kemarin, adik satu-satunya itu tidak bisa dihubungi dan bahkan tidak pulang ke rumah dalam dua hari.
Siapa lagi orang yang harus ia salahkan kalau bukan Vanesa. Dari sorot matanya, kebencian akan sosok yang pernah ia puji setiap waktu itu tampak semakin besar.
***
Vanesa terus menghindari awak media saat ditemui di lokasi syuting. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Video viral mirip dirinya bersama pria misterius itu masih menjadi perbincangan hangat di berbagai laman internet dan sosial media. Banyak spekulasi muncul akibat merebaknya video tersebut.
Dugaan paling kuat mengenai video itu adalah sosok pria yang bersama wanita mirip Vanesa itu adalah aktor senior tanah air yang berini–
Gerry mematikan televisi di kamarnya. Ia memandang ke arah ranjang tempat Nolan yang masih terlelap. Ia seakan tahu apa yang dirasakan sahabatnya itu, kacau dan tidak bisa dijelaskan lagi.
Semalam Nolan benar-benar mabuk, ia yang membawanya kembali ke apartemen itu. Cepat atau lambat, Nolan harus segera menghadapi masalah ini. Dia tidak bisa kabur ke mana pun.
“Bangun Lan. Minum air putih, mandi, dan segera temui Vanesa!” ujar Gerry seraya menarik selimut yang dipakai Nolan.
Suara ponsel berdering membuat Gerry menoleh ke arah meja. Dari semalan, ponsel milik Nolan itu selalu berbunyi.
Sepertinya sudah saatnya ia mengangkat telepon itu dan memberitahu di mana Nolan berada pada kakaknya. Namun, dugaan Gerry salah. Bukan Milan yang menelepon Nolan, melainkan Vanesa.
“Sayang,” panggil Vanesa.
“Ini Gerry,” jawab Gerry.
“Nolan bersamamu?” tanya Vanesa dengan nada getir. “Aku ingin bicara dengannya.”
“Dia masih tidur,” jawab Gerry seraya menoleh ke arah ranjang.
“Tolong katakan padanya, kalau aku menunggunya,” kata Vanesa.
Gerry mengiyakan permintaan Vanesa dan setelah itu, Vanesa menutup panggilannya. Dari suara Vanesa, Gerry menilai bahwa wanita itu tengah ketakutan, butuh orang di dekatnya, dan orang yang dia inginkan adalah Nolan.
***
Fiara dan Aska tampak sangat serasi dalam pemotretan yang sedang mereka langsungkan. Mereka berdua akan mengisi salah satu kolom di sebuah majalah, keduanya memakai pakaian dengan warna hitam. Fiara yang anggun dan Aska yang gagah tampak memesona dalam segala sudut pengambilan gambar.
“Biar aku rapikan dasimu,” ujar Fiara sembari mengangkat tangannya untuk merapikan dasi yang melingkari kerah kemeja suaminya.
“Kau selalu merapikan segalanya tentangku,” kata Aska seraya menyentuh ujung hidung Fiara.
“Ya, tentu saja.” Fiara mengangkat kapalanya untuk bisa menatap wajah Aska. “Asal kau tidak merusak segalanya tentangku.”
“Jika aku merusaknya?”
“Aku hancur.”
Aska terdiam. Suara dari kru pemotretan itu membuatnya berpaling dari istrinya. “Satu take lagi?” tanya Aska.
Seusai pemotretan itu, Aska dan Fiara segera menuju ke sebuah ruangan terpisah. Keduanya akan melakukan wawancara dengan topik yang sama. Mereka akan dites dengan beberapa pertanyaan kecil yang akan membuktikan seberapa serasi keduanya.
***
“Pertama kalian berciuman?”
Aska seakan mengingat-ingat masa yang lama itu. “Saat aku mengajak Fiara ke bioskop, aku menciumnya di sana.”
“Kau tahu kapan itu?”
“Aku tidak mengingat hari dan tanggalnya. Namun kurasa lima atau enam belas tahun lalu,” jawab Aska seakan tidak yakin.
“Apa warna kesukaan Fiara?”
“Dia suka hitam. Dia bilang hitam adalah warna paling tenang, dan menyimpan sisi misterius,” jelas Aska seraya mengangguk-angguk.
“Kalau warna kesukaanmu?”
“Aku suka biru. Karena aku suka laut dan langit.”
“Di mana tempatmu melamar Fiara?”
“Aku melamarnya di pesta ulang tahunnya. Itu kado dariku,” jawab Aska dengan bangga.
“Dari enam film yang kalian bintangi berdua, mana yang menjadi favoritmu?”
“Janda Merah Jambu. Film itu sangat lucu. Aku mengejar-ngejar Fiara yang merupakan seorang janda yang suka sekali dengan warna merah jambu,” jawab Aska seraya tertawa kecil.
***
“Pertama kalian berciuman?”
“Di pesta ulang tahunku. Ya, dia bilang dia tidak membawa kado apa pun. Jadi, dia memutuskan memberikanku first kiss. Ya, faktanya dia adalah ciuman pertamaku.
Sementara aku adalah gadis ke 68 yang dia cium–selain untuk keperluan pengambilan gambar dalam film ya,” ujar Fiara. “Ya, tentu saja gadis ke 69 tidak akan pernah ada.”
“Apa warna kesukaan Aska?”
“Dia suka warna biru. Aska bilang kalau dulu dia ingin jadi pelaut di mana lautan biru terhampar di depannya dan langit sebagai atapnya saat dia berlayar. Ya, karena itu aku suka sekali diajak naik kapal pribadinya, dia selalu senang dengan lautan. Aku suka melihatnya bahagia,” jawab Fiara seraya tersenyum senang.
“Kalau warna kesukaanmu?”
“Aku suka putih. Aku ingin jadi awan putih yang menghiasi langitnya. Aku ingin jadi buih-buih putih yang menghiasi lautnya. Dan aku, ingin menjadi Vinso-nya yang menjadikan segala masalahnya menjadi bersih,” jawab Fiara. “Oh ya, Vinso jadi sponsor majalah ini, kan? Jadi tidak perlu disensor ya,” lanjutnya berbisik.
“Di mana tempat Aska melamarmu?”
“Aku tidak mungkin melupakan hal itu. Dia melamarku di bioskop. Aku dan Aska sering menyamar untuk bisa menonton film layaknya pasangan lain.
Saat film berakhir, dia turun ke depan layar, membuka topi dan kacamatanya, lalu berteriak pada semua orang untuk tidak pergi dari ruang bioskop itu. Ya, tentu saja tidak ada yang pergi. Semua orang tahu Aska yang kala itu adalah aktor yang digilai banyak wanita.
“Dia menunjukku yang masih duduk di belakang dan saat itu, layar bioskop menampilkan sebuah foto. Foto diriku dengan tulisan Wanita paling cantik di semua layar lebar, aku ingin kita saling memiliki.
Lalu dia tunjukkan sebuah wadah cincin dan menurunkan satu sikunya. Semua orang berteriak histeris dan aku segera turun dan menerima cincin itu,” terang Fiara dengan semangat.
“Dari enam film yang kalian bintangi berdua, mana yang menjadi favoritmu?”
“Favoritku adalah Warna Warni, itu film pertamaku dan aku harus beradu akting dengannya. Itu sangat mengesankan. Ya, tapi favoritku yang lain adalah film Cinta Imitasi.
Aska berperan sebagai seorang berandalan yang selalu memberikan barang-barang imitasi pada wanita yang disukainya. Itu film sembilan tahun lalu, dan pasti orang-orang kurang tahu hal ini.
Demi film itu, dia sampai membuat tato di lengannya, tato dua cincin. Tato itu sudah dia hapus beberapa waktu lalu, padahal aku menyukainya,” kata Fiara yang masih tersenyum.
Wajah pewawancara tampak berubah saat mendengar jawaban Fiara. Begitu juga wajah kameramen dan beberapa kru di ruangan itu.
“Ada yang salah dengan apa yang kukatakan?” tanya Fiara dengan bingung.
Bersambung…
Vanesa duduk di depan meja makannya. Makanan yang ia pesan belum ia buka bungkusnya. Wajahnya tampak lelah dan ekspresinya seakan menggambarkan begitu banyak hal yang ia pikirkan. Vanesa sama sekali tidak menyentuh ponselnya lagi sejak kemarin menelepon Nolan–yang diangkat oleh Gerry.
Suara pintu dibuka membuat Vanesa langsung terkejut. Ia segera berdiri dan berjalan keluar dari dapur. Di depan pintu, ia melihat pria itu. Sosok yang pergi meninggalkannya selama tiga hari. Dengan cepat, Vanesa langsung berlari dan memeluk Nolan.
“Aku mengkhawatirkanmu,” kata Vanesa dengan suara yang hampir menangis. “Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kuhubungi selain kau di saat seperti ini.”
Nolan tertawa kecil. “Aku sudah ada denganmu. Sekarang kita harus pergi jauh dari sini. Aku punya uang untuk kita memulai hidup baru di tempat lain dengan profesi yang lebih menyenangkan,” kata Nolan yang membuat Vanesa segera melepaskan pelukannya.
Wajah Vanesa terlihat bingung. “Apa maksudmu?”
Nolan mengangkat kedua tangannya dan ia letakkan ke kedua pipi Vanesa. “Ayo kabur. Semua orang akan menyerangmu dari mana pun,” ujarnya seraya menatap wanita di depannya lekat-lekat.
Vanesa menggeleng. “Aku tidak mau kabur.”
“Kenapa?”
Vanesa mengenyahkan tangan-tangan Nolan. “Aku tidak ingin berhenti begitu saja,” jawab Vanesa tampak tegas seraya mundur dua langkah.
“Tapi video itu, lelaki dalam video itu. Tidak lama lagi karirmu akan hancur,” kata Nolan dengan nada getir.
“Itu bukan aku,” jawab Vanesa seraya mengalihkan pandangan.
“Aku sudah melihat seluruh bagian dari tubuhmu. Mataku tidak bisa dibohongi,” jawab Nolan yang mendekati Vanesa yang mulai menjauh.
Vanesa menggeleng saat melihat Nolan menatapnya dengan pandangan aneh. “Kau percaya mereka?” tanya Vanesa yang terus melangkahkan kakinya ke belakang.
Nolan terus mendekat. “Aku sangat pencemburu. Aku membenci semua pria yang menjadi lawan mainmu. Aku membenci semua penggemar priamu. Sekarang, aku benar-benar benci pada pria itu,” kata Nolan yang tampak marah sembari melangkah mendekati Vanesa. “Oh ya, dia bahkan tidak pantas disebut seorang pria.”
“Nolan, kau terlihat sedang tidak baik,” kata Vanesa dengan gemetar.
Dengan cepat, Nolan menangkap tangan Vanesa. Ia menarik wanita itu ke kamar tidur. Lalu, ia mengambil handycam yang ada di atas lemari. “Ayo kita membuatnya,” ujar Nolan.
“Apa yang sedang terjadi padamu?” tanya Vanesa yang sedang berusaha melepas tangannya dari cengkeraman Nolan.
Nolan melepaskan tangan Vanesa. “Lepaskan pakaianmu sekarang,” suruh Nolan dengan suaranya yang mulai serak.
Vanesa merebut handycam di tanan Nolan dan segera membantingnya dengan keras. “Tidak akan pernah.”
“Kenapa kau melakukan itu dengannya dan tidak mau melakukannya denganku!” bentak Nolan seraya menatap Vanesa dengan tajam.
Dengan keras, Vanesa mengangkat tangannya dan diarahkan telapak tangannya itu ke pipi Nolan. Suara tamparan itu cukup keras hingga membuat pipi Nolan tampak sangat memerah.
Nolan kemudian tersenyum. “Kau sudah mandi?”
Vanesa diam, dia menatap Nolan dengan wajah marah.
“Ini Sabtu malam, kita biasa berkencan ke tempat-tempat romantis pada Sabtu malam, bukan?” tanya Nolan yang tidak dijawab oleh Vanesa. “Kenapa kau diam? Kau juga tidak mau berkencan denganku?”
Vanesa tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Matanya langsung basah dan meneteskan air. Bibirnya tak bergerak, ia menangis tanpa isakan.
Melihat Nolan tampak sangat kacau membuatnya segera membalikkan tubuhnya. Ia menjatuhkan tubuhnya, terduduk di lantai sambil terisak.
***
“Kau sudah mendengar berita tentang Vanesa?” tanya seorang wanita dengan rambut pendek sebahu pada Fiara yang tengah mengambil segelas air putih dari meja penuh makanan itu.
“Aku mendengarnya. Namun, aku tidak peduli. Sarah, orang-orang bisa dengan mudah membuat video, dan bisa jadi itu bukan Vanesa,” jawab Fiara santai.
“Semua orang bilang kalau itu benar-benar Vanesa. Kau mungkin belum melihat videonya, jadi tidak bisa mengiyakan,” ujar Sarah seraya mengambil ponsel dari sakunya.
“Aku tidak ingin melihatnya,” kata Fiara yang segera mendorong ponsel milik teman dekatnya itu.
“Apa makanannya kurang?” tanya seorang wanita yang muncul dari arah belakang sofa yang diduduki Fiara dan Sarah itu.
“Terima kasih, Anin. Kami berdua datang bukan untuk makan,” kata Fiara yang kemudian menepuk sofa, sebuah kode agar wanita berambut keriting yang dipanggil Anin itu segera duduk.
Anin mengambil remote di atas meja, ia segera menekan tombol power dan televisi pun menyala. Sebuah acara gosip langsung menghiasi layar kaca itu.
Media baru bernama RoomPhi, merilis gambar-gambar di Instagram mereka. Ada satu gambar yang menunjukkan dua buah foto. Sebuah tato di lengan pria dalam video panas mirip Vanesa, dan satu foto lagi adalah foto milik seorang aktor senior yang tengah menunjukkan tato di lengannya.
Benar atau tidak pria dalam video itu adalah Aska Kusuma Bestari, tetapi kebanyakan netizen yang berkomentar dalam foto di akun yang sudah diikuti ratusan ribu orang itu merasa yakin jika bukti dalam gambar itu adalah benar.
Layar televisi menampilkan hasil screenshoot dari kolom komentar di gambar unggahan itu.
“Aku menonton film Cinta Imitasi, di sana ada satu cuplikan, di mana lengan Aska yang bertato itu terlihat. Walaupun tidak jelas karena pengambilan gambar dari jauh, tetapi aku yakin tato itu serupa dengan gambar ini.”
“Dari awal sudah menduga. Aku termasuk fan berat Aska, sudah tahu kalau dia punya foto itu. Aku sih penasaran sama reaksi Nolan, dia kan pernah bilang kalau dia itu fan Aska. Sekarang tinggal tunggu respons dari pihak-pihak terkait saja sih.”
Fiara merebut remote dari tangan Anin dan segera mengganti saluran dalam televisi itu. “Kalian ini suka sekali menonton gosip. Bukannya banyak acara bagus,” ujar Fiara dengan suara yang sangat serak. “Ah, program kesukaanku masih iklan.
Aku ke kamar mandi sebentar,” tambah Fiara yang segera berdiri dan pergi meninggalkan Sarah dan Anin yang tampak membisu itu.
***
“Kau lihat Mona? Timku tidak akan mengecewakan,” ujar Milan sembari tertawa. “Kami akan mencari lebih banyak hal menyangkut kasus ini. Bulan depan, majalah RoomPhi pertama akan rilis dan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai skandal Vanesa dan Aska.”
“Kau harus mendapatkan konfirmasi dari keduanya. Selama empat hari ini, belum ada konfimasi dari mulut Vanesa sama sekali. Dan sekarang, Aska ikut kena,” kata Mona yang tampak kurang senang melihat sahabatnya yang kini berubah menjadi tukang bongkar aib orang lain.
“Tidak perlu Vanesa atau Aska. Aku akan membuat semuanya lebih menarik dengan mendatangkan Fiara. Sosok yang menjadi korban dalam kasus ini selain Nolan, adikku,” jawab Milan dengan pandangan berapi-api.
“Ingat! Vanesa dan Aska juga korban. Orang yang menyebarkan video itu sama sekali belum terungkap, atau bahkan tidak ada yang peduli. Semua orang mengarahkan pandangannya pada kontennya, bukan prosesnya,” ungkap Mona yang mencoba berpikir logis.
“Vanesa dan Aska bukan korban. Mereka sedang menerima karma,” kata Milan. “Dan aku akan membuat karma yang mereka terima semakin besar!”
Mona diam saja saat melihat Milan mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap tajam ke arah yang tidak fokus. Sahabatnya sudah begitu berubah dalam waktu singkat.
Bersambung…
“Bagaimana bisa kalian mengira pria dalam video itu adalah saya? Lucu sekali,” ujar Aska seraya tertawa singkat pada kumpulan wartawan yang menemuinya seusai aktivitasnya di sebuah tempat olahraga.
“Aska, bagaimana pendapatnya?” tanya seorang wartawan. “Iya, bagaimana respons Anda dengan pemberitaan tentang video itu?” tanya wartawan lain.
“Saya tidak bisa memberi pendapat. Ini pasti berat untuk Vanesa. Entah benar atau tidak dia yang berada di video itu, saya turut prihatin atas pemberitaan buruk yang menerpanya.
Semoga pelaku penyebaran video itu segera ditangkap,” ungkap Aska yang tetap tampak santai walau ia sudah dituduh sebagai pemeran pria dalam video tidak senonoh itu.
Beberapa teman yang menemani Aska segera membawa Aska yang memang ingin segera pergi dari kepungan para wartawan dan awak media itu. Wajahnya yang santai saat diwawancara seakan berubah saat ia berjalan dengan terus diikuti wartawan yang melontarkan rentetan pertanyaan.
“Bagaimana reaksi Mbak Fiara saat mendengar pemberitaan tengan Mas Aska ini?” tanya salah seorang wartawan yang cukup berani maju menghalangi Aska yang masih berjalan.
Aska tersenyum dibalik kekesalannya yang terlihat ditahan. “Istri saya tidak terlalu peduli,” ujar Aska. Ia kemudian membalik badan dan menoleh ke para kumpulan wartawan. “Tolong carikan video yang lebih jelas! Kalau itu benar saya, kabari lagi!”
***
Carikan video yang lebih jelas! Kalau itu benar aku, kabari lagi!
Kata-kata Aska langsung menjadi headline di banyak media baik cetak maupun online. Hal itu sampai dibaca oleh Milan, yang sekarang selalu berada di depan layar laptopnya sembari mencari-cari berita. Matanya yang mulai lelah tetap dipaksakan untuk terbuka.
Sembari mengecek ponselnya beberapa kali, ia berharap agar adiknya segera menghubunginya balik. Sudah empat hari sejak berita video Vanesa keluar, Nolan belum memunculkan batang hidungnya di mana pun.
“Semua media memberitakan wawancara Aska kemarin malam. Sekarang, belum ada tindakan apa pun dari kepolisian. Bagaimana ini bisa dibiarkan?” gumam Milan sembari terus mencari-cari berita.
Dering ponsel di atas meja yang berada di dekat tangannya berbunyi, Milan langsung mengangkat panggilan itu.
“Aku punya berita bagus,” ujar seseorang dalam panggilan itu.
Milan tampak bersemangat mendengar berita yang disampaikan oleh orang yang dipercayainya itu. “Sangat menarik,” ujarnya seraya tersenyum.
***
Vanesa dan Nolan tengah berada di ranjang yang sama. Mereka saling membelakangi satu sama lain. Wajah Nolan tampak tak berdaya, mencerminkan keputusasaan, sedangkan wajah Vanesa tampak kosong, matanya yang sembab memandang hampa ke arah yang tidak fokus.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Nolan.
Tidak ada jawaban untuk beberapa detik. Suara napas yang dilepaskan dengan perlahan terdengar. “Melanjutkan segalanya,” jawab Vanesa.
“Ini yang selama ini kau inginkan? Tertimpa pemberitaan buruk?” tanya Nolan.
Vanesa tidak menjawab.
“Tidak apa jika kau tak ingin mengatakan segalanya padaku. Saat kau mau bicara, aku akan menjadi orang pertama yang mendengarkan,” ungkap Nolan yang kemudian membalikkan badannya.
“Apa kau percaya padaku?” tanya Vanesa dengan suara serak.
“Tentu saja,” jawab Nolan seraya memeluk Vanesa dari belakang.
“Aku punya dosa. Itu mengapa aku merasa saat melihat diriku terus dipuji semua orang, aku merasa tidak pantas untuk itu. Mungkin video itu adalah karma untukku,” jelas Vanesa yang terdengar tengah menahan tangisnya. “Akan tetapi, itu bukan aku.”
Nolan memeluk Vanesa lebih erat. “Aku tidak akan meninggalkanmu dalam situasi seperti ini,” kata Nolan yang terlihat masih sangat berat untuk menerima kenyataan itu.
“Aku akan membantumu. Siapa pun orang yang menyebarkan video itu, akan aku beri pelajaran. Aku akan mencarinya,” tambah Nolan seakan bertekad.
“Aku tidak boleh bersembunyi terlalu lama, aku akan menghadapi ini,” ucap Vanesa. “Aku akan mengatakan semua pada media.” Vanesa pun hendak bangun sehingga Nolan melepaskan pelukannya.
“Kau siap?” tanya Nolan yang kemudian mengangkat tubuhnya untuk bangun bersama Vanesa.
“Manajerku akan mengatur segalanya. Aku akan siap ketika waktuku untuk bicara telah ditentukan,” jawab Vanesa yang menoleh ke arah Nolan.
“Aku akan mendukungmu,” kata Nolan mencoba tersenyum. “Berdiri di sampingmu.”
Vanesa tidak bisa lebih sedih melihat Nolan mau untuk melakukan hal itu. Seharusnya pria itu marah padanya, meninggalkannya, dan memilih mencari wanita yang bisa membuatnya senang.
Bukan dirinya yang kini tengah tersandung masalah yang mengubah presepsi publik selamanya. Akan tetapi, di mata Nolan ada hal lain yang Vanesa rasakan.
“Temui kakakmu,” kata Vanesa dengan pandangan seakan memohon.
Nolan tak menjawab apa pun. Ia tahu apa yang akan dikatakan kakaknya. Akan tetapi, ia yakin jika pilihannya untuk tetap bersama Vanesa adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat.
***
“Aku pulang,” kata Nolan saat masuk ke dalam rumahnya.
Itu adalah rumah yang ia tinggali sejak kecil. Ada foto-foto keluarga kecilnya di dinding. Lukisan kedua orang tuanya, foto-foto masa kecilnya dan kakaknya. Terlalu banyak memori di dalam rumah itu.
Milan yang sedang duduk di depan meja tempat komputernya berada mendengar suara adiknya. “Jam satu malam. Lima hari ini ke mana saja kau?” tanya Milan tanpa menoleh ke arah Nolan.
“Banyak hal yang harus kulakukan,” jawab Nolan.
“Kau tidak syuting, manajermu bilang dia cukup kerepotan untuk menyusun ulang jadwalmu. Kau tidak pergi ke gym, tidak main golf, kau tidak main ke Nolan’s Bakery. Ada urusan lain selain hal-hal yang menjadi kebiasanmu itu?” tanya Milan yang kemudian menoleh ke arah adiknya.
“Kak Milan pasti sudah tahu aku ada di mana. Kenapa harus bertanya lagi?” ujar Nolan malah balik bertanya.
“Tinggalkan pelacur itu,” suruh Milan sembari berdiri.
“Siapa yang Kakak panggil sebagai pelacur?” tanya Nolan dengan mengernyitkan dahi.
Milan memutar pandangannya. “Siapa lagi kalau bukan Vanesa?”
Nolan menggeleng. “Apa yang terjadi dengan Kak Milan? Hanya karena berita di luar sana, Kakak balik membenci Vanesa?”
“Dia bermain dengan pria lain. Pria yang sudah memiliki istri. Kau tidak jijik dengannya?” tanya Milan seraya menyipitkan matanya.
“Kak Milan tidak bisa memberi penilaian secara sepihak, kasus ini masih belum bisa ditarik kesimpulannya,” jawab Nolan.
“Kau sudah melihat video itu dan kau pasti sudah tahu kebenarannya. Kesimpulannya adalah, tinggalkan Vanesa. Aku tidak mau kau tetap bersamanya,” ucap Milan seraya menatap adiknya tajam-tajam.
“Tidak akan. Aku akan tetap setia dengannya,” kata Nolan.
“Kau bodoh!”
“Sudahlah, aku ke sini hanya untuk mengambil barang-barangku. Aku akan tinggal di tempat lain,” ujar Nolan sembari berjalan ke arah tangga.
“Silakan. Aku akan melihat sampai kapan kau akan bertahan dengannya. Kau sudah dibutakan olehnya, Nolan,” kata Milan seraya menahan tangisnya.
“Iya, kakak lihat saja,” jawab Nolan yang kemudian menaiki tangga.
“Kau juga lihat saja. Aku akan membuatnya kehilangan segalanya! Termasuk kehilangan dirimu!” teriak Milan.
“Semoga berhasil,” balas Nolan menyamai kerasnya suara kakaknya.
Bersambung…
Vanesa menjalani kegiatan syutingnya seperti biasa. Ia tampak tampil maksimal membawakan karakternya. Saat tiba waktu istirahat, Vanesa makan bersama rekan mainnya, Rendra. Seorang aktor yang dianggap sangat berbakat dan mampu menguasai berbagai jenis peran.
“Kau sudah terlihat lebih rileks,” ujar Rendra sembari mengelap sendoknya dengan tisu.
“Terima kasih,” jawab Vanesa tampak ragu.
“Lupakan saja masalah-masalah itu. Saat take dimulai, kau adalah Vanesa yang beda, bukan Vanesa yang sekarang,” kata Rendra seraya tertawa kecil.
“Aku akan berusaha tidak terpengaruh dengan hal-hal itu,” kata Vanesa yang mencoba membalas senyum Rendra.
“Ayo makan,” ajaknya yang kemudian mulai menggoyangkan sendok dan garpunya.
Vanesa memperhatikan Rendra. Ia merasa bahwa Rendra adalah sosok yang bisa tetap tenang dan santai pada kondisi apa pun. Itu yang Vanesa rasa harus dicontoh.
***
Rekaman pertengkaran Fiara dan Aska tersebar! Publik mendesak Vanesa dan Aska untuk memberikan klarifikasi.
Akun media sosial RoomPhi kembali menghebohkan jagat maya dengan pengunggahan rekaman suara Fiara dan Aska yang tengah bertengkar. Banyak pihak yang mengatakan bahwa rekaman itu adalah rekaman asli. Baik dari Fiara maupun Aska belum ada yang menanggapi masalah tersebarnya rekaman itu.
Milan tertawa cukup keras saat melihat desakan demi desakan publik pada Vanesa. Ia yakin orang yang sedang dibela oleh adiknya itu tengah tertekan dengan sangat berat. “Ini semua baru dimulai,” ujarnya yang kemudian kembali tertawa.
“Milan, aku mulai khawatir denganmu,” ujar Mona yang masuk ke ruangan Milan tanpa permisi.
“Kenapa perlu khawatir? Majalah perdana RoomPhi akan segera rilis. Tinggal wawancara eksklusif dengan Fiara saja, semua akan segera beres. Publik akan membenci Vanesa mati-matian,” kata Milan yang tampak sangat puas dengan rencananya.
“Majalah Generasi dengan sampul Vanesa juga akan terbit minggu depan,” kata Mona.
“Aku sudah bilang padamu untuk mengganti sampulnya, membuang beritanya dari majalah generasi edisi kali ini. Kau tidak mendengarkanku?” bentak Milan tampak tidak senang.
“Milan, kau tidak ingat sudah memberikan kewenangan tertinggi padaku untuk Generasi? Aku yang mengatur itu sekarang,” jawab Mona. “Lagi pula dana yang kita keluarkan untuk pemotretan Vanesa lumayan besar.”
Milan menyipitkan matanya dan memandang Mona dengan tatapan tajam. “Terserah padamu, tapi yang jelas Vanesa akan tetap hancur. Seribu berita baik akan tetap ternoda dengan satu berita kotor.
Selayaknya sebuah kain putih yang terkena tumpahan tinta,” ujar Milan yang kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.
***
Nolan mengajak Vanesa untuk masuk ke sebuah ruangan di sebuah kafe. Ia sudah memesan ruangan private itu hanya untuk mereka berdua. Cukup banyak perjuangan sebelum sampai ke ruangan itu.
Sekarang, Vanesa harus lebih dijaga. Nolan sudah menyewa empat bodyguard untuk menjamin keamanan Vanesa saat keluar dari tempat tinggal.
Biasanya, mereka berdua selalu merasa aman di mana pun mereka berada. Mereka tidak pernah keberatan jika ada banyak orang yang menangkap keberadaan mereka dan meminta berfoto bersama atau pun meminta tanda tangan.
Selalu menjadi kesenangan saat bertemu dengan penggemar. Akan tetapi, sekarang hal itu sudah berbeda. Selama kasus video itu terus berlanjut, keduanya harus lebih hati-hati.
“Kenapa kau harus repot-repot membawaku ke tempat ini. Kita kan bisa makan di apartemen,” ujar Vanesa yang tampak kelelahan.
“Kau lupa ini hari


