Anak Muda
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Anak Muda – Sebuah kisah romantis dewasa yang menceritakan tentang perjalanan seorang anak muda dalam menaklukkan wanita-wanita dewasa di sekitarnya.
Layaknya manusia pada umumnya, pasti setiap orang memiliki hawa nafsu. pada kisah ini, seorang anak muda memiliki nafsu khusus (Fetish) kepada para perempuan dewasa (MILF).
Cerita ini dikemas dengan gaya bahasa yang santai dan cocok untuk menemani waktu luang anda. bagaimana kisah dari pemuda bernama Dito tersebut? simak kisahnya hanya di situs Ngocoks.

Hari ini aku terbangun kesiangan lantaran kesibukanku kerja pada malam hari yang memaksaku terjaga hingga larut malam. Aku terbangung dengan perut keroncongan lantaran waktu juga telah menunjukkan pukul 10 siang.
Setelah menghisap habis sebatang rokokku aku pun bergegas menuju warung nasi disamping rumahku. Aku memang beberapa bulan terakhir ini tinggal sendiri di rumah baruku yang aku beli hasil dari aku menjual crypto ku pada saat harga lagi tinggi-tingginya.
Hal lain yang membuatku memutuskan untuk membeli rumah adalah aku suka kebebasan dan meskipun aku masih berstatus sebagai mahasiswa, aku sudah mampu menghasilkan uangku sendiri dengan melakukan trading forex.
“Mau makan apa, To?” Tanya bi Nana si penjual nasi, sesampainya aku disana.
“mau nasi, telur balado, sama kering tempe aja, Bi.” Ucapku sembari duduk didekat etalase makanannya.
“jangan lupa esteh manisnya ya, Bi.” Sambungku.
Tak lama berselang makananku pun sudah berada diatas meja dan siap untuk disantap. Dan pada saat itu juga aku baru tersadar betapa bahenolnya pantat bi Nana ini, meskipun sudah berusaha ia tutupi dengan daster gombrongnya, namun tak mampu menyembunyikan betapa bahenolnya pantatnya itu.
Sembari makan, aku terus berusaha mencuri pandang dengannya. Ia Nampak terlihat sangat menggairahkan hari ini, dengan pantat yang bahenol, dada yang cukup besar, dan body yang nampaknya sudah agak melar lantaran usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Pikiran-pikiran negative tentangnya segera aku tepis dan aku bergegas menyelesaikan acara makan pagiku yang aku gabung dengan makan siang ini karena aku harus menemui dosenku untuk melakukan bimbingan skripsi.
Setelah semuanya siap aku bergegas untuk langsung menuju ke kampusku untuk menemui dosenku. Ditengah saat aku mengeluarkan motorku dari garasi, melintas mbak Devi, tetanggaku selang beberapa rumah dari sini yang menyapaku.
“Eh mas Dito, Baru mau berangkat kuliah mas?” tanyanya basa-basi.
“Eh iya mbak, ada janji sama dosen mau bimbingan.” Jawabku ramah.
“Mau kemana mbak, siang-siang gini jalan kaki.” Tanyaku melanjutkan.
“Ini mas, mau beli pampers di depan.” Jawabnya.
“oh yaudah kalo gitu, bareng aja mbak sampai depan, kebetulan kan aku lewat minimarket itu juga.”
“ga ngerepotin emangnya mas?” tanyanya.
“enggak lah, mbak. Kan sekalian jalan, lagian juga searah.” Jawabku.
Akhirnya mbak Devi bersedia untuk aku antar. Namun aku salah focus dengan tetenya ketika ia jalan kaki, tetenya seperti mengikuti tiap irama jalan kakinya sehingga memantul seperti bola.
Aku terpana dengan keindahan body dari ibu satu anak ini yang membuat otongku seketika langsung berdiri. Disepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya berusaha focus untuk menghindari lubang dari jalanan desaku ini.
Dan ternyata hal tersebut justru menjadi keberuntunganku karena jalanan banyak yang berlubang sehingga membuat dada mbak Devi nempel dengan punggungku. Selain itu juga dengan sengaja aku sering ngerem mendadak sehingga terasa empuk di punggungku.
Beberapa hari tidak ada kejadian apa-apa dan aku menjalankan aktivitasku dengan normal. Malam hari itu saat aku ditengah kesibukanku memantau grafik forex yang membuat portofolioku memerah, aku kelaparan.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, aku berpikir sejenak, apakah warung bi Nana masih buka atau tidak, kalo tutup akan sangat repot bagiku untuk mencari makan, karena sekitar rumahku sekitar jam segini sudah pada tutup dan kalaupun pesan lewat ojol, pasti akan lama datangnya. Dengan Langkah malas, aku pun beranjak untuk segera pergi ke warung bi Nana. Dan syukurnya warungnya masih buka.
“Loh, udah beberes aja bi. Berarti lauknya udah abis dong?” tanyaku ketika aku memasuki warung bi Nana.
“Itu, tinggal sayur sop sama gorengan aja.” Ucapnya sambil berlalu membawa nampan kosong bekas wadah makanan ke belakang.
“yaudah deh bi, gapapa, timbang malam ini aku ga makan.” Ucapku.
Bi Nana pun segera menyiapkan makananku, dan ketika ia menyiapkannya, mataku tak beralih focus dari tubuhnya yang makin hari makin ku padang makin menggairahkan yang membuat si otong tiba-tiba mengeras dan memberontak.
Selesai makan, aku berinisiatif untuk mengembalikan piringnya ke belakang untuk sekalian dicuci. Di kusen pintu yang sempit, aku berpapasan dengan bi Nana yang juga hendak membersihkan warung setelah ia beres mencuci dan dengan tak sengaja si otong nempel dengan pantat bahenol milik bi Nana karena posisinya ketika berpapasan bi nana membelakangiku, yang sontak membuat si otong langsung ingin memberontak.
“udah taroh situ aja, biar nanti bibi yang cuci, kamu kan pelanggan, gak perlu repot-repot lah.” Ucap bi nana setelah melewatiku dan sedang membersihkan etalase makanannya.
“eh, i…ya bi…” jawabku kaku karena masih shock dengan kejadian tadi. Kejadian yang sebenarnya tak pernah terpikirkan olehku namun kejadian yang juga aku harapkan.
Setelah selesai menaruh piring, aku pun bergegas ke depan untuk membayar dan segera pulang. Namun dari pintu aku melihat bi Nana sedang nungging dan pantatnya bergoyang mengikuti irama dari tangannya yang sedang mengelap etalase makanannya.
Tak ingin lama-lama berlarut dalam rasa konak, aku pun langsung membayar makanan dan pulang kerumah dengan keringat mengucur di kepalaku setelah menyaksikan beberapa kejadian tersebut.
Aku memang bisa dikatakan pria yang cupu dalam hal seperti itu, terlebih aku tidak pernah berpacaran selama hidupku 21 tahun ini. Sehingga hal-hal seperti itu sangat jauh dari bayanganku dan paling hanya bisa aku saksikan lewat video dewasa saja. Dan selama ini aku belum pernah melakukan seks, paling banter hanya bisa coli sambil melihat adegan film dewasa.
Sesampainya di rumah, aku masih terbayang bayang akan kejadian tadi. Dan tanpa disadarinya, aku telah mengambil beberapa jepretan ketia bi Nana sedang nungging membersihkan etalase makanannya.
Karena sudah tidak tahan menahan birahiku, akhirnya aku memutuskan untuk coli sembari membayangkan betapa nikmatnya bisa men-doggy pantat bi Nana sambil aku tampar-tampar pantat yang montok itu.
Bersambung…
Beberapa hari ini aku sedang disibukkan dengan revisi-an skripsi yang menumpuk lantaran dari kemaren terus aku tunda-tunda karena kesibukanku dalam memantau portofolio tradingku yang memerah. Bayang-bayang akan tubuh bi Nana Kembali tergambar akan otakku.
Teringat Kembali kejadian pada malam itu ketika si kecil otongku tiba-tiba merasakan empuknya pantat dari bi Nana. Aku berpikir bahwa tidak mungkin jika pada saat itu bi Nana juga tidak merasakan sensasi dari otongku yang bergesekan dengan area sensitifnya, meskipun masih sama-sama terhalang kain yang dipakai.
Tak berasa hari pun mulai berganti siang, hal tersebut ditandai dengan perutku yang mulai bernyanyi keroncongan. Aku pun bergegas untuk menuju warung bi Nana untuk mencari makan siang (selain maksudku yang lain tentunya).
Aku beberapa hari ini memang tidak makan di warungnya, lantaran aku mendapatkan kiriman makanan dari orang tuaku. Memang orang tuaku sering kali mengirimkan makanan dari rumah untuk menjadi santapanku, terutama kering tempe buatan nyokap yang sangat menggugah selera.
Namun sesampainya di warung tersebut aku harus Kembali dengan tangan hampa lantaran warung bi Nana tutup. Aku pun bertanya-tanya, kenapa tumben sekali warung bi Nana ini tutup, karena biasanya selalu buka.
Karena tidak mendapatkan apa yang aku mau, aku pun Kembali ke rumah untuk selanjutnya memesan melalui ojek online. Di tengah perjalananku pulang aku berpapasan dengan mbak Devi yang sedang mendorong kereta bayi dan terlihat anaknya sudah tertidur pulas.
“eh Mbak Devi, darimana mbak?” tanyaku basa-basi.
“ini mas abis jalan-jalan sama Galih. Rewel dia, mau tidur aja minta jalan-jalan.” Ucapnya.
“mas Dito darimana?” lanjutnya.
“niatnya sih mau makan di warung bi Nana, mbak. Tapi tutup.” Jawabku.
“iya, emang bi Nana beberapa hari ini tutup. Kalo gitu makan di rumah saya aja mas, kebetulan tadi saya habis masak.” Tawarnya.
“gak usah lah mbak, malah ngrepotin mbak devi.” Jawabku malu-malu.
“santai aja mas, kemaren kan aku juga udah ngerepotin mas Dito, anggep aja balas budi mas.” Ucapnya sambil tersenyum manis.
Aku pun meng-iya-kan tawaran dari mbak Devi untuk makan di rumahnya tersebut. Kami pun langsung menuju rumahnya untuk menyantap hidangan yang tadi telah di masak oleh mbak Devi. Sesampainya di rumah mbak Devi, ternyata rumahnya sangat sepi. Apakah ini sebuah kesempatan? Pikiran kotorku pun muncul yang membuat celanaku terasa sesak karena desakan si otong.
“kok sepi amat mbak, suami mbak kemana?” tanyaku basa-basi.
“ya kerja lah mas, udah dari beberapa bulan ini dia pergi ke luar kota buat bikin ruko katanya.” Jawabnya.
“ayok mas silahkan duduk, biar aku siapin makanannya.” Lanjutnya. Mbak Devi bergegas untuk pergi ke kamar untuk menidurkan anaknya dan lalu ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Aku melihat rasa kurang suka ketika aku membahas masalah suaminya tersebut. Entah apa masalah keluarga yang sedang mereka hadapi, aku tidak mau tau dan tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Aku juga memang kurang bergaul dengan lingkungan ku itu, bahkan aku juga baru tau kalo suami dari Mbak Devi adalah seorang kuli bangunan yang sering kali pergi keluar kota untuk mencari nafkah.
Makanan pun telah mbak Devi siapkan dan entah kenapa rasa kaku menjadi menjalar setelah obrolan basa-basiku yang mungkin kurang enak masuk di hati Mbak Devi.
Setelah selesai makan aku pun berniat untuk meminta maaf jika ada yang salah pada pertanyaanku tersebut. Namun mbak Devi malah menangis menjadi-jadi dan ia pun meluapkan segala emosinya dengan bercerita bahwa suaminya tersebut memang sering kali tidak pulang ke rumah berbulan-bulan, sekalinya pulang Cuma beberapa hari, setelah itu pergi lagi.
Ia juga berucap bahwa sebagai seorang istri tentu yang ia butuhkan bukan hanya materi, tetapi juga kehadiran dari sosok tersebut.
Dari situ aku menyimpulkan bahwa mbak Devi ini adalah sosok yang kesepian dan sangat butuh orang yang bisa mendengarkannya bercerita, karena dari ia bercerita seperti ia sudah lama memendamnya, namun baru memiliki kesempatan untuk bercerita itu sekarang.
Aku beranjak dari tempatku makan dan memberanikan diri untuk memeluknya. Dan ternyata tidak ada penolakan darinya, bahkan ia menyambut pelukanku tersebut. Setelah tangisnya reda, aku menjauhkan wajahnya dari dadaku.
“mbak Devi gak usah khawatir ya, kalau ada apa-apa panggil akua ja, kalau butuh teman cerita juga aku siap buat dengerin kok, pokoknya tenang aja ya.” Ucapku berusaha memberikan ketenangan kepadanya.
“makasih ya mas.” Ucapnya lirih.
Setelah kata terakhir itu keluar dari mulut mbak Devi, kami saling beradu pandangan cukup lama, hingga tiba-tiba mata mbak Devi terpejam dan mulutnya menyosor mulutku. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku pun menyambut mulut sensual tersebut.
Kami terbawa suasana hingga kami merebahkan diri, karena sedari awal memang kami duduk lesehan. Tak ingin tinggal diam, tanganku bergeriliya menjamah bagian tubuh mbak devi yang lain. Awal mulanya tanganku meremas-remas tetenya dan dilanjut dengan menuju ke bawah pada area kewanitaannya yang sudah mulai basah.
Mbak devi pun juga tak ingin kalah, ia meremas-remas si otong dari balik celana yang aku kenakan. Saat itu kami sama-sama masih menggunakan pakaian lengkap. 10 menit kami berada pada posisi tersebut. Hingga tiba-tiba mbak Devi menyudahi itu semua dan berkata…
“lanjut di kamar aja yuk mas.” Ucapnya dengan senyuman yang meneduhkan.
Aku pun membuntuti Mbak Devi dari belakang menuju kamarnya, ternyata di kamar tersebut masih tertidur anak Mbak Devi yang berusia 2 Tahun tersebut.
“ini gapapa mbak?” tanyaku ragu.
“tenang aja mas, tapi jangan main di atas Kasur ya.” Pintanya.
Tanpa babibu aku melanjutkan serangan mulutku kepada mulut Mbak Devi yang sedikit membuatnya kaget, namun langsung disambut dengan permainan lidahnya yang cukup lincah.
Sama seperti permainan di awal, tanganku tak tinggal diam. Kembali tanganku bergeriliya menjamah bagian tubuh dari Mbak Devi, mulai dari tetenya yang besar seperti melon itu hingga menuju meki-nya yang seperti hutan hujan amazon karena telah basah oleh lender kenikmatan.
Tak berselang lama, kami menyudahi permainan tersebut dan melepas pakaian kami satu per satu hingga kami bugil tanpa sehelai benang-pun. Kami saling takjub melihat tubuh diantara kami tersebut.
“gede banget ya mbak ternyata nenenmu, jembutnya juga lebat kek hutan amazon.” Ucapku sembari meraba area sensitifnya tersebut.
“rudalmu juga Nampak gagah perkasa mas, pasti sesak nanti masuk gua-ku yang hampir tak terjamah ini.” Ucapnya sembari memberikan kocokan pelan pada otongku.
“ayo mas segera tuntaskan, keburu anakku bangun nanti.” Lanjutnya.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku langsung berjongkok dan menyibak jembitanya untuk memberikan servis mulut pada meki dari mbak Devi tersebut.
“akhhh….. mas…. Apa yang kamu lakuin….. akhhhh…. Enak bangett mass…..” ia Nampak kaget dengan servisku tersebut dan mendesah-desah tak karuan.
“massss…. Akhhhh….. terussss….. akhhhhh….” Ucapnya sembari menekan-nekan kepalaku seakan tak boleh beranjak dari meki-nya.
Ia terus mendesah dan merancu tak karuan, sedangkan tangan kiriku tak mau tinggal diam, segera aku remas-remas dan aku mainkan nipple-nya. Hal tersebut membuat desahannya menjadi-jadi.
“akhhhh….. oh Tuhan…. Ohhh….”
“masss….. aku hampir sampaii…..”
Tak berselang lama kemudian ia mengalami orgasme-nya yang pertama. Seluruh cairan kenikmatannya membanjiri mulutku yang tanpa aku telan langsung aku berdiri dan mengecup bibirnya untuk membiarkannya menelannya.
“gila kamu mas, kenapa aku juga yang harus nelen cairanku sendiri.” Ucapnya dengan muka cemberut yang dibuat-buat.
“tapi puas kan?” tanyaku dibarengi dengan senyuman iblisku.
“puas banget mas…. Baru gini aja udah bikin aku keluar.” Jawabnya.
“hehehehe…. Sekarang gentian dong mbak. Emut kontolku.” Ucapku sambil tersenyum.
“Ha? Kontol kok di emut sih mas. Nggak ah, jijik tau mas.” Tolaknya.
Aku memaklumi itu karena memang Mbak Devi ini berasal dari kampung sehingga hal seperti itu mungkin terlihat menjijikkan.
“Cobain dulu deh mbak, masa mbak nggak mau gantian sih.” Ucapku merayu.
Akhirnya ia pun memenuhi permintaanku dan langsung berjongkok di depanku. Ia bimbing perlahan kontolku yang tentunya juga dengan bantuanku untuk memasuki mulutnya sambil memejamkan matanya.
Pelan namun pasti kontolku mulai masuk dalam mulutnya yang selanjutnya aku maju mundurkan kepalanya. Tak sampai pangkal kontolku masuk ke dalam mulutnya karena ternyata kontolku terlalu Panjang untuk rongga mulutnya.
Tak ingin berlama-lama pada posisi ini, aku segera menyudahinya. Namun sebelum itu aku ingin memberikan kejutan pada mbak Devi.
“oughhh…..” suara yang keluar dari mulutnya lantaran kontolku aku sodokkan ke dalam mulutnya hingga masuk seluruhnya. Ia lalu melepaskan kulumannya dan lalu berdiri dan menepuk pundakku pelan.
“nakal kamu mas, kontol segede gitu mana muat di mulutku.” Ucapnya merajuk.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya tersebut.
“sekarang mbak nungging deh, trus kakinya dibuka lebar, pegangan sama meja rias itu juga gapapa.” Ucapku mengajarinya gaya doggy.
Ia pun menurut dan melaksanakan perintahku. Setelah ia siap, perlahan aku melakukan penetrasi kontolku pada liang senggama miliknya.
“akhhh…. Pelan mas….” Pinta mbak Devi.
Perlahan namun pasti batang kontolku mulai masuk ke dalam sarangnya. Sejurus kemudian aku maju mundurkan kontolku yang diikuti dengan desahan kenikmatan dari mbak Devi.
“terussss….. ahhhhh…. Iyaa…..” rancaunya.
Semakin lama tempo yang aku jalankan semakin cepat. Hal tersebut diiringi dengan desahan dari mbak Devi yang semakin tak karuan. Namun tiba-tiba anaknya terbangun dan menangis ditengah persetubuhan yang kami lakukan.
Bersambung…
Mbak Devi pun memintaku untuk menghentikan sementara aktivitas persetubuhan kami karena ingin membuatkan susu untuk anaknya. Aku pun menuruti kemauannya tersebut. Ia segera berpindah ke meja dimana disitu telah terdapat sekotak susu dan air panas.
Tak ingin membuang waktu dan membuatnya turn off, aku pun mendekatinya dan memeluknya dari belakang sembari menciumi lehernya dan meremas-remas tetenya. Ia pun merem-melek di tengah kegiatannya membuatkan susu untuk anaknya tersebut.
“ishhh, dasar pemuda. Nafsunya gede banget.” Ucapnya setelah beres membuatkan susu untuk anaknya tersebut sambil menoel hidungku.
Mbak Devi beranjak ke atas Kasur dan tidur menyamping sambil menyusui anaknya menggunakan dot. Tak ingin kentang, aku pun menyusulnya ke Kasur dan tidur menyampin seperti apa yang dilakukan oleh mbak Devi tersebut. Perlahan kaki kanan-nya ku angkat ke atas, dan aku mengambil posisi penetrasi. Ia Nampak terkejut dengan perlakuanku tersebut, namun sejurus kemudian ia memakluminya dan membiarkanku melakukan penetrasi.
“pelan-pelan ya sayang…” ucapnya ketika palkonku menyentuh bibir meki-nya.
Perlahan namun pasti, batang kontolku Kembali menyesaki rongga-rongga kewanitaan milik mbak Devi. Dengan tangannya yang masih memegang dot, ia Kembali mendesah.
“ohhhhh….. terusin sayanggg….ohhhhh….” desahnya.
Tempo goyangan dari pantatku aku jaga agar tidak terlalu cepat supaya tidak mengganggu si kecil yang sedang menikmati minumannya. Cukup lama kami berada pada posisi tersebut hingga…
“sayangg…. Ohhh… aku keluar lagii….” Ucapnya diiringi dengan lenguhan Panjang darinya.
Kontolku kini disiram oleh cairan hangat nan lengket tersebut yang membuat mbak Devi lemas. Pada kondisi tersebut kontolku masih dalam keadaan onfire yang masih siap tempur. Setelah orgasme kedua tersebut si kecil pun juga Kembali tertidur pulas. Hal tersebut seperti angin segar bagiku yang sedari tadi belum merasakan orgasme.
“kamu kok kuat banget sih mas ditooo…” ucapnya dengan manja.
“udah berapa cewek yang kamu buat lemes kayak aku gini?” lanjutnya.
“ini juga baru pertama kali mbak, gatau kenapa kok ini lama juga keluarnya.” Ucapku.
“Wah, berarti aku dapat keperjakaan kamu dong.” Ucapnya sumringah.
“bisa dibilang gitu sih mbak.” Ucapku malu.
“ehhh… aku mau dibawa kemana?” ucapnya ketika aku membopongnya untuk berpindah ke bawah karena aku ingin melakukan missionary dan menuntaskan nafsuku.
Setelah aku rebahkan di lantai, aku membuka lebar-lebar kakinya dan segera mengambil posisi penetrasi Kembali. Kali ini sedikit lebih mudah untuk kontolku dalam menjamah dinding kemaluan dari mbak Devi tersebut karena masing-masing “senjata” kami sudah penuh dengan lender-lendir kenikmatan.
Segera aku mainkan dengan tempo yang lumayan cepat. Hal tersebut membuat tetenya yang besar itu bergoyang mengikuti irama dari genjotanku tersebut. Gemas sekali aku melihat goyangan dari tetenya tersebut dan segera aku hisap dan aku kenyot tete tersebut dan aku mainkan menggunakan mulutku.
“ahhhh…. Massss….. terussss…..”
“iyahhh…. Aku milikmu mas…..ahhh……”
“ahhhh…. Ohhhhh…..”
“aku mau sampai lagi mass…. Ahhhhh…..” ucapnya.
“tahan sebentar mbak, saya juga mau sampaiiii….” Jawabku.
Tak berselang lama, kami pun orgasme dalam waktu yang hampir bersamaan. Cukup banyak sperma yang aku keluarkan dan membanjiri liang senggama tersebut.
Segera setelahnya, aku mencabut kontolku dan Kembali meng-oral meki dari mbak Devi untuk menyedot sisa-sisa cairan kenikmatan tersebut, sejurus kemudian, aku merebahkan diri di samping mbak Devi dan langsung melumat bibirnya. Setelah puas aku pun melepas lumatanku dan tidur telentang yang diikuti juga oleh mbak Devi.
“edan kamu mas, belum pernah aku keluar sebanyak ini,” ucapnya membuka obrolan.
Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya tersebut.
“terima kasih ya mas, udah memberikan kenikmatan yang selama ini aku rindukan.” Ucapnya sambil memiringkan badannya dan memelukku dari samping.
“sama-sama mbak, kapanpun mbak butuh saya, saya akan datang.” Ucapku sambil mengelus-elus dan mengecup rambutnya.
Setelah istirahat aku pun bergegas mengenakan pakaianku dan beranjak untuk pulang karena adzan ashar telah berkumandang, takutnya terlihat oleh warga yang hendak pergi menunaikan ibadah solat mereka. Tak lupa juga aku berpamitan dan mengecup bibirnya sekali lagi.
….
Mbak Devi pun memintaku untuk menghentikan sementara aktivitas persetubuhan kami karena ingin membuatkan susu untuk anaknya. Aku pun menuruti kemauannya tersebut. Ia segera berpindah ke meja dimana disitu telah terdapat sekotak susu dan air panas.
Tak ingin membuang waktu dan membuatnya turn off, aku pun mendekatinya dan memeluknya dari belakang sembari menciumi lehernya dan meremas-remas tetenya. Ia pun merem-melek di tengah kegiatannya membuatkan susu untuk anaknya tersebut.
“ishhh, dasar pemuda. Nafsunya gede banget.” Ucapnya setelah beres membuatkan susu untuk anaknya tersebut sambil menoel hidungku.
Mbak Devi beranjak ke atas Kasur dan tidur menyamping sambil menyusui anaknya menggunakan dot. Tak ingin kentang, aku pun menyusulnya ke Kasur dan tidur menyampin seperti apa yang dilakukan oleh mbak Devi tersebut.
Perlahan kaki kanan-nya ku angkat ke atas, dan aku mengambil posisi penetrasi. Ia Nampak terkejut dengan perlakuanku tersebut, namun sejurus kemudian ia memakluminya dan membiarkanku melakukan penetrasi.
“pelan-pelan ya sayang…” ucapnya ketika palkonku menyentuh bibir meki-nya.
Perlahan namun pasti, batang kontolku Kembali menyesaki rongga-rongga kewanitaan milik mbak Devi. Dengan tangannya yang masih memegang dot, ia Kembali mendesah.
“ohhhhh….. terusin sayanggg….ohhhhh….” desahnya.
Tempo goyangan dari pantatku aku jaga agar tidak terlalu cepat supaya tidak mengganggu si kecil yang sedang menikmati minumannya. Cukup lama kami berada pada posisi tersebut hingga…
“sayangg…. Ohhh… aku keluar lagii….” Ucapnya diiringi dengan lenguhan Panjang darinya.
Kontolku kini disiram oleh cairan hangat nan lengket tersebut yang membuat mbak Devi lemas. Pada kondisi tersebut kontolku masih dalam keadaan onfire yang masih siap tempur. Setelah orgasme kedua tersebut si kecil pun juga Kembali tertidur pulas. Hal tersebut seperti angin segar bagiku yang sedari tadi belum merasakan orgasme.
“kamu kok kuat banget sih mas ditooo…” ucapnya dengan manja.
“udah berapa cewek yang kamu buat lemes kayak aku gini?” lanjutnya.
“ini juga baru pertama kali mbak, gatau kenapa kok ini lama juga keluarnya.” Ucapku.
“Wah, berarti aku dapat keperjakaan kamu dong.” Ucapnya sumringah.
“bisa dibilang gitu sih mbak.” Ucapku malu.
“ehhh… aku mau dibawa kemana?” ucapnya ketika aku membopongnya untuk berpindah ke bawah karena aku ingin melakukan missionary dan menuntaskan nafsuku.
Setelah aku rebahkan di lantai, aku membuka lebar-lebar kakinya dan segera mengambil posisi penetrasi Kembali. Kali ini sedikit lebih mudah untuk kontolku dalam menjamah dinding kemaluan dari mbak Devi tersebut karena masing-masing “senjata” kami sudah penuh dengan lender-lendir kenikmatan. Segera aku mainkan dengan tempo yang lumayan cepat.
Hal tersebut membuat tetenya yang besar itu bergoyang mengikuti irama dari genjotanku tersebut. Gemas sekali aku melihat goyangan dari tetenya tersebut dan segera aku hisap dan aku kenyot tete tersebut dan aku mainkan menggunakan mulutku.
“ahhhh…. Massss….. terussss…..”
“iyahhh…. Aku milikmu mas…..ahhh……”
“ahhhh…. Ohhhhh…..”
“aku mau sampai lagi mass…. Ahhhhh…..” ucapnya.
“tahan sebentar mbak, saya juga mau sampaiiii….” Jawabku.
Tak berselang lama, kami pun orgasme dalam waktu yang hampir bersamaan. Cukup banyak sperma yang aku keluarkan dan membanjiri liang senggama tersebut. Segera setelahnya, aku mencabut kontolku dan Kembali meng-oral meki dari mbak Devi untuk menyedot sisa-sisa cairan kenikmatan tersebut, sejurus kemudian, aku merebahkan diri di samping mbak Devi dan langsung melumat bibirnya. Setelah puas aku pun melepas lumatanku dan tidur telentang yang diikuti juga oleh mbak Devi.
“edan kamu mas, belum pernah aku keluar sebanyak ini,” ucapnya membuka obrolan.
Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya tersebut.
“terima kasih ya mas, udah memberikan kenikmatan yang selama ini aku rindukan.” Ucapnya sambil memiringkan badannya dan memelukku dari samping.
“sama-sama mbak, kapanpun mbak butuh saya, saya akan datang.” Ucapku sambil mengelus-elus dan mengecup rambutnya.
Setelah istirahat aku pun bergegas mengenakan pakaianku dan beranjak untuk pulang karena adzan ashar telah berkumandang, takutnya terlihat oleh warga yang hendak pergi menunaikan ibadah solat mereka. Tak lupa juga aku berpamitan dan mengecup bibirnya sekali lagi.
Siang ini, setelah peristiwa kemarin, aku masih membayangkan bagaimana keperjakaanku lepas di meki mbak Devi. Tiada penyesalan dalam diriku, justru aku merasa bahwa itu semua akan menjadi awal dari segala perjalanan yang akan aku lalui. Aku percaya bahwa perjalanan yang akan aku lalui masih sangat Panjang dan mungkin semua itu baru dimulai dari sini.
Setelah melamun dan membayangkan betapa “panas”-nya adegan yang aku lakukan Bersama dengan mbak Devi membuatku konak. Ingin rasanya aku menghampiri mbak Devi Kembali untuk meminta “jatah”, namun urung aku lakukan lantaran perutku merasa keroncongan dan aku rindu akan pantat seksi nan bahenol dari bi Nana. Rasa penasaran juga masih menghampiri pikiranku tentang mengapa warung bi Nana tutup akhir-akhir ini.
Aku pun memutuskan untuk Kembali menuju warung dari bi Nana untuk memuaskan rasa penasaranku, apakah warung tersebut masih tutup atau telah buka Kembali. Sesampainya di warung tersebut, ternyata warung bi Nana telah buka Kembali. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku pun bergegas masuk ke dalam warung yang langsung disambut oleh bi Nana.
“eh Dito, mau makan apa to?” tanya-nya sesampainya aku di warungnya.
“telur balado sama sayur sop aja bi, sama es teh manisnya yak.” Jawabku.
“siappp, tunggu sebentar yak.” Balasnya.
Tak berselang lama, kudapan tersebut telah tersaji di depanku Bersama dengan es teh manis sesuai yang aku pesan. Sementara itu, bi Nana Kembali sibuk mempersiapkan beberapa nasi bungkus yang mungkin pesanan orang.
“banyak amat bi bungkus nasinya, pesenan siapa aja itu?” tanyaku membuka obrolan.
“ini Cuma pesenan pak rt kok, kan lagi ada kerja bakti tu, ngebersihin makam, nah ini buat makan siang mereka.” Jawabnya menjelaskan.
“oh begitu. Kemarin kemana aja bi? Kok beberapa hari gak buka?” tanyaku Kembali.
“beberapa hari kemarin, bibi di rumah sakit, To. Nemenin suami bibi.” Jawabnya dengan masih sibuk mempersiapkan nasi bungkus.
“oalah. Sakit apa bi kalo boleh tau?” tanyaku Kembali.
“beberapa tahun ini suami bibi tu kena penyakit jantung sama diabetes, nah kemarin kambuh tuh, To. Makanya dirawat di rumah sakit beberapa hari.” Jawabnya.
Aku berpikir sejenak setelah mendengarkan jawaban dari bi Nana tersebut. Aku teringat tentang artikel yang pernah aku baca. Pada artikel tersebut menjelaskan bahwa salah satu penyebab dari impoten adalah penyakit jantung dan diabetes.
Pikiranku pun Kembali flashback tentang peristiwa kemarin antara aku dan mbak Devi dimana ia haus akan belaian sang suami. Berarti mungkin juga jika suami bi Nana ini impoten makai a juga rindu akan kontol seorang pria, terlebih lagi usianya yang belum tergolong tua.
Aku Kembali berfikir tentang bagaimana caranya aku bisa menikmati tubuh kesepian dari bi Nana tersebut, terlebih aku sangat terobsesi dengan pantat beliau yang sangat aduhai tersebut, rasanya ingin aku doggy lalu aku genjot sekeras-kerasnya dan aku tampari itu pantat, terlebih lagi tetenya juga menunjang pantatnya yang aduhai tersebut. Jika kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya, seperti kejadian antara aku dengan mbak Devi, maka aku sendiri yang akan mendatangi kesempatan itu sendiri. Begitu kira-kira yang ada dalam pikiranku.
Bersambung…
Aku pulang ke rumah masih dengan pikiran yang berkecamuk. Pikiranku terus berkutat tentang bagaimana caranya aku bisa menikmati tubuh dari bi Nana tersebut. Sebuah clue sudah terbuka tentang suaminya yang diserang beberapa penyakit yang mana aku Yakini servisnya terhadap sang istri pasti tidaklah maksimal. Selanjutnya tinggal bagaimana cara eksekusinya saja yang harus aku pikirkan.
Aku pun membuka komputerku untuk mencari-cari referensi tentang bagaimana orang-orang dapat menikmati tubuh dari orang yang mungkin tidak menunjukkan ke-binal-an mereka, namun dari beberapa referensi yang aku dapatkan, kebanyakan dari hal tersebut tidaklah berjalan natural.
Terdapat referensi lain yang secara eksplisit mengatakan jika memang dia membutuhkan maka bisa saja kamu paksa untuk melayani nafsumu, maka dari yang semula penolakan akan berubah menjadi penerimaan.
Aku melihat diriku sendiri mungkin tidak memiliki keberanian yang cukup jika harus memulai tanpa ada tanda-tanda dari lawan yang memang haus akan belaian. Tapi mungkin bisa dicoba dengan referensi kedua tersebut. Aku berfikir rencana apa yang aku jalankan untuk mengeksekusi bi Nana tersebut.
….
Aku melakukan beberapa pengamatan yang dapat mendukung rencanaku tersebut, termasuk mengamati tentang lokasi yang akan aku jadikan sebagai tempat untuk melakukan eksekusi, yaitu warung bi Nana sendiri.
Selanjutnya aku memikirkan tentang bagaimana aku bisa menyelinap pada warungnya untuk bisa memuluskan rencanaku tersebut. Termasuk caraku melarikan diri jika suatu hal yang tidak aku inginkan terjadi.
Semalaman aku terjaga untuk bisa melancarkan aksiku tersebut, hingga tiba waktu subuh, dimana bi Nana biasanya setelah subuh menuju warungnya untuk mempersiapkan masakan yang akan ia sajikan di warungnya. Biasanya sebelum para pekerja disini berangkat, mereka akan membeli makanan di warung bi Nana, terlebih desa ini kebanyakan diisi oleh para pekerja pabrik.
Aku sudah bersiaga di sekitar warung bi Nana saat itu ketika aku melihat bi Nana dengan perlahan membuka kunci warungnya. Entah semesta mendukung atau memang biasanya begitu, ia membiarkan pintu itu terbuka sedikit, yang dari situ bisa aku ketahui bahwa pintu itu tidak terkunci.
Setelah memakai topengku, aku mulai bergerak mendekat menuju warung bi Nana. Dengan berjalan mengendap dan sangat hati-hati aku mulai memasuki warungnya. Dan benar saja, ia sedang di dapur memasak hidangan untuk warungnya. Saat itu ia mengenakan daster terusan gombrong yang tetap saja tidak bisa menyembunyikan lekukan tubuhnya, terutama pantatnya.
Saat aku memasuki warung, aku melihat plastic minyak goreng yang masih utuh, yang mungkin ia bawa dari rumahnya. Aku pun memiliki ide untuk melumasi kontolku dengan minyak goreng agar rencanaku berjalan lancar dan cepat. Aku menunggu momen saat ia sedang menungging dan mengaduk-aduk masakan yang ia buat untuk langsung segera aku angkat dasternya dan aku sodok dari belakang.
Hal tersebut lantaran kompor yang ia gunakan terletak di bawah, sehingga ia sering nungging untuk mencicipi ataupun mengaduk masakannya.
Momen itu pun tiba, dengan perlahan aku melorotkan celanaku yang sudah tanpa celana dalam dan dengan posisi kontolku yang udah menegang, kemudian berjalan ke arah dapur dan mulai menjalankan aksiku. Ketika sudah dekat segera aku bekap mulutnya dengan tangan kiriku dan aku naikkan dasternya, ia tampak memberontak.
Namun karena ia kalah postur dan tenaga, ia tak bisa berbuat banyak. Setelah itu aku robek cd nya dan mulai menggesek-gesekan kontolku yang telah aku lumuri minyak goreng ke area kewanitaannya. Ia terus berusaha memberontak, namun semuanya masih bisa aku atasi.
Perlahan namun pasti, mulai dari kepala kontolku hingga batangnya mulai masuk ke dalam memeknya. Ia tampak mendesah pelan dengan diiringi oleh tangisannya. Aku genjot secara perlahan memek dari bi Nani yang membuatnya masih terus terisak namun tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang ia rasakan.
“udah lah bi, tak usah menangis, aku tau kalo bibi juga kangen sama kontol kan?” ucapku sambil terus mengatur tempo genjotanku.
“gimana kontolku? Nikmat kan?” ucapku sembari terus menggenjotnya.
“hikh…mmmhhh….” Cuma itu yang keluar dari mulut bi Nana.
Sementara bi Nana yang masih aku bekap terus terisak, namun yang keluar dari mulutnya adalah desahan kenikmatan yang berusaha ia tahan. Setelah penolakan darinya mulai mengendur, aku pun melepas bekapanku dengan masih menggenjotnya.
“mmmhhhh…. sssiapa kamu, kenapa kamu tega melakukan ini?” ucap bi Nana yang masih terisak.
Aku tak menjawabnya dan terus menghentakkan penisku ke dalam mekinya. Namun tiba-tiba saat hendak menghentakkan penisku agar lebih dalam masuk, dengan momentum yang tepat, bi Nana berbalik badan dan membuat kontolku terlepas dari mekinya lalu mendorongku.
“auhh…” pekiknya.
Karena aksinya tersebut, kakinya mengenai panci yang ia gunakan untuk memasak dan kuah dari masakannya mengguyur kakinya . Lalu ia pun mengambil pisau yang ada di lemari gantung warung itu dan mengacungkannya ke aku yang karena dorongannya aku tersungkur ke lantai.
“siapa kamu, kenapa kamu tega melakukan ini?” ucapnya Kembali dengan nada tinggi dan air mata masih menetes dari matanya.
“tenang bi… tenangg…..” ucapku panik. Aku berusaha berpikir untuk tidak kabur, karena aku meyakini bahwa bi Nana tidak mungkin melakukan hal bodoh.
“aku Cuma mau memberikan bibi kenikmatan yang selama ini nggak bibi dapatkan dari suami bibi.” Lanjutku menerangkan.
“buka topengmu!” ucapnya sembari mendekatkan pisau ke arahku.
“iii….iya bi, ini aku buka. Tapi bibi tenang ya…” Jawabku tergopoh-gopoh.
“buka!” ucapnya dengan lantang sambil mengarahkan pisau ke arah leherku.
Aku pun membuka topengku. Dan bi Nana Nampak terkejut jika sesosok dibalik topeng tersebut adalah aku. Pisau yang ia pegang pun ia jatuhkan dan berniat beranjak pergi dari warung meninggalkanku. Namun dengan sigap segera aku naikkan celanaku dan aku memeluknya dari belakang.
“kenapa kamu tega sama bibi, To.” Ucapnya dengan nada kecewa diiringi dengan isak tangisnya.
“aku nggak punya maksud jahat bi, Cuma mau memberi kepuasan buat bibi. Aku tau setelah bibi cerita kalau suami bibi kena penyakit jantung dan diabetes, dimana kemungkinan membuat suami bibi impoten, makanya aku ngelakuin ini karena aku tau kalo bibi juga butuh.” Jawabku dengan tenang dan yakin.
“tapi nggak gini caranya, To.” Jawabnya masih dengan isakan tangisnya.
“udah, bibi duduk dan tenang dulu ya..” ucapku sambil membimbingnya duduk di kursi warungnya.
Syukurnya bi Nana nurut dan mengikuti arahanku. Kali ini ia sudah lebih tenang dan ia meringis kesakitan karena tadi kakinya menyenggol panci. Aku pun merasa bersalah atas aksiku tadi.
“Bi, maafin Dito ya. Gara-gara dito kaki bibi jadi begini.” Ucapku dengan nada merasa bersalah.
“gapapa kok to. Besok juga sembuh.” Ucapnya melunak.
Aku menangkapnya sebagai lampu hijau, lantaran bi Nana sudah tidak lagi marah denganku.
“Yaudah bi. Bi Nana pulang aja ya, biar dito belikan obat di apotek buat bibi.” Ucapku
Bi Nana hanya mengangguk dan lalu membereskan segala kekacauan yang ada dengan kaki terpicang yang tentunya dengan sigap aku membantunya. Setelah semuanya beres, bi Nana mengunci warungnya dan beranjak pulang yang jarak rumahnya tak jauh dari sini. Sementara aku langsung Kembali ke rumah untuk mengambil motor dan langsung menuju apotek.
Tak berselang lama aku pun sudah berada di rumah dari Bi Nana. Ketika aku sampai, ternyata bebarengan dengan anak dari bi Nana yang hendak berangkat ke sekolah. Dari seragamnya ternyata mereka masing-masing anak SMA dan SD. Mereka pun menyapaku dan lalu bergegas pergi menuju sekolah mereka. Karena kurangnya pergaulanku dengan warga sekitar, aku hanya mengetahui rumah bi Nana saja, tanpa mengetaui anak dan suaminya.
“berarti emang jarang dijamah sih itu goa. Udah punya dua anak masih lumayan seret juga.” Ucapku dalam hati.
Sesampainya di depan pintu, aku pun mengucapkan salam dan lalu dipersilahkan masuk oleh bi Nana karena memang pintunya tidak di kunci. Aku pun lalu masuk dan melihat bi Nana sedang mengompres kakinya dengan es batu yang lalu aku hentikan hal tersebut.
“jangan dilanjutin bi ngompres dengan es-nya. Nanti malah semakin parah.” Ucapku sambil mengambil es batu dari tangannya dan menaruhnya di wadah.
Lalu aku pun mengeluarkan obat yang telah aku beli tadi dan segera mengoleskannya ke kakinya. Setelah Nampak meringis kesakitan karena olesanku tersebut, akhirnya ia Nampak lebih mendingan.
“maafin Dito ya, Bi. Semua ini salah dito. Coba aja Dito…” belum sempat aku melanjutkan omonganku, bibi menghentikan omonganku dengan memelukku erat. Aku yang terkaget pun hanya bisa diam dan membalas pelukannya. Mungkin itu caranya agar aku tidak melanjutkan omonganku yang mungkin akan terdengar oleh suaminya di dalam.
Terasa empuk sekali dadaku karena bersentuhan dengan dada Bi Nana. Ketika bi Nana memelukku, mataku malah focus pada bongkahan pantat dari bi Nana yang nyeplak dengan dasternya.
“Bibi maafin kamu, To. Tapi lain kali jangan ngagetin bibi ya.” Ucapnya sambil mendorong tubuhku lepas dari pelukannya dan menatap mataku dengan tatapan sayu.
Setelah itu, aku berpamitan pulang dan membiarkan bi Nana untuk beristirahat. Aku kepikiran dengan kata-kata terakhir dari bi Nana. Apakah itu sebuah penolakan atau ajakan untuk dilakukan dengan halus? Tak mau memusingkan itu, aku pun tidak pulang, malah mampir ke rumah mbak Devi, kali aja dapet jatah. Karena kejadian tadi membuatku merasa kentang, aku ingin crot pagi ini. Begitu kira-kira akal pikirku.
Ketika aku sampai di rumahnya. Ternyata mbak Devi sedang menjemur pakaian di depan rumahnya. Ia langsung tersenyum ketika melihat kedatanganku.
“alin mana mbak.” Tanyaku yang menanyakan anaknya.
“tuh di dalem, lagi tidur.” Ucapnya dengan masih sibuk menjemur pakaian.
“wihh… bisa nih?” tanyaku merayu.
“nih bisa…” ucapnya yang diikuti dengan menyiramku menggunakan air sisa peresan jemurannya yang diikuti dengan tawanya. Setelah melakukan itu ia langsung masuk ke dalam rumahnya yang sejurus kemudian aku mengikutinya untuk masuk.
“kok aku disiram sih mbak? Kan jadi harus mandi ini mah” ucapku dengan nada kesal.
“abisnya, kamu. Masih pagi udah minta jatah aja.” Jawabnya.
“yaudah, yuk mandi bareng.” Ucapku sambil menariknya ke dalam kamar mandi setelah ia meletakkan ember. Karena sedari tadi aku mengikutinya dari belakang.
“klek..” bunyi pintu kamar mandi yang aku kunci dari dalam.
“eeee… apa-apaan ini.” Ucapnya seolah tak suka.
“masa mbak nggak kangen sih sama ini?” ucapku sambil mengarahkan tangannya ke kontolku.
Tanpa banyak basa-basi lagi ia langsung melumat bibirku dan melanjutkan usapan demi usapan di kontolku. Aku pun tak mau kalah, selain mengimbangi permainan bibirnya. Aku juga menggosok-gosok memeknya yang perlahan mulai basah. 3 menit kami bertahan dalam permainan itu.
“langsung mulai aja yuk mas. Jangan lama-lama, takut anakku nangis.” Ucapnya.
Segera kami pun melucuti satu per satu pakaian kami hingga tanpa sehalai benang pun tersisa pada tubuh kami. Namun ketika ia menggenggam kontolku Kembali ia Nampak terkejut.
“ini apa mas? Kok licin gini.” Tanyanya soal kontolku.
Dan aku pun baru tersadar, bahwa tadi aku lupa mencuci kontolku setelah percobaan pemerkosaanku kepada bi Nana.
“eh anu mbak, bukan apa-apa.” Jawabku gugup.
“udahlah mas, gak usah main rahasia-rahasiaan sama aku, darimana kamu tadi, pagi-pagi udah bawa motor, trus ini kenapa kontolmu kayak ada minyaknya gini.” Ucapnya menyelidik.
“nanti aku certain ya mbak, tapi sekarang kita main aja dulu.” Ucapku sambil menusuk mekinya menggunakan jariku.
“akhhhh…. Uhhhh… janji yahhh….” Ucapnya diiringi dengan desahannya.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan terus melanjutkan aktifitasku untuk mengobel mekinya. Ia pun menengadahkan mukanya ke atas sambil mendesah desah tak karuan.
“ahhhh…. Iyaaahh…. Teruss……” ia merancau.
“terusss obok-obok memek ku mashhh….”
“ohhhh…….”
“masss….. terussss….. aku mau sampaiiii… ahhhhh” ucapnya
Akhirnya ia pun sampai pada klimaksnya. Sejurus kemudian ia pun menungging dengan bertumpuan pada bak mandi.
“ayo mas, masukin sekarang. Aku udah nggak kuat nunggu lama-lama.” Pintanya.
Tanpa dikomandoi langsung saja aku posisikan kontolku pada mulut mekinya. Namun sebelum itu aku gesek-gesekkan terlebih dahulu kontolku pada bibir memeknya. Selain itu juga aku meremas toketnya dan memilin-milin putingnya.
“ihhh, buruannn. Udah kangen memekku sama kontol gedemu itu masss…” ucapnya.
“auuhhhh…. Ohhhh…” ia Kembali merancau ketika tiba-tiba kontolku aku sodokkan pada memeknya dengan rada kasar.
“ohhh…. Ahhhhh…. Sodok lebih kencang massshhh….”
“kontolmu enak masshhhh…..”
“memekmu juga legit mbakkk, tetekmu juga gemesin…” ucapku sembari menggenjot mekinya dan meremas-remas toket besarnya.
Genjotan demi genjotan terus aku lancarkan untuk menyerang mekinya, hingga 10 menit kemudian mbak Devi sampai pada orgasmenya yang kedua.
“ohhh. Maaassssss….. kontolmu enakk bangettt…. Aku keluar lagiii… ahhhh….” Ucapnya sambil mekinya menyemburkan cairan hangar yang membasuh batang kontolku.
Sejurus kemudian karena kontolku berasa diremas-remas oleh mekinya yang berkedut setelah orgasme, aku pun sampai pada orgasmeku.
“mbakkkk… aku sampaiii…. Ohhh…” aku semburkan seluruh cairanku ke dalam mekinya hingga luber sampai luar.
“memekmu emang juara mbak kalo buat empot-empotan begini.” Lanjutku.
Setelah itu aku cabut kontolku dari sarangnya dan mbak Devi pun berbalik badan yang lalu tersenyum kepadaku.
“memang gak salah aku mas, aku jadiin kamu partner seksku.” Ucapnya sambil tersenyum.
Setelahnya kita pun mandi secara bersamaan dengan saling sabun-menyabuni tubuh kami. Aku menyabuni seluruh badannya dengan bermain-main pada toket dan mekinya. Sementara ia menyabuniku dan bermain-main dengan kontolku yang Kembali menegang.
“ihhh…. Dasar anak muda. Ini nih berdiri lagi.” Ucapnya sambil menoel-noel kontolku.
“minta main lagi itu mah mbak.” Jawabku.
“nggak ah. Nanti keburu anakku bangun lagi.” Jawabnya. Aku sedikit kecewa dengan jawabannya. Namun aku memakluminya karena ia memiliki tanggung jawab untuk mengurus anaknya, tidak hanya menuruti nafsuku maupun nafsunya.
Setelah permainan di dalam kamar mandi selesai kami pun lekas berganti pakaian. Dan aku diberikan pinjaman pakain dari suami mbak Devi. Setelahnya aku berniat untuk mencari sarapan untuk kita berdua.
“mana nih yang tadi katanya mau cerita?” tanyanya di sela-sela aktivitas sarapan kami.
“iyaa, abis inii ya… tapia da syaratnya.” Jawabku.
“dihh, ada syarat-syaratnya segala.” Ucapnya.
“yaudah kalo ga mau mah.” Ucapku cuek.
“yaudah, apaan syaratnya.” Ucapnya kesel.
“yang pertama, mbak gaboleh nge-judge ataupun nyalahin aku, yang kedua mbak nggak boleh marahin aku, dan yang ketiga…” aku menahan omonganku dan melanjutkan menyantap pecel sisa sesendok yang tadi aku beli.
“apa yang ketiga?” tanyanya masih dengan nada kesal.
“yang ketiga aku mau cerita sambil nenen.” Ucapku dengan nyengir.
“dihhh…. Bisa-bisanya ya kamu.” Ucapnya yang langsung beranjak pergi untuk mencuci piring.
Aku hanya bengong melihat tingkah lakunya itu, namun aku tak memusingkannya. Namun tak lama berselang, ia memanggilku dari dalam kamarnya dan memintaku untuk masuk. Aku pun nurut saja. Dan ternyata ia sudah melepaskan beberapa kancing bajunya dan mengeluarkan togenya dari baju yang ia kenakan, namun ia masih membiarkan bra-nya membungkus toket gede miliknya.
“sini, katanya mau nenen.” Ucapnya memanggilku.
“gilak, selain toketnya yang gede, rasa penasarannya juga gede juga ya.” Ucapku dalam hati.
Tanpa babibu aku pun langsung menghampirinya dan langsung merebahkan diri tepat disampingnya. Sementara anaknya telah ia pindahkan ke dalam kotak bayi. Tanpa basa-basi lagi langsung saja aku melorotkan bra miliknya dan langsung aku kenyot pentilnya, semetara toketnya yang lain tak ku biarkan nganggur. Aku pilin-pilin dan aku remas-remas toketnya yang lain. Ia malah merem melek karena rangsangan yang aku berikan.
“cepet cerita, jangan Cuma mainin teteku aja.” Ucapnya kesal karena aku tak kunjung cerita.
Lalu aku pun menceritakan semuanya dari mulai prosesku merencanakan eksekusi terhadap bi Nana hingga kejadian di rumah bi Nana. Sementara mbak Devi menyimakku dengan seksama namun diiringi dengan desahan-desahan lembut sebagai bentuk respon atas permainan tanganku pada tetenya.
“hahahaha… gila juga kamu ya… berani-beraninya mau memperkosa istri orang. Mana pake minyak goreng lagi buat pelumas.” Ucapnya setelah aku selelsai bercerita.
“ya habis mau gimana lagi mbak, aku nafsu banget sama body-nya bi Nana.” Ucapku.
“ya emang nafsuin sih body-nya bi Nana. Tapi gak gitu juga kali, mas.” Ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku yang menyeruput Kembali pentilnya.
“tapi setelah aku denger semua omonganmu kayaknya bi Nana nggak nolak deh kalo kamu ajak ngentot. Kayaknya juga kesepian tuh dia, butuh sodokan kontol gede ginian.” Lanjutnya sambil mengelus-elus kontolku yang telah berdiri sedari tadi.
“tapi inget ya… kalo dapet bi Nana, jangan lupain memekku.” Ucapnya dengan nada mengancam sambil meremas kontolku.
Karena sudah tak tahan lagi, segera aku balik badannya agar tengkurap dan aku pelorotkan celananya, begitu pula dengan celanaku. Langsung aku posisikan kontolku di depan mulut mekinya yang sejurus kemudian aku masukkan kepala kontolku. Namun aku tak langsung memasukkan semuanya. Tetapi aku masukkan lalu keluarkan lagi kepala kontolku.
“ahhh…. Ohhhh…. Buru ihhh…” ucapnya kesal.
Setelah itu langsung aku benamkan seluruh kontolku ke dalam mekinya, yang nampaknya mekinya sudah terbiasa menerima kehadiran kontolku. Pelan namun pasti aku goyangkan pantatku.
“ahhhh…. Iyahhh…. Terusss…” mbak Devi terus-terusan merancau.
“ahhh… kontolmu selalu ngangeninnn…. Ihhhh…” ia merancau Kembali.
“mbak jangan keluar dulu ya, kita ganti posisi habis ini.” Ucapku sambil terus menggenjot mekinya.
“iyahhh…..” jawabnya.
“ncitttt….citttt….cittt…ciitttt…..”suara peer dari Kasur efek dari genjotanku.
Setelah puas dengan gaya itu, aku merebahkan diri dan aku meminta mbak Devi untuk WOT. Perlahan namun pasti, ia membimbing kontolku untuk Kembali ke liang kewanitaan miliknya. Dan langsung ambles kontolku dilahap oleh mekinya. Dan saat amblas itu lah dia memejamkan matanya. Sejurus kemudia ia mulai menaik turunkan tubuhnya.
“plokkk…plokkk…plokk….” Suara yang ditimbulkan dari benturan antara selangkangan dua manusia yang sedang bersetubuh ini.
“ahhhh…. Enakkkk bangett….” Ucapnya sambil menengadahkan wajahnya ke atas.
“uhhhhh… iyahhh…iyahhhh…..iyahhh…” suara merancau yang keluar dari mulutnya menambah gairahku.
Ia memegangi tetenya yang bergerak naik turun seirama dengan genjotannya. Segera aku tepis tangannya untuk beralih dari tetenya dan aku mainkan tetenya. Hal tersebut membuat ia merancau semakin menjadi-jadi.
“terusss…. Pelintir pentillku masssshh…..” ucapnya sembari memegangi rambutnya menggunakan tangan yang membuatnya semakin seksi.
“aku keluar masssss…..” ucapnya sejurus kemudian yang kemudian ambruk ke tubuhku dan memelukku.
“kamu kok tau banyak gaya gini belajar dari mana sih mas?” tanyanya dengan nada lemas.
Aku hanya tersenyum lalu menyuruhnya untuk duduk. Karena aku belum keluar, aku ingin ia meng-oral kontontolku.
“emut kontolku mbak, belum keluar nih.” Pintaku.
Tanpa menunggu permintaan kedua, ia langsung meng-oral kontolku. Nampaknya ia telah belajar dari per-ngentot-an yang pertama, sehingga kini oralnya jauh lebih enak.
“terus mbak… ahhhh.. lebih dalemmmm….” Aku merancau merasakan kenikmatan yang diberikan mbak Devi.
Aku tak memberikannya aba-aba ketika kontolku hendak menyemburkan cairannya. Dan ia pun terkejut ketika aku orgasme, dan langsung saja ia menarikku untuk rebahan lalu menindihkan dan melumat bibirku.
“tuh rasain gimana pejuhmu, jangan Cuma aku doang yang kamu suruh ngerasain.” Ucapnya kesal.
Aku pun melanjutkan ciumannya dan tak berselang lama kemudian aku berpamitan untuk pulang dan istirahat, karena semalaman aku tidak tidur. Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan diri dan membayangkan tentang peristiwa antara aku dengan bi Nana. Tak terasa tiba-tiba aku terlelap dan terbangun tepat tengah malam.
Kembali terpikirkan olehku tentang bagaimana rencanaku besok mengenai bi Nana. Terlebih lagi, mbak Devi tadi mengatakan jika sebenarnya bi Nana memberikanku lampu hijau, namun ia hanya terkejut saya dengan perlakuanku yang seperti bajingan. Lalu apa yang harus aku lakukan? Kita lihat besok, aku malah kini merasa canggung dengan bi Nana.
Bersambung…
Kembali aku terjaga hingga pagi hari. Adzan subuh telah berkumandang, sebuah panggilan bagi umat muslim untuk beribadah. Namun, aku bukannya menuju masjid malah menuju ke warung bi Nana. Ketika sampai di depan warungnya, Nampak warungnya sedikit terbuka seperti kemarin. Hal tersebut menandakan bahwa bi Nana sedang memasak untuk warungnya. Perlahan namun pasti Kembali aku memasuki warungnya.
“bi…” sapaku ketika aku sudah berada di dapur dan melihat bi nana sedang memasak.
“eh dito, mau makan ya? Bentar ya, belom ada yang mateng” ucapnya.
Perlahan aku pun berjalan mendekat kearahnya dan memeluknya dari belakang dengan posisi kepalaku berada di samping kepalanya.
“maafin dito ya bi…” ucapku yang seolah-olah penuh penyesalan.
Ia malah mematung dan terisak ketika aku memeluknya dan mengatakan itu kepadanya.
“emang apa yang kamu mau sih, To. Dari tubuh bibi yang udah nggak muda lagi ini?” jawabnya sambil masih menangis.
“aku Cuma mau memberikan kepuasan pada bibi ketika suami bibi udah nggak bisa ngasih itu lagi.” Jawabku.
Bi Nana melepaskan pelukanku dan menatapku dalam-dalam.
“oke kalau begitu, sekarang buktikan sama bibi kalo kamu bisa muasin bibi. Tapi kamu harus janji sama bibi, ini rahasia kita aja dan ketika kamu gagal muasin bibi, bibi harap kamu nggak usah datang lagi ke warung bibi.” Ucapnya tegas.
Aku yang tertegun mendengar ucapan dari bi Nana hanya bisa mengangguk. Dan karena merasa di tantang, maka aku akan berusaha sekuat tenaga buat jebolin pertahanan bi Nana.
“sekarang apa yang kamu mau? Cepat katakana.” Ucapnya dengan nada tegas.
“aku Cuma mau bibi ngikutin permainanku aja, setelah itu bisa bibi nilai sendiri.” Ucapku tak kalah tegas.
“oke, tapi tunggu bibi nyelesaiin ini semua dulu.” Jawabnya.
Aku pun membiarkan bi Nana menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum aku bisa menggarapnya. Hampir satu jam aku menunggu dan akhirnya bi Nana telah selesai dengan urusannya tersebut.
“ayo sekarang!” ucapnya setelah mengunci pintu warungnya dari dalam.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung menyerbu bibirnya untuk aku lumat. Awalnya ia Nampak kaget, namun terasa lebih rileks beberapa saat setelahnya. Ia Nampak pasif mengikuti irama dari permainanku itu. Sambil bibirku terus bermain dengan bibirnya, tanganku menjamah area pantatnya dengan aku meremas-remasnya. Setelah itu aku menggesek-gesek mekinya dari balik daster yang ia kenakan. Ia Nampak menikmati sekali permainanku itu.
Setelah puas, aku berhenti memainkan bibirnya dan melucuti dasternya, ia pun mengikuti permainanku. Aku segera melancarkan seranganku dengan memainkan tetenya yang bulat berisi itu dari balik bra-nya. Sementara tanganku yang lain sibuk menyelinap cd-nya untuk mengobel mekinya yang detik demi detik semakin basah.
“mmmmhhhh…..” Nampak terdengar suara desahan yang ditahan oleh bi Nana. Tampaknya ia masih gengsi untuk menikmati servisku.
Setelah itu aku menghentikan kegiatanku dan melepaskan bra serta cd-nya. Aku terdiam sejenak mengagumi keindahan dari ibu dua anak yang usianya hampir kepala empat ini. Selain putih, body-nya juga tak kalah dengan mamah muda. Terlebih lagi toket dan pantatnya (meskipun toketnya tak sebesar milik mbak Devi). Meskipun di usia segitu, namun toketnya terlihat masih sangat menantang dan terlihat cukup kencang. Aku berasumsi bahwa anak-anaknya merupakan bayi sufor alias tidak minum asi.
Sejurus kemudian, aku juga melucuti pakaianku helai demi helai. Aku memang sengaja tidak memakai cd sehingga ketika aku melepas kolorku, langsung terpampang nyata si otong dengan gagahnya. Aku melihat mukanya yang langsung berubah ekspresi seperti terkejut dengan “barangku” itu.
Aku langsung berjongkok dan mengobel mekinya yang nampaknya iya cukur, sehingga hanya tersisa bulu-bulu pendek saja. Bi Nana pun menengadahkan wajahnya ke atas buah dari perlakuanku terhadap liang kewanitaan miliknya. Nampak sudah sangat becek meki dari bi Nana ini. Segera aku mainkan mulut dan lidahku pada lubang senggama itu.
“ahhhhhh…..mmmhhhhh…..” terdengar lirih ia mendesah, namun lagi-lagi masih tertahan oleh gengsinya.
Saking dahsyatnya permainanku membuat bi Nana yang semula berdiri, kini terduduk di kursi yang sebenarnya diperuntukkan untuk pelanggan. Seranganku masih berlanjut, hingga aku menemukan itilnya dan aku menggigitnya dengan gemas. Sejurus kemudian ia menggenjang tanda orgasme. Mulutku pun dibanjiri oleh cairan kewanitaan miliknya.
“gimana bi?” ucapku sambil berdiri setelah puas mengobel mekinya.
Ia hanya menatapku dengan sayu setelah orgasmenya itu, aku yakin mekinya masih belum puas jika hanya permainan mulut semacam itu dan butuh untuk digenjot oleh kontol gedhe.
“sekarang bibi rebahan deh. Di kursi situ aja gapapa.” Pintaku yang langsung dituruti oleh bi Nana tanpa banyak bertanya.
Segera aku memposisikan kontolku untuk siap menerobos mekinya. Namun sebelum itu, aku ingin sedikit memberikan “pelajaran” kepadanya karena dengan beraninya ia menantangku. Kontolku yang telah gagah berdiri tak segera aku masukkan ke dalam sarangnya, melainkan aku gesek-gesekkan terlebih dahulu pada bibir mekinya. Dan hal tersebut sukses membuatnya terpejam dan menggigit bibir bawahnya serta meremas-remas tetenya sendiri.
Setelah itu Kembali aku mainkan kontolku untuk aku masukkan ke dalam rongga kewanitaan miliknya, namun hanya sebatas kepalanya saja lalu aku keluarkan lagi, begitu kira-kira berjalan sekitar beberapa menit yang Kembali membuatnya terpejam dan menggigit bibir bawahnya. Namun tiba-tiba aku hentakkan pantatku hingga kontolku masuk ¾ yang membuatnya terkejut.
“heghhh….” Kata yang keluar dari mulutnya setelah hentakanku itu.
Setelahnya aku maju mundurkan kontolku dengan tempo sedang yang membuat kursi yang kami gunakan ikut berdencit, untungnya tertahan oleh pilar kayu penyangga atap, sehingga masih bisa aku control, namun suara yang dihasilkan seperti orang yang sedang memalu.
“dokk…dok…dok..” begitu kira-kira efek yang ditimbulkan dari genjotanku itu ketika kursi yang kami gunakan mengenai pilar kayu tersebut.
“mphhh….mphhhhhh…,mpphhh….” suara lirih dari bi Nana ketika menikmati genjotanku itu dimana ia sampai menggigit bibir bawahnya.
“gimana rasa kontolku bi?” ucapku sembari masih menggenjotnya.
Aku yang ingin melancarkan serangan secara maksimal langsung saja menuju ke tete-nya untuk aku kenyot-kenyot dengan mulutku, selain itu tanganku juga memainkan tetenya yang lain. Sementara itu, bi nana menutupi mukanya menggunakan tangannya, seolah menyembunyikan rasa malunya atas kekalahannya.
Tak berselang lama, tiba-tiba kakinya mengapit tubuhku dan ia menggenjang Kembali, tanda orgasme yang kedua kalinya. Kontolku berasa disiram kuah hangat yang lalu dijepit oleh bibir mekinya.
“gimana bi? Masih mau lanjut?” tanyaku. Lagi-lagi ia masih tak bersuara.
“sekarang bibi nungging deh, tumpuan sama pilar itu juga gapapa.” Dan bi Nana pun menuruti permintaanku, tanda bahwa ia masih ingin menikmati kontolku.
Setelah membimbingnya untuk melebarkan kakinya, mukaku aku benamkan pada pantanya, dan aku jilati mekinya itu. Selain itu juga aku meremas-remas pantatnya dan menggosok kan jariku pada anusnya. Mekinya Kembali mengeluarkan lender-lendir kenikmatan yang membasahi lidahku. Sementara itu, bi Nana Nampak dengan erat memegang pilar itu sembari menikmati servis yang aku berikan.
Tak ingin berlama-lama, aku segera memposisikan kontolku di depan mekinya. Dengan perlahan aku masukkan kontolku. Yang ternyata karena besarnya pantatnya, kontolku hanya bisa masuk setengah. Langsung saja aku menggenjotnya.
”plokkk…..plokkk…..plokkk….” suara yang terdengar dari hentakanku kepada mekinya
“ahhhhh..mmmmppphhhhh……” sementara itu desahan dari bi Nana hanya terdengar samar.
“ahhhh…. Bokongmu gede bgt biiii…. Memekmu legittt….” Ucapku dengan masih menggenjotnya.
“shhhh…mmhhhh…..uhhhhh…..” bi Nana masih mendesah dengan desahan yang tertahan.
Satu setengah jam berlalu dan aku sangat menikmati persetubuhan ini, meskipun di awal ada sedikit ancaman darinya, namun, kini setidaknya aku bisa membuktikan keperkasaanku.
“yahhh..mmmphhhhh…..ahhh……” bi Nana mulai merancau namun langsung menutupi mulutnya dengan tangannya.
“ahhhh…. Mmhhhh…. Biiii…. Aku mau keluarrr…….” Ucapku.
“crotttt….creeee…..creeeet…….” aku menumpahkan semua maniku dalam mekinya. Sementara itu ia juga mengalami orgasmenya yang ketiga kalinya, karena kembali kontolku merasa dijepit oleh dinding-dinding vaginanya dan langsung disembur oleh cairan hangat miliknya.
Setelahnya aku pun terduduk di bangku itu, tetapi otongku masih saja tegak berdiri. Sementara bi Nana langsung memunguti semua pakaiannya dan menutup mukanya dengan bajunya.
“pulang kamu!” ucapnya dengan nada tinggi, namun aku sedikit mendengar isak tangisnya.
“bibi kenapa? Aku salah ya?” tanyaku.
“bibi bilang pulang!” ucapnya Kembali.
Aku pun segera mengenakan Kembali pakaianku dan beranjak pulang meninggalkan bi Nana yang juga beranjak untuk mengunci pintu warungnya. Aku merasa aneh dengan sikap bi Nana tersebut. Awalnya menantang tapi sekarang entah mengapa ia malah mengusirku.
Sesampainya di rumah dan bersih-bersih tiba-tiba hpku bunyi dan terdapat pesan whatsapp masuk. Setelah aku lihat, ternyata merupakan pesan dari bi Nana. Segera aku membukanya.
“Besok ke rumah bibi jam 10 malam.” Isi pesan dari bi Nana.
Entah apa yang akan dilakukan oleh bi Nana terhadapku sehingga menyuruhku untuk datang ke rumahnya jam 10 malam. Apakah ia melaporkan kejadian tersebut kepada pak RT yang lalu akan menyidangku di rumahnya? Kenapa harus jam sepuluh malam kalau memang begitu. Apa karena nunggu anak-anaknya tidur terlebih dahulu, agar tidak mendengar masalah ini? Bukankah tadi juga bi Nana terlihat puas dengan servisku?
Aku masih terpikirkan tentang isi pesan dari bi Nana tersebut. Kira-kira apa yang akan terjadi kepadaku? Apakah aku akan diarak warga dengan ditelanjangi? Entahlah. Memang aku harus siap dengan segala konsekuensi yang telah aku lakukan, meskipun aku merasa jika persetubuhan yang aku lakukan dengan bi Nana kemarin tanpa unsur paksaan, toh dia terlihat sangat menikmati setiap sodokan dari kontolku.
Apapun yang akan terjadi aku harus siap menghadapi kenyataan tersebut, meskipun kenyataan tersebut terasa pahit. Lama aku membayangkan tentang apa yang akan terjadi kepadaku besok membuat rasa kantukku datang, hingga tak terasa mataku terpejam dengan sendirinya.
Aku terbangun ketika hari mulai gelap. Karena merasa lapar, aku pun memutuskan untuk memasak mie instant. Karena tidak memungkinkan juga jika aku Kembali ke warung bi Nana, karena dengan kejadian tadi, ia terlihat marah denganku. Disaat sedang menyantap mie buatanku itu tiba-tiba terdapat pesan masuk dari bi Nana.
“besok kesininya lewat belakang, jangan lewat depan, sama jangan bawa motor.” Isi pesan dari bi Nana tersebut.
Aku pun keheranan dengan isi pesan tersebut. Jika memang, besok adalah hari dimana aku akan disidang lalu dihukum, kenapa harus lewat belakang? Pertanyaan demi pertanyaan Kembali terlintas di otakku. Rasanya aku seperti dihantui oleh rasa cemas. Namun, sejurus kemudian aku berpikir. Atau mungkin bi Nana ngajak aku ngentot di rumahnya? Eh, tapi kan ada suami dan anaknya di rumah itu. Entahlah, perempunan memang penuh dengan teka-teki.
Segera aku menghabiskan makananku dan mencuci segala barang yang telah aku pakai tadi. Setelah semuanya beres dan aku memutuskan untuk merebahkan diri, tiba-tiba hp-ku berdering, tanda panggilan suara masuk.
“halo, Ma.” Ucapku saat aku mengangkat panggilan tersebut yang ternyata berasal dari mamaku.
“iya, halo. Gimana kabar kamu nak?” tanya mamaku dari balik telepon.
“baik, Ma. Ada apa? Tumben-tumbenan telpon dito.” Jawabku, karena mamaku memang jarang menelponku, lebih sering bertukar pesan WhatsApp denganku.
“ini, mama mau ngasih kabar, kalo mungkin dua minggu lagi tantemu bakal nginep di situ.”
“ha? Tante siapa ma? Dan kenapa harus nginep di rumah Dito?” tanyaku.
“tante wulan. Dia lagi butuh tempat buat nenangin diri, makanya mama suruh dia nginep di rumah kamu, dari pada dia kabur entah kemana.” Jawab mamaku.
Tante wulan merupakan adik dari papaku satu-satunya dan dia telah bersuami sejak beberapa tahun lalu. Terakhir aku bertemu dengannya adalah ketika ia menikah dengan suaminya itu, dan selepasnya ia diboyong oleh suaminya ke sebrang pulau karena memang suaminya juga berasal dari situ. Tak banyak yang bisa aku gambarkan tentangnya karena aku juga tidak begitu akrab dengannya.
“kenapa nggak nginep di rumah mama aja si?” tanyaku lagi. Aku memanglah orang yang suka dengan kesendirian dan kurang suka jika harus berurusan dengan orang asing yang tidaklah akrab denganku.
“kamu kan tau sifat papamu, nak. Nanti kalo tantemu nginep disini yang ada malah diceramahin lagi sama papamu.” Jawab dari mamaku.
“iya deh, Ma.” ucapku pasrah menerima.
“gapapa kan, Nak. Kasian lo tantemu.” Bujuk mamaku yang nampaknya kurang puas dengan ucapanku.
“iya, Ma. Gapapa, tenang aja.”
Setelah itu mamaku menutup teleponnya. Ingatanku Kembali flashback tentang tante Wulan itu. Namun ternyata tak banyak yang bisa aku ingat. Ia setauku tidak beda jauh usianya denganku, mungkin kira-kira hanya terpaut 10 tahun saja. Seingetku dulu ia merupakan sosok dengan body yang cenderung gemuk, dengan tinggi rata-rata Wanita Indonesia, lah. Sementara itu, aku berusaha mengingat tentang spek tete dan pantatnya dan setelah aku berusaha mengingat ternyata aku malah kecewa, lantaran seingatku tetenya tidak besar dan pantatnya juga biasa saja.
Tak terasa aku pun Kembali terlelap dan bangun ketika matahari sudah menunjukkan eksistensinya. Karena hari ini merupakan hari minggu, aku pun memutuskan untuk lari pagi, setelah sekian lama tidak berolah raga. Selain untuk melepaskan stress karena terus kepikiran akan rencana dari bi Nana, aku juga ingin menjaga staminaku ketika menggenjot mbak Devi nantinya.
“eh mas dito, nggak mampir nih mas?” ucap mbak Devi ketika ia sedang menjemur baju dengan manjanya ketika melihatku melewati depan rumahnya.
“besok aja deh mbak.” Ucapku sambil berlalu.
Sementara itu, Nampak raut kekecewaan dari wajah mbak Devi tersebut, karena aku menolak ajakannya untuk mampir. Namun apa boleh dikata, pikiranku sedang berkecamuk saat ini dan dimana ketika aku mampir, pasti ujung-ujungnya ngentot, sedangkan aku tidak ingin bersetubuh dengannya untuk saat ini.
Setelah beres berolahraga, aku pun memutuskan untuk mandi dan setelahnya hujan melanda kampungku itu. Karena capek berolahraga dan didukung oleh suasana hujan, tak terasa aku Kembali terlelap dan bangun ketika sore hari tiba.
Tak ingin terus terbayangkan waktu hari ini yang mungkin akan menjadi waktu “eksekusi mati”-ku, aku pun memutuskan untuk bermain game melalui pc-ku. Berkat kegiatanku tersebut, waktu menjadi berjalan sangat cepat. Hingga tiba waktuku untuk mendatangi rumah bi Nana itu. Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda pesan masuk.
“kamu ada masalah apa, mas Dito? Cerita sama mbak dong.” Bunyi pesan yang dikirimkan oleh mbak Devi.
“besok ya, mbak.” Jawabku singkat
Aku menyusuri jalanan kampung yang basah akibat hujan tadi, dengan suasana sepi dan hawa yang sangat pas sekali jika ingin melakukan per-entot-an duniawi. Dengan pakaian yang cukup rapih dan wangi, aku telah sampai di belakang rumah bi Nana, sesuai dengan yang ia pinta kemarin. Dengan rasa gugup nan takut, segera aku chat bi Nana dengan maksud memberi tau jika aku sudah sampai. Tak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka dengan wajah datar dari bi Nana menyambutku dan menyuruhku untuk masuk.
Ketika aku masuk ke dalam rumahnya, ternyata semua dugaanku salah. Tak ada seorang pun di ruang tengah dan kemungkinan juga di ruang tamu karena kondisi ruang tamu yang gelap.
“duduk situ dulu.” Pinta bi Nana yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Tak berselang lama kemudian, ia Kembali dari kamarnya.
“masuk sini.” Pintanya Kembali yang memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya.
Aku terkejut sekaligus terheran-heran dengan permintaannya tersebut. Kenapa aku tiba-tiba disuruh masuk ke dalam kamarnya? Bukankah suaminya masih sakit dan nggak mungkin pergi jauh? Pertanyaan yang muncul dalam otakku. Aku masih tak habis pikir dengan rencananya tersebut.
Sesudah memasuki kamarnya, betapa terkejutnya aku ketika melihat suaminya sedang tidur dengan pulas di atas ranjangnya. Sejurus kemudian aku Kembali terkejut karena dengan tiba-tiba bi Nana melucuti seluruh dasternya dan hanya menyisakan bra dan cd-nya dengan warna cream senada.
“ini kan yang kamu mau?” ucapnya setelah melucuti pakaian luarnya tersebut.
“eh, ttttapi kan…. ada suami bibi.” Ucapku gugup.
“biarkan… biarkan aku bisa menunjukkan bahwa aku telah menemukan yang jauh lebih perkasa darinya.” Ucapnya lagi.
Aku hanya bisa tercengang mendengar ucapannya itu. Namun ketika aku sedang tidak focus lantaran memikirkan tentang perkataannya tersebut dan khawatir jika suaminya tiba-tiba terbangun, ia langsung mendekatiku dan menyosor bibirku. Awalnya aku hanya pasif karena masih khawatir hal tersebut bakal benar-benar terjadi. Bersama dengan ciumannya tersebut ia melucuti pakaianku satu persatu.
“tenang aja, dia udah aku kasih obat tidur paling ampuh.” bisiknya menenangkan.
“aku millikmu mala mini, Dito.” Lanjutnya.
Merasa mendapatkan lampu hijau, aku langsung membalas ciumannya tersebut dengan sangat ganas. Segera juga aku lorotkan bra dan cd-nya itu. Ia melepaskan ciumannya karena rangsanganku pada meki dan toketnya tersebut. Bibirku berpindah pada belakang telinga dan lehernya.
“ahhhhh…. Iyahhhh….. aku milikmu toooo…. Terussss….” Ia terus merancau ketika rangsanganku di ketiga area sensitifnya terus aku jalankan.
“enakkkkk toooo….. terussss……. Ahhhhh…. Ohhhhh….”
Aku menyudahi semuanya setelah Lelah berdiri dan lalu memintanya untuk duduk di Kasur samping suaminya. Setelah ia terduduk, aku berjongkok dan mengarahkan kepalaku langsung menuju pada area selangkangannya dan mengoral mekinya. Bersama dengan lidahku, aku juga menggunakan jariku untuk merangsang mekinya.
“toooo…. Ahhhh….. apaahh… yanggg…mmmhhhhh…. Kamuuuu…. Lakuinnn…..” ia terus merancau sebagai respon atas rangsanganku.
“terussshhh… ahhhh……. Jangannnn…. Berhentiiii……ouhhhh”
Aku terus mengobel mekinya hingga kurang lebih 10 menit dan bi Nana pun akan sampai pada orgasmenya.
“toooo…. Ouuchhhhh…… akuuuu…. Sampaiiiii….ohhhh…..” ucapnya sambil menengadahkan wajahnya ke atas dan menjepit kepalaku.
Setelah itu, aku merebahkannya di samping suaminya. Aku mulai Kembali menyosor bibirnya yang sejurus kemudian disambut dengan permainan lidah dari kami berdua. Setelah itu bibirku pindah menuju lehernya yang kemudian turun ke tete-nya. Ia terus-terusan merancau tak karuan atas rangsangaku tersebut.
“masukinnn…. Kontolmuuu… sekarangg…. Ahhh… mmhhhhhh….” Pintanya ketika aku memainkan lidah dan mulutku pada tete-nya.
“kontol siapa biii?” tanyaku mencoba memancingnya.
“kontoolll…. Mmmmhhhh…. Ditooo….. uhhhhh….. yang gagah perkasaaa…..mhhhhh” ucapnya.
Aku Kembali turun ke bawah untuk menjilat memeknya sekali lagi sebelum mengarahkan kontolku menuju sarangnya. Pertama-tama aku mainkan dulu kepala kontolku dengan mengoles-oles bibir mekinya dengan palkonku.
“cepetttt…. Aku udah ngga tahannn….” Gerutunya.
Segera aku masukkan kepala kontolku dan mengeluarkannya lagi.
“masukin semuanyaa too…. Aku pengen kontolmuuu….” Ucapnya sambil memejamkan mata ketika aku melakukan itu.
Dan…
“bless…” hampir ¾ kontolku masuk dalam memeknya.
“ouhhhh…. Kontolmuu gede bgtt toooo… enakkkkhhhh….”
“Lebih cepat lagiiii…..akhhhhhh……” pintanya.
Aku pun mempercepat tempoku itu, hingga ranjang yang kami gunakan pun ikut bergoyang mengikuti irama persetubuhan ini. Meskipun demikian, suaminya tetap tidur dengan nyenyak dan tak bergerak sedikitpun. Tak ingin menyiakan kesempatan di depan mata, Kembali aku menjamah toketnya. Meremasnya, memilinnya, hingga mengenyotnya.
“iyahhh… iyahhhh…. Sedottt terussshhh….. entotttt lebih dalemmmhh…. Ohhhh….” Bi Nana Kembali merancau.
“ini yang dari dulu aku pengennn…. Mmmhhhhh…..” ucapnya.
“pengen apahhhh…. Biii…..” pancingku sambil terus menggenjotnya dan memainkan tete-nya.
“pengenn… dientot… kontol gedeehhh…..” sautnya.
Aku terus menggenjotnya dengan irama cepat dan membuatnya merem-melek karena aksiku tersebut. Hingga tak berasa selama kurang lebih 20 menit, kami berada pada posisi tersebut.
“tooooo….. ooouhhhhh….. akuuhhh…. Keluarrr…. Lagiiiii…. Ohhhh…..” ucapnya.
Dan benar saja, ia langsung memuncratkan cairan kenikmatan tersebut dan menjepit erat kontolku. Setelah itu ia pun menatapku lalu tersenyum.
“masih kuat bi?” tanyaku.
Ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Setelahnya, aku memintanya untuk bergantian. Kini aku yang merebahkan diri di samping suaminya, sementara ia menunggangi kontolku. Dengan perlahan namun pasti, ia membimbing kontolku untuk masuk ke dalam liang senggamanya tersebut.
“ahhhh… penuhhh bangettt…. Kontolmuuu….”
“ahhhh… memekmu juga masih sempittt…. Bii….” Sautku.
Bi Nana memulai goyangannya dengan tempo pelan.
“ahhhh…. Ahhhh….. ahhhhh…..” ucapnya sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Aku pun meremas serta memilin-milin puting susunya.
“ohhh…. Lebih cepat biiii….” Pintaku. Bi Nana pun mempercepat goyangan naik turunnya.
“plokkk…..plokkkk…..ploookkkkk….” suara dari persetubuhan ini.
“Ahhhh….ahhhhh….mmmhhhhh….. aku ingin jadiii milikkmmuuhh…. Selamanyahhh….” Ucapnya.
10 menit kami berada pada posisi tersebut. Hingga tiba-tiba terdengar suara dari arah luar dengan memanggil bi Nana, yangmana aku prediksi merupakan anaknya yang kecil memanggilnya. Awalnya bi Nana hanya memelankan desahannya. Namun, pintu kamarnya pun di ketok oleh anaknya tersebut.
Kami pun kelimpungan, karena anaknya ini bukanlah anak bayi seperti anaknya mbak Devi yang belum mengerti tentang hubungan lawan jenis, terlebih lagi, aku merupakan orang asing. Segera bi Nana mengambil selimut untuk menutup tubuhnya dan mencabut meki-nya dari kontolku dan bergegas untuk membuka pintu. Aku pun di pinta untuk mengikutinya dari belakang dan memintaku untuk sembunyi di balik pintu.
Bersambung…
“kenapa, nak? Kok panggil-panggil ibu?” tanya bi Nana sesaat setelah membuka pintu dan menongolkan kepalanya.
“harusnya aku dong yang nanya ibu kenapa. Tadi aku dengar mamah kayak orang kesakitan gitu.” Ucap anak itu dengan polos.
Tak ingin membiarkan kontolku mengecil Kembali, tanpa ia sadari, aku membuka sedikit selimut yang menutupi area bawah miliknya. Perlahan aku arahkan kontolku menuju memeknya. Hingga membuatnya terkejut atas aksi beraniku tersebut.
“oughhh….mmmmhhh…..” kata yang keluar dari mulutnya diiringi dengan ekspresi terkejutnya yang otomatis dilihat anaknya.
“ihhh tuhhh kan, ibu sebenarnya kenapa?” tanya anaknya Kembali.
“shhhh…. gapapa nak, ibu gapapa…. Mmmhhhh… udah, kk… kamu balik… tidur ajaaahhhh…” ucapnya dengan terbata-bata efek dari genjotanku tersebut.
Untungnya anaknya pun menuruti apa perkataan ibunya dan langsung Kembali ke kamarnya. Sementara itu, bi Nana menutup pintunya Kembali dan berpegangan dengan gagang pintu miliknya untuk menikmati doggy-an ku.
“ahhhh…..ooggghhhhhh…..mmmmhhhhhhh……..” kali ini desahannya berusaha ia tahan, lantaran takut Kembali didatangi oleh anaknya tersebut.
“plakkk….plakkk….plakkkk….” aku pun menampari pantatnya karena gemas dengan pantatnya yang seolah ikut bergoyang mengikuti irama dari genjotannku itu.
“iyahhh…. Terussss….. gennjjooottttt…….oghhhhh…..” ucapnya lagi, tapi kali ini lebih pelan.
“genn….joottt….teruusss…memekkk….kuuuhh…ohhhh”
“akuuu…maauuhhhh… keluar lagii… mmmmhhhhh…..” lanjutnya.
“Plok….plokkk…plokkkk….” suara selangkanganku yang berbenturan dengan pantat besarnya itu menambah kesan erotis.
“iyahhh..biii…. keluariinnnn…. Barengg…. Yahhh….”
“ahhhh….” Suara kita bersamaan setelah mengalami orgasme secara bersamaan.
Setelahnya bi Nana pun terkulai lemas dengan duduk di lantai dan menyenderkan tubuhnya ke pintu. Sementara itu, aku yang baru keluar pertama kali masih merasa onfire dan siap untuk masuk dalam ronde berikutnya.
Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan mala mini, di tambah lagi bisa ngentot istri orang di depan suaminya langsung (meskipun tertidur pulas) merupakan pengalaman baru bagiku. Segera aku mengangkat tubuh bi Nana untuk Kembali aku pindahkan menuju ranjangnya.
“to, ampun…. Bibi cape.” Ucapnya dengan nada lemah.
“udah bibi tenang aja ya, kali ini bibi ga usah banyak goyang, serahkan semuanya ke Dito.” Ucapku.
Bi Nana pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kepadaku.
“bi, emutin kontol dito dong.” Pintaku kepada bi Nana.
“emang gimana caranya to?” tanyanya penasaran.
“ya kayak bibi ngemut permen aja.”
“oh gitu ya, To. Boleh deh bibi coba.”
Setelahnya aku menyuruhnya untuk berbaring menyamping dan memintanya untuk membuka mulutnya. Sejurus kemudian, perlahan dengan pasti, rongga mulutnya telah penuh sesak dengan kontolku. Meskipun tidak jago dalam oral sex, namun tetap saja aku bisa menikmatinya. Perlahan namun pasti, aku memaju mundurkan kontolku yang telah berada di dalam mulutnya tersebut.
“ohhh…. Mulutmu tak kalah enaknya dengan memekmu, bihh…..” ucapku.
Bunyi khas dari kontol yang disepong pun mengiringi oral sex kami ini.
Tak berselang lama, karena aku merasa bosan, aku pun memintanya untuk berganti posisi, kali ini aku ingin mencoba 69 dengannya. Lagi-lagi ia pun nurut dengan permintaanku tersebut, meskipun dengan sedikit bertanya terlebih dahulu tentunya. Aku pun mulai menindih tubuhnya dengan posisi terbalik, alias kepalaku berada pada memeknya, sementara itu karena tingginya yang cukup berbeda jauh denganku, aku harus menekuk tubuhku agar mulutnya mampu menjangkau kontolku.
Aku pun memulai aksiku dengan memainkan jari-jariku pada area memeknya, memainkan bibir memeknya dan memasukkan jariku kedalam memeknya. Sementara bi Nana, perlahan namun pasti, mulai melakukan eksplorasi, yaitu dia kini mengemut biji-bijiku dan menyedot-nyedotnya.
“mmmppphhhh….. mmhhhhhh…..” ia merancau tak karuan efek dari permainanku dan juga karena mulutnya terisi oleh bijiku, sehingga ia merancau dengan sedikit tertahan.
Setelahnya ia Kembali memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Sementara aku, mulai memainkan lidahku pada area sensitifnya tersebut. Cukup lama kami berada pada posisi tersebut. Hingga aku iseng untuk mengigit kecil klitorisnya.
“aughhh….. ohhhhh….. aghhuuu….. keluargggg….” Ucapnya tak jelas setelah aku menggigit klitorisnya yang langsung diiringi dengan semburan cairan kewanitaan miliknya tersebut.
Setelah cukup puas, aku pun berniat untuk Kembali mengentot memeknya. Segera aku beranjak dari menindihinya untuk merenggangkan dan mengangkat kakinya. Aku arahkan Kembali kontolku menuju memeknya. Perlahan namun pasti, kontolku mulai mengisi rongga kewanitaannya
“ohhhh….. mmmhhh….” Kata yang keluar dari mulutnya sembari memejamkan matanya ketika kontolku mulai masuk ke dalam memeknya.
Perlahan namun pasti, aku mulai menggenjot memeknya itu.
“ohhhh…. Mmhhhhh…. Terussss…. Lebihhh dalemmm sayangghhhh….”
“akhhhh….. kontolmuhhh… gilaaaa….”
“lebihhh…. Cepeetthhhh…..”
“lebihhh…. Cepeetthhhh…..”
“lebihhh…. Cepeetthhhh…..”
Sejurus kemudian, aku menaikkan tempoku. Bersamaan dengan itu, aku juga Kembali menyosor bibirnya.
“mmphhhhh……” desahannya tertahan karena tersumpal oleh bibirku.
Aku pun tak ingin membiarkan toketnya bergoyang begitu saja. Setelahnya mulutku berpindah menuju toket kirinya, sementara itu toket kanannya menjadi sasaran tangan kananku untuk aku mainkan.
“iseppp…teruss….. sayanggg”
“iyahhh…. Plintiirrrr….”
“ohhhh…. Ampunnnn….”
“genjothh… iyahhh….. ohhhh….”
“sampiii… lagiihhh…..akhhhh….” pekiknya ketika sampai pada orgasme-nya untuk yang keempat.
“bi, sekarang jepit kontolku pake tetemu yah.” Pintaku.
Sejurus kemudian ia pun mengabulkan permintaanku tersebut dan mulai menjepit kontolku dengan tetenya yang besar itu. Nikmati sekali kontolku merasakan jepitan dari toket besar itu.
“ohhh… empuk banget bi tetemu….”
“ahhhh…. Sambil buka mulut trus keluarin lidahnya dong bi….. kepalanya rada di deketin ke tete yahh…..”
Bi Nana pun menuruti permintaanku tanpa ragu. Karena kontolku yang cukup Panjang, kontolku bisa masuk ke dalam mulutnya, meskipun hanya kepalanya saja.
“ohhhh…. Iyaaahhhh….biiii….. jepitanmu enagghhhhh…..”
“sebentar lagihh…. Akuhhhh…. Keluarr……”
Tak berselang lama, aku pun mencapai klimaks dimana kontolku menyemburkan mani-nya yang mana ada yang masuk ke mulutnya dan ada yang mengenai mukanya. Aku pun memintanya untuk menelan maniku yang masuk ke dalam mulutnya tersebut. Awalnya ia ragu untuk melakukannya, tapi pada akhirnya, ia pun mengikuti kemauanku.
Tak ingin berlama-lama berada di rumah orang, aku pun memutuskan untuk pamit, karena pada saat itu kurang lebih sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Kurang lebih aku telah menggaulinya selama 4 jam. Sebuah pengalaman baru tentunya bagi seorang Dito, ditambah lagi dilakukan di tempat dan dengan kondisi yang tidak biasa.
“besok ke warung bibi ya, To. Ada yang pengen bibi certain.” Ucapnya saat mengantarkanku menuju pintu belakang rumahnya.
Aku pun meng-iya-kan permintaannya tersebut dan langsung bergegas pulang untuk istirahat. Badanku terasa capek karena permainan yang berlangsung selama berjam-jam tersebut. Selain itu juga aku tidak dapat mengontrol nafsuku sendiri, meskipun aku sadar bahwa aku bukanlah orang lemah yang gampang keluar, namun permainan tadi dan kejadian sebelumnya benar-benar menguras tenaga dan emosiku.
Aku terbangung ketika matahari sedang terik-teriknya. Hari ini aku memiliki dua janji temu, yaitu bertemu dengan mbak Devi dan bi Nana. Aku pun kebingungan antara harus memilih mbak Devi terlebih dahulu atau bi Nana dulu. Karena kondisi perutku yang juga keroncongan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke warung bi Nana terlebih dahulu, sembari mengisi perut, pikirku.
“bi…” sapaku ketika aku telah sampai di warung bi Nana yang Nampak bi Nana sedang sibuk melayani pembeli karena memang bertepatan dengan jam makan siang.
“eh, bentar ya, To. Lagi banyak antrean ini.” Jawabnya.
Aku pun menunggu bi Nana sembari memakan gorengan yang tersaji untuk sekedar mengganjal perutku yang kosong sedari semalam. Pandanganku tak pernah lepas dari kemolekan tubuh bi Nana tersebut. Aku merasa ada yang berbeda dari bi Nana hari ini. Ia Nampak menggunakan pakaian yang lebih ketat, tidak seperti biasanya yang menggunakan daster gombrong kesukaannya.
Aku berpikir, mungkin kali ini bi Nana lebih percaya diri akan tubuhnya sendiri setelah aku berhasil menaklukannya. Atau mungkin juga hal tersebut caranya untuk memancing nafsuku (pikir kotorku). Cukup lama dan telaten bi Nana melayani pembelinya satu per satu, hingga menyisakan aku sendiri di warung tersebut.
“mau makan apa, To?” tanyanya.
“kek biasa aja bi, telur balado sama kering tempe. Sama jangan lupa es teh nya ya.” Jawabku.
“oh iya bi, semalem katanya mau cerita. Cerita apa bi?” tanyaku setelah aku selesai menghabiskan santapanku dan bi Nana telah selesai beberes.
“hmmm…. Gimana ceritanya ya…” ucapnya.
“udahlah bi, cerita aja. Anggap aja Dito ini adek bibi.”
“adek kok kakaknya dientot.” Ucapnya frontal sembari cemberut yang dibuat-buat.
Pada akhirnya bi Nana memulai ceritanya. Ia bercerita bahwa ia selama ini tidak mendapatkan nafkah batin dari suaminya semenjak suaminya menderita penyakit jantung dan diabetes yang telah di derita kurang lebih lima tahun tersebut.
Dulu mereka sempat mencoba untuk melakukan hubungan badan tersebut, namun kontol dari suaminya tidak mampu berdiri dengan sempurna, hal tersebut tentu saja mengganggu kenikmatan dalam berhubungan badan. Selain itu juga bi Nana merasa tidak puas akan hal tersebut. Hal tersebut tentu saja mengamini apa yang pernah menjadi dugaanku sebelumnya.
Alasannya membuka warung dari pagi-pagi buta hingga hampir tengah malam pun juga merupakan salah satu bentuk upayanya untuk mencoba mengalihkan fokusnya dari ketidakpuasan di ranjangnya tersebut, terlebih lagi dia merupakan salah satu tipe Wanita yang memiliki nafsu cukup tinggi.
Meskipun demikian, ia tidak memiliki pikiran untuk bercerai dengan suaminya tersebut, lantaran mereka telah cukup lama Bersama, dan telah melewati banyak kisah Bersama. Menurutnya itu tidaklah adil jika hanya karena masalah ranjang membuat mereka harus berpisah.
“udah bi, nggak usah ditangisi, kan masih ada Dito disini.” Ucapku mencoba menghibur saat air matanya perlahan mulai menetes.
Selanjutnya, bi Nana menceritakan tentang betapa kagetnya ia saat tiba-tiba tubuhnya ingin diperkosa oleh orang yang tidak dikenal, yang tidak lain dan tidak bukan adalah aku. Ia kaget karena selama berpuluh tahun ia hidup di kampung ini selalu aman dan entah kemalangan apa yang menimpanya hingga ia hendak diperkosa oleh orang.
Ditambah lagi ia sangat terkejut ketika yang dibalik topeng tersebut adalah aku, sosok yang selama ini ia kenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak kenal aneh-aneh. Ia sempat memiliki pemikiran untuk berteriak maupun melaporkanku kepada pak rt, namun urung ia lakukan lantaran ia paham bahwa aku tidaklah memiliki maksud buruk terhadapnya.
Setelah rasa shock-nya tersebut hilang, muncul lah rasa penasaran dalam dirinya terhadapku. Kenapa aku seberani itu hingga hendap memperkosanya. Telah lama ia mendambakan sesosok kontol yang dapat menghujami memeknya tersebut dan kemunculan kontol tersebut ternyata di luar dari pikirannya alias tak terduga. Pada hari kedatanganku berikutnya, ia Kembali terkejut. Karena ia tak menyangka bahwa aku akan seberani dan sengotot itu untuk bisa mendapatkan tubuhnya tersebut.
Pada awalnya muncul keraguan dalam dirinya. Apakah seorang Dito yang notabene memiliki tubuh kurus kerempeng nan tinggi itu dapat memuaskan Hasrat tinggi seks nya yang selama ini telah ia pendam dalam-dalam. Atas dasar tersebut lah yang membuatnya menantangku untuk bisa memberikannya rasa kepuasan. Dan ternyata keraguannya tersebut salah, karena dengan gagahnya aku dapat membuatnya orgasme berulang kali dan memberikannya klimaks yang selama ini tak ia dapatkan.
Kejadian di rumahnya tersebut juga merupakan scenario yang ia rancang sebagai bentuk kekesalan dirinya terhadap suaminya selama ini. Selain itu, juga ia ingin merasakan sensasi yang berbeda dalam berhubungan badan. Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan bahwa ia sangat ingin menikmati kontolku dengan lebih baik, karena saat di warung ia masih terhalang oleh gengsinya.
“bibi selalu kangen sama ini mu to.” Ucapnya sembari mengusap-usap kontolku dari balik celanaku.
“astaga… udah-udah, ini kan lagi di warung.” Lanjutnya setelah menyadari bahwa perbuatannya tersebut bisa saja tiba-tiba dilihat oleh orang yang tak sengaja melintas ataupun ingin membeli makanan.
Benar saja. Tak berselang lama, datanglah seorang pembeli, yang ternyata adalah mbak Devi. Mbak devi pun menyapaku yang saat itu masih berada di warung bi Nana yang lalu memesan makanan.
“tumben mbak beli makanan jadi.” Ucap bi Nana sembari menyiapkan makanan yang dipesan oleh mbak Devi tersebut.
“iya nih, bi. Tiba-tiba suamiku pulang dan aku belum sempat masak. Makanya daripada nunggu aku masak, mending aku beli makanan jadi aja disini.” Ucapnya menjelaskan sembari sesekali melirikku.
“wah… nggak jadi dapet jatah nih hari ini.” Ucapku dalam hati setelah mendengarkan jawaban dari mbak Devi tersebut.
Tak berselang lama, setelah makanan pesanannya selesai disiapkan, mbak Devi pun berpamitan untuk pulang. Aku pun menjadi penasaran dengan persetubuhannya dengan suaminya itu. Sejenak aku berpikir, tidak mungkin jika langsung siang ini mereka melepaskan kerinduan mereka di ranjang, karena pasti suaminya capek setelah perjalanan jauh. Ya, mungkin nanti malam, asumsiku sih seperti itu.
Aku pun melanjutkan obrolanku Bersama dengan bi Nana. Kali ini obrolan kita tidak menjurus pada hubungan ranjang, melainkan lebih ke pada bi Nana menanyaiku perihal keluargaku dan kehidupanku. Terlebih mamaku dulu beberapa kali sempat singgah di rumahku dan sering membeli lauk pauk di warung bi Nana ini, sehingga sedikit banyak mereka telah kenal satu sama lain.
“bisa nih bi nanti malam.” Ucapku sembari meremas bokongnya yang bahenol itu saat ia hendak beranjang dari kursinya dan ingin memasak Kembali masakan yang telah habis stoknya.
“nggak ah to, bibi capek, pengen istirahat. Ini tadi aja bibi kesiangan buka warungnya.” Ucapnya merajuk.
“lagian kan nggak mungkin juga suami bibi, bibi kasih obat tidur tiap malem juga kan.” Imbuhnya.
Aku pun kecewa dengan ucapannya tersebut, namun aku masih berpikir jernih, bahwa yang dikatakan oleh bi Nana tersebut memang benar. Sejurus kemudian aku memutuskan untuk pulang dan melakukan ritual tidur siangku sebelum nanti malam mengeksekusi rencanaku, yaitu mengintip mbak Devi dan suaminya yang (mungkin) akan melepaskan rindu mereka di atas ranjang yang pernah aku nodai itu.
…..
Akhirnya aku terbangun tepat pukul delapan malam. Aku pun mengecek portofolio crypto dan forexku yang selama ini tak ku sentuh lantaran kesibukanku dalam dunia perlendiran. Alangkah terkejutnya aku jika hampir seluruh portofolioku memerah alias rugi, dan beberapa yang ijo pun tak mampu menutupi kerugian yang aku peroleh tersebut. Tak ingin berpusing-pusing ria, akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan segera bergegas menuju rumah mbak Devi.
Aku pun menyusuri jalan kampungku tersebut yang ketika telah memasuki jam 9 malam seperti tak terlihat kehidupan, dan hanya ada sesekali orang lewat menggunakan sepeda motor. Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di rumah mbak Devi karena memang jarak antara rumahku dan rumahnya tidaklah jauh.
Sesampainya disana aku kebingungan mencari spot untuk mengintip, lantaran kondisi rumahnya yang terhitung di pinggir jalan dan rentang dipergoki oleh warga yang sedang meronda jika aku sedang mengintip. Aku pun mimiliki pikiran jika cara teraman untuk mengintip adalah dengan masuk ke dalam rumahnya dan mengintip dari dalam.
Sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya, terlebih dahulu aku pastikan jika kedua pasangan tersebut sudah masuk ke dalam kamar, sehingga aku dengan bebas dapat masuk ke dalam rumahnya. Dan benar saja, ternyata mereka telah masuk ke dalam kamar mereka dan sedang asik bercengkrama.
Aku mencoba untuk masuk ke dalam rumah mbak Devi melalui pintu belakang rumahnya tersebut. Dan lagi-lagi dewi fortuna sedang berpihak kepadaku, yang entah dengan sengaja atau tidak, ternyata pintunya tidak dikunci.
Sejurus kemudian aku telah berada di depan kamar mbak Devi. Dengan bantuan bangku kayu, aku meraih ventilasi yang berada tepat diatas pintu kamar mereka dan Nampak mereka masih asik bercengkrama. Tak perlu aku menunggu lama hingga adegan yang aku nanti-nantikan pun hadir.
Mulai dari permainan bibir dan lidah mereka dengan posisi yang masih sama seperti semula. Sembari melakukan permainan bibir, mereka juga merangsang satu sama lain, yaitu suami mbak Devi meremas-remas duo bukit kembar jumbo milik mbak devi, dan mbak devi mengurut-urut kontol milik suaminya tersebut yang masih sama-sama terbungkus oleh pakaian mereka
“mmmppppp……..” bunyi mulut dan lidah mereka yang saling beradu.
“ohhhh… pahhhhhh.”
Sementara aku masih menyimak permainan mereka berdua, tentunya dengan kondisi dari si otong yang perlaham mulai mengeras. Tak berselang lama ternyata mereka mengakhiri permainan bibir mereka yang lalu suami mbak devi beranjak dari tidurnya dan menuju ke bawah.
Mula-mula ia melucuti pakaiannya yang kemudian diikuti oleh mbak devi. Nampak samar terlihat jika kontol dari suami mbak devi tak sebesar punyaku, dan dari situ muncul rasa sedikit sombong dari dalam diriku. Perlahan ia mengangkangkan kaki mbak devi dan Nampak perlahan mulai mengarahkan kontolnya menuju sarangnya.
“aku masukin sekarang ya maaa.” Ucap suami mbak devi yang selanjutnya hanya dibalas anggukan oleh mbak devi.
“ohhhh….. lebih dalamm…. pahhhh…..” lengkuh mbak devi ketika perlahan namun pasti kontol dari suami mbak devi masuk ke dalam memek-nya. Sementara suami mbak devi hanya diam sembari menikmati penetrasinya.
“iyaahhhh….. mmmppphhhhh….”
Suami mbak devi memulai permainan dengan tempo lambat. Aku berpikir jika ia langsung gaspol, maka saat itu juga ia akan keluar, makanya ia memompa kontolnya dengan perlahan. Sementara itu, tangannya tak tinggal diam, tangannya meremasi duo toket besar dari milik mbak devi tersebut. Perlahan namun pasti, tempo genjotannya mulai meningkat.
“ahhhh….. terusss pahhh…..”
“ohhh….. ahhhhh……”
“memekmu masihhh sempittt jugaa maaaa…” ucap suaminya.
“akhhh…. Aku keluar maaaa….”
Tak berselang lama, kurang lebih 7 menit, ternyata suami mbak devi sudah mengalami orgasmenya, hal tersebut membuat mbak devi kecewa, karena belum merasa puas terhadap permainan suaminya tersebut. Yang tak kalah mengejutkan adalah ketika tiba-tiba suaminya melepaskan kontolnya dari memek mbak devi dan beranjak turun dari kasunya menuju ke arahku.
Secepat kilat aku langsung turun dan merapihkan bangku yang aku gunakan dan lalu bersembunyi di balik sofa. Dan ternyata suami mbak Devi pergi ke kamar mandi untuk mandi, hal tersebut aku ketahui karena, terdengar suara gemericik air tanda suami mbak Devi sedang menggunakan kamar mandi.
Tak berselang lama kemudian ternyata mbak Devi mengikuti suaminya yang keluar kamar. Nampak ia mengenakan daster terusan yang aku prediksi ia tak mengenakan pakaian dalam. Langsung saja aku ikuti mbak devi yang menuju dapur tersebut. Ia ternyata menuju kulkas yang mungkin ingin mengambil minuman dingin. Saat ia menungging hendak mengambil botol air segera aku hujamkan kontolku yang telah aku keluarkan dari sarangnya sebelumnya.
“ssssstttttt…..” bisikku saat kontolku telah separuhnya masuk dan ia menoleh terkejut ke arahku.
Bersambung…
“aku tau kok mbak Devi belom klimaks.” Ucapku berbisik
“iyahhh…. Genjott memekku maassshhh…..” ucapnya dengan lirih
Perlahan aku mulai menggenjot kontolku yang berada di dalam memek mbak Devi. Botol minuman dingin yang tadinya hendak ia ambil kini ia taruh Kembali dan tangannya ia gunakan sebagai tumpuan dengan memegang kulkasnya tersebut.
“ohhh…. Mmmphhhhh….” Mbak Devi berusaha menahan desahannya karena takut terdengar oleh suaminya yang sedang mandi.
“ohhhh….. serreettt mbakk memekmu…” ucapku
“iyahhh…. Terus….”
“aukhhh….” Pekiknya agak keras ketika kontolku aku hujamkan seluruhnya ke dalam memeknya tersebut.
“ma? Mama kenapa?” tanya suami mbak devi dari balik dinding kamar mandi.
“mmmmhh…. Ini pa, kaki mama kesandung…” ucap mbak devi sembari masih aku genjot memeknya.
Tak ingin mengambil resiko, karena sudah tak terdengar gemericik air, maka aku cabut kontolku dari memek mbak devi dan aku Tarik mbak devi menuju ke meja makan di dapur miliknya. Aku bersembunyi di balik meja dan mengobel memeknya, sementara ia duduk diam mematung di dekat meja tersebut seperti ingin menyambut suaminya. Dan ternyata firasatku benar, tak berselang lama tedengar bunyi pintu kamar mandi di buka. Sementara aku masih memainkan memek mbak devi dari bawah meja.
“mama ngapain bengong disitu?” tanya suami mbak devi sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sedang berdiri mematung di dekat meja.
“mmmm…. Ini pa, mama mau bikin mie instant.” Ucap mbak devi mengeles, sementara memeknya masih aku mainkan dari balik daster yang masih ia kenakan.
“oh, yaudah deh, papa tidur dulu ya ma, capek…. Cup….” Ucap suami mbak devi sembari mengecup kening mbak devi dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Aku yang telah mendapatkan lampu hijau karena suami mbak Devi telah beranjak untuk tidur pun segera keluar dari tempat persembunyianku. Dan meminta mbak devi untuk berdiri. Sejurus kemudian aku juga meminta kaki kanan mbak devi untuk berpijak di kursi sehingga aku bisa mengentotnya dari depan.
“ayo masukin masss…. Aku udah nggak tahan….” Ucapnya manja.
“iya mbak, sama.”
Perlahan kontolku aku arahkan ke memeknya. Dan dengan sekali hentakan separuh kontolku berhasil masuk ke dalam sarangnya.
“heghhh…. Pelan mashhh….” Ucapnya
“ohhhh…. Genjott teruss mashhh…. Ahhhhhh…..”
“lebih dalemmm…..”
“ahhhh…. Terusss…. Hisappp pentilkuuhh…..” rintihnya ketika bibirku mulai menjamah toketnya yang kenyal itu.
Tak ingin membiarkannya terus merancau tak karuan yangmana mungkin bisa terdengar oleh suaminya, segera aku lumat bibirnya agar suaranya tidak terdengar. Sementara kontolku masih terus menghujami memeknya tersebut.
“mmmm……”
“akhhh……” desahannya kini tertahan oleh sumpalan bibirku.
Sejurus kemudian bibirku berpindah menuju lehernya. Ia pun tak kuasa untuk membendung orgasmenya.
“oughhhh….. akuu keluargghhh….” Ucapnya, sementara memeknya berkedut mengeluarkan maninya.
Setelah mbak devi mencapai orgasmenya, segera aku cabut kontolku yang masih tegang itu dari memeknya.
“jepit pake tetemu dong mbak, masih tegang nih.” Ucapku
Sejurus kemudian ia mengabulkan permintaanku. Dengan sedikit berjongkok, ia menjempit kontolku. Sementara aku mulai memaju mundurkan kontolku yang kini telah tenggelam batangnya diantara bongkahan toket gedhe milik mbak Devi tersebut.
“empukk mbakk…. Ohhh…..”
“enakkk mbakkk… ahhhhh…..”
Mbak devi pun membuka mulutnya, sehingga kepala kontolku pun yang semula menyodok-nyodok mulutnya kini dapat masuk ke dalam mulutnya.
“iyahhh…. Begituu…..” aku terus merancau merasakan jepitan dari toket besarnya itu.
Tak berselang lama, ia melepas kontolku dari jepitan toketnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kali ini ia yang aktif dengan memaju-mundurkan kepalanya sendiri.
“oughhhh…. Terus mbakkk….”
“akuhhh keluar mbakkk…. Ahhhhh……”
*crottt…crottt….crottt*
Aku menumpahkan seluruh maniku ke dalam mulut mbak devi yang langsung ditelan olehnya. Setelahnya ia tersenyum manis kepadaku.
“udah dulu ya mas, takut suamiku nyariin.” Ucapnya sembari berdiri dan merapihkan daster terusannya itu.
“oh iya, ngomong-ngomong kamu lewat mana, kok bisa masuk?” lanjutnya.
“tuhh…” jawabku sembari menunjuk pintu belakang yang tadi aku gunakan untuk masuk ke dalam rumahnya.
“oh iya astaga, aku tadi lupa ngunci.” Ucapnya sambil menepok jidat.
“tapi dapet enakkan.” Jawabku. Mbak Devi tak menjawab dan hanya mencubit perutku sembari senyum manis.
“dah, yuk aku antar keluar.” Lanjutnya.
“dihhh…. Ngusir nih…” gerutuku.
Aku pun bergegas untuk keluar rumah mbak Devi melalui pintu belakang dengan ditemaninya. Sesaat sebelum aku pulang, aku sempat Kembali memagut bibirnya.
“dah, dah, dah…. Pulang sana.” Ucapnya sembari melepaskan ciumanku ketika tanganku mulai menggerayangi selangkangan dan toketnya.
“gajadi pulang entar kalo diterusin.” Lanjutnya.
Aku pun hanya tersenyum dan bergegas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan Kembali meratapi portofolioku yang memerah. Lama aku berfikir tentang itu, apakah aku harus melepaskan semuanya atau tetap menahannya dengan resiko jika terus menahannya akan mendatangkan malapetaka.
Semalaman aku terus memandangi layar komputerku itu. Dari grafik yang tersaji, Nampak sulit bagiku untuk Kembali mencapai titik untuk atau setidaknya impas, hal tersebut karena grafiknya terus mengalami kemerosotan dari hari ke hari. Aku berupanya untuk melakukan open position Kembali untuk menebus segala yang telah hilang itu, namun apa daya. Aku terlalu mengikuti nafsuku sehingga bukannya menjadi pemecah masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.
……
Beberapa hari kebelakang aku hanya tidur kurang lebih 3 jam, karena terus berkutat dengan portofolioku yang memerah. Tak hanya itu, aku juga hanya makan sekali sehari, itu pun dengan lauk seadanya, seperti sarden dan mie instant. Hingga puncaknya pada hari ini aku tumbang dengan kondisi kepala pusing, berputar-putar dan badan yang lemes.
*tutttt…..tuuuttttttt….tutttt….” bunyi nada sambung ketika aku berusaha menghubungi mamaku.
“halo nak, kenapa?” tanya mamaku dari balik telepon saat telah tersambung.
“Dito sakit, Ma. Badan dito lemes, kepala pusing muter-muter.” Ucapku
“astaga nakk, yaudah… mama segera kesana. Tahan sebentar ya, nak.” Ucap mamaku panik
Satu jam kemudian, mamaku telah sampai di rumah ku dan langsung membawaku ke rumah sakit. Setelah melewati segala pemeriksaan dokter akhirnya aku didiagnosa terserang penyakit tipes yang mengharuskanku melakukan bedrest. Selanjutnya aku digiring menuju ke ruang rawat inap yang terdapat di rumah sakit tersebut.
“Nak, besok tante wulan sampe sini, dan dia bersedia buat jagain kamu. Mama harus nemenin papamu dinas di luar kota soalnya, jadi mama nggak bisa nungguin kamu.” Ucap mamaku.
Aku pun hanya mengangguk lemah, karena memang kondisi badanku yang masih lemas. Aku memang dapat memaklumi jika mamaku ini merupakan orang sibuk. Selain sibuk mengurus toko rotinya, ia juga selalu ikut ketika papaku melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara tadi, mama terlihat sibuk berbincang dengan seseorang yang ternyata adalah tante Wulan. Kedatangannya terpaksa dipercepat lantaran kondisiku yang tengah sakit ini.
Aku Kembali terbangun di pagi hari dengan kondisi badan yang masih bisa dikatakan cukup lemas dengan tangan masih tertancap jarum infus. Sejurus kemudian, aku melihat perawat masuk ke dalam ruanganku yang hanya diisi oleh satu pasien saja, yaitu aku sendiri. Setelahnya perawat tersebut pergi dan mama yang sedari kemarin menungguiku memintaku untuk memakan makanan yang telah disiapkan oleh perawat tadi. Dengan telaten mamaku menyuapiku, namun karena aku tak memiliki nafsu makan yang cukup, setelah tiga suap aku meminta mamaku untuk berhenti menyuapiku.
“Nak, ini tantemu udah hampir sampai, mungkin satu sampai dua jam lagi dia bakal sampai.” Ucap mamaku yang memberitahuku jika tante wulan akan segera sampai.
Setelah ritual sarapan pagi, Kembali aku tertidur pulas lantaran kondisi badanku yang masih terasa lemas. Entah sudah berapa lama aku tertidur hingga aku terbangun oleh suara bising yang aku kenal adalah suara mamaku Bersama dengan suara orang asing yang belum aku kenal. Perlahan aku membuka mataku dan melihat mama sedang duduk di sofa tunggu pasien dan bercengkrama dengan seseorang yang terlihat asing bagiku.
“eh, anak mama udah bangun. Masih ingat dengan tante wulan kan?” ucap mamaku setelah beranjak dari sofa dan datang menghampiriku. Sementara tante wulan juga berjalan mengikuti mamaku dan hanya tersenyum ketika mama berbicara.
Aku Nampak melakukan screening terhadap tante wulan itu. Ternyata, tante wulan yang sudah tak pernah aku lihat beberapa tahun itu kini telah berubah. Perawakannya memang tak berubah, masih seperti dulu, tidak tinggi namun juga tidak pendek, tetapi sekarang terlihat lebih ideal. Namun yang bikin aku tidak menyangka adalah bokong yang tetenya yang terlihat padat berisi. Ditambah lagi ketika itu, ia datang dengan balutan kemeja pink yang dimasukkan ke dalam celana dengan cuttingan ketat berpadu padan dengan celana Panjang yang sukses mencetak bokongnya. Langsung berdiri kontolku dibuatnya.
“kamu mikirin apa sih, To. Kok sampe tipes gini.” Ucap tante wulan
“mbak nitip dito ya, Lan.” Saut mamaku.
“iya, mbak. Mbak tenang aja pokoknya.” Jawab tante Wulan.
Setelah itu, mamaku berpamitan untuk pulang karena ingin mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan yang akan digunakan di luar kota nanti. Mamaku juga berpesan kepadaku untuk menjaga kondisi tubuhku dan mengingatkan tante wulan untuk perhatian kepadaku, tentunya dengan nada bercanda. Aku pun cukup senanga dengan kehadiran tante wulan, karena baru sekali lihat saja sudah membuat kontolku berdiri, hehehe.
Beberapa hari ini aku masih terbaling lemah di rumah sakit dengan dibantu tante Wulan yang dengan setia menungguiku. Tak ada kejadian aneh-aneh antara aku dan tante wulan ketika di rumah sakit, selain karena kondisi tubuhku yang masih terbaring lemah, aku juga takut kalau macam-macam dengannya akan dilaporkan kepada mamaku yang tentunya juga akan sampai pada telinga papaku. Papaku merupakan orang yang tak kenal kompromi terhadap seseorang yang berbuat kesalahan, meskipun itu anaknya sendiri, sehingga aku sangat segan dan menghormati beliau.
Tepat hari ini, dokter telah memperbolehkan ku untuk pulan karena kondisi tubuhku yang telah membaik. Aku pun menyambut gembira kabar dari dokter tersebut, karena rasanya sudah sangat lama sekali kontolku tidak merasakan jepitan meki, dan aku sudah rindu akan hal tersebut.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu dan memesan taxi online, akhirnya aku dan tante Wulan pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan, aku dan tante Wulan banyak mengobrol ngalur ngidul dan bercanda ria, namun aku masih belum berani untuk berbicara seputar seks kepadanya. Hingga tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku.
“keren juga kamu ya, To. Masih muda, tapi udah bisa beli rumah sendiri. Papa mamamu pasti bangga.” Ucap tante wulan saat kami hendak masuk ke dalam rumah.
“ah, nggak juga lah tante. Ini mah belum ada apa-apanya dibandingin sama papa.” Ucapku merendah.
Setelah itu, aku menunjukkan kamar yang akan digunakan oleh tanteku itu, sebagai gambaran, rumahku ini memiliki 3 kamar tidur dengan kamar tidur dengan masing-masing memiliki ukuran 3×3, selain itu juga terdapat kamar mandi yang berada di dapur. Sementara itu, terdapat lahan yang masih cukup luas di depan maupun belakang rumah ini, karena memang ukuran dari rumah ini tidaklah begitu besar.
Setelah mempersilahkan tante Wulan untuk beristirahat, segera aku menuju kamarku untuk Kembali merebahkan badanku, rasanya masih sedikit lemas. Hingga akhirnya tak berasa aku sudah tertidur pulas dan terbangun ketika tanteku membangunkanku untuk makan dan meminum obat. Nampak aku terkejut dengan pemandangan tante yang membangunkanku, karena ia hanya mengenakan tank top dan juga legging yang otomatis mencetak lekukan tubuhnya. Seketika si otong juga langsung berdiri yang untungnya masih tertahan oleh sempakku sehingga tidak begitu menonjol keluar.
Segera aku memakan makanan yang telah disiapkan oleh tante Wulan tersebut. Ditengah sedang menikmati makanan tersebut, ternyata tante wulan melanjutkan aktivitasnya, yaitu melakukan yoga di ruang tengah. Aku pun melihatnya dengan seksama dan menarik kesimpulan bahwa selama ini yang membuatnya berubah adalah ia sering melakukan yoga, sehingga badannya menjadi kencang dan sintal seperti sekarang ini.
“capek, Tan?” tanyaku basa-basi saat tante Wulan melewatiku hendak ke kamar mandi.
“iya nih, mau langsung mandi. Oiya obatnya jangan lupa diminum ya, To.” Ucapnya sambil berlalu.
Setelah itu pun aku juga Kembali ke kamarku untuk beristirahat, jadi interaksi yang terjadi antara aku dengan tante Wulan masih tergolong sedikit. Tetapi meskipun demikian, tante wulan terlihat sangat peduli terhadapku. Aku pun sampai sekarang juga belum mengetahui alasannya mengapa ia sampai lari pergi ke luar pulau. Mungkin terdapat masalah keluarga yang sedang menimpanya, terlebih lagi di sana ia masih tinggal Bersama dengan mertuanya, pikirku.
Hari dimana aku diperbolehkan untuk pulang ini, aku habiskan untuk banyak beristirahat, dan karena kebanyakan istirahat tersebut membuatku bangun cukup cepat pagi hari ini. Aku melihat jam, ternyata hampir jam 4 subuh. Aku pun memiliki pikiran untuk menghampiri bi Nana untuk sekedar melepas pejuh, eh rindu maksudnya.
Sejenak aku melihat kamar tante Wulan yang masih tertutup rapat, itu berarti tante wulan masih belum terbangun, sehingga aku tak terlalu pusing-pusing mencari alasan untuk bisa keluar dari rumah. Dengan Langkah perlahan aku menuju ke warung bi Nana. Kondisi saat itu cukup dingin yang mana mampu menusuk hingga ke tulang. Sesampainya disana, ternyata diluar dugaanku. Warung bi Nana masih tertutup rapat. Aku pun duduk di kursi depan warung bi Nana dengan harapan bi Nana segera datang.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak berselang lama, terlihat Langkah dari sesosok yang aku nantikan, tak lain dan tak bukan adalah bi Nana. Pada mulanya bi nana menyapaku dan menanyaiku tentang beberapa hari ini yang seolah aku menghilang tanpa jejak. Aku pun menjelaskan kondisiku pada saat itu, dimana aku terjangkit penyakit tipes. Bi nana pun menyimak dengan seksama ketika mendengarkan setiap penjelasan yang aku berikan tersebut.
Setelah itu bi Nana berpamitan untuk masuk kedalam warung untuk menyiapkan masakannya. Awalnya aku hanya memperhatikannya membuka pintu, mataku selalu mengarah pada bokong bohaynya dan juga toket montoknya. Setelah ia membuka pintu, aku pun membuntutinya masuk ke dalam warung. Sejurus kemudian aku mengunci warung dari dalam dan segera memeluk bi Nana yang terdiam sejenak ketika mendengar pintu warungnya aku kunci dari dalam.
“kangen, Bi.” Ucapku manja sembari memeluknya dari belakang.
Bi nana pun tak menjawab ucapanku tersebut, namun juga tak berusaha menolak apa yang aku lakukan. Segera aku melancarkan rangsangaku pada area lehernya, mulai dari ciuman di leher hingga jilatan-jilatan manja hingga belakang telinganya aku layangkan.
Sementara itu, bi Nana hanya mendesis pelan dan memejamkan matanya menikmati permainanku tersebut. Tanganku pun tak tinggal diam, mulai aku gerayangi toket montoknya dari balik cardigan dan juga daster terusan yang ia kenakan itu. Sementara tangan kananku mulai menjamah area mekinya yang perlahan mulai basah akibat dari rangsangan yang aku lakukan.
“ahhh….. bibi juga kangen too….” Ucapnya ditengah-tengah rangsanganku.
Sejurus kemudian bi Nana membalikkan badannya dan langsung mencumbu bibirku. Dilumatnya bibirku dan kami saling beradu permainan lidah. Tak lama kemudian, bi Nana melepaskan ciumannya dan langsung berlutut di hadapanku dan dengan sekejap melorotkan celana kolor yang aku kenakan tersebut. Kontolku pun langsung “menodong”-nya, karena memang aku tak mengenakan celana dalam di balik kolorku tersebut.
“rasanya Bibi udah lama nggak melihat kontol ini.” Ucap bi Nana sembari menoel-noel kontolku dan mengocoknya perlahan.
“emut lah bi. Kurang kalo Cuma dikocong doang mah” Pintaku.
Bi Nana pun mengabulkan permintaanku.
“ohhh…. Lidahmuu enakk bii…” ucapku ketika lidah bi Nana mulai bermain pada kepala kontolku yang kemudian berlanjut menuju batangnya.
“ahhhh… terus biii… lebih dalemmmm….” Ucapku ketika bi Nana mulai memasukkan kontolku ke dalam mulutnya tersebut.
Aku benar-benar menikmati permainan oral yang diberikan oleh bi Nana. Merem melek aku dibuatnya. Sudah sekian lama aku tidak merasakan permainan seperti ini karena kondisi tubuhku yang mengharuskan ku untuk beristirahat tersebut. Tak ingin cepat keluar dibuatnya, segera aku menghentikan blowjob tersebut. Segera aku merebahkan tubuh bi Nana di lantai warungnya tersebut dan mengangkat daster terusannya tersebut hingga ke perut dan melorotkan celana dalam warna putih miliknya tersebut hingga terlepas.
“ohhh… teruss too…. Colokkk….” Bi Nana mulai merancau ketika perlahan jari jemariku mulai menari di mekinya tersebut.
Sementara itu, tangan kiriku tak ingin ku biarkan menganggur. Segera aku menyusupkan tangan kiriku masuk ke dalam dasternya dan sedikit melorotkan bra yang ia kenakan dan memainkan toket gede-nya tersebut.
“ahhhh….. ohhhh…. Remasss…. Colookkk…. ahhhhh….” bi Nana merancau semakin menjadi-jadi akibat permainan yang aku berikan. Sementara itu memeknya semakin basah akibat ulahku tersebut.
“ohhhh…. Terussss….. ahhhhh…. Keluarrrghhhh….” Ucapnya tak berselang lama ketika lidah dan mulutku mulai menjalankan aksinya pada mekinya tersebut.
Sejurus kemudian bi Nana menyemburkan cairan kenikmatannya yang langsung melumeri mulutku. Tak ingin berlama-lama segera aku posisikan kontolku untuk melakukan penetrasi ke dalam mekinya tersebut. Bi Nana masih pada posisinya semula yang kemudian dengan perlahan, kepala kontolku mulai menusuk masuk ke dalam mekinya tersebut.
“ahhh…. Pelannn…. Ohhhh…” ucapnya ditengah usahaku memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya tersebut.
“iyaahhh biii… singset bgt memekmuu…” ucapku karena memang memeknya masih tergolong rapet di usianya yang hampir menginjak kepala empat ini.
Perlahan namun pasti, kini kontolku hampir sepenuhnya terbenam pada memek bi Nana. Genjotan demi genjotan mulai aku layangkan. Sementara itu, aku Kembali menaikkan dasternya, yang semula hanya sampai perut, kini aku naikkan lagi hingga terpampang dua bukit kembar milik bi Nana tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, aku juga melorotkan Kembali bra-nya hingga ke perutnya.
“mmmphhhhh….” Suara yang keluar dari mulut bi Nana ketika mulutnya kini tersumpal oleh mulutku karena aku mulai menindih tubuhnya dan menyergap mulutnya. Sementara itu, genjotan demi genjotan masih aku layangkan.
“hisapp… ahhhh…. Lebih cepettthhh….” Ia terus merancau ketika mulutku kali ini telah turun menuju ke tetenya.
Setelah cukup lama dan puas dengan permainanku pada posisi tersebut, kini aku meminta bi nana untuk berbalik badan dan menungging. Ternyata kali ini bi Nana cukup kuat menahan gempuranku, karena sampai saat ini ia belum mencapai orgasemnya yang kedua. Sejurus kemudian, Kembali aku mengarahkan kepala kontolku menuju sarangnya.
“auuuhhh…” pekiknya ketika tamparanku mendarat di pantat seksinya tersebut.
“auhhh….ohh…ohhhh….. ohhh….” Bi Nana Kembali merancau ketika kali ini aku langsung memainkan tempo cepat pada permainanku tersebut.
“terusss… ohhh… ampunnn….”
“iyahhh…..”
Hampir lima belas menit kami bermain pada posisi doggy hingga bi Nana akan mencapai orgasmenya untuk yang kedua kali.
“aku keluar too….. ohhhh….” Erangnya yang langsung dibarengi dengan jepitan memeknya dan semburan cairan kenikmatan miliknya tersebut.
Memeknya semakin menjepit dan berkedut, sementara aku semakin semangat menggenjotnya.
“aku bentar lagi bihh… ahhh…”
Segera aku Tarik kontolku dan aku semburkan seluruh maniku ke atas pantat semoknya tersebut. Sengaja aku melumeri bokongnya itu, karena bisa di bilang aku sangat terobsesi dengan bokongnya itu. Setelahnya, aku pun terduduk lemas akibat orgasmeku tersebut. Aku pun menyadari bahwa staminaku belum sepenuhnya pulih pasca opname dan juga penyakit yang mengharuskan ku untuk bedrest.
“lagi-lagi Cuma kamu, To. Yang bisa bikin bibi puas.” Ucap bi Nana sembari membetulkan Kembali pakaiannya tersebut. Sementara sperma yang tadi aku tumpahkan di pantatnya tidak ia bersihkan dengan dalih ingin ia bersihkan nanti ketika ia mandi. Kemudian bi Nana pun meninggalkanku dan beranjak ke dapur untuk memasak makanannya karena hari akan segera siang. Sementara aku, segera berpamitan untuk Kembali pulang, takutnya tante Wulan khawatir karena aku sudah tidak ada di kamar.
“dari mana kamu to?” ucap tante wulan yang sudah mengenakan stelan tangkop dan legging-nya Bersiap untuk memulai yoga-nya.
“abis jalan-jalan sambil cari udara segar, Tan.” Jawabku sambil mataku focus kepada dua bukit kembar miliknya dan juga bokong seksinya.
Setelahnya, aku beranjak masuk ke dalam kamarku untuk Kembali beristirahat dan mengisi energiku yang telah habis terkuras setelah “berolahraga pagi” Bersama bi Nana tadi. Hingga tanpa aku sadari, aku terlelap dalam tidurku. Tanpa aku sadari, aku tidur cukup lama, dan terbangun ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala. Segera aku memakan masakan dari tante wulan dan meminum obat, sementara itu, aku melihat tante wulan sedang berada di ruang tengah dan sedang menonton FTV.
“tante keluar sebentar ya, To. Mau main ke tetangga sebelah. Ada anak kecil lucu ternyata, siapa tau tante cepet nyusul punya anak lucu juga.” Ucap tante Wulan berpamitan kepadaku dengan antusiasnya.
Sementara aku yang sedang berada di depan komputerku hanya menganggung, yang sejurus kemudian aku terpikirkan oleh omongan dari tante wulan tersebut.
Bersambung…
Aku masih memikirkan kata-kata tante wulan sebelum ia beranjak pergi. Apakah anak kecil lucu yang dimaksud tante adalah anak dari mbak devi? Karena setauku yang sedang memiliki anak kecil dan merupakan tetangga terdekatku adalah mbak Devi. Pertanyaan lain juga muncul di benakku, apakah pelarian tante wulan ke rumahku ini juga ada kaitannya dengan dia yang sampai saat ini belum diberi momongan, padahal usia perkawinannya sudah cukup lama?
Tak ingin berlama-lama larut dalam pertanyaan yang muncul di otakku, segera aku mengalihkan fokusku untuk Kembali membuka portofolioku yang semenjak aku masuk rawat inap tak lagi tersentuh. Bukannya membuat pikiranku lepas, justru malah membuat otakku semakin ruwet. Bagaimana tidak, kali ini portofolioku semakin parah memerah dan aku diambang kebangkrutan. Ditambah lagi, karena manajemen keuangan dan psikologisku juga amburadul karena terhasut oleh nafsu belaka membuat cadangan uangku semakin menipis.
Kembali aku matikan komputerku lalu aku pun membakar sebatang rokokku yang udah beberapa hari tak tersentuh. Aku berharap, masalah yang sedang melanda ini menguap Bersama dengan asap yang aku semburkan, namun nyatanya hingga aku menghisab habis sebatang rokok itu, masalah tersebut tidak berhasil lari dari pikiranku.
Tak terasa, sore pun tiba ketika aku mendengar alunan music yang dimainkan lewat spiker yang aku kenal milik tante wulan, itu menandakan bahwa ia sedang melakukan yoga. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menikmati anugerah Tuhan, segera aku beranjak keluar kamar untuk melihat kegiatan yang dilakukan tante Wulan tersebut.
Aku tak lagi terkejut ketika tante wulan mengenakan pakaian ketat yang sukses mencetak body-nya itu. Dan lagi-lagi batangku keras dibuatnya. Aku menyaksikan dengan seksama setiap Gerakan yang dilakukan oleh tante Wulan. Aku juga membayangkan bagaimana jika aku dapat bersetubuh dengannya, ohhhh…. Pasti rasanya sangat nikmatt…. Karena aku yakin memeknya pasti seret dan menjepit ketika aku sodok menggunakan kontolku ini.
“gimana kondisimu sekarang, To?” ucap tante wulan sembari membuka kulkas dan mengambil minuman dingin yang membuyarkan lamuanku.
“eh…. Udah gapapa kok, Tan.”
Aku semakin terpesona ketika melihat tante wulan basah oleh keringatnya. Buliran-buliran keringat yang mengalir tersebut seolah menambah keseksiannya yang semakin terpancar. Batangku pun semakin menegang dibuatnya. Ditambah lagi ketika ia beranjak pergi melewatiku menuju ke ruang tengah, ohh… betapa indahnya bokong bergoyang yang tercetak sempurna oleh balutan legging-nya tersebut.
Segera aku beranjak dari tempatku duduk menuju ke kamarku. Setelah mengunci kamar, aku pun meloloskan celanaku sehingga batangku dapat berdiri dengan gagah dan leluasa. Segera aku merebahkan diri dan ber-fantasy membayangkan bersetubuh dengan tante Wulan. Aku pun mengocok kontolku sembari ber-fantasy ria. Namun aku tak menemukan kenikmatan jika hanya bisa membayangkan tubuhnya tersebut, aku butuh sosok yang nyata. Namun, lagi-lagi hubungan sedarah dan kedekatannya dengan keluargaku menjadi penghambat nafsuku, aku masih belum berani bertindak lebih jauh lagi.
“mbak kangen, To.” Bunyi pesan dari mbak Devi yang membuyarkan fantsy-ku
“kebetulan banget ini mah, nafsuku bisa disalurin ke mbak Devi.” Ucapku dalam hati.
“sama mbak, tapi kan suami mbak ada di rumah.” Jawabku.
“tenang aja, dia udah balik kerja lagi kok.” Jawabnya beberapa saat kemudian.
“tunggu aku nanti malam mbak.” Jawabku dengan antusias.
Entah keberuntungan apa yang selalu menaungiku dalam hal per-ngentot-an duniawi ini, seakan selalu ada saja jalan untuk aku bisa melampiaskan Hasrat nafsuku. Seakan semesta selalu berpihak kepadaku ketika kontolku ini mulai rindu akan belaian seseorang. Jalan pun selalu terbuka lebar untukku ketika ingin menikmati tubuh seseorang. Sungguh beruntungnya aku.
Malam harinya, aku tak langsung terburu-buru menuju rumah mbak Devi. Aku memastikan terlebih dahulu bahwa tante Wulan sudah tertidur agar aku tak perlu susah payah mencari alasan. Sejenak aku mengendap-endap memastikan bahwa tante wulan sudah masuk ke dalam kamarnya dan dengan perlahan aku membuka pintu kamarnya, ternyata ia sudah tertidur. Tanpa ingin membuang waktu, aku bergegas menuju rumah mbak Devi.
*tok…tok…tok…* aku mengetuk pintu belakang rumah mbak Devi yang tak lama kemudian langsung dibukakan olehnya.
“kangen banget aku mbakk….” Ucapku sembari memeluknya dari belakang ketika ia mengunci Kembali pintu belakang rumahnya tersebut.
“hmmm…. Ahh…. Gak bisa sabaran dikit apa…” ucapnya menahan rangsanganku ketika tanganku mulai meremasi buah dadanya yang montok dan tangaku yang satunya lagi telah mendarat di memeknya.
*crrppp…* bunyi bibir kami yang beradu ketika mbak Devi telah membalikkan badannya dan langsung melumat bibirku.
“lanjut di kamar yuk.” Ajaknya.
Kami pun lalu menuju ke kamar mbak Devi dan Nampak anaknya sudah terlelap dalam tidurnya, sementara itu mamanya siap untuk aku tunggangi. Kami pun melepas satu per satu pakaian yang kami kenakan hingga kami telanjang bulat. Kontolku yang tadi sempet berdiri dan layu sejenak, kini telah Kembali bangkit dengan gagahnya menunjuk-nunjuk untuk segera diberi pelayanan prima.
*crppp….* Kembali bibir kami saling beradu ketika aku menindih tubuh mbak Devi yang telah berbaring diatas ranjangnya tersebut. Tak berselang lama setelah bibir dan lidah kami saling beradu, aku pun turun ke bawah untuk menikmati toket montok miliknya yang sayang jika disia-siakan.
“mmpphhhh…. Hisap teruss too…. Ahhh…..”
“aku udah kangen bangettthh….”
Mbak Devi terus merancau ketika aku menghisap putting kanannya dan memainkan serta meremas-remas dengan gemas toket kirinya. Sesekali aku menggigit putting miliknya tersebut yang membuatnya terpekik kenikmatan. Setelah bergantian melumat toket kanan dan kirinya, kini mulutku berpindah menuju pusarnya. Aku mainkan pusarnya menggunakan lidahku. Namun itu hanya berjalan sebentar, karena target utamaku adalah memeknya yang sudah mulai basah.
“ohhh… ampunnn…. Ahhhh….” Suara yang keluar dari mulutnya ketika bibirku kini telah sampai pada labia mayora miliknya. Bibirku juga mulai bermain pada labia minora miliknya dengan cara menggigit-gigit kecil dan sukses membuatnya menggelinjang.
“keluarr too…. Ahhhhh……” ia terpekik nikmat setelah beberapa saat bibirku bermain pada klitorisnya dan sejurus kemudian cairan kenikmatan banjir melalui memek miliknya.
“ini yang bikin mbak kangen dari kamu, To.” Ucap mbak Devi ketika aku menyudahi permainanku setelah orgasme-nya.
“sama ini nggak kangen, Mbak?” ucapku sembari menggesek-gesekkan kontolku pada area memeknya.
“ohhh… iyaaa…. Iyaaa… jangan siksa aku seperti ituuu…. Masukkkinnn….” Ucapnya tak bisa menahan gejolak nafsunya.
Sejurus kemudian, aku mulai melakukan penetrasi secara perlahan. Dengan kondisi memeknya yang udah basah membuat kontolku begitu leluasa keluar masuk dari memeknya. Seperti biasa aku memulainya dengan tempo lambat sambil mengatur nafas. Kemudian aku menindih tubuhnya agar bibirku dapat menikmati toket miliknya. Sementara itu, genjotan demi genjotan masih terus aku layangkan untuk memompa memeknya.
“aduhhhh… ahhhhh…..”
“iyaaahhhh… genjottt…. Ahhhh….”
“mmmppphhh…..”
Aku pun menyumpal mulut mbak Devi dengan mulutku yang kemudian dengan sekali sodokan cukup kencang membuat kontolku amblas sepenuhnya ke dalam memeknya hingga terasa menyodok Rahim miliknya. Aksiku tersebut membuatnya sedikit tersentak, namun setelahnya ia Kembali merancau menikmati permainan.
“iyaa… iya….. iya…..” kata yang keluar dari mulutnya beriringan dengan setiap sodokan yang aku lancarkan.
“ohhhh… cepetin lagiii…. Akkuuu mau keluarrrr……” ucapnya.
Segera aku turuti permintaannya dan aku percepat genjotanku. Sementara itu, bunyi ranjang berdecit dan selangkangan yang saling beradu mengiringi persetubuhan kami. Mbak Devi pun tak henti-hentinya terus merancau kenikmatan. Aku yang sedari tadi menggenjotnya pun telah bercucuran keringat yang dengan perlahan menetes dan mengalir menjalari tubuh.
“iyaahhhh… sampaiii….. aku keluarrgghhhh…..” ucapnya sembari Kembali menyemburkan cairan kenikmatan.
Sementara itu, lagi-lagi kontolku merasakan jepitan dari memeknya sesaat setelah orgasmenya tersebut. Pikiranku Kembali melayang mengingat tante Wulan. Jepitan dari memeknya mbak Devi yang nggak pernah berolahraga aja nikmatnya seperti ini, gimana jepitan dari Tante Wulan yang tiap hari yoga yak? Pertanyaan kotor yang melintas di pikiranku. Setelahnya, kontolku yang masih tegak berdiri pun aku keluarkan dari memeknya.
Aku Kembali menindih mbak devi, namun kali ini aku mengacungkan kontolku tepat dihadapannya yang masih terbaring. Nampaknya mbak Devi telah mengerti maksudku dan langsung memberikan gestur merapatkan toketnya. Sementara aku mengarahkan kontolku di sela-sela dari toketnya tersebut. Mulai aku memompa kontolku di sela-sela toketnya tersebut dan mbak Devi pun membuka mulutnya dan sedikit membungkukkan kepalanya untuk menyambut kontolku itu.
“ohhh… empuk banget mbakkkk….”
“ahhh…”
Aku terus melayangkan genjotan demi genjotan dengan posisi kontolku yang dijepit oleh toketnya tersebut. Sementara mbak Devi asik dengan mulutnya yang menyambut kepala kontolku menyembul dari balik celah toket miliknya tersebut. Tak ingin berlama-lama dan ingin segera mencapai klimaks, aku pun menyudahi permainan tersebut dan meminta mbak Devi untuk menungging.
*plokk… plokkk…. Plokkk…* suara pertemuan antara bokongnya dan selangkanganku Kembali menggema mengisi ruangan.
“ohhh…. Genjottt terussss….. ahhhh…..”
“kencengin toooo….. mmmmppphhh….” Setelah berucap, mbak Devi membenamkan kepalanya di bantal seolah sangat-sangat menikmati permainanku tersebut.
Aku terus menggenjot dan menikmati setiap genjotan yang aku layangkan tersebut. Posisi ini merupakan posisi favoritku dan seringkali aku mencapai orgasmeku pada posisi ini, sehingga setiap kali memiliki kesempatan, aku selalu meminta untuk bermain dengan posisi doggy. Memek mbak devi semakin becek akibat ulahku. Dengan jahilnya, aku juga memainkan jariku pada area anusnya yang karena ia menungging menjadi merekah.
“ohhh…. Akhhh… kamuu ngapainn….” Ucapnya ketika jemariku bermain-main pada area anusnya.
“terussinnn… enakkkhhhh….”
“ampunnnn…..”
“keluarghhhh….”
“barenggg mbakkk….”
Tak berselang lama, kami pun sama-sama menumpahkan cairan kenikmatan kami dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku pun kemudian mencabut kontolku dari mekinya, kemudian cairan kenikmatan dari kami berdua yang telah bercampur padu perlahan meleleh dari dalam memek mbak Devi. Setelahnya aku merebahkan diri di samping mbak Devi dengan kondisi kontolku yang masih setengah tegang.
“kamu apain tadi boolku?” tanya mbak Devi sembari memiringkan badannya dan menatapku dengan manja.
“tapi enak kan?” ucapku berbalik tanya.
“dasar nakal.” Jawabnya sembari menyentil kontolku.
Setelah cukup mengistirahatkan diri, aku pun bergegas mengenakan pakaianku Kembali dan berpamitan kepada mbak Devi untuk pulang. Selain takut tante Wulan yang tiba-tiba terbangun, aku juga khawatir bakal dipergoki tetangga karena waktu menunjukkan sudah hampir pagi. Mbak Devi pun seperti biasa, mengantarkanku hingga pintu belakang rumahnya.
“kayaknya sebentar lagi, salah satu fantasy mu bakal terwujud.” Ucap mbak Devi setelah aku melewati pintu belakang rumahnya.
“maksdunya mbak?” tanyaku kebingungan akibat ucapannya tersebut.
“nanti kamu juga tau sendiri.” Ucapnya sembari melemparkan senyum manisnya.
“udah sana pulang.” Lanjutnya.
Aku pun melangkahkan kaki menuju rumah dengan rasa penasaran akan ucapan dari mbak Devi tadi. Apakah ia dapat membaca isi pikiranku? Apakah fantasy yang dimaksudnya adalah tante Wulan? Atau malah anusnya? Ia pengen merasakan kontolku menjejali anusnya? Entahlah.
Hari ini, aku terbangun ketika matahari sedang panas-panasnya. Aku memiliki janji temu dengan dosenku untuk membahas skripsiku yang selama beberapa waktu ini terbengkalai. Selain itu, aku merasa bahwa badanku sudah sangat mendingan daripada beberapa hari yang lalu. Tepat pukul dua belas siang, aku telah Bersiap untuk menuju ke kampus.
“tan, aku ke kampus dulu ya… mau bimbingan skripsi.” Ucapku kepada tante wulan yang saat itu sedang menikmati acara tv favoritnya.
“oh, iya. Gitu dong, skripsinya diselesaiin.” Jawabnya.
Aku hanya melemper senyuman sebagai bentuk respon atas jawab tante Wulan tersebut. Setelahnya, aku bergegas mengeluarkan motorku dari garasi dan beranjak pergi menuju kampus. Sesampainya di kampus, aku langsung menemui dosenku dan tidak banyak yang bisa aku ceritakan pada pertemuanku dengan dosenku tersebut. Selain karena dosennya merupakan seorang bapak-bapak, juga topik bahasan kami terlalu memusingkan kepala untuk diceritakan.
Setelah urusanku rampung, segera aku Kembali ke rumah. Aku memang tidak memiliki banyak teman di kampusku atau bahkan di dalam kehidupanku itu sendiri, mungkin temanku bisa dihitung dengan jari. Itulah yang membuatku gila dengan dunia internet, hingga aku bisa menghasilkan pundi-pundi uang dari internet itu sendiri, setelah aku belajar mengenai crypto currency dan trading forex.
Sebelum kejadian baru-baru ini, hidupku bisa dibilang abu-abu alias tanpa warna. Untungnya dengan pengalamanku membaca dan belajar dari dunia maya membuat diriku sedikit berubah, meskipun terdapat sedikit penyimpangan, yaitu aku lebih tertarik pada lawan jenis yang usianya lebih tua dari diriku. Namun aku tetap bersyukur, karena mereka lah hidupku menjadi penuh lendir kenikmatan.
Sesampainya di rumah, kudapatai tante Wulan telah berpakaian rapih dengan atasan putih yang lumayan ketat di balut dengan cardigan milinya, sementara bawahan ia mengenakan celana kulot, yang meskipun lebar di area betis dan pahanya, namun masih mencetak bokong indahnya dengan sempurna. Aku tak mengetahui motifnya mengenakan pakaian rapih seperti itu sembari menonton tv.
“ajak tante jalan-jalan dong, To. Tante bosen nih di rumah terus.” Ucap tante Wulan ketika menyambutku pulang.
“ayok deh, Tan. Mau kemana emang?”
“kemana aja deh, yang penting keluar.” Jawabnya
“kalo Cuma mau keluar mah, di sini juga aku bisa bikin tante Wulan keluar.” Ucapku yang hanya berani aku lontarkan dalam hati.
Aku pun meng-iya-kan permintaan tante wulan untuk mengajaknya jalan-jalan, meskipun aku sendiri tidak tau harus kemana. Aku sangat jarang sekali keluar rumah untuk nongkrong atau bermain dengan teman-temanku. Sembari menelusuri jalanan kampungku tersebut, terbesit dibenakku untuk mengajak tante wulan ke danau kecil yang letaknya tak jauh dari sini. Mungkin suasana yang asri dan teduh akan membuat kami rileks disana, pikirku.
Setelah keluar dari area perkampunganku, kini pegangan tante wulan makin erat dan menempel. Aksi tersebut tentu menimbulkan reaksi pada area bawahku. Otongku memberontak, akibat dari sentuhan benda kenyal yang menempel pada punggungku tersebut. Aku sangat menikmati perjalanan tersebut dan ingin rasanya, sepeda motorku aku belokkan ke hotel lalu aku garap tubuh tante wulan itu.
“enggak berasa ya, To. Kamu udah gede aja. Sekarang bisa dipeluk lagi.” Ucapnya sembari mengencangkan pelukannya kepadaku yang membuyarkan lamuanku.
“Namanya juga umur, Tan. Semakin berjalannya waktu kan kita akan tumbuh dan saling menua.” Jawabku.
“tapi yang tumbuh gede bukan Cuma badanku kok, Tan. Kontolku juga ini asal tante tau.” Lagi-lagi aku hanya berbicara dari dalam hati.
“iya juga sih, To. Eh kita kesini nih?” pertanyaan retorika keluar dari tante Wulan ketika kami memasuki area danau tersebut.
Setelah beberapa saat berkendara, kini kami telah sampai di tujuan kami. Aku pun memarkirkan kendaraanku dan mencari area tempat duduk yang telah disediakan. Kondisi di tempat ini cukup sepi, karena dapat dikatakan cuaca saat ini cukup panas dan belum waktunya orang-orang Kembali dari rutinitas mereka masing-masing. Hal tersebut membuat kami leluasa untuk memilih tempat duduk dan kami memutuskan untuk duduk di bangku yang letaknya tepat di bawah pohon rindang.
“kamu sering ke sini, To?” tanya tante wulan membuka obrolan setelah kami duduk.
“enggak kok, Tan.”
“kok tau tempat ini?” ia bertanya Kembali.
“ini mah tempat umum yang hampir semua orang sini tau, Tan.” Jawabku santai.
Suasana Kembali hening diantara kami berdua. Sedikit aku melirik ke tante Wulan pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong dan tangan dilipat di dada bidangnya itu. Aku melihat seperti ada sesuatu yang berat sehingga mengganggu pikirannya, namun aku tak berani untuk menanyakannya karena takut dikira lancang.
Mungkin banyak dari kalian yang berpikir, kenapa aku tak langsung mengeksekusi tante wulan, seperti aku mengeksekusi bi Nana. Pertanyaan tersebut tentu saja gampang aku jawab. Ketika aku mengeksekusi bi Nana tentu saja tidak ada pertimbangan lain selain dari sisi keluargaku.
Apes-apesnya aku akan disidang oleh perangkat desa dan orang tua ku mungkin tak akan pernah tau karena mereka tidak satu rumah denganku dan aku telah dinyatakan dewasa. Sementara kasusku dengan tante wulan berbeda, ketika aku berbuat nekat dan tante wulan keberatan, tentu imbasnya di keluarga besarku, terlebih lagi papaku yang bisa dikatakan tak akan segan untuk menghukumku. Selain itu juga aku sangat menghormati tante Wulan sebagai bagian dari keluarga dan kami masih terikat darah.
“kamu lihat orang yang sedang menjala burung itu?” tanya tante wulan memecah keheningan diantara kami.
“liat, Tan. Emangnya kenapa?” tanyaku Kembali.
“kamu tau nggak, dalam setiap perlombaan kicau burung, pemenang hanya akan ada satu. Lalu bagaimana Nasib burung yang kalah? mungkin beruntung jika pemilik burung tersebut bukanlah orang yang mudah menyerah dan hanya akan menyalahkan keadaan tanpa Tindakan. Tapi jika pemiliknya adalah orang yang kejam, maka burung tersebut akan dipaksa mati-matian agar pada perlombaan berikutnya menang, tanpa tau bagaimana perasaan burung tersebut.” ucap tante Wulan.
Aku mencoba mencerna ucapan dari tante Wulan yang terdengar lugas dan serius tersebut. Nampaknya ini hanya gambaran, alias bukan makna sebenarnya.
“Bahkan, tanpa mereka tau, seringkali burung tersebut juga merasa stress karena terus menerus dipaksa berkicau, sementara ia enggan dan selama hidupnya pun ia hanya dikurung.” Lanjutnya.
“lantas bagaimana jika manusia yang berada di posisi itu? Manusia yang sebenarnya tidak bersalah, namun harus menanggung apa yang sebenarnya tidak ia perbuat.” ucapnya memalingkan pandangan ke arah ku setelah sebelumnya ia menatap lurus ke depan.
“ma… maksud tante?” tanya ku bego.
“mertua tante… mereka selama ini yang menuduh tante mandul, selalu… selalu tante yang menjadi kambing hitam. Tapi mereka tak pernah mau tau bahwa sebenarnya laki-laki juga bisa mandul dan mereka juga tak mau tau bahwa sperma dari anaknya itu sangat sulit untuk membuahi. Semua…. Semuanya lalu dilimpahkan ke tante, seolah biang masalah karena tak selama pernikahan kami tak punya momongan itu adalah tante, To.” Ucap Tante Wulan yang kali ini dengan mata berkaca-kaca setelah luapan emosinya keluar.
“tak kurang-kurangnya tante dan om mu itu berusaha dan berdoa setiap hari agar mendapatkan momongan, namun nyatanya sampai saat ini tak kunjung membuahkan hasil. Kurang sabar bagaimana aku? Bertahan di tengah keluarga yang sampai sekarang tak mempercayaiku.” Tangis tante wulan pun pecah.
Aku yang sedari tadi hanya bengong melongo mendengarkan segala luapan emosi dari tante wulan, kini mendekatkan tubuhku padanya yang lalu memberikan pelukan hangat untuknya. Sementara tante wulan pun menyambut pelukanku tersebut, namun mukanya dibenamkan di dadaku. Aku pun memberanikan diri untuk mengusap rambutnya, sementara tante Wulan masih tenggelam dalam tangisnya.
“udah, tante tenang ya. Ada Dito disini, selama tante disini, dito janji, dito akan berusaha buat tante lupa sama masalah tante.” Ucapan bodoh dari anak ingusan terlontar dengan sendirinya dari mulutku. Hal tersebut karena aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa, sementara di pelukanku kini ada seorang istri orang dengan permasalah peliknya.
“tante pokonya bebas nginep di rumah Dito, mau sampai kapan terserah, yang penting tante tenang dan bisa lepas dari masalah itu.” Lanjutku lagi dan lagi-lagi keluar secara spontan.
“makasih ya, To. Kamu memang anak yang baik.” Ucap tante Wulan setelah melepaskan pelukanku sembari menatapku dengan mata sendu berlinang air mata.
“udah ya tante, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang loh.” Ucapku sembari menyeka air mata dari pipinya.
“oh udah berani gombal ya sama tante sendiri, tante laporin mama kamu ya.” Ucapnya yang kali ini dengan riang sembari berpura-pura ingin mengeluarkan hp dari dalam tas selempang kecil miliknya.
Setelah itu, kami hanya mengobrol ringan dan saling bercanda sembari menikmati hawa dan suasana di dekat danau tersebut yang ternyata semakin sore semakin rame. Sementara itu, kami memutuskan untuk pulang sebelum masuk waktu senja. Setelah keluar dari area danau tersebut, kami mencari rumah makan untuk mengisi perut kami yang sedari siang belum kemasukan makanan.
Sore itu, kami habiskan layaknya sepasang kekasih yang sedang menjelajahi waktu Bersama. Setelah puas dan kenyang, kami pun bergegas untuk pulang. Dari apa yang telah aku lewati sore ini, ternyata dugaanku benar, bahwa tante Wulan memang sengaja pergi dari rumah suaminya karena sudah tak tahan dengan perlakuan mereka, terkait dengan momongan….
“tan, aku besok boleh ikut yoga sama tante nggak?” tanyaku sesampainya kami di rumah.
“boleh lah, tumben mau ikut tante yoga.”
“kayaknya badanku butuh olahraga deh tan, soalnya kan kemaren kebanyakan nggak gerak pas sakit.” Jawabku.
“bagus lah kalo kamu sadar gimana pentingnya olahraga.” Jawab tante Wulan sembari melemparkan senyum.
Bersambung…
Entah apa yang ada di pikiranku ketika berani mengajak tante wulan untuk yoga bareng. Memang selama ini aku selalu mengaguminya dari jauh ketika melihatnya yoga, terlebih lagi aku bisa menikmati keindahan dari setiap lekuk tubuhnya ketika ia mengenakan pakaian yoga-nya yang sangat menggairahkan tersebut. Untung saja ia tak menolak ajakan ku tersebut, sehingga aku bisa mencuri-curi pandang ketika berolahraga bersamanya nanti.
Sepulang dari jalan-jalan Bersama tante Wulan, aku langsung beristirahat di kamar, begitu pun juga dengan tante Wulan, karena aku tak mendengar bunyi dari televisi yang berada di ruang tengah. Mungkin tante Wulan kecapekan karena aktivitas yang telah kami lakukan tadi, terlebih lagi emosinya sangat terkuras ketika membicarakan mengenai masalah yang sedang ia alami dengan keluarga suaminya itu.
Malam ini aku tertidur lebih awal, karena kepadatan aktivitas yang aku lakukan pada hari ini, dari mulai bertemu dengan dosen pembimbing skripsi, hingga hangout Bersama dengan tante Wulan. Rasa kantuk langsung menyerangku ketika aku sampai di rumah dan bersih-bersih diri. Bayang-bayang akan tubuh tante Wulan benar-benar menghantui menjelang tidurku. Rasanya ingin sekali aku menyusul ke kamar tante Wulan dan tidur bersamanya, tentunya setelah melakukan kegiatan seperti yang telah aku bayangkan, hehehe…
“weits, anak muda udah bangun aja nih.” Ucap tante Wulan yang datang dari belakang rumah ketika aku ingin menyantap sarapan yang telah tersaji di meja makan.
“iya nih, Tan. Semalem tidur cepet, kecapekan soalnya.” Jawabku.
“ya ampun, masih muda kok Cuma gitu doang capek.” Ucap tante Wulan.
“ayok olahraga habis ini.” Lanjutnya.
Setelah itu, tante Wulan bergegas menuju kamarnya. Mungkin ia ingin berganti pakaian mengenakan setelan yang selama ini selalu menjadi pakaiannya ketika melakukan yoga. Sementara aku masih terduduk di depan meja makan untuk menyelesaikan ritual sarapan pagi yang sangat jarang aku lakukan itu.
Setelah menyelesaikan sarapan pagiku aku hendak menuju ke teras rumah sebelum tante Wulan menegurku.
“hee… mau kemana, ayo… katanya ngajak olahraga bareng.” Ucap tante Wulan yang telah berganti pakaian menjadi setelan tanktop dan legging yang sangat menggairahkan itu.
“ngerokok dulu lah tan. Habis makan nggak enak rasanya kalo belum ngerokok.” Jawabku.
“nggak ada, nggak ada ngerokok-ngerokokan. Ayo sini.” Ucapnya.
Aku pun menuuruti permintaan tante Wulan dan menghampiri dirinya. Rasanya benar-benar gemas melihat tubuh tante Wulan yang aduhai itu dari dekat. Ingin rasanya segera aku remas itu toket dan pantatnya yang nyeplak, hingga tanpa aku sadari, kontolku mengeras dibuatnya. Untung saja saat itu aku mengenakan sempak, sehingga sedikit menyamarkan tonjolan dari balik celanaku itu.
Tante wulan mulai menggelar matras miliknya, sementara aku menggunakan karpet yang berada di ruang tengah milikku. Hal tersebut karena tante Wulan hanya memiliki satu matras saja, sehingga aku menggunakan karpet tersebut untuk di jadikan sebagai alas. Tante wulan memulai dengan Gerakan-gerakan yang cukup simple dan sederhan. Mungkin bisa dikatakan Gerakan-gerakan tersebut mirip stretching ketika kita hendak berolahraga.
Sepengetahuanku memang Gerakan-gerakan yoga sangat mirip dengan stretching, namun lebih variative. Hingga tiba waktunya tante wulan merubah posisi seperti posisi doggy. Hal tersebut membuat batangku menjadi sangat tegang, aku tak lagi focus pada Gerakan-gerakan yang diajarkan oleh tante Wulan, melainkan lebih focus untuk dapat menikmati keindahan tubuhnya dari dekat.
Beberapa saat kemudian, tante Wulan membimbingku untuk Gerakan-gerakan yang dirasa butuh arahan darinya. Fokusku Kembali amburadul ketika ada bukit kembar yang menggesek-gesek bagian tubuhku. Selain itu juga terdapat Gerakan seperti sikap kayang, dan Gerakan tersebut dilakukan ketika batangku sedang tegang-tegangnya, sehingga mau tidak mau kontolku tercetak dari celana yang aku pakai. Aku yakin, pasti tante Wulan menyadarinya, namun entah karena malu atau sungkan atau tak percaya dengan ukuranku, ia memilih untuk diam dan tetap focus pada tujuan utamanya, yaitu mengajariku.
“udahan lah, Tan. Capek nih.” Ucapku.
“ya ampun, To. Baru segini aja udah capek.”
“ya gimana, Tan. Namanya juga udah lama nggak olahraga.” Jawabku.
Akhirnya kami beristirahat setelah lebih dari satu jam kami melakukan aktivitas yoga tersebut. Setelah itu, aku bergegas ke dapur untuk minum air putih dan tak lupa juga membawakan air minum untuk tante Wulan. Aku melihat tante Wulan sudah mandi keringat, begitu pula dengan diriku. Rasa sangeku bener-bener meningkat ketika melihatnya bermandikan keringat, seperti menambah aura kecantikan yang terpancar dari dalam tubuhnya, terlebih lagi tanktop dan legging yang ia kenakan juga cukup basah oleh keringat.
“gimana, masih mau olahraga bareng tante kan?” tanya tante wulang setelah meneguk habis air putih yang aku bawakan.
“masih lah, apalagi instrukturnya cantik nan seksi.” Ucapku semangat.
“gombalnya mulai lagi ya. Dah ah, tante mau mandi dulu.”
Setelah tante Wulan beranjak pergi, aku pun bergegas keluar rumah untuk menuntaskan hasratku untuk merokok yang sempat tertunda. Di tengah-tengah aktivitasku yang merilekskan tersebut, bayang-bayang akan tubuh seksi tante Wulan masih menghantuiku. Ini seperti Hasrat yang ingin segera aku salurkan kepadanya, tapi kapan dan bagaimana?
“Tante mau ke rumah mbak Devi dulu ya, To.” Ucap tante Wulan ketika melihatku masih di beranda rumah.
“mau ngapain, Tan?” tanyaku.
“biasalah.” Jawabnya enteng.
Pikiranku Kembali melayang mengingat tentang bagaimana tuntutan dari keluarga suami tante Wulan yang sangat menginginkan tante Wulan untuk segera mendapatkan momongan, hingga mungkin ia mengalami depresi dan memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah mereka. Aku juga yakin bahwa tante Wulan sendiri juga sangat menginginkan kehandiran anak kecil di tengah keluarga mereka, namun apa boleh dikata, ternyata takdir berkata lain.
Setelah menyelesaikan ritual merokokku, aku Kembali ke kamarku untuk beristirahat Kembali. Badanku berasa habis ditekuk-tekuk akibat Gerakan yoga yang dikomandoi oleh tante Wulan itu. Setelah cukup beristirahat, aku membuka komputerku untuk melakukan revisi dari skripsiku sesuai dengan arahan yang telah diberikan oleh dosen pembimbingku kemarin. Aku diminta olehnya untuk segera menyelesaikan tugas akhir milikku ini, karena kebanyakan dari temanku juga telah selesai dan lulus.
Malam harinya, aku melihat tante Wulan sedang berada di ruang tengah dan sedang menatap serius layar laptop miliknya tersebut. Pada awalnya aku ingin menemaninya untuk sekedar ngobrol, mungkin saja ia merasa kesepian. Namun, karena aku melihatnya begitu serius di depan laptopnya, aku urungkan niatku untuk menemaninya dan membiarkannya untuk menyelesaikan urusannya tersebut.
“eh, To. Belum tidur kamu?” tanyanya ketika melihatku sedang berada di meja makan sambil memainkan hpku.
“belum, Tan. Masih belum ngantuk.”
“oh gitu, yaudah, tante masuk dulu ya. Capek, mau tidur.” Ucapnya dan lalu beranjak menuju kamarnya.
Aku melihat mata tante Wulan sudah begitu sayu dan tergurat dari wajahnya juga menandakan bahwa ia memang sedang capek. Mungkin bukan hanya badannya saja yang capek, tetapi juga pikirannya. Aku jadi teringat, jika seseorang sedang capek-capeknya biasanya akan tidur dengan sangat pulas. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk melihat keindahan tubuhnya dari jarak yang lebih dekat lagi. Kedengarannya sangat menarik.
Aku menunggu beberapa saat untuk memastikannya sudah tertidur dengan pulas. Setelah aku rasa cukup, segera aku menuju ke kamarnya dan masuk dengan sangat perlahan. Ternyata dugaanku benar, tante Wulan sudah tidur dengan sangat pulas, bahkan selimut yang diniatkan untuk menutupi tubuhnya telah berubah acak-acakan dan hanya menutupi kakinya saja. Bahkan, daster tidur yang ia kenakan sudah sedikit tersingkap ke atas hingga memamerkan pahanya yang putih mulus.
Perlahan aku mulai mendekati tubuhnya. Hingga Gerakan dari tidurnya yang secara tiba-tiba mengagetkanku. Kini yang awal mulanya ia miring ke kanan, alias memunggungi pintu kamar, berubah menjadi terlentang. Lagi dan lagi, seolah-oleh semesta mendukungku untuk lebih leluasa bertindak lebih jauh.
Aku benar-benar mengagumi tubuhnya, meskipun beberapa saat terakhir ini aku sudah sering melihat tubuh seksinya. Dengan perlahan aku mengangkat dasternya untuk lebih ke atas hingga terpampang celana dalam ungu miliknya itu dan yang lebih menggairahkan adalah cd tersebut berenda yang seolah menambah keseksian dari memeknya. Dan Nampak bahwa ia rajin mencukur jembutnya hingga menyisakan rambut pendek.
Lagi-lagi aku Kembali takjub dengan keindahan ciptaan Tuhan ketika aku berhasil sedikit membuka cd-nya hingga Nampak guratan dari memeknya itu. Putih dan pink merekah, itu yang bisa aku gambarkan dari pemandangan indah ini. Segera aku keluarkan kontolku dari celana tanpa sempak milikku itu untuk mengocoknya. Lagi-lagi aku masih belum berani untuk bertindak lebih jauh, apalagi menyetubuhinya.
“memekmu cantik banget tanteeee…..”
“astagaa… pasti nikmat banget kontolku di jepit memek tante Wulann…” ucapku dalam hati.
Aku membayangkan jika suatu saat kontolku bisa menerobos masuk ke dalam celah memeknya yang sempit itu. Ohhhh…. Rasanya pasti sempit dan menjepit-jepit. Aku terus mengocok kontolku, sementara tangaku yang lain masih menjaga cd tante Wulan agar tak menutupi memeknya. Setelah itu, aku berpindah menuju ke atas untuk membuka kancing daster miliknya hingga sedikit terpampang bukit indah yang selama ini menjadi idamanku. Namun, aku masih tak berani untuk melorotkan bra miliknya, karena takut ia tiba-tiba terbangun. Sementara itu, aku juga baru menyadari bahwa bibir milik tante Wulan juga sangat sensual.
Aku membenturkan kepala kontol ku dengan pelan ke arah bibir dari tante Wulan. Ahhhh… terbayang dipikiranku tentang bagaimana jika kontolku dilahap habis oleh bibirnya itu. Aku sangat menahan diriku agar tidak bertindak bodoh yang tentunya akan sangat merugikan bagiku. Sementara itu, aku masih terus mengocok batangku hingga aku merasa ingin segera keluar. Aku pun menumpahkan seluruh spermaku di tanganku sendiri, karena aku tak ingin mengotori tubuh maupun tangan tante wulan. Setelahnya, aku mengelap tanganku dengan tisu yang berada di meja yang ia gunakan sebagai meja rias.
Setelah merasa cukup dengan aksiku, aku pun beranjak pergi dari kamar tante wulan untuk Kembali ke kamarku. Hingga tak terasa aku terlelap dalam mimpiku yang mana aku bermimpi sedang bersetubuh dengan tante Wulan. Dan aku terbangun ketika sinar Mentari mulai masuk ke dalam kamarku yang hordennya lupa aku tutup semalam.
“baru mimpi aja rasanya senikmat itu.” Ucapku dalam hati setelah terbangun dari tidurku.
“nggak olahraga pagi kita nih, Tan?” tanyaku setelah aku keluar kamar dan mendapatinya sudah berada di depan laptopnya dengan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalem.
“sore aja ya, To. Tante lagi ngurusin bisnis tante yang semrawut setelah tante tinggal ini.” Jawabnya.
Aku pun memahami kesibukan tante wulan, meskipun memiliki suami dengan penghasilan yang bisa dibilang sudah sangat cukup, namun ia tetap mau bekerja demi memghasilkan uang sendiri. Tante wulan sendiri memiliki bisnis baju yang memiliki beberapa toko di Kota dia tinggal Bersama dengan suaminya, selain itu juga baju-bajunya terpampang di online shop ternama.
Setelah itu, aku Kembali ke dapur untuk menyantap makanan dan setelahnya Kembali ke kamarku untuk Kembali mengerjakan skripsi yang dalam waktu dekat ini harus aku selesaikan. Aku hampir lupa jika hari ini aku Kembali harus menemui dosen pembimbingku untuk mendapatkan arahan atas apa yang aku kerjakan.
“tan, aku pamit ke kampus dulu ya.” Ucapku setelah siap dan hendak pergi ke kampus.
“iya, To. Hati-hati ya.” Jawab tante wulan yang masih dengan serius menatap layar laptopnya.
Sora harinya aku baru pulang ketika hendak maghrib karena setalah melakukan bimbingan tadi, aku bertemu dengan kawan lamaku yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu, sehingga kami ngobrol dengan lepas hingga lupa waktu.
“ayok jadi olahraga gak nih, ditungguin dari tadi juga.” Ucap tante Wulan yang sudah siap dengan pakaian dan perlengkapan miliknya dengan menggerutu ketika aku memasuki rumah.
“lah, ayok. Tapi bentar, aku ganti baju dulu tan.” Jawabku.
Setelah siap, aku Kembali menghampiri tante Wulan dan memulai yoga bersamanya. Kurang lebih apa yang kami lakukan hari ini, sama dengan apa yang kami lakukan kemaren. Namun, karena aktivitas yang aku lakukan di luar rumah tadi membuatku lebih cepat merasakan capek kali ini. Sementara tante wulan masih terlihat sangat semangat. Aku cukup kewalahan menandingi energi miliknya itu.
“udah ya tan. Capek banget nih.” Ucapku sembari ngos-ngosan dan mengatur napas.
“yah, payah. Baru segitu udah minta udahan.” Ucap tante Wulan.
Melihatku Nampak kecapekan, tante Wulan pun menghentikan olahraga kami kali ini. Setelahnya ia beranjak pergi ke dapur yang mungkin mengambil minum. Ia Kembali dengan membawa segelas air putih (bukan bening) yang aku duga adalah susu.
“nih diminum, biar gak loyo lagi.” Ucapnya sembari menyodorkan minuman yang dibawanya dari dapur.
“ini apa tan?” tanyaku.
“udah, minum aja.”
Aku pun meneguk habis minuman yang diberikan oleh tante Wulan tersebut. Ternyata benar, minuman tersebut adalah susu. Mungkin maksud tante Wulan memberikan aku susu supaya energiku Kembali dan menghilangkan rasa capek akibat dari olahraga yang kami lakukan barusan.
“gimana? Enak kan?” tanya tante Wulan
“enak tan.”
Setelah aku meneguk habis minuman tersebut, tante wulan pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sementara aku, masih berdiam diri di ruang tengah untuk beristirahat sejenak setelah berolahraga. Saat aku masih duduk di ruang tengah tersebut, aku melihat tante wulan masuk ke dalam kamarnya dengan masih mengenakan handuk yang tak mampu menutupi seluruh pahanya dan hingga beberapa saat tak keluar.
“mungkin kecapekan terus langsung tidur.” Pikirku.
Aku pun Kembali ke kamar untuk merebahkan diri dan yang aku sadari adalah entah kenapa kontolku yang sedari tadi tegang karena melihat pemandangan tante Wulan yang hanya mengenakan handuk, hingga kini aku sudah Kembali ke kamar dan rebahan beberapa saat tak kunjung mengecil, bahkan masih sangat gagah menjulang.
“kenapa nih kontolku, kok berdiri terus.” Ucapku dalam hati sembari masih memandangi kontolku yang tegang.
Tak hanya kontolku yang terus-terusan mengeras, nafsuku juga seiring berjalannya waktu meningkat. Apakah jangan-jangan tante wulan mencampur obat perangsang pada minuman yang tadi diberikan untukku? Tapi kenapa juga dia melakukan itu? Ah entahlah, rasa-rasanya nafsu dan ereksi telah menguasai diriku. Ditambah lagi hawa ge


